
Di ruang keluarga, di mana keluarga Ipek tengah berkumpul akan membahas wasiat terakhir dari Wahid yang di dapat dari perawat yang Ipek minta menjaga suaminya. Jadi sebelum Clovis datang memang Wahid sudah merekam semua yang menjadi wasiatnya untuk Ipek dan Clovis di ponsel perawat, dan suster itu mengirikan pada Umi hasil rekaman Wahid.
"Menurut Abah gimana dengan wasiat terakhir Wahid ini Bah?" tanya Abi yang mewakili yang lainya. Abi masih marah dengan Clovis. Mereka walaupun Ipek tidak bercerita tentang kisahnya sudah jelas mereka tahu apa yang terjadi antara Ipek dan Clovis. Selama ini merka memang diam tetapi bukan berarti mereka tidak tahu kelakuan Clovis terhadap Ipek. Orantuan mana yang tidak marah anaknya di perlakukan tidak manusiawi oleh Clovis. Bukan hanya Abi, keempat Abang Ipek juga tentu tahu bagaimana kelakuan Clovis. Maka dari itu mereka rata-rata kaget dan nggak terima apabil Ipek menjalankan perintah Wahid.
"Ipek kira-kira bagaimana?" tanya Abah yang beliau juga tidak menyangka kenapa Wahid bisa memberikan amanah seperti ini untuk istrinya, sedangkan Wahid tentu tahu lah dengan semua yang terjadi diantara Ipek di masa lalunya.
"Kalo Ipek sepertinya pasti akan mau-mau sajah terlebih Umi liat dia juga masih memendam perasaan terhadap laki-laki itu, tapi jujur Umi takut kalo nanti Clovis kembali ke sifat yang dulu. Meskipun mungkin dia berubah tetapi yang Umi takutkan kalo dia kembali berkelakuan kaya dulu, Umi nggak terima kalo anak Umi di sakiti lagi. Umi nggak mau terjadi kaya dulu di mana anak kita merasakan hilang arah sampai seperti dulu," isak Umi yang beliau sangat tahu gimana hancurnya hati dan perasaan putri satu-satunya itu.
Bagi keluarga Ipek permintaan terakhir Wahid adalah hal yang paling berat. Bagai mana tidak Clovis di keluarga Ipek sudah memiliki citra yang buruk dari pergaulan, usaha dan sifatnya yang tempramen. Mereka takut apabila menyerahkan Ipek bukanya kebahagiaan seperti dengan Wahid, malah Ipek tertekan dan menderita karena kelakuan Clovis.
"Sebenarnya kalo Clovis mau berubah, dan memperbaiki diri itu lebih bagus, tapi kembali lagi gimana Clovis mau merubah dirinya lebih baik lagi. Semuanya Abah serahkan sama kalian sebagai orang tua Ipek, Abah cuma menyarankan. Klo bisa kasih kesempatan kalo memang Clovis mau berubah. Serta tanyakan juga sama Ipek bagaimana perasaanya kalo masih suka bisa dimasukan untuk pertimbangan, tetapi kalo sudah tidak suka ya jangan di paksa juga. Kasihan juga kalo di paksa kan. Cinta itu bukannya memberi dan menerima. Begitu pun Clovis perasanya bagai mana, jangan sampai karena wasiat mereka hidup dalam keterpaksaan." Abah memberikan masukan yang mungkin saja bisa di pertimbangkan orang tua Ipek dan juga Abang-abangnya.
"Gimana Bang? Kalo kata Abang bagaimana, secara Ipek adik kesayangan kalian bukan?" tanya Umi ingin mendengar masukan dari keempat sodara Ipek, di mana mereka adalah orang-orang yang tidak ikhlas kalo adiknya di sakitin.
"Kalo Abang, sebenarnya dari awal itu kurang suka dengan Clovis, apalagi kelakuanya yang enggak banget suka main perempuan. Abang takutnya pernyakitnya kambuh kasihan Ipek. Abang juga sempat heran sama itu anak kenapa bisa suka sama casanova seperti Clovis, padahal kalo kata Abang Clovis bukan cowok yang ganteng-ganteng banget. Jadi kurang setuju lah kalo Wahid meminta Ipek menikah dengan Clovis," jawab Ammar Abang nomor satu dari Ipek.
"Tapi dari yang di dengar Clovis itu udah berubah Bang? Tidak lagi main cewek, usaha bar dan club malam juga udah pada dijual dan diganti dengan fashion. Malah Arzen bilang kalo Clovis ingin belajar agama dan sholat. Berati ada kesempatan untuk tobat Bang?" balas Umi, agar Ammar bisa mempertimbangkan dari segi yang sekarang juga bukan dari yang dulu-dulu.
"Kalau gitu kasih saja laki-laki itu kesempatan tetapi awas sajah kalo sampai bikin adik-adik kita meneteskan air mata karena sedih, siap-siap sajah tuh laki kita msukan ke penangkaran buaya biar jadi sarapan buaya yang kelaparan di sana," sela Zain dan Zayan. Sikembar juga menyempatkan pulang dari luar negri di acara pemakaman adik iparnya.
"Nah itu ide yang cocok kalo nggak kita botakin kepalanya biar tahu rasa, tapi botakinya sama gigi singa." Maher tidak mau kalah, di mana Maher adalah Abang nomor dua yang paling dekat dengan Ipek. Sebab cuma Maher yang tinggal di rumah orang tuanya bersama Ipek.
"Intinya kita jangan langsung terima Clovis sesuai dengan permintaan terakhir Wahid, kita minta Clovis menunjukan kesungguhanya dulu bagaimana? Kalo dia bisa liatkan perubahan yang baik dan berprilaku yang bisa melindungi Ipek kita bisa pertimbangkan lagi bagaimana kedepanya," ucaop Abi mengambil kesimpulan dari rapat yang keluarga inti adakan untuk mengambil keputusan nanti di saat semuanya kumpul. Pasti nanti akan di bahas dengan keluarga besar dan teman-teman Ipek juga, tidak ketinggalan juga keluarga Wahid di libatkan karena ini memang permintaan dari Wahidnya langsung.
Setelah menjalankan sholat Duhur bersama semuanya di minta kumpul di aula pondok yang memang di sana selain diadakan makan bersama mereka juga nanti akan diadakan pembahasan mengenai wasiat terakhir dari Almarhum Wahid.
Keluarga Wahid pun satu persatu sudah datang, dari Abi dan Umi dari Almarhum adik, kakak dan yang lainya pun ada yang ikut hadir. Mungkin mereka penasaran dengan apa yang akan Abah dan keluarga Ipek sampaikan.
Ipek dan teman temanya pun sudah ada di aulia, Ipek memang tidak berhias tetapi wajahnya tetap cantik dan ia nmemilih pakaian berwarna hitam dan krudung hitam yang menambah keanggunayan. Clovis dan yang lainya pun sudah hadir di sana. Clovis menjadi orang yang pendiam terlebih lingkungan keluarga Wahid dan Ipek yang semua adalah orang-orang paham dan ahli agama, sedangkan dirinya adalah pendosa yang tengah belajar untuk menjadi orang yang baik lagi.
Seperti yang di umumkan sebelumnya bahwa acra ini adalah makan bersama dan doa bersama untuk Almarhum Wahid. Sehingga yang pertama di gelar adalah dioa untuk Almarhum suami Ipek dan acara selanjutnya adalah makan-makan. Kasihan ada tamu, tetapi tidak disuguhkan makanan kan sangat berdosa. Doa bersama di pimpin oleh Abah. Clovis yang baru pertama kali mengikuti acara seperti ini pun banyak bertanya dengan Arzen yang kebetulan mereka duduk bersebelahan. Clovis yang lebih banyak tinggal di negri singa putih di mana mereka hampir tidak ada acara-acara seperti ini tentu sangat kaget dan berusaha mengikuti dengan yang ia bisa.