
Sementara Ipek dan Wahid di dalam sana tengah bermelow-melow. Orang tua mereka di luar ruangan tengah berunding membahas kondisi Wahid.
"Jadi bagai mana menurut Umi apa kita perlu memberitahu Ipek dengan kondisi suaminya atau kita rahasiakan kondisi Wahid yang sebenarnya dari Ipek?" tanya Abi meminta masukan dari istrinya. Sementara Papah Wahid sudah pasrah, beliau sudah sangat putus asa, terutama mendengar penjelasan dokter di negara S yang mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan Wahid akan sembuh.
Papah Wahid pun sudah memasrahkan keputusan sama keluarga Ipek apabila Ipek ingin menggugat cerai. Namun Umi dan Abi berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Keluarga Ipek semuanya akan menerima kondisi Wahid, dan akan mengusahakan kesembuhan bersama sama. Terlebih sekarang Ipek juga sudah mencintai suaminya jadi mereka akan sama-sama mencari cara untuk kesembuhan Wahid.
"Kalo menurut Umi, kita rahasiakan saja Bi, Umi nggak tega kalo liat Ipek bersedih. Biarkan Ipek tahunya bahwa suaminya pasti akan sembuh. Lagian kita kan nggak tahu juga keajaiban buat menantu kita. Kita rahasiakan kondisi Wahid tapi jangan lupa juga menguatkan anak kita untuk hal terburuk agar Ipek bisa menyiapkan hatinya apabila hal terburuk terjadi pada suaminya." Umi yang tahu bertul sifat putrinya pun menyarankan agar kundisi Wahid cukup diketahui oleh mereka saja. Bukan ingin berbohong atau memberi harapan palsu pada Ipek, tetapi agar Ipek memiliki keyakinan bahwa suaminya akan sembuh.
"Baiklah kalo menurut Umi itu yang paling bagus, Abi akan ikuti saran Umi, tapi Umi juga selalu nasihati anak kita, agar menerima apa pun yang terjadi, sekali pun harus kehilangan Wahid untuk selamanya, karena itu yang dokter sampaikan juga, kita harus menyiapkan diri apabila hal terburuk terjadi pada menantu kita." Abi sebenarnya tidak tega apabila berkata demikian terlebih ada besanya yang benar-benar sudah terpukul dengan kondisi Wahid. Untung Abi lebih tegar sehingga selalu menguatkan besannya agar percaya pada keajaiban dari Allah.
Atas keputusan bersama akhirnya mereka pun memutuskan untuk merahasiakan kondisi Wahid pada Ipek. Mereka pun membiarkan Ipek menjaga Wahid siang malam bermalam di rumah sakit.
Bahkan Ipek tidak sekali pun meninggalkan suaminya seorang diri. Ipek benar-benar melayani suaminya dengan tulus. Untuk membersihkan tubuh Wahid pun Ipek yang melakukanya, tentu untuk awal-awal Ipek di dampingi oleh perawat laki-laki, tetapi setelah praktik beberapa kali Ipek pun sudah bisa membersihkan tubuh Wahid seorang diri.
Lelah sudah pasti, tapi ini lah bentuk pengapdian Ipek untuk suaminya. Ipek tidak mau melihat Wahid berkecil hati dengan kondisinya. Ipek pun sering memberikan semangat untuk Wahid agar suaminya tidak menyerah meskipun Ipek tahu hal itu tidak mudah.
Seminggu sudah Ipek merawat Wahid, artinya sudah satu minggu juga Wahid berada di rumah sakit Hartono.
Untuk perubahanya belum terlalu banyak. Hanya selama satu minggu ini Wahid untuk bicaranya sudah lebih lancar dan tidak lagi terlihat kesakitan apabila diajak berbicara. Yah, mungkin untuk sebagian orang ini hal yang sepele dan tidak ada arti apa-apa tapi untuk seorang pasien yang mengalami kerusakan saraf hal seperti ini sangat bagus perkembanganya.
Ipek pun semakin senang dan sering mengajak ngobrol suaminya. Ipek pun sudah bertanya pada Wahid mengenai dirinya yang tiba-tiba berada di negara S. Pertanyaan itu yang beberapa hari mengganjal pikiran Ipek.
Wahid pun mengaku dirinya singgah di negara S untuk mengunjungi teman semasa kuliahnya, dan mereka tengah merencanakan akan membuka bisnis bareng di negara itu. Namun na'as tak dapat dihindari, ketika wahid dan sang teman akan mengunjungi tempat untuk mulai membuka bisnisnya, tiba-tiba mereka mengalami kecelakaan. Kondisi teman Wahid tidak mengapa hanya lupa ringan dan syok. Sementara Wahid yang duduk di samping pengemudi alias samping temanya terhimpit badan mobil yang ringsek karena menabrak beton.
"Maafkan Abang yah sayang, mungkin ini teguran dari Allah untuk Abang, karena Abang berbohong mengatakan bahwa masalah bisnis Abang masih belum selesai. Padahal Abang pergi ke negara lain untuk mengembangkan bisnis Abang. Seharusnya Abang jujur sama kamu. Mungkin kalo Abang jujur kondisi Abang masih sehat." Wahid nampak menyesali keputusanya yang membohongi istrinya.
"Abang nggak boleh ngomong gitu. Takdir kan sudah diatur oleh Allah, mungkin ini takdir Abang seperti ini. Ipek tidak merasa Abang salah sama Ipek. Jadi Abang tidak usah meminta maaf. Kita ambil hikmahnya saja mungkin ini cara Allah agar kita semakin dekat, dan benar kan kita semakin dekat dan Ipek malah sekarang bisa mengurus Abang dengan baik." Ipek tidak ingin terbawa melow dengan ucapan Wahid ia ingin memberi contoh untuk Wahid bahwa ia pun menerima takdir ini dengan ikhlas maka Wahid pun harus sama menerima takdir dengan ikhlas juga.
"Terima kasih yah istriku Allah memang tidak salah memberikan jodoh padaku gadis baik dan sabar seperti kamu." Wahid pun akhirnya mengembangkan senyum kembali.
Seperti biasa di saat siang hari umi akan menemani Ipek menjaga suaminya. Ipek yang malam hari lebih sering bergadang, maka ketika siang hari begitu umi datang, ia akan tidur dan umi yang bergantian menjaga Wahid. Sebenarnya tidak masalah kalo Ipek tidur toh ada perawat yang mendampingi khusus pada Wahid untuk mengecek perkebanganya, tetapi Ipek tidak begitu percaya dengan yang lain, sehingga ia memilih menunggu umi datang baru ia akan istirahat.
Begitu umi datang Ipek yang memang malam tadi sangat kurang tidur pun langsung naik keatas sofa yang empuk dan tidak butuh waktu lama nafas teratur dan dekuran halus terdengar dari sosok tubuh yang tengah dibalut selimut tebal berwarna pink itu.
Pukul sebelas Ipek bangun. Begitu bangun ia mengecek Wahid dan mengobrol sebentar dengan umi, ia rasanya ingin makan yang seger-seger ia pun akan memesan rujak.
"Mi, Ipek mau kebawah yah mau coba cari rujak di depan kayaknya seger kalo makan rujak. Umi mau atau mau nitip sesuatu gitu?" tanya Ipek sementara Wahid ia masih tidur, semenjak sakit Wahid memang gampang sekali tidur sehari bisa lebih dari dua belas jam suaminya tidur.
"Enggak usah, umi kalo makan kaya gituan yang ada perutnya suka langsung demo."
"Ok lah, kalo gitu nitip suami Ipek dulu yah. Takut nanti nyariin bilang lagi nyari jajan." Padahal Ipek tahu tanpa di titipkan pun umi mah akan menjaga menantunya dengan tulus.
"Iya udah sanah, lagian udah biasa juga Umi yang jaga suami kamu," dengus Umi.
Hehehehe... Ipek pun langsung keluar ruangan. Ah ini adalah pertama kali selama satu minggi Ipek di rumah sakit ini, dan ia baru keluar kamar rawat suaminya. Biasanya untuk kebutuhan makanan Ipek selalu di bawakan umi dan ada asisten rumah tangga di rumah umi yang mengantarkan semua makanan yang diinginkan Ipek. Namun hari ini ia ingin keluar dan mencari rujak.
Sepanjang perjalanan Ipek mengingat kenanganya pernah bekerja di rumah sakit ini. Ipek pun masih mengenali beberapa pegawai yang masih berkerja di rumah sskit ini.
"Kira-kira Bu Dewi masih kerja di sini nggak yah?" Ipek bertanya dalam hatinya, tak hanya itu Ipek pun nanti pengin melihat-lihat kelantai atas di mana di lantai itu, dulu ia bekerja. Ia ingin tahu siapa-siapa yang masih bekerja di sana.
Sepanjang jalan Ipek tidak begitu fokus kedepan hal itu karena Ipek memperhatikan, petugas rumah sakit terutama bagian kebersihan yang mungkin saja ia kenal.
Dari arah depan tiba-tiba ada anak kecil berlari dengan membawa satu corong es cream berlari kearah Ipek. Anak itu yang lari dan tidak tahu Ipek yang tengah meleng pun tidak bisa menghindar.
Buuuukkkk... Ah.... "Bunda" Huahhhh huaaaahhh.... Hik... hik... hi...
Anak kecil itu menagis, karena terjatuh menabrak Ipek dan es creamnya pun tumpah berserakan dan juga mengotori baju Ipek juga.