Beauty Clouds

Beauty Clouds
Pacar Baru



"Ayo naik." Arzen meminta Zawa naik motornya.


"Zawa pun mengikuti perintah Arzen, meskipun merasa berdebar hatinya, tetapi pada kenyataanya sejak pertama melihat foto Arzen, Zawa sudah terpesona, sehingga ada kebahagiaan tersendiri ketika Arzen menyambut baik pertemuanya.


"Ngomong-ngomong alamatnya di mana?" tanya Arzen sebelum melajukan mogenya. Bahkan Zawa saking bahagianya sampai-sampai lupa memberi tahukan alamatnya dimana.


"Astaga kenapa aku bisa lupa, alamat rumah ku di Perumhana C Jln. X nomer 10." jawab Zawa sembari menepuk jidatnya.


Arzen yang melihat tingkah Zawa makin gemez, rasanya Arzen udah beneran jatuh cinta dibuatnya oleh Zawa. Bahkan Arzen pengin bawa pulang Zawa, biar bisa dipandangin terus menerus wajah ayu dan ekpresi malu-malu itu loh bikin pengin bungkus.


Arzen pun melajukan motornya dengan kecepata sedang, sengaja Arzen ingin menikmati setiap momen bersama Zawa.


"Laper nggak?" tanya Arzen.


"Lumayan, belum makan juga," jawab Zawa malu sih tapi kenyataanya memang cacingnya sudah pada demo, meminta jatah.


Arzen pun membelokan motornya kewarung makan pinggir jalan.


"Makan di tempat beginian mau nggak?" tanya Arzen lagi, takutnya Zawa nggak biasa dengan makanan pinggir jalan mengingat kalo diliat dari penampilanya Zawa, bukan dari golongan rakyat jelata.


"Apaan sih, aku juga sering makan kaya ginian lagi, malah pecel ayam termasuk makanan kesukaanku." jawab Zawa, ia nggak suka kalo dinilai cewek yang pemilih makanan.


"Ya takutnya, nggak biasa," imbuh Arzen dengan tersenyum jail.


"Yuk," tiba-tiba Arzen menggenggam tangan Zawa, mengajak masuk kedalam tenda pecel ayam yang terkenal kelezatanya. Arzen sebelumnya memang sering makan disini jadi ia tau kualitas rasa makananya.


Zawa menatap tanganya yang digenggam oleh Arzen, rasanya jantungnya mau copot. Tanpa Zawa sadari tanganya berkeringat karena terlalu gugup.


"Nggak pernah emang pegangan tangan?" tanya Arzen yang melihat kegugupan di wajah Zawa.


"Pernah, tapi itu dulu. Sekarang udah lupa lagi rasanya." ucap Zawa jujur karena memang ia lupa rasanya jatuh cinta. Sebelumnya dulu Zawa pernah menjalin kasih dengan seseorang, tetapi karena diselingkuhin, maka Zawa memilih menjomblo. Sampai sekarang karena masuk ke misi Emly, Zawa kembali merasakan getaran yang aneh apabila berdekatan dengan Arzen.


Selepas makan malam yang sederhan, tetapi sangat romantis. Arzen mengantar Zawa kerumahnya.


"Maaf jadi kemalaman yah pulangnya, karena aku ajak makan dulu," ucap Arzen, ketika Zawa baru turun dari atas motornya.


"Nggak apa-apa ko, lagian aku praktek besok siang, jadi nggak ganggu waktu tidur juga. Ngomong-ngomong saya makasih banyak buat bantuanya, apa lagi diantar sampai rumah. Kamu padahal sebenarnya cape, tapi malah milih mengantarkan aku. Tarimakasih sekali lagi, aku nggak tau harus bales gimana, kamu sangat baik." Beo Zawa yang tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih.


"Iya sama-sama, aku seneng ko bisa bantu kamu, apalagi kamu anaknya seru. Jadi jangan berpikiran ngerepotin dan lain sebagainya. Aku ikhlas." ucap Arzen, nggak suka kalo Zawa berkata terus menerus ngerepotin. " Soal ngebalas kebaikan, kamu nggak usah balas yang macam-macam, cukup kasih nomer HP kamu ajah, aku udah anggap lunas," ucap Arzen sembari tersenyum manis.


"Dasar, ada maunya," cicit Zawa, tetapi ia mengambil Hpnya dan menyodorkan ke Arzen.


Arzen tentu sajah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengambil Handphone Zawa dan mencatat nomer HP nya dikontak Zawa. Tak sampai disitu Arzen juga melakukan panggilan kenomernya sendiri agar nomer Zawa bisa ia save.


Zawa mengambil kembali HPnya setelah Arzen menyodorkanya kembali. Zawa mengecek nama yang Arzen tulis.


"Ko namanya....?" Zawa tidak melanjutkan kata-katanya, ia terlalu kaget dengan namanya.


"Iya, mau kan? Please." tanya Arzen dengan memohon, mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Apa ini nggak terlalu cepat, kita baru kenal loh, baru beberapa jam yang lalu." Zawa kembali berprotes.


"Tapi aku yakin kamu orang baik, makanya aku mau kamu jadi pacar aku." Arzen nampak yakin dengan Zawa.


Dalam hati Zawa justru ia semakin dibuat bersalah, karena telah memanfaatkan Arzen, Zawa nggak tega kalo Arzen tau bahwa niat Zawa mendekatinya hanyalah untuk mencari informasi mengenai Rio.


"Gimana?" tanya ulang Arzen, ketika melihat Zawa justru bingung.


"Zawa, namaya manusia pasti ada keburukan dan tak lepas dari kebohongan, ada bohong yang dilakukan karena terpaksa dan ada bohong yang dilakukan karena ingin dinilai baik. Tergantung seberapa fatal kebohonganya. Andai kebohongan karena terpaksa dan masih bisa dibicarakan, aku nggak akan kecewa dengan mu." Arzen mencoba mengutarakan pendapatnya.


Zawa pun cukup puas denga pendapat Arzen, setidaknya masih ada kesempatan untuk membicarakanya apabila ia ketahuan memanfaatkan Arzen.


Setelah menimang dengan segala pertimbangan, akhirnya Zaya mengangguk.


"Kamu mau jadi pacar aku," pekik Arzen girang bukan kepalang.


"Iya, aku juga sejak awal melihamu mulai tertarik, kamu orang yang baik." jawab Zawa jujur dengan perasaanya.


"Yes... yes..." Arzen berjingkrak gembira. Rasanya baru kali ini ia segembira ini.


Zawa yang melihatnya pun tersenyum manis. Dalam hatinya berdoa, agar Emly tidak melakukan hal diluar kewajaran, supaya tidak ada permusuhan lagi diantara mereka.


"Ya udah kalo gitu, Ayang pamit dulu yah," ucap Arzen dengan merubah panggilanya menjadi Ayang.


Zawa terdiam mendengan kata Ayang. "Ko Ayang sih?" tanya Zawa merasa geli.


"Iya biar romantis Ayang gitu." Arzen kekeh ingin dipanggil Ayang.


"Ya udah iya, iya. Hati-hati Ayang." Zawa pasrah saja ketika Arzen memaksa ingin dipanggil Ayang.


" Ok, makasih Pacar Baru." Arzen pamit keZawa dan melambaikan tanganya, kemudian dia melajukan motornya. Zawa membalas lambaian tangan Arzen, Setelah motor Arzen tidak terlihat, Zawa pun masuk kerumahnya.


Dari dalam kamar, Emly tersenyum puas, nampaknya misinya kali ini akan benar-benar berhasil. Rupanya sejak tadi Emly memperhatikan Zawa dan Arzen.


"Ehemmmmmzzzzs......." Emly berdehem. " Girang banget kayaknya, yang abis jalan sama doi," Emly mulai mencari tau sejauh mana hubungan Zawa, semakin dekat semakin baik, itu tandanya Zawa akan dengan mudah mencari tau informasi dengan Rio.


"Hehe ternyata Arzen orangnya seru." ucap Zawa mulai terpancing dengan pertanyaan Emly.


"Udah sampai mana obrolan kalian," tanya Emly mulai kepo maxsimal.


"Kami baru jadian." jawab jujur Zawa.


"Bagus dong, semakin percaya Arzen sama kamu, semakin mudah kamu mencari tau informasi mengenai Rio," ujar Emly tak kalah ikut bahagia.


Zawa terdiam, "Jujur gue takut sebenarnya Mly." Zawa lagi-lagi merasa bersalah.


"Nggak usah takut, percaya deh kali ini rencanaku nggak akan melibatkan kamu, dan aku hanya ingin tau informasi mengenai Rio, itu sajah." Emly mencoba meyakinkan Zawa.


"Mudah-mudahan kamu tepati janji kamu yah," harap Zawa.


"Iya kamu boleh pegang omongan gue, loe kan sahabat gue dari jaman dulu, masa gue tega bawa-bawa loe dari masalah gue. Oh iya mulai besok kayaknya gue harus tinggal di Apartemen ajah deh. Entar malah kalo Arzen main kesini liat ada gue di rumah loe, dia pasti akan curiga." Emly mengutarakan niatnya untuk pindah dari rumah Zawa.


"Ya udah gimana baiknya. Benar juga kata loe, kalo loe tetap tinggal disini terlalu berbahaya. Nanti kalo ada apa-apa loe telpon ajah, kalo mau periksa dan butuh sesuatu nanti gue yang ke Apartemen loe." Zawa menyetujui ide Emly.


"Kalo gitu gue masuk kamar dulu yah, udah lengket pengin bersih-bersih." Zawa pamit akan kekamarnya lebih dulu.


Emly pun meyusul masuk kekamarnya, pastinya kali ini Emly harus terus meyakinkan Zawa, agar tetap menjalankan misinya dengan baik dan rapih. Emly sangat tau sifat Zawa yang nggak tegaan, makanya Emly harus tetap meyakinkan Zawa untuk tidak terpengaruh dengan apa pun yang terjadi diluar sana.


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤