Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ancaman Ody



Ody terisak mendengar ucapan putrinya itu, bahkan Meyra tidak ada yang mengajarinya untuk mengucapkan kata-kata seperti itu, tetapi anak itu bisa bilang yang sangat manis. Tidak berbeda dengan Ody, Rio pun sama merasakan sesak di dadanya. Bahkan Aarav sudah terisak di balik tubuh kecil Meyra.


"Dad, Mey mau di sini Dad," celoteh Meyra menunjuk sisi ranjang Emly yang memang lebih besar dari ranjang pasien lain. Aarav pun lagi-lagi mengikuti kemauan putri kecilnya, meletakan Meyra di samping ranjang Emly.


Tangan kecilnya mengusap pipi Emly yang pucat itu. Setelah mengusap pipi Meyra pun mengusap tangan di mana tangan itu ada selang infusnya, dengan sangat hati-hati Meyra mengangkat dan menciumnya.


Ody yang berada di samping Emly pun berjalan mendekat. Dia memang benci sama Emly, tetapi dia juga tidak kuasa melihat Emly yang dulu angkuh dan selalu egois, kini terbaring tanpa daya di atas ranjang pasien, tanpa tahu kapan kesembuhan akan menghampirinya. "Emly, ini aku Ody. Kita memang tidak saling kenal secara langsung. Bahkan untuk sekedar menyapa kita tidak pernah melakukanya. Kamu masih punya hutang meminta maaf padaku atas meninggalnya anaku, angel. Kamu tentu tahu gimana hancurnya aku kala itu, tetapi kamu juga yang menyembuhkan lukaku dengan menitipkan Meyra untuk aku asuh. Bangun aku tunggu kamu meminta maaf secara langsung padaku pada Rio dan kamu juga harus meminta maaf pada temanmu Zawa. Karena kalo kamu tidak melakukanya maka aku akan mengambil Meyra untuk selamanya. Sekarang aku izinkan Mey menemanimu, tetapi aku akan mengambilnya lagi kalo kamu tidak sembuh. Bangun dan sembuh karena Meyra juga butuh ibu kandungnya!" Ody pun memberi ancaman pada Emly, yah ancaman yang tidak main-main. Ody berharap dengan ancamanya ia akan terangsang dan bangun untuk meminta maaf pada Ody, Rio dan Zawa.


Ody langsung memeluk Rio dan menumpahkan air matanya di balik pelukan suaminya itu. Rio pun sama sesak sekali melihat pemandangan di depanya.


"Mas, kita balik ke kamar Mas," ucap Ody, hatinya tidak akan baik-baik saja dengan pemandangan di depanya itu.


"Mey kasihan sayang masih pengin bersama Emly," ujar Rio, tidak tega kalo harus membawa Meyra pergi sedangkan siapa tahu dengan terapi Emly berdekatan dengan buah hatinya, wanita itu akan sembuh.


"Biarkan Meyra di sini dulu nanti apabila sudah selesai Aarav bisa mengantarnya," lirih Ody sisa isakan masih terdengar jelas dari bibir seksinya.


Rio pun akhirnya mengikuti apa yang Ody inginkan.


"Di, Yo terima kasih yang sudah izinkan Mey menemui Emly," ucap Aarav dengan tulus. Ody yang sesak hatinya mendengar ucapan terima kasih dari Aarav justru semakin di buat nyeri dadanya. Tanpa menjawab Ody langsung menarik tangan Rio agar buru-buru kembali ke ruanganya.


Ody bukan cemburu atau apa hanya kalo lama-lama melihat pemandangan yang sesak itu bikin hati nyesek tidak bagus buat kesehatan jantungnya.


"Kenapa sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rio sembari memaksa Ody untuk berhenti dulu jalanya.


"Sedih Mas, jadi ke inget almarhum ibu, ayah dan Angel. Entah gimana perasaan Aarav, pasti dia cemas banget dengan kondisi Emly seperti itu," ucap Ody air matanya masih menetes, meskipun ia tahan agar tidak jatuh tetapi rasanya sia-sia malam ini suasana hatinya malah menjadi buruk. Itu semua karena ia ikut merasakan gimana perasaan Meyra, yang nampak sedih juga dengan kondisi mamihnya yang tengah berjuang untuk sembuh itu.


"Serius Mas, separah itu kondisi Emly?" tanya Ody yang tidak tahu dunia medis.


Rio mengangguk, "Itu menurut ilmu, tetapi kembali lagi ke dalam takdir, yang berhak menentukan adalah Allah dan bukan tidak mungkin juga Emly akan sembuh. Kalo Tuhan mengizinkan malah Emly bisa sembuh totalkan. Tinggal kencangi ajah doanya, dan mungkin saja Tuhan akan mengabulakn doa salah satu dari kita," jelas Rio.


Ody pun seolah lupa dengan kemarahanya, ia juga merapalkan doa untuk kesembuhan Emly. Dia berbicara seperti itu tadi di samping Emly agar Emly termotifasi dan ada keinginan untuk sembuh dan mengambil Meyra dari tanganya dan akan mengasuhnya bersama-sama.


Dalam hati Ody juga tidak setega itu ia juga seorang ibu, pasti apa yang Enmly rasakan sudah sangat menderita, tidak ingin menambah dengan kemarahanya.


Ody berusaha membuka pintu maaf untuk Emly.


"Mas kayaknya kita harus kasih tahu Zawa dan Arzen deh. Sipa tahu Emly juga menunggu pintu maaf dari Zawa dan Arzen juga kan," ujar Ody bahkan ia baru teringat dengan Zawa dan Arzen yang mana mereka juga pernah di bikin kecewa berat dengan kejahatan Emly.


"Iya yah, astagah Mas sampe lupa ya udah nanti Mas infoin deh sama Zawa dan juga Arzen agar datang kerumah sakit ini buat menemui Emly," ujar Rio dan kini mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan.


Banyak yang berbisik-bisik setiap Ody dan Rio datang kerumah sakit, mereka mungkin iri dengan sifat romantis dari Rio. Banyak wanita yang membayangkan memiliki pasangan tampan, tajir, dan romantis kayak Rio. Itu mereka menilai sekarang, tanpa tahu segimana sulitnya Ody bisa ada di posisi sekarang ini. Bahkan andai setiap perjalanan hidupnya berdarah dan dia tadahin entah berapa ember darah yang ia bisa tampung dari kesakitan perjalan hidup yang menimpanya.


****


Meyra masih terus mengelus pipi Emly dan sekali-kali Meyra juga mencium pipi mamihnya. "Mamih, Mey punya mainan banyak nanti kalau mamih udah sembuh kita main berdua yah mih. Mey suka boneka yang berwarna biru yang di belikan Dady itu bagus banget Mih bonekannya ada istananya juga, dan istananya ada banyak saljunya. Iya kan Ded," ucap Meyra seolah tengah bercerita dengan mamih dan daddynya, tetapi sangat di sayangkan mamihnya terus tertidur.


"Iya sayang, Mly kamu harus kuat yah, kamu pasti dengar kan kalo anak kamu ingin main bersama kamu. Aku yakin kalo kamu pasti kuat demi anak kamu. Ayo bangun lawan sakitmu. Agar kamu bisa menjaga dan merawat Meya. Kalo kamu tidak sembuh, kamu pasti dengar tadi apa kata Ody dia tidak akan izinkan Meyra bertemu kamu lagi. Jadi Ayo lawan sakit kamu kamu pasti bisa demi Meyra," ucap Aarav. Dan betapa kagetnya Aarav ketika Emly memberika respon. Air matanya jatuh seiring dengan ucapan Aarav berhenti, tetapi matanya terpejam dan tubuh juga masih kaki. Itu tandanya sejak tadi Emly bisa merekam apa yang ia dengar walaupun mata dan tubuhnya seolah tertidur. Tanpa sadar Aarav mencium kening Emly.


"Bangun yah, aku janji kalo kamu sembuh kita akan berjuang bersama-sama demi Meyra, aku tidak akan meninggalkan kamu gimana pun kondisi fisik kamu," lirih Aarav di telinga Emly, yang ia yakini bahwa Emly pasti dengar dengan janji Aarav itu.