Beauty Clouds

Beauty Clouds
Menghibur Ipek



Berhubung suasana hati Clovis yang tengah berbunga-bunga. sebab ia mengira bahagia akan membalaskan sakit hatinya terhadap Ipek, sang mantan pegawainya yang dengan lancang mencintainya. Padahal hal setiap indifidu akan melabuhkan hatinya pada siapa. Namun, karena fisik Ipek yang menurut Clovis sangat menjijihkan, sehingga Clovis merasa risih dan terganggu dengan perasaan Ipek. Terlebih Ipek yang suka mebalikan kata-kata Clovis menambah dendamnya pada gadis yang berbadan gempal itu.


Malam ini ia menikmati kebahagiaanya dengan menikmati sentuhan-sentuhan yang membuatnya melayang dari sang kupu. Clovis hanya butuh tertidur tanpa melawan, sang kupu sudah sangat lihat memberika servis sampai keduanya terhanyut dalam perbuatan hina nan memabukan.


Sebagai imbalan karena sudah memberika servis yang sangat memuaskan. Clovis memberikan setumpuk lembaran rupiah berwarna merah. Ketika suasana hatinya tengah bagus makan akan menjadi hoki buat teman ranjangnya. Setelahnya ia akan tertidur dengan pulas menyambut pagi yang cerah.


Berbeda denga Clovis, Ipek justru malam ini tidak bisa tidur karena perasaanya yang tidak tenang. Seperti ada beban berat yang menghimpit tubuhnya ia tidak bisa memejamkan matanya.


"Ya Tuhan apa gerangan yang akan terjadi padaku, kenapa perasaanku nggak enak sekali," batin Ipek dengan menepuk-nepuk dadanya yang sesak.


***


Di kediaman Rio, pagi ini tentu menjadi pagi yang sangat indah bagi Ody dan Rio. Terutama bagi Rio, gimana tidak indah semalam Rio mendapatkan jatah dari istrinya. Tidak hanya sekali melainkan sampai tiga kali permainan mereka ulang. Yah, semenjak Rio memutuskan untuk menerima pernikahanya dan Ody sebagai istrinya, kebahagiaan selalu menghampirinya. Apalagi Ody termasuk istri yang patuh, dan pasrah sajah, tentu sajah Rio sangat beruntung.


"Mas, nanti kalo aku mau belanja, ngajak Ipek boleh nggak?" tanya Ody dengan lembut, sembari menyiapkan segala keperluan suaminya.


"Tentu boleh dong sayang, Kalian boleh jalan-jalan dan belanja sesuka hati. Jangan lupa belikan Ipek juga barang yang ia inginkan. Diakan juga Mas liat, sudah baik banget sama kamu." Rio tentu mengizinkan Ody untuk mentlaktir Ipek berbelanja. Hal itu tentu membuat Ody senang bukan kepalang.


"Ini serius Mas, aku boleh belikan Ipek barang yang dia pengin?" tanya Ody, dengan antusias seolah ia tidak percaya dengan yang didengarnya.


"Iya, sayang. Boleh ko," jawab Rio dengan lembut, sembari menoel hidung mancung Ody.


"Ah..... Terima kasih suamiku yang baik," pekik Ody, sangat bahagia. Tak lupa sebagai tanda terima kasih Ody men'cium bibir Rio dengan mesra.


Hal itu tentu tidak Rio sia-siakan, ia membalas dan memberikan bonus yang lainya. "Masih mau lagi?" tanya Rio sembari memberikan kerlingan mata genitnya.


"Apaan sih Mas, kan udah semalam dua kali dan tadi pagi waktu aku mau mandi mas minta lagi. Jadi tiga kali, masa mau nambah lagi," protes Ody sembari mengacungkan jari tanganya memunjukan jumlah tiga.


"Ya nggak masalah, kalo mau lebih dari tiga, Mas masih sanggup ko." Rio tak henti-hentinya meledek Ody, sementara Ody malah bergidik ngeri.


"Tiga kali sajah badanya sudah pegal-pegal, apalagi sampai nambah lagi bisa-bisa nggak jadi belanjanya," protes Ody.


"Ya udah, iya deh hari ini hanya tiga kali, tapi nanti malam boleh dong nengok debaynya dua kali," ucap Rio dengan memeluk Ody dengan posesif.


"Au ah...." jawab Ody jengah. Rasanya kenapa malah ia setiap malam tak pernah merasakan kebebasan, semenjak ia dijadikan istri seutuhnya oleh Rio. Setiap malam juga ia harus melayani Rio di atas ranjang, berbagi peluh dan cairan.


"Dede yang sehat yah, baik-baik di dalam perut Bunda. Jangan buat Bunda susah yah anak baik. Papah mau kerja dulu," bisik Rio sembari mencium dengan mesra perut istrinya.


"Baik Papah," jawab Ody dengan meniruka suara anak kecil. "Mas juga kerjanya yang semangat yah," ucap Ody sembari melambaikan tanganya. Rio tentu bahagia dengan perubahan kehidupanya yang dratis dan harmonis.


Setelah memastikan Rio berangkat kerja Ody lalu masuk kekamarnya dan akan menelepon Ipek, ia akan mengajak Ipek jalan-jalan.


"Hallo Assalamualaikum," sapa Ipek dari sebrang telpon dengan suara yang sangat pelan.


"Walaikumsallam, Pek. Kamu sakit?" tanya Ody dengan perhatian ketika mendengar suara lemah Ipek.


"Mba Ody?" Ipek yang tidak melihat siapa yang barusan meneleponya, dan langsung sajah mengangkat telponya. Tentu sangat hafal suara Ody yang memang sangat Khas itu.


"Ko keliatanya kaget banget Pek, kenapa?" tanya Ody heran.


"Engga Mba, tadi pas ngangkat telpon tidak melihat siapa yang telfon, makanya pas dengar suara khas Mba langsung kaget," jawab Ipek dengan jujur.


"Oh kirain, lagi mengharapkan telpon dari seseorang," ledek Ody.


"Iya sih mengharapkan telpon dari seseorang, tapi kayaknya nggak mungkin deh," balas Ipek dengan sedih.


"Udah, dari pada melow-melowan mikirin orang yang nggak peka sama perasaan kita. Gimana kalo kita nge'mall ajah, jalan-jalan ngilangin suntuk. Mba tlaktir deh," ajak Ody dengan berbinar bahagia. Akhirnya bisa membeliak Ipek barang yang diinginkan. Memang udah sejak lama Ody ingin melakukan itu pada Ipek, tetapi karena uang yang ia punya selalu sajah tidak cukup, makanya ia selalu menunda hal itu.


"Bener nih bakal ditlaktir?" tanya Ipek menggoda Ody.


"Bener dong, barusan Mas Rio juga udah izinin dan udah kasih aku uang buat berbelanja," jawab Ody antusias.


"Cie yang udah panggilnya pake Mas, dan adik. Jadi nggak sabar pengin cap cus buat rasain duit dokter Rio yang tak berseri." Lagi, Ipek meledek Ody. Sementara Ody hanya tersenyum bahagia mendengar ledekan Ipek. "Kalo gitu, Ipek harus siap-siap dulu. Habis itu nanti Ipek jalan ke ruamah dokter Rio. Biar kita berangkat bareng ajah." Ipek memberikan idenya.


"Ok, Mba tunggu dirumah yah,"


...****************...