Beauty Clouds

Beauty Clouds
Keputusan Ipek



Ipek yang melihat Arzen kesakitan pun langsung lari mencari perawat dan Dokter...


"Sus... suster, tolong teman saya di ruangan VIP tiba-tiba sakit kepala, tolong di cek Sus..." Ipek dengan terbata menghampiri perawat yang sedang berjaga, dan menceritakan keluhan Arzen.


Suster pun langsung berjalan dengan tergesa menuju ruangan Arzen, di ikuti Ipek dengan tubuh yang sudah lemas. Di sana ia masih meringis menahan sakit kepalanya.


Dokter pun tidak lama datang untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan Ipek sudah tidak kuat untuk berdiri, tulang-tulangnya serasa lepas semua. Ia duduk di pojokan. Ia sangat menyesal kenapa tadi ia meminta Arzen untuk bercerita sedangkan kondisinya dia masih belum pulih.


Ipek baru merasakan kemanikan seperti ini, entah rasanya Arzen itu sudah lebih dari keluarga. Sehingga Ipek sangat takut apabila terjadi sesuatu dengan Arzen.


*****


Di tempat lain Zawa dari beberapa hari yang lalu perasaanya tidak tenang. Bahkan sudah dua hari yang lalu ia bermimpikan terus dengan Arzen.


"Ya Allah apa yang terjadi dengan Arzen? Kenapa yah dengan Arzen, apa dia lagi dalam bahaya?" Zawa memegangi dadanya rasanya kembali sesak, manakala mengingat laki-laki yang sampai detik ini masih bertahta di dalam hatinya menjadi nomor satu.


Zawa nanti ketika sudah selesai praktik akan mengajak Ody dan Intan untuk bertemu. Ia ingin bercerita dengan dua bestie'nya itu. Yah mereka sekarang selalu menjadi teman yang saling bertukar cerita. Bahkan Zawa tidak akan canggung apabila memiliki kegundahan hatinya ia akan bercerita dengan dua sahabatnya. Padahal tidak setiap ia cerita memiliki solusi, tetapi rasanya sudah sangat tenang apabila unek-uneknya di salurin.


"Ya Tuhan tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengan Arzen walaupun untuk sekali saja. Ada banyak cerita yang ingin aku bagi dengan dia. Aku ingin larut dalam cerita bersama dia, bercanda bersama seperti dulu yang kami sering lakukan bersama." Zawa menatap foto-foto Arzen bersama dirinya yang masih tersimpan rapih di dalam album di ponselnya. Hanya itu kenang-kenangan bersama Arzen yang Zawa punya. Foto-foto mereka yang bisa mengobati rasa kangenya pada Arzen.


Sore hari di rumah Ody, sudah terjadi kekacauan pasalnya tiga sahabat itu kalo sudah berkumpul kan heboh, terlebih si cantik Mayra yang selalu membuat suasanya jadi makin ramai.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu murung Wa?" tanya si kepo, Intan.


"Masa akhir-akhir ini aku sering mimpiin Arzen. Mana mimpinya kurang bagus, masa aku mimpi Arzen sudah punya pengganti aku. Sakit banget tau Tan. Walaupun itu cuma mimpi tapi masih kefikiran sampai sekarang. Udah gitu aku jadi tidak enak perasaanya." Zawa bercerita dengan sangat murung, pasalnya bagi dia Arzen sudah menjadi cinta terakhirnya bagai mana kalo ia benar-benar bukan jodohnya. Apakah Zawa bisa menerima jalan takdir dari sang pemilik kehidupan.


"Iya aneh aku sama Arzen dan Ipek, kenapa dia bisa pinter banget buat sembunyi. Anak buah Rio nyari bisa nggak nemu jejaknya sama sekali. Apa kita bikin pengumuman orang hilang gitu yah. Aku pengi tau juga bagai mana mereka sekarang. Terutama si Ipek. Sejak dia pergi isi kulkas utuh terus Dy," kekeh Intan, pasti dia yang juga merasa paling kehilangan secara Ipek adalah teman yang sering dia godain. Apa pun yang dilakuin Ipek selalu cari gara-gara di mata Intan.


"Kalo aku sama dia itu udah adik sama kakak, Ipek itu masih ingat banget gimana baiknya dia sama aku." Yah memang Ipek adalah orang pertama yang ditemui Ody dan menjadi sahabat.


"Iya aku pun baru ketemu sekali sudah sangat yakin kalo Ipek itu baik," ucap Zawa tidak mau kalah.


*****


Di negara Lain..


Clovis sudah memutuskan dalam waktu dekat, ia sudah akan kembali ke negara Indonesia. Pasalnya ia sudah mulai harus menyiapkan bisnis barunya. Bar dan Club sudah ia jual. Uang hasil penjualanya ia akan alihkan untuk membuka usaha Pakaian yang sudah tiga tahun ini ia geluti.


Selama tiga tahun ia tekun bekarja dan memang dasarnya Clovis juga memiliki bakat sehingga usahanya banyak peminatnya. Terlebih bahan yang digunakan untuk produksi segala jenis pakaianya adalah bahan yang nyaman sehingga sangat laris di pasaran.


*****


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan untuk sementara Arzen hanya di lakukan tambah darah dan banyak-banyak beristirahat tidak boleh terlalu berat untuk berfikir. Karena ditakutkan ada cidera halus di otaknya. Namun sejauh hasil dari semua chack up yang sudah di lewati, hasilnya tidak ada cidera di kepalanya. Hanya lupa luar di tubuhnya dan paling parah dikakinya.


Suster dan dokter pun pamit undur diri setelah memastika Arzen sudah tidak merasaakan sakit di kepalanya lagi.


Ipek masih terlihat murung dan isakan halus masih tersengar.


"Ibu Hajah, kenapa cengeng banget sih?" ledek Arzen dengan suara lemahnya.


"Kamu nggak tau Zen, aku takut banget kalo kamu bakal kenapa-napa. Kenapa sih kamu kalo belum sembuh jangan cerita dulu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. aku akan merasa bersalah banget kalo terjadi sesuatu sama kamu. Hihihi... " Ipek kembali terisak.


Arzen sangat tersentuh karena ternyata Ipek sangat peduli dengan dirinya.


"Pek..." Arzen memanggil Ipek. Namun yang dipanggil malah pura-pura masih merajuk. Arzen akhirnya mencoba untuk bangun.


"Diam Arzen!!! Kamu itu lagi sakit. Kenapa sih nggak bisa diem banget," omel Ipek.


"Aku haus Pek, pengin minum. Tenggorokan serasa kering banget," cicit Arzen sembari memegangi tenggorokan yang sudah tandus.


"Ish... kenapa nggak minta tolong ajah sih," sungut Ipek.


Arzen pun hanya terkekeh. Ipek pokoknya sifat masih sangat sama dengan dulu, hanya sekarang lebih anggun dan berpakaian sangat jauh dari kebiasaan dia yang dulu.


Arzen jadi nggak sabar ingin cepat-cepat sembuh ia ingin ikut Ipek untuk belajar di pondok pesantren di tempat Abah Ipek. Di mana ketika Ipek bercerita ia sangat tertarik.


"Aku perhatiin tadi kamu nangis kenapa?" goda Arzen.


"Takut lah, takut kamu kenapa-napa," jawab Ipek dengan manyun.


"Kirain karena sayang," kekeh Arzen terlalu percaya diri.


"Ya sayang dong Zen. Kalo nggak sayang mah udah aku tinggalin kamu, tapi sayangnya karena kita sahabat yah, bukan yang lain. Aku juga rencananya mau nikah bulan depan." Ipek setelah melakukan sholat istikharah, ia pun yakin akan menerima perjodohan dari Abahnya. Ipek berpikir bukanya lebih baik dicintai dari pada mencintai. Apabila di cintai laki-laki itu akan selalu berusaha untuk membahagiakan Ipek. Berbeda kalo mencintai seorang diri sangat sakit rasanya.


"Hah... kamu mau nikah sama siapa?" Arzen kaget dengan jawaban Ipek.