Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kesadaran



Ody menatap wajah Meyra yang polos dan dia tahu bahwa Meyra juga bingung dengan kondisi seperti ini, tetapi juga Ody tidak tega kalo melihat Emly terbujur tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit sedangkan kekuatan dirinya untuk sembuh adalah dari Meyra, putrinya.


Ody berusaha menarik bibirnya seolah ia baik-baik sajah dan dia  pun mencoba mengerti dengan kondisi Emly yang lebih butuh Meyra. "Iya aku enggak masalah kok Rav, kalo untuk beberapa hari kedepan Meyra akan tinggal di rumah sakit ini, karena memang saat ini Emly sepertinya lebih membutuh kan Meyra, dan aku juga percaya kalian tidak akan tega merebut Meyra dari aku. Biarpun dia bukan anak yang lahir dari rahim ku dan juga bukan gen dari Rio, tetapi aku sudah menyayangi Meyra lebih dari apapun. Aku sudah sangat sayang sama dia," ucap Ody sembari mentap wajah cantik putrinya itu. Sembentara Ipek dan Clovis hanya menyimak saja, meskipun di hatinya juga ia sakit dan sedih membayangkan gimana sedihnya perasaan Ody itu.


Rio pun yang melihat Ody seperti sedang melow berjalan kesampingnya dan mengelus pundak istrinya dan memberikan kekuatan agar tidak bersedih.  Lagi pula Meyra nanti kalo Emly sudah sembuh mereka akan kumpul bersama lagi.


Ody pun setelah melihat kondisin Emly tidak lama pamit pulang, karena memang ia yang akan pulang kerumah juga.


"Mey, Bunda sama Papah serta adik boy pulang dulu yah, nanti Mey jaga Mamih di rumah sakit, kasihan Mamih butuh Mey buat cepat sembuh," ucap Ody memberikan pengertian pada putrinya itu.


Meyra nampak diam saja dia tidak langsung menerima ucapan Ody karena mungkin dia yang juga masih bingung dengan kondisi ini.


"Nanti Mey kalo mau bobo sama mamih?" tanya Meyra bungung.


"Iya sayang nanti Bunda sama papah akan sering-sering datang ke rumah sakit buat menengok kondisi mamih, dan Mey, jadi Mey enggak kesepian," balas Ody matanya bahkan sudah berkaca-baca sedih ketika tahu Meyra yang ternyata bisa bersikap dewasa itu.


Setelah Meyra mengerti Ody pun berpamita dengan yang lainya. Berbeda dengan Ody yang ingin buru-buru pulang, Clovis justru ingin mengobrol lebih dulu dengan Aarav dan juga ingin memberikan Emly motifasi. Tentu setelah izin dengan Ipek dan Clovis mengizinkan.


"Kata dokter gimana kondisi Emly Rav?" tanya Clovis yang saat ini berada di samping ranjang Emly. Dan menatap dengan iba ke arah Emly. Clovis masih ingat betul bagaimana menyebalkanya wanita yang sekarang tengah terbaring tidak berdaya ini. Bahkan tidak jarang Clovis beradu mulut dengan Emly, dan Clovis adalah orang yang benar-benar tidak setuju ketika Rio memutuskan bertunangan dengan Emly.


"Ya kaya gitu, seperti yang loe lihat. Masih menunggu keajaiban Vis, tapi kata dokter sangat memungkinkan bahwa Emly bisa sembuh tinggal kita bisa memnbuat Emly terpanggil untuk sembuh," jawab Aarav dengan wajah lelahnya, yah Aarav bahkan entah berapa jam tidak tidur. Ia tidur hanya sebentar-sebentar itu pun kadang sambil duduk di kursi sembari menjaga Emly.


Ini kali pertama Ipek melihat Emly dan dari pertemuan pertama ini Ipek baru tahu bahwa Emly sakitnya separah ini, pantas saja semua teman-temanya memaafkan kesalahan Emly.


Clovis mendekat ke arah Emly dan coba membisikan sesuatu, dia akan mengaku kejahatanya dulu, di mana dia lah yang memiliki ide menukar minuman Rio dengan dirinya.


Sementara Ipek yang sedang berdiri di samping Clovis malah menangis dia sangat sedih ketika melihat kondisi Emly seperti itu. Clovis memeluk istrinya yang malah menjadi sedih.


"Oh iya Mly, kenalin ini yang sedang nangis namanya Ipek, dan dia adalah bidadari tidak bersayap. Cewek cengeng ini adalah istri gue," imbuh Clovis. Terus mengajak Emly berkomunikasi meskipun kemungkinan untuk merespon sangat kecil tetapi cukup buat Clovis merasa senang bisa mengajak Emly berjuang seperti ini.


"Emly, tadi gue iri karena loe punya anak yang cantik, pintar dan lucu, tentu bawelnya menurun dari loe. Gue juga sekarang mau punya anank Mly. Doakan yah anak gue bisa lancar segala urusany," imbuh Clovis.


Arzen pun merasa terharu dengan kegigihan Clovis mencoba berbicara dengan Emly meskipun mamihnya Meyra tidak kunjung bangun.


Emly yang sebelumnya tidur terlalu nyenyak entah karean Clovis yang terus mengajaknya mengobrol atau apa. Tiba-tiba menggerakkan tanganya.


"Abang tangan Emly gerak," pekik Ipek yang sangat antusias mengetahui Emly tanganya bergerak. Bahkan kini ia tidak lagi menangis.


Clovis dan Arzen pun langsung kembali mendekat ke samping ranjang Emly di mana sebelumnya mereka sedang duduk di sova. Hanya Ipek yang menemani Emly. Ipek sedang membacakan surat-surat pendek dan juga membacakan solawat untuk Emly.


Terdengar suara erangan dari bibir Emly seolah ia sedang merasakan sakit. Aarav pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa Emly.


"Mly apa ada yang di rasakan?" tanya Clovis dengan nada lembut.


"Pusing Rav," jawab Emly tanpa melihat siap lawan bicaranya.


"Kamu sabar yah, sebentar lagi dokter datang," balas Clovis ia ingin memijit kepalanya Emly, yang seolah sangat sakit sekali, tetapi Clovis takut malah mebuat sakitnya makin parah lagi. Tidak lama dokter pun datang untuk memeriksa Emly. Mereka nampak berbisik sehingga membuat Clovis dan Ipek semakin tegang.