
Keesokan harinya seperti biasa ketika pagi hari, Ipek akan membersihkan badan suaminya, dengan sangat telaten dan mengganti pakaianya agar badanya tidak lengket. Gigi pun dengan telaten Ipek gosok satu persatu sungguh pengabdian yang luar biasa. Setiap inci badan suami yang dulu tidak pernah Ipek sentuh kini selalu Ipek bersihkan agar tidak ada daki maupun biang kringet yang bisa membuat pernyakit kulit.
Begitu sudah di lap ganti baju dan kini Ipek menyuapi makan. Walaupun untuk makan Wahid masih dengan yang lembek dan tidak keras.
"Nanti jadi ke rumah Ody kan?" tanya Wahid di tengah sarapanya.
"Insyaallah Bang, tapi Abang beneran tidak apa-apa kalo Ipek tinggal?" tanya Ipek, memastikan lagi.
"Engga, kamu pergilah. Kamu butuh kumpul dengan teman-temanmu biar nggak jenuh," ucap Wahid. Dia yang tidak bisa menghibur Ipek maka dari itu ingin membebaskan Ipek untuk bertemu dengan teman-temanya. Agar tidak merasa suntuk, jenuh dan kesepian.
"Kalo Ipek sih mau sekali. Apalagi jujur Ipek juga kangen sama keusilan teman-teman, pasti nanti bakal jadi hal yang paling menyenangkan." Ipek bahkan sudah membayangkan dengan keusilan dokter Intan. Ipek tidak terfikirkan dengan Clovis terlebih Ipek sudah mengira kalo Clovis sudah tidak ada di Indonesia lagi. Pasalnya dari Tama dulu pernah bercerita bahwa Clovis sudah kembali kenegaranya. Maka dari itu Ipek tidak menduga kalo Clovis kali ini berada di Indonesia. Maka dari itu Ipek mau hadir memenuhi undangan dari Ody. Sekaligus kangen juga pengin ngerjain Intan.
"Ya udah Abang izinkan, biar kamu juga ada hiburan kan." Wahid senang ketika melihat istrinya senang.
Ipek pun tersenyum dan memeluk tubuh Wahid yang masih banyak dipenuhi alat-alat medis.
*****
Di rumah Rio...
Pagi hari sudah ramai dengan semua orang-orang berlalu lalang untuk menyiapkan acara empat bulanan baby utun, pasalnya pagi nanti jam sepuluh ibu-ibu akan mengadakan pengajian untuk sang jabang bayi, agar selalu diberi kelancaran dan juga pelindungan selama kehamilanya dan juga sampai melahirkan diberi kesehatan dan tidak ada hal merintang yang terjadi.
Ody, Rio dan calon kaka Mayra pun nampak khusu mengikuti setiap acara yang diadakan doa-doa dipanjatkan untuk Ody dan calon buah hatinya.
Rio pun berharap dikehamilan kali ini anak mereka bisa lahiran dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Rio pun sekarang tidak akan terpancing dengan masalah apapun. Dia selalu berusaha menjadi papah yang siaga buat Mayra maupun calon baby'nya yang bahkan jenis kelaminya belum bisa terlihat.
Menjelang Dhuhur acara pengajian untuk ibu-ibu sudah selesai kini Ody dan keluarganya akan beristirahat sejenak. Dilanjutkan sekitar jam dua acara buat anak-anak panti asuhan yang sengaja Rio undang juga untuk mendoakan Ody dan calon anaknya. Semakin banyak yang mendoakan maka akan semakin lancar kehamilan Ody. Itu kira-kira yang ada di pikiran Rio sehingga ia dari pagi sampe sore diadakan acara doa bersama. Setelah itu baru dilanjutkan dengan acara kumpul bersama teman-temanya nanti setelah Magrib.
Lumayan ada waktu untuk meregangkan tubuhnya yang bahkan baru mengikuti acara sebentar sudah cape. Itu lah yang dirasakan ibu hamil gampang lelah padahal hanya berdiri dan duduk untuk menyambut para tamu dan berdoa bersama.
Acara satu persatu sudah Ody lewati kini Ody tengah rebahan di ranjang empuknya. Sebelum ia membersihkan tubuhnya dan akan menyambut teman-temanya untuk berkumpul bersama.
"Sayang cape yah?" tanya Rio sembari memijit kaki Ody.
Ody pun membiarkan saja toh memang kakinya pegel juga. Ya walaupun nggak pegel-pegel amat sih, tapi kalo ada jasa pijat gratis kan enak tuh.
"Sepertinya datang sayang, mudah-mudahan saja diacara kita mereka bisa baikan yah. Mas juga ngerasa nggak enak kalo harus membuat Ipek dan Clovis bertengkar. Kasihan Ipek nanti jatuhnya tambah sedih." Rio berencana akan membuat Clovis dan Ipek baikan lagian kan Clovis sekarang sepertinya prilakunya tidak seperti dulu lagi yang mana sekarang Clovis juga dari usaha dan tingkahnya sudah tidak seperti dulu yang suka meledak-meledak tanpa tau kesalahan langsung marah-marah saja.
Bahkan baik Rio maupun Ody melihat Clovis makin baik tingkah lakunya. Malahan Clovis beberapa kali sengaja membelikan Mayra mainan dan pakaian. Padahal kalo dulu boro-boro ia mau berbaik hati seperti ini. Menyapa saja rasanya hanya dengan orang-orang yang ia suka saja.
Setelah Rio memijat kaki Ody dan istrinya pun sempat tertidur sebentar kini Ody sudah mandi dan berdandan dan berpakaian dengan pakaian terbaiknya untuk menyambut sahabatnya.
Mayra yang di tangani langsung oleh mamih pun sudah cantik. Yah mamih yang meminta untuk mengurus semua urusan cucunya. Terlebih kedua cucunya kini tinggal di negara yang berbeda sehingga Mayra sekarang menempati cucu kesayangan.
Mayra juga sama seperti Ody tadi sore sempat tidur sehingga kini batrenya sudah full untuk merecoki tante dan omnya yang sayang dengan Mayra terlebih dia baru menjadi ponakan satu-satunya sehingga menjadi ratu diantara para pengawal.
Seperti kali ini Aarav datang paling awal. Begitu pulang kerja ia langsung memutuskan pulang ke rumah Rio tanpa menyambangi dulu rumahnya, padahal rumah mereka bergandengan.
Aarav membawa kado yang cukup besar bahkan untuk mebawanya saja dia hampir tidak kelihatan.
"Daddy..." Mayra yang melihat Aarav datang dengan kado besarnya pun berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Setelah meletakan kadonya Aarav pun menggendong anak kesayanganya. Yah. Aarav pun menganggap Mayra anak, sehingga Mayra pun memanggilnya Daddy.
"Apa ini Dad?" tanya Mayra dengan wajah berseri bahagia tak terkira mendapatkan kado dengan ukuran besar.
"Buka saja Nak, itu Daddy sengaja pesan dari luar negri agar Mayra suka karena disini belum masuk mainan seperti itu." Aarav dengan bangga memamerkan kemampuanya yang kini usahanya maju pesat tetapi pengeluaran masih segitu-gitu saja, sehingga ia lebih suka uangnya digunakan untuk memanjakan anak angkatnya.
"Kamu jangan dibiasain May dibelikan kado yang mahal-mahal Rav, takutnya nanti dia jadi merasa besar kepala, karena pengin apapun diturutin lebih baik uangnya kamu gunakan untuk ditabung dan buat modal nanti kalo kamu sudah mau berumah tangga." Rio menasihati Aarav agar tidak terlalu memajakan Mayra. Justru takutnya memberi dampak buruk pada Mayra nantinya.
"Sekali-kali nggak apa-apa Yo, lagian nggak tiap saatkan manjain dia juga. Ini kebetulan pemasukan lagi lancar ajah bisa nyisihin buat kasih kado sama Mayra." Aarav melakukan pembelaan, lagian udah terlanjur dibeli kan.
"Lagian loe mah Rav, May ajah yang dikasih kado nih baby utun juga pengin kado. Ngiler nanti kalo untun nggak dapat kado." Ody meledek Aarav, ya iseng ajah gitu ngerjain Aarav.
"Baby utun beli sendiri ajah, nih jatah buat utun beli kado sendiri. Om nggak tau juga dia maunya apa." Aarav memberika satu ikat uang dengan warna merah. Tentu saja hal itu cukup membuat Bundanya utun Happy.
Sementara Mayra tengah sibuk mencoba membuka kado. Memang sengaja tidak ada yang membantu biar anak itu mandiri dan berlatih berusaha dulu dengan usaha kerja keras baru bisa menikmati hasilnya. Walaupun beberapa kali May kesusahan tetapi anak itu tidak menyerah. Terus mencoba hal itu yang di ajarkan Ody agar jangan menyerah dan menangis, lalu meminta bantuan pada yang lain. Benar saja Mayra tidak pernah menagis dan sedikit-sedikit meminta bantuan. Ia lebih suka berusaha terus sampai tercapai yang ia inginkan