Beauty Clouds

Beauty Clouds
Undangan Pernikahan Untuk Clovis



Karena penasaran Ipek pun mengangguk sajah dan mematuhi apa yang jadi syarat dari Uminya itu.


Umi pun langsung menggeser duduknya dan membisikan sesuatu yang cukup lama di telinga putrinya itu.


"Umi, apa yang Umi katakan benar? Itu bukan salah satu usaha Umi biar Ipek bahagia kan?" tanya Ipek dengan terharu.


"Tadinya Umi pun bertanya pertanyaan yang sama dengan Abi kamu, tapi berkali kali Abi memberikan jawaban yang sangat yakin bahwa itu bagian dari rencana yang sedang Abi susun. Bahkan Abi tidak mengizinkan memberi tahu kamu atas rencana Abi. Makanya kamu pura-pura tetap tidak tahu apa rencana Abi kamu yah dan gitu kamu harus pura-pura merajuk sama Abi kamu. Pokoknya kamu harus berekting semaksimal mungkin, sehingga Abi tidak ada curiga sama sekali dengan rencana Umi.


"Siap Umi, Ipek pasti akan jalanin apa kata Umi, semua demi kebaikan Ipek." ucap Ipek dengan sangat bahagia. Akhirnya Ipek bisa menarik lagi bibirnya membentuk senyum yang sangat Indah. Yah, sejak ia tahu bahwa Abinya berencana menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya, senyum Ipek seolah hilang entah kemana, dan baru kali ini ia kembali senyum manis lagi tergambar jelas di wajah cantiknya.


"Lalu rencana Umi bagaimana kedepanya?" tanya Ipek yang tidak sabar ingin mendengar kabar akan rencana Umi untuk dirinya.


"Hari-hari kita habiskan untuk perawatan sajah sayang biar nggak ada di rumah ini terus jadi Abi tidak tahu kalo kamu sebenarnya pun udah mengetahui rencana Abi." Umi ternyata memang sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Terlebih pernikahan ternyata tidak sampai dua minggu lagi sudah dilangsungkan semuanya tanpa sepengetahuan Ipek dan Umi.


"Ok lah, Ipek akan ikuti semua rencana Umi. Terima kasih yah Umi karena sudah membuat rencana yang sangat baik buat Ipek. Mungkin kalo Umi tidak memiliki rencana ini Ipek tidak akan pernah tersenyum lagi dan tidak akan memiliki semangat untuk perawatan dan lain sebagainya." Ipek pun langsung memeluk Umi dengan sangat mesra.


Malam ini pun Umi masih tidur di kamar Ipek hal itu karena Umi pun masih pura-pura merajuk pada Abi, padahal dari hati yang paling dalam Umi juga sudah kangen ingin tidur berdua dengan suaminya itu. Yah meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi tapi mereka masih sangat romantis dan selalu menjaga hubungan hangat di dalam pernikahan.


Namun kali ini demi misinya agar tetap lancar Umi harus menekan egonya dan mengutamakan putrinya bahagia.


Keesokan paginya seperti biasa Ipek dan Umi sarapan setelah Abi dan Abangnya sudah makan. Setelah mereka sarapan Ipek dan Umi langsung menuju salon kecantikan yang menjadi langganan mereka. Sementara Abi mempersiapkan semua pesta pernikahan dan lain sebagainya dari undangan dan gedung diadakanya pesta nanti. Yah, Abi memilih gedung sebab tamu undangan yang diperkirakan datang akan jauh lebih banyak karena rekan bisnis Abi dan juga teman-teman Ipek akan datang kepernikahan Ipek.


****


Hari terus berganti sampai tidak terasa hari pernikahan Ipek sudah tinggal menghitung hati.


"Vis, loe diudang tuh sama Ipek acaranya hari jumat besok. Loe datang kan? Apa loe mau liat undanganya?" tanya Arzen yang dititipakan undangan untuk Clovis.


"Ngapain liat undanganya. Entah lah kalo lagi mood datang kalo enggak paling nitip sajah sama loe ajah," jawab Clovis dengen lesu.


"Ya kali ajah loe mau liat siapa pengantin cowoknya gitu, hehehe..." Arzen menggoda sahabatnya itu "Liat deh Vis undanganya ajah mewah banget kelihatan sultanwatinya iya kan tuh Ipek undangan ajah semewah ini kalo gue mah sayang dah bikin undangan mewah-mewah kaya gini." Arzen tidak ada henti-hentinya terus menggoda Clovis, tetapi Clovis tidak sedikit pun melihat undangan yang ditunjukan pada Clovis itu. Pandangan Clovis tetap pada layar laptopnya mengerjakan laporan kerjaanya.


Arzen yang merasa dikacangin pun akhirnya memilih memutuskan sambungan teleponya. "Awas ajah nanti kalo bilang kenapa kasih tahu undangan ke gue, ini udah di kasih tahu malah gue dikacangin," gerundel Arzen dengan bersungut-sungut mengumpat Clovis. Sedangkan yang diumpat tidak mendengarnya dan tetap fokus dengan laporan pekerjaanya tidak sedikit pun terganggu dengan berita yang Arzen bawa.


"Kamu kenapa sih sayang, malam-malam begini tetapi malah ngegerundel tidak jelas?" tanya Zawa sembari ngedusel ke ketek suaminya. Area favorit yang tidak pernah lepas dari incaran Zawa.


"Itu si Clovis di kasih tahu ada undangan dari Ipek untuk dirinya malah aku dikacangin niat hati mau nunjukin gitu undanganya seperti apa tapi malah dianya tetap gila kerja, dan nggak memperhatikan omongan aku sayang," ungkap Arzen memberi tahu apa yang membuatnya ngedumel.


"Ya udah biarin ajah, tugas kita cuma memberi tahu dan mengajak dia untuk datang setelah itu biarkan dia mau ngapain ajah. Sayang kita nikah sudah hampir empat bulan tapi kenapa aku belum hamil juga yah, padahal aku sudah praktekan gaya-gaya yang paling memungkinkan untuk terjadinya pembuahan. Makanan dan usaha pun sudah tidak bisa di ragukan lagi, tapi belum juga kunjung hamil." Zawa dengan wajah murung mengalihkan topik obrolan mereka.


"Kamu yang sabar sayang, jangan diambil pusing, kalo kamu belum hamil itu bukan semuanya kesalahan kamu kok. Mungkin memang aku yang bermasalah. Terlebih aku pernah kecelakaan yang mungkin sajah aku ada efek dari kecelakaan tempo lalu sehingga berpengaruh pada reproduksi kita. Kamu jangan cemas yah, apa mau besok kita periksa kesuburan biar ketahuan kalo ada yang bermasalah. Tapi kalo aku sih kamu mau hamil atau tidak aku akan tetap sayang kok sama kamu. Ya, kalo seandainya kita tidak bisa memiliki keturunan dari rahim kamu kan kita bisa ikuti cara orang tua kamu. Mengadopsi anak yang kurang beruntung seperti kamu waktu kecil dan mengangkatnya menjadi anak kita, dan membesarkan, mendidik dan menjadikan anak yang berguna bagi semuanya." Arzen sebisa mungkin tidak memberikan beban pada Zawa agar harus segera hamil. Memang kehamilan itu berbeda-beda ada yang langsung hamil. Ada yang nunggu berbulan bulan bahkan bertahun-tahun baru di berikan kepercayaan itu.


Zawa pun terharu mendengar Arzen berbicara seperti itu. Zawa pun sebenarnya berfikir seperti itu, hanya sajah ia takut Arzen kecewa karena dirinya yang tidak seperti wanita lainya bisa dengan mudah, menikah, hamil, dan melahirkan. Namun setelah mendengar jawaban dari suaminya, Zawa kembali bersemangat untuk tetap berdoa dan berusaha terus.