Beauty Clouds

Beauty Clouds
Pengakuan Ody



Sepanjang acara pengajian yang keluarga Rio buat untuk menyambut kedatangan Mayra di keluarga Hartono. Bayi cantik itu seolah tahu bawa banyak yang sayang dan mendoakanya. Mayra nampak anteng, mungkin juga karena sudah kenyang sebelum turun ke bawah sudah minum susu sebagai setok sepanjang acara, dan mandi sehingga badanya segar, belum bobo yang cukup dengan Papahnya membuat hatinya tenang dan ia jadi bayi yang manis sekarang.


Rio sesekali melirik pada Ody. Ia mencuri pandang dengan alasan bermain-maian dengan putrinya. Ody sebenarnya tahu kalo Rio sering mencuri pandang padanya tetapi ia bersikap cuek dan pura-pura tidak tahu. Biar Rio tidak malu dan salah tingkah apabila ketahuan mencuri pandang pada dirinya.


Acar pun selesai dan kini mereka tengah bercengkerama di ruang keluarga. Lagi-lagi Mayra sebagai pusat perhatian terlebih kedua kakak sepupunya ingin selalu berada di samping Mayra.


Di saat Mayra masih dijaga oleh banyak baby sister Ody mengasih kode pada Intan agar mengajaknya segera membahas mengenai Zawa. Apalagi nampaknya Papih dan Rio tengah bersantai.


Intan mengangguk menandakan bahwa ia juga siap dengan usul Ody.


"Mam, Kak, Ody mau ngomong dulu sama Papih dan Mas Rio, nitip May nggak apa-apa kan?" tanya Ody dengan sopan pasalnya ia masih belum terlalu akrab dengan kak Luna dan mamih jadi masih ada kesungkanan di hati Ody.


"Ya sudah sana pergilah biar Mayra sama kita-kita. Lagian si kecil mah anteng suka sama Oma," jawab Mamih tidak merasa keberatan begitu pun Kak Luna tidak masalah kalo Ody menitip si kecil pada mereka.


Ody setelah memastikan Mayra ada di tempat yang aman langsung menuju Papih dan Rio yang tengah bersantai di halaman rumah.


Hememmzzzz... Ody berdehem untuk menghilangkan gugupnya, jujur perasaanya gugup tidak menentu ada rasa takut untuk memulai pembincangan di antara mereka, teritama ada Rio, suami yang masih mengharap maaf darinya.


"Kenapa Dy?" Papih lebih tau bahwa kedatangan Ody ada maksud lain.


"E... anu Pap, kalian ada waktu luang kan? Ada yang pengin Ody bahas, tetapi tidak di sini karena ini ada hubunganya dengan kasus kecelakaan yang menimpa saya." Ody dengan sedikit terbata menyampaikan niatan'nya menemui dua laki-laki berbeda generasi itu.


Papih dan Rio saling menatap. Penasaran, itu yang ada di pikiran mereka, kira-kira Ody akan membahas apa. Terlebih tampang Ody yang sepertinya serius sekali.


"Baik lah, ayok ke ruangan kerja suami kamu saja, kita ngobrol di sana." Papih yang penasaran kira-kira apa yang akan dibahas oleh Ody pun lebih dulu beranjak dari duduk dan menuju ruangan kerja Rio. Sementara Rio menatap Ody dengan penuh tanya, Ody yang ditatap Rio pun memilih menunduk.


Rio mengekor Papih begitu pun Ody menyusul Rio dan menarik tangan Intan agar mengikutinya. Mau tidak mau Intan ikut dan berjalan beriringan di samping Ody.


Di ruangan kerja Rio...


"Ayok siapa yang mau mulai berbicara lebih dulu, ini siap. Kalian mau bahas apa?" Papih yang memulai pembukaannya.


Intan dan Ody saling bertatapan.


"Sebelumnya kita mau minta maaf, bahwa tadi kita keluar bukan untuk ke rumah dokter Intan mengambil sesuatu. Melainkan kita pergi ke kantor polisi. Menemui Zawa, teman Emly yang dituduh sebagai dalang dari kasus tabrak lari yang saya alami, mengakitakan Angel meninggal. Sepertinya di kasus ini ada pihak yang dirugikan terutama Zawa. Kita sudah selidiki dan meminta keterangan Zawa dan orang terdekatnya. Sepertinya dia nggak mungkin melakukan ini semua." Ody yang mewakili mengutarakan niatnya berkumpul.


"Ada bukti yang menguatkan bahwa perempuan itu hanya korban atau kambing hitam?" tanya Papih dengan suara beratnya.


Ody dan Intan menggeleng secara bersamaan. "Kami hanya menggunakan filing, bahwa orang sebaik Zawa tidak akan tega melakukan itu semua." Intan ikut meyakinkan Tuan Hartono, bahwa Zawa tidak bersalah.


"Kalo gitu semua orang pencuri, koruptor, pembunuh kalo hanya menggunakan kata 'perasaan' untuk apa ada pengadilan dan penjara. Semuanya bisa bebas dengan mudah karena bisa dibebaskan hanya dengan Insting." Papih tetap kekeh dengan pendirianya, bahwa Zawa bisa saja menggunakan simpati orang-orang yang mengenalnya untuk bebas.


Ody mendengus lemas, ternyata meyakinkan Papih bahwa Zawa orang yang baik dan tidak mungkin melakikan kejahatan itu sangat sulit.


Intan menggenggam tangan Ody yang kebetulan mereka duduk bersebelahan. Intan memberikan kekuatan agar Ody tetap semangat tidak mudah mengeluh dengan semuanya.


Rio hanya menyimak, karena dia sendiri tidak berwenang mencabut laporan itu, sebab yang membuat laporan adalah Tuan Hartono. Sehingga yang harus menarik laporanya beliau yang bersangkutan.


...****************...


Sambil nunggu Ody dan Inntan buat bujuk Rio sama Papih, yuk ramein karya besty othor namanya Kak Nesha, kalian wajib baca yah jangan lupa tekan Fav, like, komen dan bawa bunga satu taman, biar othornya semangat upnya...