Beauty Clouds

Beauty Clouds
Bukan Prank



"Boleh, kamu mau tanya apa sayang?" tanya Wahid dengan suara lirih.


"Ini Bang, soal Arzen. Ceweknya yang dulu pernah Ipek ceritain, ternyata sudah bebas. Dia terbukti tidak bersalah dan sekarang dia minta alamat Arzen. Menurut Abang kira-kira Ipek kasih nggak yah?" Ipek menyodorkan ponselnya, di mana di ponsel itu ada pesan dari Zawa yang meminta alamat Arzen.


"Kalo kata Abang mah nggak masalah kasih saja, mungkin dengan ini bisa membuka Arzen menemukan kebahagiaanya. Lagian Abang liat Arzen juga kayaknya masih sangat sayang sama ceweknya kan. Terus juga ceweknya masih mencari biarpun sudah bertahun-tahun. Jadi sudah sangat jelas baik Arzen sama Zawa masih saling sayang." Wahid bicara seperti itu karena ia sebagai seorang yang pernah segimana sayangnya sama seseorang, yaitu Ipek. Pasti sangat tahu bagai mana rasanya menahan rindu, dan hanya bisa mendoakan dalam sujudnya. Jadi ketika kesempatan untuk bersatu ada itu sangat senang dan menjadi anugrah terindah dari Tuhan. Maka dari itu Wahid menyarankan demikian.


"Baiklah kalo Abang menyarankanya seperti itu Ipek akan memberikan alamat Arzen sama Zawa. Atau minta tolong sopir Abi ajah yang mengantarkan Zawa yah Bang? Biar mereka nggak nyari-nyari lagi." Ipek memberikan usulan agar Zawa tidak kesulutan nyarinya. Karena memang lokasi pesantren Abah yang cukup jauh, dan berada di pedesaan.


"Boleh itu malah ide bagus. Kalo Abi tidak keberatan baiknya seperti itu. Kalo hanya bermodalkan alamat kasihan nyarinya." Wahid pun setuju dengan saran Ipek.


Setelah meminta persetujuan dari suaminya Ipek langsung mencoba menghubungi Zawa.


Ia akan memeberikan info kalo Zawa mau menemui Arzen biar sama supir Ipek saja. Tinggal Zawa bilang saja mau kesana kapan, nanti biar Ipek atur semuanya.


Wahid pun dalam hatinya sangat penasaran siapa Clovis, tapi kenapa sikap Ipek kembali biasa saja berbeda dengan tadi ketika laki-laki itu ada. Yang membuat Wahid tambah ingin tahu dengan laki-laki itu tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan Ipek. Berbeda dengan Rio dan Chandra yang seolah sama Ipek biasa saja.


Wahid bingunh bagai mana caranya agar ia bisa tahu dengan mereka, sedang kondisi fisiknya saja tidak bisa berbuat apa-apa.


Kembali ke Ipek...


[Hallo Pek, gimana dengan pesan yang aku kirim? Aku mohon Pek, aku hanya ingin tahu bagaimana Arzen, dan aku ingin membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Aku sangat sayang sama dia Pek. Aku janji bagaimana pun kondisi Arzen aku akan terima. Sama seperti kamu yang menerima suami kamu dengan kondisinya. Aku juga sama tidak akan berkecil hati memiliki pasangan yang berbeda.] Zawa dari sebrang sana sudah langsung mencecar segala permohonan agar Ipek mengizinkan dirinya untuk mengetahui alamat Arzen.


[Begini Wa, tadi aku udah berunding dengan suami aku....(Ipek tidak melanjutkan obrolanya karena dari sebrang telpon Zawa sudah terdengar isakanya. Ipek tahu pasti Zawa mengira Ipek tetap tidak mau memberi tahu alamatnya) Wa... kenapa nangis aku ajah belum selesai ngomong.] Ipek tumbuh sifat isengnya pengin lah bikin prank buat Zawa.


[Pasti kamu mau bilang, Arzen tidak mengizinkan kan?] Hikkk... hikkk... hikkk... suara tangis Zawa semakin kencang.


[Ko kamu tahu? Kamu punya mata batin yah?] tanya Ipek, tetapi di sebrang telpon justru ia tertawa terkikik.


Berbeda dengan Zawa yang makin sesegukan. Ipek pun jadi merasa bersalah. Dia pun berniat mengatakan yang sesungguhnya kasihan juga kan Zawa dia prank.


[Wa, kamu masih dengar aku ngomong kan?] Tanya Ipek untuk mengetes Zawa masih mendengar atau tidak.


[Dengerin yah Wa, aku mau ngomong serius! Kamu jangan nangis dulu, biar kamu nggak salah denger. Aku tadi itu udah ngomong sama suami aku tentang kamu yang meminta alamat Arzen. Dan aku juga sudah cerita tentang hubungan kamu dan Arzen. Kata suami aku. Lebih baik beri tahu di mana Arzen sekarang tinggal. Karena katanya menyambung silahturahmi itu dapat pahala.] Ipek menjeda omonganya, karena Zawa yang tiba-tiba memekik bahagia.


[Pek, kamu serius kan? Kamu ini lagi nggak ngeprenk aku kan? Kamu bener-bener mau ngasih tahu di mana Arzen kan Pek? Ipek aku seneng banget akhirnya kamu mau kabulin permintaan aku." Zawa berbicara tanpa sadar dengan suara yang sangat kencang, sampe-sampe Ipek menjauhkan ponsel dari telinga Ipek, menyelamatkan telinganya agar baik-baik saja.


[Iya Wa, iya nanti kamu atur saja kamu mau nemuin Arzen kapan? Kata suami Ipek, biar supir keluarga saja yang mengantarkan kamu ke tempat Abah, soalnya tempat Abah lumayan jauh dan berada di ujung. Kasihan kalo nanti kamu harus nyari-nyari bermodal Map. Kalo pake sopir kita kan udah tau lokasinya, jadi kamu tinggal cari waktu ajah kapan kamu mau nemuin Arzen." Ipek tidak lupa juga menyampaikan apa yang ia dan suaminya sepakati.


[Ah... ini serius Pek, makasih banyak yah Pek, sayang kita lagi jauhan, dan di telpon, kalo deket aku pasti peluk kamu.] Zawa bener-bener bahagia.


[Iya sama-sama, nanti kalo sudah deal, infoin saja kapan berangkatnya, biar nanti aku bilangin sama sopir di rumah Abi.] Setelah berbasa basi akhirnya Ipek dan Zawa mengakhiri panggilan teleponya. Ada rasa bahagia di hati Ipek karena sudah membuat Zawa bahagia seperti tadi. Setidaknya ia juga bahagia kalo nanti Zawa dan Arzen bersatu kembali. Ipek kembali menyimpan ponselnya.


Ipek kembali menghampiri Wahid yang untuk hari ini sangat aneh tumben sekali ia tidak tidur terus. Bahkan Wahid dari pagi bangun masih kuat untuk tidak tidur kembali. Biasanya setelah badanya dibersihkan, dan sarapan pasti setelah itu tidur kembali kadang sampai sore baru ia akan bangun lagi. Seperti itu seterusnya.


Ipek berjalan ke arah Wahid. "Abang, apa Abang ada yang dirasa kenapa hari ini Abang beda sekali. Biasanya Abang sudah tidur lagi, tapi hari ini Ipek seneng Abang beda, jadi Ipek bisa banyak ngobrol dengan Abang, tapi Ipek juga takut, takut kalo Abang ada yang dirasakan," ucap Ipek sangat berhati-hati agar tidak menyinggung suaminya.


"Entahlah, sayang bukanya tadi kalo Abang liat Rio sama Chandra dokter yah. Bisa nggak Abang minta tolong panggilkan salah satunya. Abang pengin konsultasi mengenai tubuh Abang yang kadang aneh." Wahid ingin bertanya pada Rio kalo tidak Chandra tapi ia bingung mau cari cara apa. Mungkin dengan beralaskan kesehatan Ipek akan memanggilkan salah satu dari mereka, dan berbicara berdua seolah mereka pasien dak dokter.


"Kenapa meski salah satu dari mereka, kenapa bukan dokter yang menangani Abang saja, pasti beliau lebih tau dengan rekam medis kesehatan Abang." Ipek tetap saja tidak percaya begitu saja dengan apa yang suaminya katakan.


"Abang lebih nyaman ngobrol dengan temen kamu dari pada dengan dokter yang menangani Abang." Wahid pun hampir kehilangan akal, tetapi ia buru-buru kembali mengatur alasan lain agar Ipek menuruti kemauanya.


Ipek masih menelisik ke mata Wahid apakan suaminya hanya mengada-ada atau memang ia lebih nyaman ketika bercerita dengan teman-temanya.


"Ya udah nanti Ipek panggilkan Dokter Rio yah, beliau kebetulan anak dari pemilik rumah sakit ini, jadi mungkin kalo ada apa-apa dengan kondisi kesehatan Abang akan langsung disampaikan dengan team medis yang terbaik." Ok, Ipek kali ini akan sedikit percaya pada suaminya, yah mungkin saja memang Wahid membutuhkan teman yang nyaman untuk membicarakan keluhan dengan kesehatanya.


Setelah menitipkan suaminya pada perawat Ipek pun menyusul Rio keruanganya. Setelah bertanya pada sekretaris Azra, dan kebetulan Rio sedang ada diruanganya juga. Sehingga Ipek langsung di minta masuk oleh Rio.


Betapa kagetnya Ipek ternyata di sana masih ada Clovis. Ipek pikir Clovis sudah pulang atau kembali bekerja. Ipek sejujurnya belum siap untuk ketemu Clovis. Bahkan untuk berbicara dengan laki-laki itu pun ia sangat takut.