Beauty Clouds

Beauty Clouds
Harapan baru



"Pusing," lirih Emly dengan suaranya yang sangat kecil itu.


"Emly kamu sudah sadar?" tanya Clovis dengan senyum kebahagiaan.


"Tunggu yah Mba, Aarav sedang memangil dokter buat Mba, soalnya kalo panggil lewat panggilan darurat ini yang datang suster," ucap Ipek sembari mengelus tangan Emly. Mungkin saja dengan Ipek mengelus tangan Emly maka rasa sakit itu akan sedikit berkurang.


Emly mencoba mengedarkan pandanganya. "Vis, Meyra di mana?" tanya Emly suaranya tidak lagi selemah tadi, meskipun kepalanya masih dipegangi karena mungkin masih pusing tetapi dia berusaha untuk tetap bangun.


Clovis yang melihat Emly mencoba bangun pun membantu dan Ipek dengan cekatan menyusun bantal hingga tinggi untuk sanggahan punggung Emly. "Terima kasih," ucap Emly sembari mencoba tersenyum.


"Sama-sama, gimana sekarang udah enakan?" tanya Clovis wajahnya masih terlihat ada kecemasan.


"Udah mendingan, cuma pusing dan lemas ajah, itu udah biasa," jawab Emly tetapi matanya masih mencari-cari putrinya yang tidak ada di ruangan itu.


"Meyra tadi ingin ikut sama Dadynya, dia anak yang pintar, dan juga sangat dekat dengan Aarav," ucap Clovis. Sedangkan Ipek duduk di samping Clovis.


"Iya, itu karena Rio dan Ody yang pandai mengurusnya," jawab Emly dengan senyum yang mengembang. "Vis, aku minta maaf yah, aku udah jahat banget sama kalian. Jujur aku malu ketika harus balik lagi dengan kondisi aku yang seperti ini, aku malu. Dulu aku udah jahat banget sama kalian tetapi justru kalian yang selalu ada di saat aku terpuruk. Bahkan di saat aku diambang kematian kamu dan yang lainya, memberikan aku semangat sehingga aku bisa melewati semuanya." Emly menunduk degan memainkan jari-jarinya. Dia sangat berharap bahwa orang-orang yang sudah dia sakiti dan dia kecewakan bisa memaafkan dirinya. Emly ingin hidup tenang tanpa ada rasa gelisah karena di hantui rasa bersalah terus menerus.


"Aku sudah memaafkan kamu dan aku yakin semuanya sudah memaafkan kamu. Sekarang tinggal waktunya kamu membuktikan bahwa kamu memang mau berubah jangan lagi ada dendam. Kita bisa hidup berdampingan tanpa ada dendam," ucap Clovis memberikan semangat pada Emly agar dia jangan bersedih.


Emly pun tersenyum. Lalu ia mengalihkan pandanganya ke wanita berhijab yang tengah menunduk di samping Clovis. "Dia siapa Vis?" tanya Emly sembari tanganya ia coba gerakan untuk menyapa Ipek.


"Oh, iya kenalin Mly, ini Ipek istri aku," jawab Clovis sembari merangkul Ipek di hadapan Emly untuk pamer bahwa dia bisa menaklukan hati wanita sholehah.


"Hay..." sapa Emly yang lebih dulu mengangkat tanganya untuk menyapa Ipek dan Ipek pun menyambut tangan Emly.


"Hay juga Mba, kenalin nama saya Ipek,' jawab Ipek sembari tersenyum.


"Senang punya teman baru lagi," jawab Emly sembari tersenyum.


"Istri aku juga lagi hamil loh Mly, sebentar lgi gue akan jadi ayah sama kaya Aarav dan akan punya anak juga yang kaya Meyra." Clovis memamerkan istrinya yang sedang hamil sembari mengusap perut Ipek yang masih rata itu.


Emly melebarkan matanya seolah tidak percaya bahwa Clovis juga akan memiliki buah hati. "Wah selamat yah Vis, Pek, semoga lancar sampai lahiran," ucap Emly, tidak lama setelah mereka bersama mengucapkan amin. Aarav pun datang dengan dua dokter dan juga perawat, tentu tidak ketinggalan Meyra yang ada di gendonganya.


"Kamu udah bangun Mly?" tanya Aarav dengan suara yang terlihat berat itu, dan mata yang seolah memerah.


Emly menatap dalam pada Aarav. "Sudah, bahkan aku merasakan lebih enakan dari sebelumnya," jawab Emly sembari melemparkan senyum. Dokter pun tidak langsung memeriksa, mereka memberikan waktu untuk saling melepas rindu.


"Mamih, mamih udah sembuh kan? Nanti main sama Mey yah," celoteh Meyra mengalihkan obrolan mamih dan dadynya. Emly pun langsung memeluk putrinya dan menciumnya bertubi-tubi bahkan Meyra sampai tertawa renyah karena aksi mamihnya yang menurutnya geli.


"Boleh sayang, Mamih juga ingin bermain sama Mey," balas Emly sedangkan Meyra langsung memeluk tubuh ibu kandungnya. Dan setelah berkangen-kangenan dengan anggota keluarganya. Dokter pun memeriksa perkembangaan kesehatan Emly, dan kedua dokter itu menyatakan bahwa Emly memang sembuh dan tidak ada lagi yang harus di khawtirkan, mengenai sakit kepala yang tadi itu karena dia  baru bangun dan rasa sakit atau nyeri seperti itu wajar sehingga tidak perlu di cemaskan lagi. Setelah dokter memastikan semuanya baik-baik saja bertepatan dengan dokter yang izin untuk pamit melanjutkan tugasnya. Zawa datang dengan korsi roda yang di dorong oleh Aarav.


Calon ibu itu kaget campur senang ketika melihat Emly sudah bangun. Zawa diam tanpa reaksi wajahnya masih terlihat dengan kekecewaan yang teramat tetapi dia juga sudah memaafkan Emly.


"Zawa..." Air mata Emly pun luluh manakala melihat kondisi Zawa yang memprihatinkan itu.


Zawa masih diam.


"Wa, aku minta maaf aku salah, aku jahat, aku tidak pantas jadi sahabat kamu. Kamu sudah baik banget dengan aku tetapi aku malah membuat kamu kecewa, aku salah Zawa. Tolong hukum aku, tapi setelah itu mari kita berteman lagi yah," isak Emly tanganya ingin menggapai Zawa tetapi sulit karena kondisi Zawa yang sakit juga.


Ipek justru yang melihat pemandangan itu menjadi ikut-ikutan bersedih. Sehingga mengajak Clovis untuk pulang. Takutnya nanti malah membuat suasana jadi kacau. Lagian sekarang waktunya Zawa dan Emly untuk saling kembali memperbaiki persahabatan yang sempat renggang itu.


Ipek dan Clovis pun pamit kepada teman-temanya, tidak lupa mendoakan agar Zawa dan Emly cepat sembuh.


Emly tampak murung ketika dua kali ia mencoba menyapa Zawa tetapi tidak ada jawaban dari Zawa.


"Aku marah sama kamu, aku kecewa sama kamu, kamu enggak tau gimana sulitnya aku merasakan penjara demi menanggung perbuatanmu. Rasanya tidak adil kalo hanya ucapan maaf saja dari bibir kamu." Zawa akhirnya mengeluarkan suaranya ketika Emly tidak lagi ada suara dan wanita yang baru sadar dari komanya itu pun menunduk tidak lagi bisa menahan kesedihanya.


"Mungkin memang aku tidak pantas untuk di maafkan," batian Emly.


Namun setelah ia mendengar ucapan Zawa kepalanya langsung di angkat dan terlihat wajah penyesalanya.


"Katakan aku harus apa, agar aku bisa di maafkan oleh kamu? Apakah aku juga harus merasakan di penjara? Agar aku bisa mendapatkan maaf dari kamu, Zawa. Kalau memang ia. Aku akan melakukanya. Asalka kamu mau memaafkan aku," ucap Emly dengan isakan pilu.