Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebimbangan Zawa



Emly yang barusan mendapatkan jawaban atas kesanggupan Zawa untuk membantunya. Pastinya, ia sangat senang dan berharap untuk rencana yang ini tidak ada kegagalan. Emly sangat yakin kalo Zawa akan sangat bisa diandalkan. Karena Emly sangat tahu sifat Zawa yang konsisten dan pastinya sangat bisa diandalkan.


"Ya ampun aku seneng banget tau nggak Wa, akhirnya kamu mau bantu aku." pekik Emly dengan tersenyum lebar. Emly masih belum percaya, sahabatnya memberikan keputusan untuk membantunya.


Biasanya Zawa selalu menasehati agar Emly bertobat dan jangan membiarkan dendamnya menguasai hatinya, tetapi nampaknya Zawa sekarang justru mendukung Emly, untuk kembali merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Rio.


"Tapi aku masih takut Mly, gimana kalo aku nanti ketahuan," lirih Zawa yang masih ada kebimbangan di hatinya.


"Aku yakin Wa, kalo kamu nggak bakal ketahuan, secara kamu itu teliti sebelum bertindak. Satu lagi kamu jangan hubungi aku ketika bersama mereka, suapaya meraka nggak curiga." bisik Emly mengingatkan, agar Zawa tidak ceroboh seperti dirinya.


"Kamu pernah denger nggak pepatah yang mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, aku takut. Suatu saat bakal ketahuan entah di sengaja atau tidak. Karena kalo kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya," ucap Zawa sembari menunduk dan memainkan jari telunjuknya.


"Kalo kamu ketahuan kamu pandai-pandai ajah nyiapkan seribu alasan." balas Emly dengan enteng. "Makanya gini Wa, kamu harus merebut hati salah satu teman Rio, kalo sudah berurusan dengan hati maka, logika pun akan kalah," imbuh Emly sembari menatap dalam ke indahan mata Zawa.


"Entahlah rasanya perasaanku nggak mendukung bahwa ini keputusan yang tepat." gumam Zawa dengah lirih.


Ditengah lamunan Zawa, masuklah Mbok Zuha


"Non, Mbok bawakan bubur, dimakan yah." sapa lembut mbok Zuha.


"Iya makasih Mbok, mulai sekarang Emly mau makan," ucap Emly dengan senyum cerianya.


"Letakan di meja ajah Mbok, biar nanti Zawa yang suapin Emly." ujar Zawa. Zawa baru selesai memeriksa Emly dan sekarang ia tengah membereskan alat-alat pemeriksaan.


"Setelah infus habis, nanti cabut infus yah, kayaknya udah nggak perlu diinfus lagi, kan udah mau makan kan." jelas Zawa sembari melirik Emly yang masih menyunggingka senyum manisnya.


Emly membalas dengan anggukan semangatnya.


"Sekarang makan yah, aku yang suapin," tutur Zawa. Ia mengambil mangkuk bubur dan duduk di depan Emly.


Emly memakan dengan lahap, nampaknya sangat lapar. Rasa mual sudah tidak lagi Emly rasakan, malah untuk sekarang ia lebih sering lapar, dan juga menginginkan makanan sesuatu.


Zawa tidak mengucapkan Sepatah katapun, ia hanya fokus menyuapin Emly, begitu pun dengan Emly, dia hanya fokus dengan makananya.


Tanpa terasa bubur dimangkuk telah tandas, berpindah keperut ramping Emly.


"Udah abis yah Wa?" tanya Emly nampaknya kecewa karena ia masih lapar, tetapi bubur sudah bersih di mangkuk.


"Iya kenapa, masih lapar?" tanya balik Zawa, sembari terkekeh kecil, karena biasa Emly sangat menjaga pola makan, tetapi nampaknya sekarang justru porsi makanya berkali-kali lipat. Padahal bubur tadi sudah banyak, satu mangoko penuh, tapi masih kurang kenyang buat Emly.


"He'eh.....masih laper," cicit Emly sambil mengusap perutnya bak bocah yang kelaparan.


"Ya udah, mau makan apa, biar nanti aku minta tolong Mbok Zuha buat mencarinya." tutur Zawa sembari merapihkan sisa makan Emly.


"Apa yah," Emly menimang-nimang kira-kira makanan apa yang iya inginkan, sembari mengetuk etukan telunjuknya dikeningnya.


"Kayaknya nasi padang enak Wa, dengan rendang dan nasi, makannya di uwek-uwek pake tangan di atas bungkus nasinya, pasti enak sekali." Celoteh Emly sembari menirukan gerakan tangannya yang menguek-ewek nasi dan menyuapka nasi ke mulutnya.


"Ah nasi padang ajah Wa," ucap Emly girang, menentukan keputusan finalnya, jatuh ke makanan khas dari sumatera barat itu.


Zawa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sangat menggemaskan kalo Emly bertingkah seperti ini." gumam Zawa dalam hati.


"Kamu yakin Mly mau makan nasi padang, itu banyak loh. Kamu ajah barusan makan bubur banyak apa nanti nggak kekenyangan," ujar Zawa memastikan.


"Ngga Wa gue yakin pengin nasi padang, loe tenang ajah, bakalan abis ko. Gue masih laper banget tau," celoteh Emly.


Zawa pun pergi menemui mbok Zuha untuk meminta tolong membelikan nasi padang yang Emly pengin.


"Mbok," panggil Zawa dengan suara lembutnya.


"Iya Neng," balas mbok Zuha sembari menghampiri Zawa.


"Mbok, Emly pengin nasi padang, pake menu rendang yah mbok, beli 3 bungkus ajah Mbok." pinta Emly dengan menyerahkan uang dua lembar berwarna merah, "Sekalian sama ongkos ojeknya ambil ajah dari ini." ucap Zawa.


****


Di rumah sakit tempat Emly bekerja.


"Aduh kira-kira Dokter Intan, suruh aku keruanganya kenapa yah Pek?" tanya Ody penasaran tingkat Dewa.


"Ish...ko tanya Ipek sih, mana Ipek tau." jawab Ipek pura-pura nggak tau, padahal pagi tadi Ipek dan Intan sudah menggosipkan Ody. Dosa kamu pek bohongin Ody....


"Pek temenin yuk," ajak Ody sambil menarik tangan Ipek supaya mengikuti jalan Ody.


"Ish...Mba Ody itu kebiasaan, masa iya main tarik ajah. Nih liat Ipek pegang apa? Masa iya keruangan Dokter Intan bawa ginian. Dikira mau demo nanti." gerutu Ipek, dengan menunjukan benda yang tengah Ipek pegang.


"Ih...lagian kenapa bawa gituan sih," sungut Ody, nggak terima.


"Lah kan dia pikun, pan tadi Ipek mau naro nih benda, Mba Ody ajah nyetop Ipek di jalan." crocos Ipek, sembari mengacungkan alat pembersih kamar mandi yang ia bawa.


"Iya....iya maaf," balas Ody sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya..iya maaf," ledek Ipek dengan menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya. "Kebiasaan." cicit Ipek sembari berlalu pergi setengah berlari ketika Ody akan memukul pundaknya...


"Nggak kena. We...." ledek Ipek dari jauh.


"Awan loh nanti, buruan Mba tunggu disini." balas Ody setengah berteriak agar Ipek mendengarnya.


Ody duduk dikursi menunggu Ipek, ia akan mengajak Ipek untuk menemaninya. Rasanya kalo nggak ada Ipek kaya ada yang kurang.


"Lama!" dengus Ody ketika Ipek sudah menghampirinya.


"Ish....cuma lima menit dibilang lama," gerundel Ipek, nggak terima di bilang lama oleh Ody.


"Ayo buruan, Ipek udah lamar nih," ajah Ipek memberi komando agar Ody bergegas jalanya.


"Lah kita mau keruangan Dokter Intan, nanti setelah dari sana baru kekantin." cicit Ody heran.


"Iya tau, nanti Ipek bakal nge'begal isi kulkas Dokter Intan, biar hemat," celoteh Ipek dengan menaik-naikan alisnya.


"Dasar, bisaan banget kalo buat Dokter Intan marah. Siap-siap ajah nanti bakal ada perang ketiga, kalo kamu rampok isi kulkas dia. Heran sama kalian deh, sehari ajah nggak nyari gara-gara." Beo Ody mengingatkan Ipek yang senang membuat gara-gara dengan Intan sehingga Intan akan bernyanyi nyaring setelah melihat keisengan Ipek.


" Biarin, pembalasan lah, Dokter Intan ajah sering usilin Ipek, gantian biar adil." tawa Ipek membayangkan lucunya muka Intan ketika Ipek kerjai nantinya...


***Cari orang yang mau menerima kekuranganmu, jatuh cinta sama keanehanmu, tetapi tidak membiarkanmu memelihara sifat-sifat burukmu


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah


# Follow ig Othor yah:


👉Onasih_abilcake ✅


Like âś…


Comenâś…


Voteâś…


Beri hadiah buat Authorâś…


dan lekan fav disetiap karyaku❤✅