
Makanan yang Aarav pesan pun sudah datang, dan sudah tersedia di atas meja. Harum olahan yang di sajikan di atas meja, sudah sangat menandakan bahwa makanan itu memang makanan lezat dan harganya tidak murah.
"Tadi kamu pengin ngomong apa?" tanya Emly, suara lirih, sangat berbeda dengan Emly yang dulu, di mana setiap kata dan ucapanya sangat arogan dan tidak mau mengalah meskipun dalam situasi dia yang salah. Namun kali ini seperti bukan Emly.
"Makan dulu saja, nanti baru di bahas kalo perut sudah kenyang," ujar Aarav, tau bahwa Emly juga pasti lapar. Keduanya pun menikmati makanan lezat nan mahal itu dengan keheningan. Hanya suara sendok yang beradu dengan pinggiran piring yang terdengar diatara mereka.
Dalam fikiran Emly masih belum tenang pasalnya Aarav belum ingin memberikan sedikit bocoran dengan apa yang ia akan bahas.
Tidak sampai satu jam mereka telah selesai dengan makananya. Dan meja pun sudah kembali bersih hanya tersisa makanan penutup yang memang baru datang dan belum sekali pun mereka sentuh. Emly terlihat lebih banyak berdiam. Entah tengah memikirkan apa, tetapi Aarav bahwa Emly tengah menunggu peetanyaan dari dirinya.
"Aku bingung mau memulai obrolan dari mana. Mungkin saking banyaknya pertanyaan diotak ini buat kamu. Tapi yang masti aku mau tanya kemana kamu selama hampir empat tahun ini?" Pertanyaan pertama yang Aarav lemparkan. Terlalu banyak pertanyaan memang tetapi setidaknya dia akan mulai satu persatu pertanyaanya.
"Di Singapura, aku koma hampir delapan bulan dan menjalani pengobatan baru pulang beberapa hari yang lalu, dan hasilnya seperti yang kamu lihat," jawab Emly, sepertinya wanita di hadapan Aarav sudah menyiapkan jawaban itu dengan sangat matang, terbukti dari cara bicara dan nada bicara yang lancar dan tertata dengan baik sudah membuktikan seolah ia menghafal jawaban itu.
"Sakit apa?" pertanyaan yang mengalir dengan sendirinya, bahkan pertanyaan yang sudah Aarav siapkan seolah tidak di butuhkan lagi, karena ternyata bibir dan otaknya memiliki pertanyaan yang dianggap lebih penting.
Kali ini Emly tidak langsung menjawab, hatinya tertiba sesak ketika mengingat kembali musibah yang menimpanya. "Jatuh dari tangga dan saat itu kehamilanku memasuki hari kelahiranya. Dan kata dokter ada syaraf yang rusak mengakibatkan aku sempat koma dan sulit untuk berjalan lagi." Emly tampak menunduk dan mengaduk-aduk es cream yang ada di hadapanya.
Dalam hatinya ia tidak ingin menceritakan apa yang membuat ia seperti itu terlebih itu adalah perjuangan seorang ibu. Namun entah kenapa dia tidak bisa berbohong dengan Aarav, tatapan laki-laki di hadapanya lebih dalam dan tajam sehingga Emly tidak bisa berbohong dengan apa yang terjadi. Tatapan Aarav seolah pengingat bahwa kejujuran adalah kunci segalanya.
Aarav menelan salivanya kasar, ada hati yang seolah tercubit. Sakit ketika mendengar perjuangan Emly untuk mendapatkan kesembuhanya tetapi juga ia kesal dengan kejahatanya.
"Tujuaan kamu menemui Tuan Hartono dan Rio apa untuk meminta maaf atas kesalahanmu?" tanya Aarav telunjuknya mengetuk-ngetuk meja seolah membuat suasana semakin tegang. Ketika Emly tidak berani mengangkat wajahnya karena kegugupanya. Aarav justru kebalikanya menatap Emly dengan tatapan tajam, seolah tengah meneliti disetiap ucapan yang Emly ucapkan apakan ada kebenaranya atau malah Emly kembali mengarang cerita bebas. Dia bukan pesulap merah yang bisa membaca batin seseorang memang, tetapi dari gerak tubuhnya terlihat apabila orang itu jujur atau justru ia tengah berbohong.
"Sudah siap kalo kasusunya dibuka lagi, dan kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu dulu di dalam penjara? Soalnya Zawa juga merasakan itu semua?" tanya Aarav menjadi lebih mengerikan nada bicaranya. Sebenarnya Aarav hanya memastikan bukannya akan ada saja kemungkinan kasusnya dibuka lagi kalo memang Rio atau tuan Hartono menginginkanya. Meskipun Aarav juga rasanya tidak tega dengan kondisi Emly seperti ini. Rio dan tuan Hartono juga pasti iba melihat nasib Emly.
Emly lagi-lagi mengangguk sebagai jawabanya. Ia pun sesak dengan semua bayanganya. Namun dia sudah tidak bisa mengelak lagi kecuali berpasrah dan menyerahkan semuanya dengan takdir.
Aarav jadi merasa bahwa wanita yang ada dihadapanya bukan Emly. Seperti sosok wanita lain yang terjebak di tubuh Emly karena Emly yang dulu sering memaki dan selalu berbicara tinggi dan bahkan tidak akan mengakui dengan mudah kesalahanya. Namun berbeda dengan Emly yang ada di hadapanya sekarang lebih pasrah dan tidak mudah terprovokasi.
"Sepertinya ini pertanyaan terakhir. Kenapa kamu tidak bilang sama aku kalo kamu hamil anak aku?" tanya Aarav kali ini nadanya kembali tegas. Kecewa pasti, apa sebegitu buruknya ia sampai Emly berbuat tidak adil seperti itu.
"Kamu tahu aku dulu kan? Sebelum badai datang. Aku mungkin wanita paling kaya dan paling cantik, mungkin juga bisa dikatakan sempurna. Orang tuaku bisa memberikan apapun yang aku mau. Sedangkan kamu, hanya asisten dari mantanku. Rasa gengsi lebih besar. Jadi dari pada aku menjadi bahan olok-olokan mereka lebih baik aku menyembunyikan kehamilanku. Papih juga memiliki fikiran yang sama. Sehingga aku merahasiakan itu semua. Tapi bukanya kamu sekarang sudah tahu kebenaran itu, dan juga anak kamu di mana kamu sepertinya udah tau," ucap Emly wajahnya ketika membicarakan anak seolah emosi Emly terpancing, pandangan mata yang ia alihkan ke luar jendela dan mata yang memerah.
"Apakah Emly belum pernah bertemu dengan anaknya? Dan dia merasa rindu dengan anaknya?" batin Aarav menangkap gerak tubuh Emly. Malah ia tidak bergitu fokus dengan jawaban Emly.
"Sudah tahu anak kamu di mana?" tanya Aarav.
Emly mengangguk, sembari tangan kananya mengusap kakinya yang kembali menyerang, nyeri. "Barusan Papih tidak sengaja keceplosan bahwa anak aku ada diasuh oleh Ody dan Rio." Emly lagi-lagi berbicara dengan nada berat.
"Berati kalo baru tau tadi, kamu belum pernah ketemu dengan anak kamu?" Aarav memastikan apakah dugaanya benar atau tidak.
Lagi, Emly menggeleng dengan lemah, cukup baginginya gelengan kepala sebagai jawaban yang sangat jelas. Tenggorokanya tercekat. Tidak pernah sekali pun bahwa Emly akan menangisi anak yang dulu pernah dia paling benci, bahkan di katakan pembawa sial. Malu, yah seharusnya Emly malu. Ketika anak itu ia katakan sebagai pembawa sial, justru sekarang sangat ingin ia temui dan peluk.
"Mau ketemu?" tanya Aarav singkat ketika ia melihat ada kesedihan di gurat wajah Emly.