Beauty Clouds

Beauty Clouds
Berbohong



Sudah satu minggu sejak Wahid meninggal dunia, dan kini Ipek pun kembali tinggal dengan Abi dan Uminya di Jakarta, untuk melupakan sedikit kenangan dengan suaminya.


Kita tinggalkan sejenak Ipek dan kesedihanya kita ganti dengan Arzen dan Zawa yang malam ini mau mengadakan pertemuan keluarga. Yah, malam ini Arzen akan menemui keluarga angkat Zawa. Sebenarnya rencana mereka jauh-jauh hari kemarin, tetapi tiba-tiba ayah Zawa ada tugas luar kota yang menyebabkan acara pertemuan mereka di undur.


Baru malam kemarin ayahnya pulang dan langsung meminta Arzen menemuinya. Sebenarnya orang tua Zawa tidak masalah kalo Zawa mau menikah dengan Arzen. Sebab kedua orang tua angkat Zawa sudah tahu bagai mana cinta dan pengorbanan Arzen untuk putri angkatnya. Di saat Zawa tertimpa musibah Arzen masih berjuang untuk membuktikan dan mengusahakan kebebasan putri angkatnya. Padahal mereka saja sebagai orang tua yang sudah membesarkannya dari bayi, sempat marah, acuh, cuek masa bodoh dan lain sebagainya, tetapi Arzen justru rela menjual cafenya untuk membayar pengacara terkenal, agar bisa setidaknya meringankan kasus Zawa itu.


Selama satu minggu ini juga, berkat bantuan modal dari teman-temanya, Arzen sudah mulai disibukan dengan cafe yang baru di buka beberapa hari yang lalu.


Zawa pun setiap selesai praktik selalu menemani kekasihnya melayani para pelanggan, walaupun Arzen masih menggunakan tongkat tangan untuk berjalan, tetapi tidak mengurangi rasa percaya diri. Bagi Arzen asalkan kerjaan itu halal dan tidak membuat orang lain merasa di rugikan Arzen akan mencoba melakukanya, yah seperti sekarang ini. Dengan kegigihan Arzen dan memang rasa setiap menu di cafe Arzen yang sudah terkenal lezat sehingga baru opening sajah sudah banyak yang mengantri.


Selain fokus dengan usahanya Arzen juga rutin menjalankan terapi untuk kakinya. Yah, Arzen juga berharap bisa berjalan dengan normal seperti dulu lagi, dan dokter pun mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi, karena memang cidera yang Arzen alami bukan permanen sehingga asal rutin menjalani terapi Arzen akan bisa berjalan dengan normal, tanpa bantuan tongkat tangan lagi, seperti saat ini.


Zawa adalah orang yang selalu memberikan semangat untuk Arzen di setiap harinya. Zawa ingin Arzen tidak merasa seorang diri sehingga dia selalu memberika semangat untuk calon suaminya.


Dreddd... suara getaran ponsel Arzen berbunyi menandakan ada yang menelponya, Arzen dengan berjalan tertatih menghampiri meja di mana ponselnya di letakan.


Dia melihat nama kekasihnya di layar pintarnya, ponsel yang sudah tergolong jadul masih setia Arzen pakai, padahal Zawa sudah menawarkan agar Arzen membeli ponsel yang baru atau setidaknya lebih canggih dari yang ia pakai saat ini, tetapi lagi-lagi Arzen menolak, dengan alasan ponsel ini masih bagus dan masih bisa di pakai.


Sejak.Arzen melewati perjalanan hidup yang cukup membuat ia banyak kehilangan hartanya dan dia juga pernah merasakan menjadi santri walaupun hanya tiga bulan di pondok Abah sudah cukup bagi Arzen untuk memberika pelajaran agar ia tidak terlalu boros. Bukan pelit hanya saja, Arzen lebih memilih kebutuhan mana yang memang benar-benar penting dan mana yang belum begitu penting. Agar ia bisa merasakan bagaimana hidup dengan apa-apa yang pas-pasan yah agar tidak sombong juga. Ditakutkan kalo serba bergelimang harta dan berkecukupan kaya Arzen yang dulu, di mana ada ponsel atau benda baru yang ia inginkan langsung di beli padahal benda tersebut tidak terlalu di butuhkan


[Assalamualaikum, Kenapa sayang?] tanya Arzen ketika ponsel sudah ia angkat.


[Ya ampun acara pertempuan keluarga kamu sekarang yah sayang. Gimana yah, aku kayaknya nggak bisa deh, ini aku lagi perjalanan ke kota Bandung untuk meninjau lokasi yang akan di buat cafe buat cabang yang ke tiga.] Arzen berpura-pura tengah pergi dan akan sangat tidak mungkin untuk menghadiri acara pertemuan dengan keluarga besar Zawa. Padahal dari sebrang telepon Arzen tengah terkekeh jahil karena berhasil membuat Zawa marah dan kesal.


Terlihat sekali kalo Zawa itu kecewa berat dengan Arzen, hal itu bisa di liat dengan Zawa yang tiba-tiba diam dan tidak membalas ucapan Arzen lagi. Padahal Arzen tidak sebegitu pikunnya harus merupakan janji yang sangat penting dengan orang tua Zawa. Namun kan kalo nggak ngeprang kurang bikin kejutan.


[Sayang kok kamu jadi diem sih, kamu marah yah sama aku. Gimana dong sayang ini itu tadi teman aku yang mau buka cafe bareng datang dan mengajak aku buat ngecek lokasi jadi yah aku ikut ajah dan kebertulan aku juga lupa kalo hari ini ada pertemuan dengan keluarga kamu. Kalo sekarang pulang nggak mungkin sayang sekarang saja udah setengah tujuh dan acara jam tujuh aku perjalanan kurang lebih tiga jam. Kalo kita tunda saja untuk besok gimana?]Arzen benar-benar ingin memberi kejutan yang total sekali, sehingga ia malah jadi kebablasan untuk berbohong.


Hikkk... hiiik...hiiikkk... Suara tangisan samar terdengar dari sebrang telpon. Jujur Arzen sangat merasa berdosa dan juga hatinya teriris sakit manakala mendengar tangisan Zawa, tetapi di sisi lain ia ingin tahu bagaimana reaksi Zawa apabila ia tahu bahwa ini hanya prenk saja.


[Sayang... ya udah aku pulang sekarang, tapi kalo sampai diacara telat bagai mana kamu dan keluarga kamu nggak marah kan? Soalnya kan perjalanan dari Bandung ke Jakarta berapa jam belum kalo macet, takutnya kalo ngebut malah aku kecelakaan lagi,] lirih Arzen.


[Jangan deh sayang, kamu lanjutkan kerjaan kamu saja, pasti kamu cape kan kamu baru juga sampai di sana. Nanti biar Zawa bilang sama Ayah sama Ibu ajah kalo Kamu ada urusan,] balas Zawa dengan suara serak dan sisa isakan tangis yang masih terdengar sekali-sekali, sangat terlihat dengan jelas bahwa calon istrinya itu kecewa berat dengan Arzen. Tetapi Zawa juga lebih mementingkan kesehatan Arzen dari pada pertemuan keluarganya.


[Ya, udah. Maafin aku yah, aku janji besok-besok tidak ceroboh lagi. Sampaikan salam Abang juga buat keluarga terutama Ayah dan Ibu kamu,] ucap Arzen seperti biasa sajah, bahkan belum juga Zawa menjawab tetapi Arzen sudah menutupnya. Begitu teleponya ia tutup tapi ia langsung berbalik dan menghubungi teman-temanya dengan rencananya, di mana nanti teman-teman Arzen akan tetap datang, tetapi Arzen datang belakangan. Untuk memberi kejutan pada Zawa. Tidak hanya itu. Arzen juga menceritakan bahwa ia tadi sempat berbohong bahwa ia ada pergi ke Bandung untuk mengecek cafe cabang yang baru. Bukan hanya teman-temanya yang Arzen mintai bantuan untuk kejutanya yang lancar. Keluarga Zawa pun tidak lupa diberikan informasi dengan rencana Arzen, agar tidak ada mis kom kom....


Sementara Arzen tengah sibuk untuk memberikan kejutan yang romantis buat calon istrinya.


Zawa begitu melihat bahwa teleponya sudah diputuskan tanpa salam dan lain sebagainya, ia langsung menumpahkan kekecewaanya. Zawa menangis, antara kecewa dan marah dengan calon suaminya itu tetapi malah ia di mulut berbeda ucapanya. Zawa pengin marah dan memakin Arzen tetapi yang keluar malah kata-kata pemakluman, dengan keteledoran yang Arzen lakukan. Gimana Zawa tidak bilang teledor. Pasanya dari kemarin sore sudah diingatkan hari ini ada acara pertemuan keluarga. Malahan dia pergi ke Bandung.


Sedangkan catering, dekorasi dan Mua sudah datang tetapi malah acara gagal siapa yang tidak ingin marah.