Beauty Clouds

Beauty Clouds
Menuju Hari Bahagia



Semakin hari semakin membawa perubahan untuk Arzen. Bahkan kini ia sudah tidak menggunakan korsi roda lagi. Ia hanya masih mnggunakan tongkat ketiak, hal itu karena kakinya belum terlalu kuat untuk menyangga bobot tubuhnya.


Kini pun hari-hari Arzen di sibukkan dengan dapur umum selama di pesantren. Ia memang belum mulai membuka bisnis cafenya, itu karena kendala kesehatanya yang belum terlalu pulih. Namun, ia sudah mencari lokasi yang setrategis semuanya dilakukan bersama-sama dengan Ipek. Dengan Ipek, juga Arzen mulai merencanakan desain untuk cafe dan berbagai macam persiapan yang lainya.


Besok adalah hari bahagia untuk Ipek, yah besok Ipek akan menjadi ratu sehari. Setelah satu minggu lalu calon suaminya Nur Wahid pulang ke Indonesia.


Setelah pertemuan tiga hari lalu besok menjadi hari yang paling di tunggu-tunggu oleh banyak orang. Terutama keluarga Ipek dan calon suaminya.


Semua keluarga besar Ipek dan Wahid tengah disibukan dengan persiapan nikah Ipek. Terlebih keluarga Wahid di mana papahnya adalah Lurah, kakeknya dulu pun sama seorang lurah sehingga diperkirakan pernikahan Ipek akan didatangi oleh banyak tamu undangan.


Ipek memang tidak meminta pernikahan yang mewah atau bagaimana, tetapi keluarga dari belah pihak yang menyiapkan semuanya. Ipek dan Wahid hanya terima beres.


Arzen pun ikut terlihat sibuk diantara orang-orang yang tengah mempersiapkan segala perlengkapan hajatan, bahkan ia lebih dari satu minggu lalu sudah sibuk kesana kemari. Yah calon ustad itu aktif dilingkungan pesantren. Walaupun kakinya yang masih belum terlalu sembuh, tetapi tidak menghalangi aktifitas Arzen, ia tetap membantu apapun yang bisa ia bantu. Dari mulai undangan, persiapan yang lainya dan sekarang urusan catering Abi serahkan pada Arzen.


"Arzen melihat Ipek tengah duduk termenung di taman belakang, di mana di sana memang agak sepi dan di depanya ada banyak sawah-sawah yang ditumbuhi oleh padi-padi yang mulai menghijau. Membuat suasana semakin nyaman untuk merilekan fikiran.


"Ehem... calon manten ko galau." Arzen membuyarkan lamunan Ipek.


"Apaan sih, siapa yang galau, enggak galau hanya kurang yakin besok setatusku akan berubah. Rasanya kaya mimpi diantara kenyataan. Masih belum percaya bahwa jodoh datang secepat ini," ucap Ipek.


Tentu tidak bisa memungkiri ada perasaan ragu dan lain sebagainya. Terlebih dia dan calon suaminya hanya bertemu satu kali, dan itu pun tidak ada pedekatan yang lebih. Hanya sekedar say hello biasa, bahkan seolah orang asing yang mencoba berkenalan di tempat umum yan tidak sengaja bertemu.


Arzen tentu tau kebimbangan Ipek. Bagaimanapun ia juga sama ada rasa takut apabila Ipek gagal membina rumah tangga. Ia juga menganggap Ipek lebih dari teman, sehingga rasa takut Ipek akan disakiti oleh suaminya juga singgah di dalam dirinya.


"Tapi, sudah meminta petunjuk dengan Allah?" tanya Arzen, meskipun ia juga tahu pasti Ipek sudah melakukan itu.


Ipek mengangguk dengan lembut.


"Hasilnya?" tanya Arzen, penasaran tentu.


"Hasilnya tidak ada keraguan, alias kemungkinan Abang Wahid memang jodoh Ipek, tapi kamu tahu lah hati kadang masih kekeh dengan perasaanya..." Ipek bingung dengan menjabarkanya, tapi setidaknya ia memberi tahu bahwa dirinya tengah ragu dengan hatinya.


"Oh... yah aku ngerti bagaimana rasanya itu. Mudah-mudahan, ini hanya kebimbangan yang wajar, yang mana setiap orang bakal mengalaminya, bisa jadi aku pun nanti ada di posisi itu." Arzen kalo soal hati tidak bisa memberikan solusi, karena memang hal itu sulit untuk dijabarkanya.


Mereka pun kembali bercerita dengan tema yang tidak menentu, yah setidaknya Ipek merasakan kehadiran Arzen dan cerita-ceritanya membuat ia sedikit melupakan ketegangan untuk melewati hari esok. Siapa sih yang tidak tegang dengan acara yang akan dibikin secara akbar, bahkan tamu undangan dari kedua belah pihak mencapai ribuan. Ipek saja sampe heran orang sebanyak itu apa ia sanggup untuk menyalaminya.


Namun, semua karena kemauan orang tuanya, sehingga Ipek hanya pasrah saja semoga diberi kekuatan untuk melewati hati yang pasti melelahkan esok hari.


Setelah cukup lama Ipek mengobrol dengan Arzen. Mereka pun kembali masuk ke kamar masing-masing. Arzen setelah sholat Asar ia akan beristirahat sejenak. Karena badan rasanya pada sakit semua. Begitupun Ipek Ia akan beristirahat sebenarnya banyak acara nanti malam yang harus diikuti Ipek, maka dari itu ia akan beristirahat sebentar untuk mempersiapkan tibuh yang segar.


Acara satu persatu malam ini Ipek bisa lewati dengan sempurna, kini tiba saatnya ia kembali membaringkan badanya. Mengistirahatkan badannya untuk hari esok.


****


Di negara yang berbeda Clovis dari semalam pikiranya tidak tenang, kacau dan juga ia beberapa kali salah memasukkan laporan-laporan penting.


"Oh Tuhan kenapa dengan otak ini." Clovis menjambak rambutnya manakala ia salah lagi dalam mengimput data.


Clovis berjalan ke sofa yang ada di pojoj rungan kerjanya. Ia merebahkan badanya dan menatap langit-langit rungan kerjanya.


"Kenapa aku selalu merasa tidak tenang, cemas dan tidak bisa fokus," gumam Clovis ia memijat-mijat kepalanya, yang berdenyut.


Clovis merasa badannya lemas, seolah ia tengah tidak enak badan. Ia pun setelah mencoba beristirahat tetapi tidak kunjung membaik akhirnya memutuskan untuk pulang. Mungkin setelah minum obat dan berusaha istirahat dengan baik. Kondisi badanya akan membaik.


Padahal seminggu lagi dirinya akan mulai mengurus usahanya yang berada di Jakarta, tetapi justru badanya menunjukan gejala yang kurang baik.


"Ada apa dengan kesehatanku apa aku ada sakit yang serius kenapa aku merasa badanku sangat buruk akhir-akhir ini." Clovis kembali bergumam.


Ia kembali akan melakukan pemeriksaan sebab ia kembali tidak merasa baik-baik saja, ada perasaan yang terus membuatnya cemas tetapi Clovis tidak mengerti perasaan apa itu. Yang ia tahu semuanya tidak baik-baik saja.


Clovis memegang dadanya, solah bertanya pada dadanya apa yang terjadi dengan kehidupanya kini, ada rasa sulit di jabarkan, tetapi selalu hinggap di hidupnya dan membuat setengah kehidupanya gelap.


"Apa ini ada hibunganya dengan dosa-dosa aku di masa lalu? Apa ini yang membuat aku selalu tidak tenang adalah rasa dosa yang bertumpuk?" Clovis merenung dalam kesendirianya. Dia mencoba mencari jawaban dari kegelisahanya. "Tapi sejak kapan aku memikirkan dosa? Apa ini tandanya aku mendapatkan hidayah?" Lagi Clovis merasa dirinya sangat bergelimang dosa.


Ia kembali membuka kotak yang sejak tiga tahun lalu ia simpan. Yah kotak pemberian Ipek masih ia simpan dengan rapih. Meskipun setiap melihat kotak itu hatinya kembali teriris karena ia mengira bahwa Ipek telah meninggal karena perbuatanya. Sebab ia meminta sekian banyak anak buahnya untuk mencari jejak Ipek tetapi tidak ada yang menemukanya. Sehingga Clovis menyimpulkan bahwa Ipek sudah meninggal. Itu lah yang membuat ia selalu merasa dihantui oleh dosa-dosa.