
Sementara Ipek tengah merayakan kebersamaanya dengan keluarganya. Kini mereka tengah bercanda, bercerita bersama. Di lain tempat Clovis yang baru sampai di apartemenya. Ia justru semakin dibayang-bayangi rasa bersalah. Senyuman Ipek seolah menjadi dosa paling jahat yang selalu mengikuti kemana dirinya pergi. Belum lagi di apartemen miliknya ia terakhir melihat Ipek.
"Ya Tuhan temukanlah aku dengan Ipek, walaupun hanya sekali. Kenapa sosoknya Ipek selalu menghantui aku terus, apa aku jatuh cinta pada dia Tuhan?" Clovis mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Berharap ia akan istirahat dengan tenang, dan nanti malam Clovis akan mengunjungi rumah Rio, ia ingin menjalin komunikasi yang sudah lama terputus.
Ia juga ingin mendengar cerita teman-temanya yang sudah lama ia tinggalkan, ia ingin tahu bagaimana kabar mereka.
Malam hari Clovis siap-siap menuju rumah Rio. Ia menggunakan kendaraan yang baru di belinya ketika ia akan ke Indonesia, tentu orang kepercayaanya yang membelikanya.
Semetara Itu di rumah Rio terjadi kehebohan seperti biasanya Mayra akan menjadi penguasanya dan juga sekarang Ody tengah hamil anak kedua yang sudah berumur hampir jalan dua bulan.
"Kakak May, jangan lari-lari terus dong cape sini duduk sama Bunda dan Papah. Ini dedenya pengin di sayang," ucap Ody meminta agar Mayra jangan berlari-larian terus, melihatnya sajah cape bin ngeri nabrak sesuatu. Yang ada nanti nambah rame seisi rumah. Apabila May sudah menangis berati suasanya semakin ramai.
"Enggak mau Bunda, May mau main boneka-bonekaan saja sama Papah."
Ketika May masih bermain dengan Rio dan Ody di ruang keluarga tiba-tiba bel berbunyi. Ody akan membukakan pintu, tetapi cepat-cepat May menahanya.
"Bunda, bial May yang buka pintunya. Itu pasti tante Itan dan tante Awa." Yah Meyra mengira yang datang adalah Zawa dan Intan. Sang sahabat sejatinya sekaligus Baby sisternya Meyra.
Ody pun kembali duduk, membiarkan Meyra yang membukakan pintu. Mayra memang anaknya tergolong tinggi di umur tiga tahun saja ia sudah bisa membuka pintu yang mana biasanya anak usia lima tahun baru bisa sampai untuk penggapai pegangan pintu.
Bahkan di sekolah pun Mayra anak yang paling tinggi. Tak hanya itu ia pun anak paling cantik.
Rio pun yang melihat Meyra seolah tengah melihat Emly, tetapi ia berusaha menepisnya. Apalagi Rio sudah terlanjur sayang sama Mayra sehingga ia tidak akan rela kalo Emly atau Aarav mengambilnya.
"Tante bawa oleh-oleh apa?" May yang mengira bahwa tamunya adalah tante kesayanganya, yang apabila datang ke rumah pasti membawa oleh-oleh. May pun kaget dan malu ketika tamu yang dikiranya tantenya ternya orang lain. Terlebih tamunya adalah laki-laki, salting dong Mayra.
"Bunda.... huhuhuhu..." Meyra yang malu lari kearah Ody dan menangis.
"Kenapa sayang?" tanya Ody sembar memeluk calon kakak ini.
Rio yang penasaran pun keluar yang ternyata Clovis pun tengah kebingungan dengan reaksi Meyra.
"Cl... Clovis... ini bener loe sahabat gue." Rio langsung menghambur ke pelukan Clovis yang kaget mematung. Clovis yang belum siap dengan serangan Rio pun hampir terhuyung ke belakang. Untung Clovis kembali sigap dan tidak jadi terjerebak bersama-sama.
"Kalian pada kemana ajah sih, tau nggak gue nyariin kalian pada susah banget. Alhamdulillah kalian balik lagi kumpul." Rio masih menepuk-nempuk punggung Clovis menandakan bahwa ia memang benar-benar kangen.
Clovis pun sangat kaget dengan reaksi Rio.
"Apa ada yang banyak gue lewatin dari persahabatan kita?" tanya Clovis dengan terbata seolah sebuah robot yang kehilangan separuh dayanya.
"Banyak banget Bro, sampe-sampe gue kaya orang gila tanpa kalian. Yuk masuk..." Rio menari Clovis agar masuk dan memeperkenalkan sama putri kecilnya.
Meyra setelah dibujuk akhirnya pun mau menghampir Clovis untuk bersalaman dan berkenalan, tetapi masih dituntun oleh Ody karena Meyra yang rada pemalu apabila belum terlalu kenal dengan orang lain.
"Hay Om Ovis, nama saya Mayra," sapa Mayra sembari menjukurkan tangan kananaya untuk bersalaman denga Clovis sementara tangan kiri masih berpegangan dengan baju Ody. Seolah Meyra takut kalo Ody akan meninggalkanya.
Clovis pun membalas uluran tangan Mayra dan berjongkok, ia mengelus rambut Mayra dan mengangkat Mayra untuk ia gendong. Meyra pun diam ketika Clovis gendong dan cium-cium pipi gembilnya.
Mayra sampai terkekeh ketika Clovis menciumi pipinya.
Ody pun ikut memberi salam pada Clovis.
"Bagai mana kabarnya Bos," ucap Ody sembari menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Alhamdulillah baik, dan ini anak kalian? Ko pinter banget sih ponakan Om." Clovis tak henti-hentinya mencium Mayra dan anak uamur tiga tahun itu pun tertawa renyah ketika Clovis menciumnya pasalnya kumis dan bulu-bulu halus yang tubuh di sekitar dagu Clovis membuat Mayra kegelian.
"Syukur lah, yuk duduk. Pasti May senang punya Om satu lagi. Dia jadi banyak teman mainya, iya kan sayang?" tanya Ody pada putrinya.
"Iya Om nanti Om sama Om Alap main baleng sama May, May udah punya mainan balu dibeliin sama Om Alap, ada lumah Balbi yang besal. Iya kan Bunda?" tanya Mayra menceritakan mainan yang Aarav belikan untuk Mayra.
"Iya sayang, nanti Om Ovis ajak main dokter-dokteran sama Papah yah nanti May yang jadi dokternya biar Om Ovis jadi pasien nanti May suntik." Ody menambahkan kembali agar Mayra tidak merasa asing dengan Clovis.
Benar saja Mayra langsung bisa akrab dengan Clovis.
Clovis pun sangat terhibur dengan ocehan Mayra.
Sekarang bocah itu sudah tidur. Sebab dari tadi main dokter-dokteran dengan papah dan Om Ovisnya. Mayra juga meminta agar om Ovis sering-sering bermain mengunjunginya. Meyra akan menunjukan kamarnya yang sangat gerly dan koleksi mainanya yang banyak.
"Loe dapat anak kaya May gimana cara bikinya Yo, gemes banget gue main sama tuh anak. Pengin juga lah gue punya mainan kaya dia," ucap Clovis masih terlihat senyuman wajahnya.
Hahaha... Rio pun tertawa dengan pertanyaan Clovis, bahkan dia sendiri nggak tau bagai mana cara bikinya.
"Ngomong-ngomong loe selama ini kemana ajah, ngilang bak ditelan bumi. Gue semua nyariin loe, kenapa loe ada masalah dengan si Ipek kenapa kalian menghilang secara bersamaan. Gue pikir loe bawa tuh gadis kawin lari." Rio lebih baik membahas persahabatanya dari pada membahas Mayra.
Bukan karena Rio ingin merahasiakan setatus Mayra tetapi Rio hanya ingin orang lain tahunya Meyra adalah darah dagingnya. Anaknya, tetapi apabila setatusnya nanti terbongkar Rio berharap Mayra tidak berkecil hati. Karena kasih sayang Rio dan Ody tidak akan membedakan antar anak angkat dan anak kandung.
Buktinya Rio bisa memberikan fasilitas apa pun demi kebaikan Mayra tanpa memandang dia hanya anak angkat.
Rio dan Ody sudah benar-benar sayang dengan Mayra.