
Ody masih memijat kepala Rio dengan Lembut, aneh tapi nyata, kini sakit dikepala Rio udah menghilang, entah karna pijatan dari Ody atau karna faktor yang lain.
"Gimana Dok, apa sekarang ada perubahanya?" tanya Ody dengan suara pelan.
"Yah, justru sekarang sakit kepalaku sembuh," jawab Rio masih dengan memejamkan matanya.
"Alhamdulillah,"...ucap Ody singkat.
"Kamu enak juga buat mijatnya," ucap Rio
"Syukur kalo memang enak," jawab Ody dengan wajah berseri malu.
"Udah cukup Dy mijatnya, kasian kamu juga pasti cape. Kamu istitahat dulu ajah baru balik lanjut mengerjakan kerjaan kamu."Rio memberi arahan agar Ody menyudahi pijatanya.
"Iya terima kasih Dok," ucap Ody dengan menundukan kepalanya.
"Harusnya aku yang berterima kasih loh," balas Rio.
"Ah,... sama-sama," jawab Ody.
Akhirnya Ody pamit, ia akan kembali kepantry, pasti teman sesama OG nyariin, terutama Bu Dewi bisa marah nanti, karna tadi Ody ga sempat izin dengan Bu Dewi.
Ody berjalan sedikit tergesa, ia udah siap apabila nanti Bu Dewi marah.
"Ko udah balik, memang Dokter Rio udah baikan?" tanya Bu Dewi ketika melihat Ody sudah balik ke pantry.
"Loh,... ko Bu Dewi tau, kalo saya ada diruangan Dokter Rio?" tanya Ody heran. Padahal Ody udah takut kalo nanti Bu Dewi akan marah, karna dirinya tadi tidak sempat memberi tahu akan membantu Rio.
"Iya tau lah,.. kan ada Pa Aarav yang ngasih tau, kalo kamu dipijem Bos dulu." Jawab bu Dewi santai.
Sekarang perasaan Ody lega, setidaknya nggak kena marah, batin Ody. Ia pun melanjutkan pekerjaanya.
Rio sudah menerima hasil pemeriksaan yang pagi tadi ia lakukan. Namun, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa ia baik-baik sajah.
"Terus kira-kira aku sakit apa kalo gitu, kenapa hasilnya semua bagus, tapi justru yang aku rasakan berbeda. Hampir setiap pagi aku merasakan sakit yang luar biasa." Beo Rio
"Saya hanya menyampaikan hasil Dok, dan untuk penyebab sakit Dokter, kami juga masih bingung. Tidak ada sedikitpun dari hasil priksa Anda, yang menunjukan bahwa ada pernyakit. Semuanya bagus." Jawab Dokter yang menangani Rio.
"Ya sudah, saya mau istirahat ajah dulu." Ucap Rio secara tidak langsung mengusir lawan bicaranya.
Setelah Dokter yang menangani Rio pergi, ia pun kembali merebahkan diri diruang pribadinya. Bahkan untuk praktik pagi Rio alihkan dengan Dokter yang lain. Untuk sementara ia masih merasakan kesehatanya terganggu. Rio akan mengambil praktik hanya sore, dan kerjaan rumah sakit yang lain, Rio bebankan sebagian pada Aarav dan Azra.
Untung Asisten dan Sekertarisnya cekatan, sehingga Rio tak perlu ambil pusing untuk memikirkan laporan yang menggunung, ia hanya akan memeriksa hasil akhir dan menandatangani. pengecekan dan urusan miting sementara Aarav yang tangani.
Sebenarnya Rio sudah tidak sakit kepala lagi, setelah Ody memijatnya. Namun, badannya masih lemas sehingga Rio memutuskan untuk istirahat sejenak, untuk mengembalikan staminanya.
Siang hari sebelum Azan Duhur berkumandang, Rio terbangun dan merasakan badanya sudah membaik, bahkan sudah tidak terasa sakit lagi, dan kini Rio merasa lapar. Tadi pagi ia merasa tidak ada nafsu makan, tetapi berbanding terbalik ketika siang menyapa, Rio merasakan lapar yang sangat luar biasa.
Rio mengambil telfon genggamnya, dan menghubungi Mbok Karti agar mengirimkan makanan dan tentunya rujak serut masih terbayang dipikiran Rio.
"Hall Dok," sapa Mbok Karti dengan sopan.
"Halloh Mbok, udah kirim makan siang dan rujak serut belum yah? aku sudah lapar nih," tutur Rio .
" Udah Dok, belum lama Mbok udah kirim, biasa sama ojek langganan," jawab Mbok Karti dengan jujur.
"Ya udah Mbok, paling masih dijalan," ucap Rio
Rio menutup telfon dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, biar lebih segar pikir Rio.
****
"Aduh lagi repot gini, satpam segala nefon lagi," gerutu Azra pelan. Minta tolong Ody ajah deh.
" Bu Dewi, tolong sampaikan sama Ody, agar kemeja saya yah." Begitu kira-kira isi pesan yang Azra kirimkan ke Bu Dewi.
Ody yang diminta Bu Dewi menemui Sekertaris Azra, bersiap merapihkan alat kerjanya dan bergegas ke meja Sekertaris Azra.
"Bu Azra manggil Ody," tanya Ody ketika baru sampai didepan meja Azra.
" Ah.... iya, kamu coba turun kebawah, biasa ada ojek antar makanan Dokter Rio." Azra menjelaskan tujuan ia memanggil Ody.
"Oh baik Bu," jawab Ody dengan sopan.
"Nanti kamu langsung antar keruangan Bos sekalian yah," perintah Azra ketika Ody akan beranjak meninggalkan mejanya.
Ody hanya memberikan simbol OK dengan jarinya, dan tersenyum manis.
Tidak sampai 10 menit Ody sudah kembali dengan tas bekal, yang kali ini lebih besar dari kemarin.
Tok ....tok...tok....
Ody mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, setelah mendengar sautan dari dalam, Ody bersiap masuk. Tak lupa Ody membaca Doa agar tidak kena omel Rio.
Ody masuk dengan pelan. "Siang Dok, saya mau mengantarkan bekal makan siang Anda," ucap Ody dengan sopan.
"Udah sampai yah," ucap Rio sambil berdiri dan mengambil tas bekal makan siangnya. Rasanya Rio tidak sabar untuk menikmati makan siangnya.
"Iya Dok, kalo begitu saya pamit Dok," ucap Ody setelah memberkan tas pada Rio.
"Iya, makasih yah," ucap Rio.
"Sama-sama," jawab Ody, masih merasa aneh kenapa akhir-akhir ini Rio bersikap baik denganya.
Ody meninggal kan ruangan Rio, dan akan dilanjutkan dengan beristirahat, karna jam istirahat juga sudah tiba.
****
Dikampung halama Ody ...
" Bu, apa nggak lebih baik kita kasih tau ke Mbak Ody, kalo Ibu sakit." Ucap Hendra yang bingung harus berbuat apa, sedang Ibu tidak mengizinkan memberitahu Ody kalau Ibunya sakit.
"Jangan Lek, kalo kamu kasih tau Mbakmu kondisi Ibu, pasti dia akan kefikiran. Kasihan Mbakmu selama ini berjuang kerja buat kebutuhan kita." Jawab Ibu dengan suara terputus-putus menahan sakit.
"Sama ajah Bu, kalo Mba tau Ibu sakit, tapi Hendra ga memberitahu, nanti malah yang ada Hendra kena marah Mba Ody." Beo Hendra .
"Mba mu ga akan marah, nanti Ibu yang bilang. Ibu yang larang kamu memeberi tahu Mbamu, kalo Ibu sakit." Kekeh Ibu, nggak ingin Ody mengetahui kondisinya.
Hendra hanya pasrah mengikuti permintaan Ibu, biarpun ia juga sebenarnya takut, kalo terjadi apa-apa dengan Ibunya. Bisa sajah Ody marah karna Hendra menutupi semua kondisi Ibu.
Selama ini Hendra selalu memberi kabar bahwa Ibu sehat. Namun, yang terjadi sebaliknya, kondisi Ibu semakin hari, semakin menurun. Bahkan untuk jalan sajah Ibu sudah merasa kesusahan, karna menahan sakit diperutnya, tapi Ibu juga ga mau kalo Hendra ajak berobat.
Setiap diajak berobat, Ibu akan bilang ia baik-baik sajah. Sampai Hendra lelah membujuk Ibu agar mau berobat.....
*** Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba, dan mencoba***
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah..❤❤❤