Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kepala Batu



"Pih, Papih kenapa sih, perasaan dari tadi Mamih perhatikan papih kayak gelisah gitu. Kenapa sih Pih?" tanya mamihnya Emly ketika merasakan dari tadi suaminya gelisah, entah mimpi atau memang suami yang belum tidur itu.


Papihnya Emly lalu bangun dan duduk menatap putrinya yang tengah tertidur dengan pulas, bahkan sepertinya tidak terganggu dengan papihnya yang sejak tadi gelisah bolak balik tubuhnya, ke kanan dan keke kiri seperti sate yang sedang di panggang. Setelah memastikan bahwa putrinya masih tertidur dengan damai, papih pun menghirup nafasnya dalam dan membuangnya, beliau berusaha mengurangi kegugupanya.


Huh... huh... papih berusaha mengatur nafasnya. "Papih kefikiran omongan mamih tadi, dan tidak sabar ingin tahu bagai mana kondisi cucu kita," ucap Papih dengan suara di bikin selirih mungkin, takut apabila Emly mendengarnya.


"Apa yang membuat papih kefikiran dengan cucu kita? Anak itu baik-baik saja kok, kondisinya sangat sehat, dan cucu kita di rawat sama keluarga yang benar-benar menyayanginya tanpa membedakan bahwa dia hanya seorang anak angkat. Keluarganya justru sangat menyayanginya dan memberikan fasilitas terbaik untuk cucu kita," jawab mamih berusaha menenangkan suaminya, agar bisa tertidur dengan pulas.


"Mamih tolong katakan cucu kita diasuh oleh siapa dan juga siapa nama cucu kita, apa dia cantik seperti anak kita?" tanya papih dengan suara bergetar, mungkin menahan sedih atau justru sesal yang teramat sehingga membuat dadanya sesak.


Mamih tidak lantas langsung mengabulkan permintaan suaminya yang ingin tahu bahwa cucunya di asuh oleh siapa. Mamih nampak berfikir untuk mengabulkan permintaan suaminya itu. Bukan mamih ingin dengan sengaja membiarkan suaminya penasaran dan akan menjadikan ini senbagai kejutan nantinya ketika papi mengetahui siapa keluarga yang sudah dengan baik hati mengasuh cucunya dengan penuh kasih dan sayang tanpa membedakan asal usulnya yang tidak jelas.


Mamih hanya takut ketika dirinya berbicara jujur sekarang, suaminya akan semakin di buat merasa bersalah dan semakin tidak bisa tertidur karena memikirkan cucunya. Mamih juga takut suaminya akan mengambil paksa cucunya dan membuat semuanya semakin runyam. dan hubungan antara keluarganya dan keluarga Rio semakin memanas.


"Tapi papih janji yah kalo tahu siapa keluarga yang mengasuh cucu kita papih tidak boleh membuat masalah baru. Biarkan cucu kita tetap bersama keluarga angkatnya dulu, sampai mereka yang menyerahkan cucu kita atau kalo memang tidak, biarkan kita semua yang menjaga bersama-sama cucu kita. Bukan mamih tidak mau merawat cucu kita, tapi mamih tidak ingin timbul masalah baru lagi. Mulai sekarang kita harus belajar dari pengalam yang sudah-sudah bahwa jangan egois, belajarlah menghargai pendapat orang lain, dan hidup dengan rukun bersama orang lain. Karena bukan tidak mungkin kita akan membutuhkan bantuan dari uluran tangan orang lain." Mamih berkata dengan sangat hati-hati agar suaminya tidak salah paham mengartikan ucapanya. Di mana suaminya itu emosinya tinggi dan sering tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, termasuk istrinya. Papih tipe orang yang kalau sudah berbicara A makan ia akan tetap dengan pendirianya A, walaupun sudah bisa di pastikan bahwa pilihanya itu salah.


"Papih sekarang akan mengikuti apa kata mamih, papih tidak ingin kejadian tiga tahun lalu terulang kembali. Papih tahu mamih pasti sudah mempertimbangkanya sehingga tidak ada alasan papih untuk keras kepala dan berbeda pendapat dengan mamih," ucap papih dengan wajah yang serius dan nampak mengiba.


"Baiklah kalo memang papih mengerti maksud dari ucapan mamih, cucu kita di asuh oleh keluarga Rio, bahkan papah kandungnya ikut andil dalam mengasuh cucu kita," ujar mamih dengan sedikit menunduk ketika membahas ayah kandung dari cucunya.


Papih nampak kaget, Ketika istrinya menyebut ayah kandung dari cucunya. Bahkan saking kagetnya suaminya tidak sadar bahwa cucunya juga di asuh oleh keluarga Rio.


"Mamih bilang ayah kandung cucu kita, siapa dia? Kenapa bisa cucu kita di asuh oleh ayah kandungnya. Apa ini mamih yang merencanakanya?" cecar papih dengan aura yang sudah tidak bersahabat.


Mamih nampak membuang nafasnya kasar, ia tahu suaminya sudah kembali dengan sifat yang kekanakanya. "Mamih tidak pernah merencanakan sesuatu dengan cucu kita, bahkan mamih juga kaget ketika mengetahui fakta ini. Lagian yang mamih lihat ayahnya cucu kita itu baik dan sepertinya orangnya tanggung jawab, lalu apa alasan papih tidak mengizinkan anak kita di nikahi laki-laki itu dulu? Yang mungkin saja andai laki-laki itu bertanggung jawab terhadap anak kita, nasib kita dan anak kita saat ini tidak sekacau saat sekarang," tampik mamih dengan suara yang menjelaskan betapa kecewanya dia dengan tuduhan suaminya yang tkdak berdasar itu.


Mamih mencoba menghindar agar emosinya tidak sampai meledak dengan tuduhan suaminya itu.


"Kenapa sih Pih kamu kepala batu banget, menginginkan keluarga kita sekacau apa lagi. Kekacauan sekarang saja sudah membuat mamih sakit kepala," lirih mamih, sembari memegangi dadanya yang sesak dengan suaminya itu.


Sementara itu papih di dalam kamar pun beranjak dari ranjang mengikuti langkah istrinya. Papih menyugar rambutnya yang nampak berantakan dan berdiri dibalik jendela besar dan kedua matanya membuang pandangan keluar jendela sana.


Papih masih belum terima dengan perbuatan Aarav yang seenaknya meniduri anaknya dan membuat anaknya hamil. Papih tidak ridho apabila Aarav mempertanggung jawabkan perbuatanya. Andai dulu alasan papih menolak Aarav adalah dari materi di mana Aarav di nilai tidak bisa memberikan kebahagiaan terhadap anaknya. Papih juga takut kalo Emly akan menderita hidup dengan Aarav yang notabenya pekerjaanya hanya assisten pribadi Rio.


Tidak hanya itu rasa gengsi di mana Aarav yang hanya asisten Rio otomatis juga merendahkan dirinya dan anaknya, ini juga salah satu alasan papih menolak keras Aarav untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya yang telah menghamili putrinya.


Dua pasangan yang sudah puluhan tahun mengarungi manisnya biduk rumah tangga pun tengah di landa dengan pikiranya masing-masing. Mamih wanita yang baik dan tetap menginginkan yang terbaik untuk anaknya pun tidak pernah keberatan andai Aarav mau menikahi Emly untuk pertanggung jawabkan perbuatanya. Bagi Mamih yang terpentung ada yang mau menerima Emly dengan segala tingkah manja dan keras kepalanya sudah lebih dari cukup. Soal harta, bukanya suaminya waktu itu memiliki harta berlimpah dan bisnis yang menjanjikan, sehingga bisa menutup kekurangan harta yang menjadi kelemakan Aarav. Namun pendapat sebaliknya justru papih tunjukan. Sehingga kali ini Emly dan keluarganya menjadi korban keegoisan suaminya itu. Mamih berfikir bagai mana ia bisa memperbaiki kondisi keluarganya yang sudah porak poranda, apabila papih tetap bertahan dengan sifat kepala batunya.


Mamih tentu tidak akan pernah bisa apabila harus memperbaiki semuanya seorang diri. Butuh kerja sama diantar keluarganya dengan sebaik mungkin atau apabila tidak mau berati resiko keluarganya akan semakin buruk dari kondisinya saat ini. Itu yang ada dalam fikiran mamih, sehingga menuntut mamih sangat berhati-hati dalan mengambil keputusan dan berucap. Karen kesalah sekecil apapun itu bakal mengakibatkan efek yang sangat besar bagi keluarganya di kemudian hari.


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Ody dan teman-temanya, mampir yuk ke karya besti othor. Jangan lupa yang sebelum baca kalian wajib tekan fav, supaya tidak ketinggalan ceritanya. Jangan lupa juga tinggalkan jejak dan dukunganya tekan like dan tinggalkan komen, sekalian bawa mawar atau kopi biar othornya senang...


Mari membaca...