Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kita itu Keluarga



Hah... Mba Ody nggak main-mainkan? Sejak kapan Mba udah nikah? Apa laki-laki itu dia?" tanya Hendra dengan perasaan kecewa, dan juga raut wajah yang memerah, serta menunjuk kearah Rio.


Ody menunduk ia sangat tau bahwa adiknya sangat kecewa denganya. "Maafka Mba, semuanya Mba lakukan karena terpaksa, takut apabila ibu tau dan semakin kefikiran mengakibatkan ibu jatuh sakit." balas Ody.


"Hendra nggak tau apa yang terjadi dan juga harus gimana, yang jelas Hendra sangat kecewa sama keputusan Mba." jawab Hendra dengan ketus.


"Aku bisa jelasin, semua kesalahanku, Ody nggak salah apa-apa dia hanya korban dariku." sela Rio, dia berusaha mencairkan suasana yang memanas.


"Kalian sama ajah. Mengambil keputusan tanpa memikirkan keluarga, apa aku ini sudah tak pantas Mba akui sebagai adik?" tanya Hendra dengan suara meninggi kecewa yang sangat dalam dengan keputsan Ody.


"Bukan seperti itu Ndra, gimana pun keadaanya kamu teteap Mba anggap sebagai adik. Apalagi sekarang kamu adalah keluargaku satu-satunya. Mba akan terus menganggap kamu sebagai adik Mba. Hanya sajah saat itu situasinya sangat tidak mendukung. Tolong kasih pengertian buat Mba." ucap Ody memohon agar Hendra tidak salah paham, tetapi Ody juga seolah kaku bibirnya apabila menceritakan yang sesungguhnya terjadi.


"Coba situasi seperti apa yang membuat Mba tidak mau memberitahu kami dengan pernikahan Mba. Apa karena mba hamil diluar nikah?" tanya Hendra dengan sinis.


Ody masih bingung apakah akan menceritakan semua kejadian itu atau memilih mencari alasan lain.


"Aku telah memperkosa Mbamu." jawab Rio mewakilkan Ody. Rio memilih untuk jujur agar semua masalah bisa selesai.


Buk....


Buk...


Brak..


Hendra yang geram mendengar jawaban Rio langsung berdiri dan menghamipiri Rio, memukul dengan berkali-kali di wajah Rio.


Rio yang tidak siap dengan serangan Hendra langsung tersungkur lantai.


"Hendra setop." pekik Ody dengan cemas lalu berdiri menghampiri Rio dan Hendra yang terlibat perkelahian.


Hendra hendak menarik kerah baju Rio, tetapi Ody menahanya.


"Setop Ndra, Mba mohon semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Kamu dengarkan dulu penjelasan kami." mohon Cyra denga panik ketika melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Rio.


"Laki-laki seperti dia nggak pantes dapatin Mba, dia itu laki-laki brengsek." runtuk Hendra deng muka memerah menahan kemarahanya.


"Kalo memang kamu puas memukul aku dan bisa mengurangi emosimu dan memaafkan aku, silahkan aku ikhlas." ucap Rio seolah menantang Rio.


"Hendra bersiap hendak memukul Rio, tetapi Ody sigap menahan tubuh Hendra akar tidak mendekat ke Rio.


"Aduh." pekik Ody, ketika Hendra mendorong tubuhnya tidak sengaja memebentur meja di belakang Ody berdiri.


"Ody," pekik Rio panik dan segera menghampiri Ody ketika memegangi perutnya.


"Mba." Hendra tidak kalah panik ketika melihat kakanya meringis kesakitan. "Mba tidak apa kan?" tanya Hendra panik.


"Tolong ambilkan alat medis dimobilku." pinta Rio pada Hendra.


"Mas nggak usah kaya gini, aku nggak apa-apa ko. Tadi aku hanya kaget jadi kaya kram gitu perutnya, turunin Mas." ucap Ody tidak enak apabila Rio mengendongnya.


"Bisa diam kan, biar aku periksa dulu. Baru bisa menyimpulkan kalo kamu baik-baik sajah."jawab Rio dengan menatap Ody tajam.


"Tapi aku berat." balas Ody dengan muka memerah.


"Apanya yang berat orang badan nggak ada dagingnya gini, sangat ringan," balas Rio meledek. Rio meletakan Ody dengan sangat pelan diatas pembaringan. Rio mengelus perud Ody yang sudah sedikit membesar.


"Anak Papah jangan nakal yah, dede sehat-sehat di dalam perut Bunda, dan jangan bikin Bunda sakit." bisik Rio diatas perut Ody, membuat Ody terharu.


Tak lama Hendra masuk dengan membawa tas medis yang Rio selalu bawa di dalam mobilnya.


"Ini." ucap Hendra dengan canggung memberikan tas medis pada Rio.


"Terima kasih yah Ndra." ucap Rio dengan suara selembut mungkin.


Hendra hanya mengangguk sebagai jawabanya.


Rio memeriksa Ody dengan teliti. Memastikan Ody dan calon buah hatinya baik-baik sajah.


"Mba nggak apa-kan?" tanya Hendra tidak sabar ketika Rio selesai memeriksa Ody.


"Mba nggak apa-apa Ndra, hanya kram sajah tadi perut Mba." jawab Ody dengan lemah.


"Iya seperti yang Mbamu bilang kalo Ody baik-baik sajah dan tidak ada hal yang berbahaya." jawab Rio meyakinkan Hendra.


Hendra mendekat ke Ody dan duduk di samping Ody.


"Maafkan Hendra yah, gara-gara emosi Hendra Mba sampe kaya gini." ucap Hendra dengan sungguh-sungguh. Dia menyesali semua perbuatanya.


"Iya nggak apa-apa hanya kondisi Mba ajah yang lemah. Semuanya bukan salah kamu jadi jangan bersedih kaya gini." ucap Ody dengan mengelus rambut adiknya.


"Gimana Hendra nggak sedih dan cemas, keluarga Hendra di dunia ini tinggal Mba Ody, kalo Mba Ody kenapa-napa apalagi karena kelakuan Hendra, pasti Hendra menyesal sekali." ucap Hendra dengan mengusap air matanya. Baru kali ini Hendra merasa cemas bercampur sedih seperti ini.


"Sekarang kamu nggak cuma ada Ody sebagai keluarga, tetapi juga ada aku sebagai Masmu." jawab Rio mendekat ke Ody dan Hendra.


Hendra hanya tersenyum, ia berjanji akan mencoba menerima pernikahan Rio dan Ody.


"Ada lagi calon keluarga kita, nanti kamu bakal punya ponakan." imbuh Ody dengan mengusap perutnya lembut.


"Jadi Mba Ody sedang hamil?" tanya Hendra kaget.


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤


...****************...