
Intan menyodorkan kembali amplop berisi hasil pemeriksaan yang di jalani oleh Zawa kemarin. Arzen pun mengambil benda tipis berwarna putih itu, tanganya sudah gemetar dan keringat dingin sudah keluar membasahi telapak tanganya, tidak hanya Zawa yang takut untuk membaca hasil itu. Arzen pun sejatainya takut kalo harus tahu mungkin saja istrinya memiliki sakit yang mungkin berbahaya. Dan ternyata Clovis yang belum di kasih tentang hasil pemeriksaan itu pun ikut terbawa suasanya, hatinya ikut teriris pilu melihat Arzen dan istrinya tengah harap-harap cemas.
"Kita buka yah," ucap Arzen dengan mencoba menarik bibirnya sehingga membuat garis lengkung yang menyamarkan kesedihanya.
Zawa menganggukan kepalanya samar menandakan bahwa ia memang sudah siap dengan apapun hasilnya. Toh cepat atau lambat juga ia harus tahu hasil dari pemeriksaanya. Tangan Arzen yang sedikit gemetar mencoba menyobek amplop itu dan mengeluarkan isinya. Kertas selembar yang terdiri dari hasiil dari serangkaian pemeriksaan yang Zawa jalani. Satu persatu Arzen baca dan juga Zawa yang ingin tahu hasilnya pun ikut membaca hasil itu...
"Tan... ini seriuz?" tanya Zawa dengan air mata justru semakin membanjiri pipinya. Dan Ipek justru tersenyum bahagia, sehingga Clovis di buat bingung dengan para cewek-cewek dihadapanya. Clovis menatap Arzen yang justru masih sibuk membaca hasil pemeriksaan itu. Clovis yang penasaran pun langsung menarik kertas yang sebelumnya Arzen baca.
"Woah... selamat yah Bro kita akan jadi duo pesaing yang sengit," ucap Clovis justru dia yang lebih antusias dan teriak penuh kebahagiaan sampe-sampe tiga wanita yang tengah berbagi kebahagiaan melepaskan pelukanya dan melihat Clovis yang memeluk Arzen dengan berjingkrak gembira, sementara Arzen seolah masih belum mengerti dengan apa yang mereka maksud.
Clovis sangat lega karena kini Arzen dan Zawa tidak perlu kesal dan sedih lagi karena Arzen dan Zawa juga akan memiliki bayi sama seperti Iprk yang di dalam rahimnya sudah tumbuh calon buah hati mereka.
Bertepatan dengan itu Rio dan Ody pun datang tentu dengan si ganteng yang kali ini bangun tidak dalam keadaan tidur lagi. Pasangan suami istri yang baru di berikan kabahagiaan dengan lahirnya anak laki-laki itu langsung berencana menjenguk Zawa begitu tahu kalo Zawa dirawat dirumah sakit ini.
"Loh, kok kayaknya ini lagi bahagia banget, siapa yang dapat undian? Kenapa enggak bagi-bagi kita," kelakar Rio, yah, walaupun Rio tahu baahwa sebenarnya mereka tengah bahagia karena dugaannya semalam bahwa Zawa hamil sudah sampai di tangan Zawa dan Arzen, tapi Clovis? Kenapa Clovis juga nampaknya bahagia sekali. Rio lebih tertarik dengan bahagia yang Clovis tunjukan, rasanya tidak mungkin karena kabar bahagia dari pasanag Arzen dan Zawa bisa juga memberika bahagia yang lebih buat Clovis dan Ipek .
"Ody pun berjalan mendekat pada team cewek untuk menanyakan kabar apa gerangan yang membuat ruangan ini ramai sekali, dan wajah-wajah bahagia dari teman-temanya. Tidak kalah Rio yang tengah menggendong Baby boy pun menghapiri team cewek dan bertanya dengan apa yang ingin Ody ketahui.
Meyra tidak ikut dengan Rio dan Ody karena untuk beberapa hari ini Ody memang mengizinkan Meyra untuk menemani Emly yang masih lemah, rencananya Ody juga setelah dari ruangan Zawa akan berkunjung melihat kondisi Emly yang sudah sadar meskipun masih lemah. Setelah itu baru Rio dan keluarga kecilnya akan kembali ke rumahnya.
"Apa kalian tidak ingin bagi-bagi kabar bahagia ini?" tanya Ody sok ketus ketika melihat tiga sahabatnya justru nampak seperti kaget dengan kedatangan Ody.
"Ini Mba, dokter Zawa hamil," jawab Ipek dengan semangat dan menunjuk pada Zawa. Saking senangnya melihat Zawa hamil sampai-sampai dia lupa kalo dia juga hamil dan belum berbagi kebahagiaan.
"Terima kasih Dy, ia aku udah kesel banget sama Ipek dan Clovis taunya aku hamil juga," ucap Zawa.
Ody terheran dengan jawaban Zawa. "Apa artinya Ipek juga sedang hamil?" tanya Ody yang justru baru tahu kalo Ipek juga hamil.
Ipek tertawa, ia lupa kalo dia juga lagi hamil. "Hehe... Iya Mba," jawab Ipek setengah terkekeh.
Ody langsung memeluk Ipek dengan menepuk-nepuk punggungnya. Rasanya Ody terlalu bahagia hari ini sampai-sampai air matanya jatuh, sebagai tanda bahwa ia sangat bahagia.
"Selamat yah Pek, Mba ikut senang dengarnya. Semoga semuanya lancar sampai kalian melahirkan," ucap Ody sembari terisak dengan tangisanya. Bukan sedih tetapi bahagianya yang teramat.
"Terima kasih Mba, nanti pasti Ipek akan sering-sering repotin Mba Ody buat tanya-tanya seputar kehamilan," jawab Ipek dengan antusias.
"Dengan senang hati, Mba kalo tahu pasti akan bantu. Tapi kalau pun tidak, kamu bisa minta bantuan sama para ahli di bidangnya. Kamu lupa yah dua temanmu adalah sepesialis dokter kandungan jadi kalo ada masalah apa-apa kamu bisa langsung gedor merek," balas Ody sembari menunjuk dua sahabat mereka yaitu Intan dan Zawa. Namun sepertinya Zawa hanya pandai soal teori sajah buktinya dalam pratik dan nyatanya dia payah buat diagnosa kehamilan sendiri saja Zawa tidak bisa. Malahan fikiranya parno. Padahal ciri-ciri orang hamil terlihat banget dikehamilan Zawa. Justru yang seharusnya bisa tertipu itu kehamilan Ipek, yang tidak ada gejala apapun. Seperti orang normal pada umumnya.
Intan justru setelah berbagi kebahagiaan terlihat kembali murung. Ia teringat kejadian beberapa tahun silam di mana dia harus kehilangan kekasihnya dalam kecelakaan motor. Sejak kejadian itu Intan seolah ketakutan apabila di dekati oleh laki-laki. Sebab bukan cuma satu kekasihnya yang harus pergi meninggalkan dia untuk selamanya. Namun tiga kekasihnya semuanya meinggal ketika menjalin kasih dengan Intan. Memang tidak ada yang menilai Intan dengan padangan buruk mereka setelah tiga kekasih Intan semuanya meninggal dengan cara yang berbeda. Ada yang kecelakaan, dan sakit. Namun bagi Intan rasa ketakutan dalam dirinya tentu ada, kalo-kalo nanti dia memiliki kekasih atau bahkan pasangan hudup semuanya akan meninggal. Atau orang bilang kutukan.
Sampai saat ini ketika ia membahas jodoh, dia akan kembali ke masa kehilangan itu. Namun tidak memungkiri Intan juga ingin hidup bahagia seperti mereka, bahagia dengan pasangan masing-masing.
Namun Intan juga tidak bisa mengelak dan kembali merasakan nyeri manakala membahas itu. Terlebih di umur dia yang sudah melewati umur tiga puluh tahun, semakin banyak mulut-mulut lancang yang membahas tentang jodoh. Dan apabila di jawab belum mendapatkanya. Mereka dengan gamblang dan tanpa dosa mengatakan perawan tua. Intan memang selama ini membalas kata-kata itu dengan senyuman dan candaan saja tetapi senyum itu adalah senyum kesakitan hatinya. Senyum yang menandakan bahwa hatinya tidak baik-baik saja ketika mereka berkata demikian. Bukan inginya dihantui rasa ketakutan itu. Tetapi traumatik di dalam dirinya ketika kembali mengenang memory melihat tubuh tiga mantan kekasihnya yang terbujur kaku, membuat Intan betah menyendiri dulu.
Walupun dengan memutuskan menyendiri tetap saja ada yang mengatakan hal yang aneh-aneh. Dia penyuka sesama jenis lah dan lain sebagainya, dugaan-dugaan aneh yang membuat dia malas meladaninya. Yah, dibalik sosok jahil, bar-bar dan cerianya Intan juga sama seperti mereka memiliki kesedihan tersendiri. Namun dia mencoba menutup sedihnya dengan sifat-sifat konyol itu.