Beauty Clouds

Beauty Clouds
Melepas Masa Lalu



Ipek yang malam ini memang tengah sakit perut karena datang bulan, belum bisa memejamkan matanya hal itu wajar saja sih, tetapi seketika ketika Wahid keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit bagian bawahnya. Serta kedua tanganya yang meggosok rambut yang basah membuat otot di perutnya semakin terlihat memikat.


"Ya Tuhan, mata aku ternodai," batin Ipek, ia mencoba memejamkan matanya.


"Belum tidur De?" tanya Wahid, tentu ia tahu bahwa Ipek belum tidur, padahal Ipek sudah berpura-pura memejamkan matanya, tetapi suaminya masih bisa tahu bahwa Ipek belum tidur.


"Be... belum Bang, perutnya masih nyeri," jawab Ipek dengan terbata karena kaget Wahid tahu bahwa Ipek belum tidur. Sedangkan dia belum ada persiapan jawaban.


Wahid duduk di sisi ranjang di samping Ipek. Lalu ia mengelus perut Ipek. Sementara Ipek yang tengah mencoba memejamkan matanya menikmati sensai sakit perutnya, terlonjak kaget, ketika ada tangan kekar mengusap perutnya.


"Ahhh... Ipek seketika menghindar karena kaget.


"Kenapa?" tanya Wahid bingung.


"E... enggak kenapa-napa. Ipek hanya keget saja kok, kenapa Abang belum pake baju. Pake baju dulu sanah, disini dingin dan banyak nyamuk loh, nanti malah digigitin nyamuk." Ipek mengalihkan pertanyaan Wahid, ia terlalu gugup melihat suaminya tidak mengenakan baju, tanpa Ipek tahu sebenarnya Wahid juga sudah mengenakan kolor dari dalam kamar mandi. Ia hanya belum mengenakan kaos saja karena ingin mengetes Ipek yang ternyata... ia belum terbiasa dengan hal itu. Wahid pun memakluminya.


Wahid pun mengikut apa kata Ipek ia menghampiri kopernya, yang mana ia belum sempat memindahkan pakaianya ke dalam lemari.


Wahid membuka handuknya di depan Ipek. Seketika Ipek menutup kedua matanya dengan telapak tanganya. Dia tertipu, Ipek kira Wahid telanjang bagian bawahnya ternyata ia menggunakan kolor. Wahid memakai kaos dan selembar sarung ia belit kan dipinggangnya.


"Ya Tuhan, aku pikir dia telanjang, ternyata aku tertipu. Lama-lama tinggal bareng satu kamar dengan Abang aku bisa jantungan," batin Ipek dengan mengelus dadanya.


Setelah berpakaian dan mengeringkan rambutnya. Wahid pun mengambil posisi tidur di samping Ipek.


Ipek menggeser tubuhnya sedikit kepinggir.


Wahid tau bahwa Ipek belum terbiasa, dan dia tidak mempermasalahkanya. Memang tinggal dengan orang yang belum mengenal kita akan ada waktu untuk penyesuaian dan Wahid sangat paham itu, dan tidak memepermasalahkanya sama sekali, dengan bermodalkan kepercayaan diri, Wahid sangat percaya bahwa Ipek suatu hari membalas cintanya.


Masih sakit banget yah?" tanya Wahid lagi, setelah lebih dari setengah jam ia merebahkan tubuhnya disamping Ipek, tetapi Iistrinya masih gelisah. Ia tahu bahwa Ipek masih merasakan tidak baik-baik saja dengan sakit perut karena datang bulanya.


Ipek mengangguk lemah, akhirnya ia menyerah mengakui, bahwa ia sangat tersiksa dengan sakit itu karena memang ia sering merasakan hal itu kalo lagi datang bulan dan biasanya akan sebuh kalo sudah minum obat K*ranti.


"Kalo lagi sakit begini biasanya diapakan? Agar bisa mengurangi sakitnya?" tanya Wahid yang akhirnya ia pun bangun dan duduk menyender ke pinggir ranjang. Kelopak bunga mawar berantakan di lantai seolah mereka telah menjalankan ritual malam pertama layaknya suami istri lain. Namun ini beda bunga bertebaran karena Ipek yang mengacak-acak.


"Minum K*ranti tapi, Ipek lagi nggak ada setok, lupa," lirih Ipek dengan menunduk.


"Kurang tau, tapi kalo Ipek biasa beli di toko, ujung jalan sana." Ipek benar-benar merasa tidak enak. Ia pikir akan baik-baik saja tanpa minuman itu, tetapi justru ketika hari sudah semakin malam rasa sakit itu semakin menyerang. Sehingga ia semakin dibuat gelisah.


"Kalo gitu tahan yah! Abang akan keluar dulu sebentar untuk membeli minuman itu. Kira-kira ada lagi yang mau dibeli biar sekalian?" tanya Wahid. Sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar itu.


Ipek menggeleng pelan. "Terima kasih yah," ucap Ipek dengan lirih.


Wahid pun tersenyum manis sebagai jawaban dari ucapan terima kasih yang Ipek ucapkan. Lalu ia pun meninggalkan Ipek untuk mencari obat yang bisa meredakan sakit diperut Ipek.


Walaupun tengah malam Wahid rela keluyuran untuk mencari minuman itu, karena ia tidak tega apabila Ipek menahan sakit. Ia sedikit banyak tahu pasti, bahwa memang wanita yang tengah datang bulan akan merasakan kesakitan yang luar biasa dibagian perut, dan punggunya.


Sementara Ipek di dalam kamarmya termenung, memikirkan ucapan Abinya.


"Benar kata Abi, ternyata ketika kita dicintai oleh seseorang kita akan di jadikan ratu dan akan diperjuangkan. Ipek merasakan hal itu belum satu hari penuh dirinya menjadi istri dari Wahid, tetapi ia sudah sangat bahagia karena laki-laki itu selalu mencoba meperhatikan Ipek.


"Beri aku waktu Bang, beri Ipek waktu untuk benar-benar menghapus nama Clovis dari hati dan pikiran Ipek. Setelah semuanya terhapus Ipek akan mencoba menerima Abang apa adanya." Ipek berjanji di dalam hatinya, mulai malam ini ia akan benar-benar mencoba menghapus nama laki-laki pertama yang pernah singgah di hatinya.


Setelah tiga puluh menit Wahid keluar kini ia kembali dengan membawa satu kantong minuman pereda nyeri di saat haid tersebut.


"Ini, cukup nggak kalo segini?" tanya Wahid sembari menyodorkan tas belanja itu.


Ipek kaget ketika tahu bahwa Wahid membeli lebih dari enak botol minuman itu.


"Ini sih bukan cukup lagi Bang, tapi lebih dari cukup. Lagian minum satu atau dua botol juga sudah sembuh. Kenapa belinya sampai berbotol-botol begini" tanya Ipek heran, tetapi sedetik kemudia ia baru sadar bahwa Wahid tidak ia beri tahu batas minum jamu itu biasanya ia gunakan.


"Iya abis tidak tau kamu butuh berapa banyak, untuk menyembuhkan sakit perut itu. Lagian kalo kelebihan kamu bisa simpan dan buat setok apabila nanti datang bulan kembali sakit lagi." Wahid tidak mau ambil pusing dengan itu semua yang terpenting Ipek sembuh sudah lebih dari cukup.


"Iya, terima kasih Bang," ucap Ipek, setelah ia meminum jamu itu pun, tidak lama perutnya sudah sedikit membaik.


"Pek sudah tidur?" tanya Wahid ketika terdengar kesunyian diantar dua anak manusia, dan posisi mereka tidur saling memunggungi.


"Hemz... belum kenapa Bang?" tanya Ipek tetapi matanya masih terpejam. Sebab kini ia sudah sedikit mengantuk.


"Tadi Abang lihat Arzen masih terjaga dan tengah menyendiri di pojok taman kira-kira dia kenapa yah? Kok dia seperti murung. Apa Arzen tidak suka Abang menikah dengan Adek?" tanya Wahid yang kepo dengan kedekatan antara Arzen dan Ipek.