Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kekacauan Di ruangan VIP



 Isakan dari Zawa memenuhi ruangan rawat VIP yang di tempati oleh Emly, bahkan Meyra melihat terheran-heran. 


"Pah kenapa tante Awa nangis? Kan kalo orang gede tidak boleh nangis?" tanya Meyra yang heran melihat Zawa seperti itu, dan Arzen pun sampai bingung harus gimana menenangkan istrinya yang tengah sensitif itu.


Rio mencoba memberikan pengertian pada putrinya bahwa Zawa itu nangis karena sedih mamih sakit. Anak kecil itu pun kembali memperhatikan Zawa dengan heran.


"Emly kamu dengar aku, aku akan marah lebih dari ini kalo kamu tidak bangun! Kamu bangun Emly, aku sekarang sedang marah sama kamu! Aku kecewa dan aku ingin kita beradu mulut seperti dulu kalo kita ada selisih paham. Kamu selalu menang melawan aku, dan aku nggak mau kali ini kamu kalah, kamu bangun Emly!" Suara isakan yang semakin menjadi berserta di iringi kemarahan terdengar di telinga Emly.


"Sayang kita pulang yuk, sekarang udah malam. Kamu pasti cape seharian ini masak dan kamu juga sedang kurang sehat bukan," bujuk Arzen agar Zawa pulang. Dia tahu Zawa melakukan ini semua karena dia pengin Emly bangun dan mereka akan saling memaafkan. Ini adalah ungkapan kesedihan dan tidak rela kehilangan sahabatnya dulu.


Zawa menatap Arzen penuh iba, seolah ia ingin meminta izin agar lebih lama lagi berada di rumah sakit ini. "Di sini ada Aarav dan nanti juga ada orang tua Emly yang menjaga Emly, dan untuk saat ini dia harus benar-benar istirahat dan tidak boleh di ganggu." Arzen dengan suara lembutnya mencoba membujuk Zawa agar mau pulang.


"Tapi besok boleh  jenguk lagi?" tanya Zawa dengan suara lirih dan pandangan masih tertuju pada Emly yang masih terbujur tidak mau bangun atau merespon lagi. Sementara Aarav duduk di sova dengan menopang kepalanya dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut sangat kuat.


"Pasti, kapan pun kamu mau jenguk Emly boleh kok," jawab Arzen agar Zawa mau pulang dan beristirahat. Setelah suaminya memastikan dan mengizinkan dirinya untuk menjenguk Emly, dengan rasa berat Zawa pun akhirnya pulang. Tentu setelah berpamitan dengan Rio, Aarav dan juga Meyra. 


"Mly, aku pulang dulu yah, tapi bukan berati aku sudah memaafkan kamu, aku masih marah sama kamu. Ingat kamu harus bangun dan tahu gimana sulitnya aku hidup di penjara karena kesalahanmu. Kamu harus minta maaf sama aku! Aku tidak akan memaafkan kamu kalo kamu tidak mau bangun," bisik Zawa di samping telinga Emly. Ia berharap secepatnya Emly bangun dan dia akan bercerita dengan kesulitanya ketika berada di penjara.


Setelah berpamita dengan Emly dengan berat hati Zawa meninggalkan Emly, untuk pulang. Namun Zawa berjanji bahwa ia akan kembali lagi untuk menemani Emly melewati ini semua.


Begitu Zawa bangun dari kursi yang berada di samping Emly. Kepalanya berdenyut. "Kok kepala aku sakit sekali yah, apa karena aku terlalu bersedih," batin Zawa.


Zawa mencoba menahanya dan juga berjalan menghampiri Arzen yang sudah menunggunya di depan pintu. Semakin ia paksakan berjalan rasa pening dikepalanya semakin menjadi. Bahkan ini adalah sakit kepala yang sangat menyiksa yang pernah ia rasakan.


Bruuukkkk... Zawa jatuh pingsan, untung Arzen sigap menangkap tubuh lemah istrinya itu.


Kepanikan pun kembali terjadi di ruangan VIP itu. "Mey duduk di samping mamih dulu yah, papah mau bantu tante Awa," ucap Rio sembari meletakan tubuh mungil Meyra, dan untungnya anak kecil itu pun tahu dan menurut saja.


Rio meminta Arzen agar membopong Zawa ke atas sova. Agar Rio bisa memeriksa kira-kira apa yang terjadi dengan Zawa itu.


"Rav, coba loe hubungi Intan buat datang kesini! Kayaknya dia sif malam deh," titah Rio, dan Aarav pun langsung menekan-nekan nomor Intan.


"Dady sinih, Mamih tanganya gelak-gelak," celoteh Meyra. Sontak Aarav yang tengah menunggu telpon Intan di angkat langsung mendekat ke Meyra dan melihat apakah yang di katakan anaknya benar adanya. Bahwa tangan Mamihnya gerak-gerak. Harapan besar sangat Aarav panjatkan agar Emly benar-benar bangun dan sembuh.


"Halloh ada pa Rav?" tanya Intan di sebrang telpon.


"Datang ke ruangan VIP no dua. Zawa pingsan."


Nut... Nut... Nut sambungan langsung terputus.


"Apaan sih nih orang, tiba-tiba langsung main putusin sambungan telpon ajah," oceh Intan dari sebrang sana. Namun tidak lama ia juga izin pada teman satu sifnya yang berjaga di ruang bersalin, untuk mengikuti perintah Aarav. Kaget juga kenapa bisa Zawa pingsan, dan ada perlu apa dia di rumah sakit ini, seperti itu kira-kira pertanyaan yang ada difikiran Intan.


Ody di ruanganya pun yang awalnya tengah membaca novel karya othor, tiba-tiba fikiranya tidak enak. "Ya Allah kenapa tiba-tiba aku deg-degan gini yah. Apa terjadi sesuatu dengan Emly," batin Ody sembari memegangi dadanya. Dan tidak lupa ibu dua orang anak itu merapalkan doa untuk Emly, agar ia segera sadar dan sembuh kembali.


Aarav mengecek ke ranjang dan memastikan bahwa yang dikatakan anaknya benar, dan ternyata memang benar yang dikatakan oleh Meyra. Tangan Emly bergerak-gerak. Mungkin ia tahu banwa Zawa pingsan sehingga dia ingin menunjukan pada Zawa bawa dia harus sembuh.


Aarav mengecup pucuk kepala Meyra dan selanjutnya meraih tangan Emly. Laki-laki dengan satu orang anak itu memberikan dukungan pada Emly agar terus melawan sakitnya, tidak hanya itu Aarav pun terisak, yah mungkin ini isakan bahagia. Tuhan bahkan terlalu baik padanya sehingga ia mengabulkan doanya. Kini ada harapan untuk Emly sembuh.


Wanita yang masih terbaring di atas kasur pasien pun matanya bergerak-gerak samar. Aarav menggigit bibir bawahnya menandakan bahwa ia memang tengah bahagia karena kejadiian ini.


"Ayo Emly lawan sakit kamu-kamu harus sembuh. Banyak yang menunggu maaf dari kamu. Termasuk aku juga menunggu maaf dari kamu," isak Aarav dengan isakan tangisnya.


Lagi-lagi Meyra bingung dengan apa yang dilihatnya, "Dady, kenapa Dady menangis? Dady tidak boleh menangis. Kalo cowok itu enggak boleh cengeng, kata bunda gitu," oceh Meyra sembari mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata Aarav.


Aarav mencium anaknya itu dengan penuh haru, ia sangat bersyukur karena Meyra adalah anak yang pandai sehingga dia bisa terhibur dengan Meyra yang lucu tetapi juga kadang sangat dewasa. Seperti saat ini.


Intan merangsak masuk kedalam ruangan itu. Bahkan Intan heran kenapa ruangan VIP bisa seramai itu dan nampak panik di setiap wajah penghuninya.


Intan melihat ada dua wanita yang tengah terbaring, yang di sova, Intan sudah sangat tahu siapa kira-kira orangnya. Tetapi yang ada si atas kasur dia benar-benar tidak mengenali bahwa wanita itu yang ternyata adalah Emly, mantannya Rio.


Bisa kalian bayangin kan gimana kondisi ruangan VIP saat ini yang satu kubu cemas dengan Emly tetapi yang satu lagi cemas dengan Zawa.


******


"Wah tumben ini makan malam menunya banyak begini?" tanya Maher, abang Ipek. 


"Iya Bang ini masakan dari adik ipar kamu, ternyata dia jago masak loh bang?"  ujar umi tentunya sekalian memberika pujian pada Clovis. Maher menatap Clovis dengan tatapan meremehkan, dan tentunya tidak percaya.


Clovis pun hanya membalasnya dengan senyuman, justru yang lebih gede rasa alias besar kepala si Ipek, seolah umi tengah memuji dirinya. Sedangkan dia padahal sejak tadi tidak berperan apa-apa di dapur. Yah tidak lebih dia hanya berperan sebagai team hore atau bisa dibilang pengawas.


"Iya mantu umi yang masak, tapi cobain dulu enak enggak masakanya nanti malah enggak enak lagi. Mubazir masakan banyak gini enggak ada yang makan," balas Abi ketus, yah masih ajah si abi dingin ke mantunya. Padahal di dalam hatinya juga sedang memuji mantunya itu, tetapi rasa gengsinya tinggi sehingga tidak berani mengucapkanya secara langsung.


"Enak kok Bi, tadi Umi udah cobain dan dijamin deh pasti semua pada suka dengan masakan Clovis," bela umi, eh... tapi bukan bela asal bela saja. Memang kenyataanya Umi sudah mencicipi masakan Clovis dan itu semua rasanya enak, maka dari itu umi berani memujinya, kalo memang kurang enak umi juga tidak akan memuji masakan Clovis itu. Umi cukup bijak soal penilaian tidak bisa berat  sebelah.


"Emang iya kok Abi, masakan Abang itu enak, kemarin juga malam-malam Ipek pernah kelaparan di masakin orek telor sama Abang rasanya enak, biki nagih. Ipek jadi pengin makan masakan Abang tiap hari deh," ucap Ipek membuat yang lain heran. 


"Apa Ipek sedang isi?" tanya Umi dengan mata penuh harap bahwa Ipek hamil. 


"Hah... isi apa Mi?" tanya Ipek Heran.


"Isi ini (Umi memeragakan tanganya membentuk perut besar, kode hamil) Hamil," jelas Umi dengan suara di plankan. 


Ipek pun mengingat ingat terakhir ia datang bulan. "Kayaknya enggak deh Mi, Ipek ajah nikah sama Abang belum satu bulan, masa udah hamil? Nanti apa kata orang-orang masa udah hamil duluan dong?" tanya Ipek cemas, takut yang di katakan uminya ada benarnya, dan nanti pasti jadi gosip buat orang-orang yang tahu dirinya hamil lebih dari usia pernikahanya.


"Hahaha... enggak apa-apa kok sayang, banyak kok yang nikah baru satu minggu atau dua minggu tetapi dia sudah hamil dan usia kehamilanya udah satu bulan, kalo usia hamil itu begitu cara hitingnya. Karena kalo hamil itu di itungnya dari hari terakhir kamu haid, bukan dari berhubungan badanya. Jadi kalo Ipek udah hamil padahal usia pernikahan Ipek belum satu bulan itu tidak apa-apa dan itu tandanya kalian dalam masa subur sehingga cepat jadinya," jelas Umi tetapi tetap dalam mode bisik-bisik. Agar yang lain tidak dengar terlebuh ini urusan wanita. 


"Nanti Ipek kekamar Umi yah? Ipek pengin tanya-tanya," bisik Ipek agar bisa lebih bebas dalam bertanya tanya tentang kehamilan.


"Siap Umi tunggu," balas Umi dengan mengacungkan jari jempolnya, menandakan bahwa ia siap kapan pun anaknya ingin bertanya terlebih soal kehamilan. Di mana wanita itu memiliki lima orang anak pasti pengalamanya lebih banyak dan bisa menasihati putrinya itu.