Beauty Clouds

Beauty Clouds
Hancur karena Kebohongan



"Mas... aku bisa jelasin semuanya, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Niat aku baik Mas...." Cindi mulai terisak dan memohon pengertian dari Doni.


"Niat baik apa yang kamu maksud, coba kamu jelaskan agar aku bisa mengerti jalan fikiran kamu Cin," ujar Doni, kali ini dengan suara lebih lembut. Bukan berati Doni memaafkan Cindi. Doni hanya ingin tau semua isi hati Cindi dan tidak menimbukan keributan yang memancing tetangganya dengar dan mengetahui atau bahkan kepo dengan kisruh terjadi didalam rumah tangganya.


"Tapi Mas Doni harus janji yah, kalo Mas nggak akan marah samu aku, dan akan maafin kesalahan aku," balas Cindi dengan nada yang memelas.


"Nggak usah kalo gitu Cin!! Kamu nggak usah menjelaskan apapun karen semua yang kamu jelaskan juga pasti unjungnya hanya pembelaan semata. Aku udah lelah dibohongi sama kamu selama ini. Maaf lebih baik kita pisah sajah," ucap Doni dengan yakin, sebenarnya dia sudah memutuskan sebuah keputusan yang mana tadi ia meminta Cindi untuk mengutarakan isi hatinya hanya untuk basa basi dan mengetes kejujuran Cindi sajah.


Bagai tersambar petir disiang bolong, Cindi kaget nggak terfikirkan sedikit pun olehnya kalo Doni akan menceraikan dirinya. Cindi terlalu percaya diri bahwa Doni sangat mencintainya selama ini. Sehingga ia berfikir adai kebohonganya pun ketahuan, Doni pasti akan memaafkanya. Meskipun mungkin akan ada drama marah-marah tapi paling hanya sebentar setelah itu ia akan kembali lagi dengan Doni yang pendiam dan selalu mengalah dengan Cindi, istrinya.


"Mas, kamu nggak seriuskan, akan menceraikan aku. Aku istri kamu Mas, kamu udah punya anak dari aku sekarang sajah umurnya masih sangat bayi gimana kamu tega menceraikan aku." oceh Cindi dengan panik, gimana nasib dirinya apabila bercerai dengan Doni.


"Aku serius Cin, semua yang sudah aku keluarkan tidak bisa aku tarik kembali. Ini udah kesalahan fatal menurut aku. Seharusnya, andai kamu punya hati dan empati. Ody itu sahabat kamu loh, kamu nggak seharusnya melakukan ini semua dengan Ody. Kamu nggak usah menjelaskan apa-apa dengan tujuan kamu mengambil surat-surat itu dan menggadaikanya. Aku sudah tau jalan fikiran kamu. Kamu itu iri dengan Ody sehingga kamu melakukan ini semua. Iya kan?" Doni membuat Cindi diam tak bisa berkutik. Semua yang diucapkan Doni adalah kebenaran.


"Tapi aku cuma pengin Mas bisa memiliki semua uang itu, Mas Doni nggak usah susah-susah membagi sebagian uang hasil jual rumah untuk Ody. Mas bisa beralasan lain agar uang itu Mas semua yang miliki." Cindi masih bisa meghasud Doni.


Hahahaha....(Doni tertawa.dengan lantang)


"Dengar yah Cindi aku sedikit pun tidak memiliki pemikiran picik seperti itu, justru aku tidak tega dan sudi kalo harus memakan uang hasil jerih payah Ody. Kamu tentu tau alasanya apa? Yah aku mencintai Ody, dan aku tau betul gimana perjuangan Ody bekerja lima tahun di negri sakura. Cape, waktu tidur kurang, belum dia harus menahan rasa kangenya dengan keluarga itu tidak mudah Cin. Dan Kamu? Kamu dengan mudahnya ngomong kaya gitu. Di mana hati nuranimu Cin? Ody itu teman kamu seharusnya kamu lebih peduli sama dia. Bukan malah seperti ini. Salah apa Ody sama kamu, sampai kamu sebegitu bencinya sama dia?" oceh Doni yang nggak habis fikir Cindi bisa berkata demikian.


"Iya Mas, maaf! Tapi itu dulu ko, sekarang aku sudah bertaubat dan tidak lagi memiliki perasaan iri terhadap Ody. Aku sadar, nasibku tidak sebaik Ody sehingga aku tidak harus iri dengan nasibnya," tutur Cindi, ia terus berusaha merubah keputusan Doni.


"Tobat? tobat kamu terlambat Cin, dari kemarin aku sudah tanya sama kamu baik-baik, tapi kamu selalu menolak berkata jujur. Andai sajah aku tidak memergoki pesan ini dan meminta penjelasan dari pihak penggadaian, sudah dipastikan kamu masih menyembunyikan fakta ini semua," cecar Doni tidak mau lagi terhasut oleh trik licik dari Cindi, yang licin bagai belut sawah.


"Engga Mas, aku memang sudah bertegat akan bercerita terus terang dengan Mas Doni, aku sudah tidak ingin ada kebohongan lagi di dalam rumah tangga kita." Cindi tidak mau mengalah ia selalu sajah meminta kesempatan untuk bisa kembali berajut benang yang sudah putus.


"Omong kosong, bahkan kamu nikmati uang itu sendiri. Uang hasil pergadaian tanah kamu buat foya-foya kan, belanja barang-barang tak penting itu?" Doni menunjuk beberapa barang yang ia duga Cindi memebelinya dari uang hasil penggadaian sertifikat tanahnya. "Sekarang aku mau kamu jujur, berapa juta kamu gadaikan surat-surat tanah kami (Ody dan Doni)?" cecar Doni dengan santai, tetapi ia mengembangan senyuman sejuta arti.


"E.... aku menggadaikanya delapan puluh juta!" ucap Cindi dengan terbata.


"Iya Mas Maaf, aku minta maaf sekali lagi....(perkataan Cindi dipotong Doni)


"Balikan uang itu secepatnya, setelah kamu mengembalikan uang itu dalam waktu satu minggu, mungkin aku bisa mempertimbangkan keputusan berpisah kita, tapi aku tidak bisa menjamin aku bisa percaya lagi dengan kamu." lirih Doni, hanya itu keringanan yang ia bisa berikan pada Cindi, yang mana memang kesalahanya sangat tidak bisa ditorerir lagi.


"Tapi Mas, aku bisa dapat duit dari mana sebayak itu. Bahkan aku tidak bekerja aku pun tidak memiliki jaminan apa-apa yang bisa aku jual atau gadaikan," ucap Cindi dengan wajah memelas.


"Itu urusan kamu, aku nggak mau tau sedikit pun urusan itu, yang terpentung satu minggu lagi silahkan kamu datang kesini membawa uang delapan puluh juta itu. Kalo kamu tidak bisa memberikan syarat itu, aku tetap pada caraku yang pertama, yaitu kita cerai!" ucap Doni dengan yakin.


"Terus aku sekarang kemana? Maksud kamu, aku harus pergi dari rumah ini sampai aku bisa membawa uang delapan puluh juta itu?" tanya Cindi dengan muka kagetnya.


"Iya begitu, itu udah hukuman paling ringan buat pembohong seperti kamu," jawab Doni dengan enteng.


"Lalu anak kita gimana? Dia masih terlalu kecil untuk aku tinggal?" tanya Cindi kepanikamya semakin menjadi mana kala ia juga harus berpisah dengan anaknya.


"Anak kita biar sama aku, toh dia juga tidak minun Asi kamu. Dia minum susu formula, jadi biar aku yang asuh." Keputusan final Doni.


Cindi terisak, menangis memohon kemurahan hati Doni. Namun, Doni sudah terlanjur kecewa dengan perbuatan Cindi. Bukan, bukan Doni yang kejam memisahkan anak dan ibunya, Doni hanya memberika pelajaran pada Cindi, agar ia tidak seenaknya ketika mengambil keputusan. Toh andai Cindi bisa membawa uang delapan puluh juta yang telah ia abiskan untu foya-foya, Doni juga pasti akan mencoba menyambung kembali tali pernikahan mereka, yah walapun tidak akan percaya terhadapnya seperti dulu.


"Aku rasa, aku sudah melakukan keputusan yang paling adil, pembohong memang harus diberi hukuman yang membuatnya jera," batin Doni, mencoba menenangka fikiranya. Tidak mau terprofokasi dari selentingan-selentingan mana pun.


Untuk sementara Doni akan menitipkan anaknya pada orang tuanya, dan ia fokus kerja dan menyelesaikan masalah dengan Ody. Setelah itu ia akan menyelesaikan kerumitan hubungan rumah tangganya dengan Cindi.


# *Kebohongan bisa menutupi kebenaran, tapi tidak menghilangkanya. Hanya masalah waktu, hingga kebenaran terungkap!!


*Kejujuran adalah kesederhanaan yang paling MEWAH.