
Clovis yang tiba-tiba terbangun, dan melihat kesamping tetapi tidak ada istrinya di sampingnya. Sejak tadi mencoba mencari Ipek tetapi tidak ada. "Kemana istriku?" batin Clovis, begitu dia terbangun dan Ipek tidak ada di dalam kamarnya, padahal biasanya Ipek selalu ikut tidur apabila dia tidur. Dengan tubuh yang masih setengah mengantuk Clovis mencari ke kamar mandi tidak hanya itu dia juga mencoba mencari keruang makan dan bahkan sampai ke masjid keluarga yang masih berada di lingkungan keluarganya. Mungkin saja ada di sana dan sedang melakukan tadarus al quran atau bahkan acara keagamaan apa pun itu dan karena Clovis yang sudah tertidur, sehingga tidak di bangunkan. Namun setelah di cek semuanya tidak ada. Clovis hendak kembali ke dalam rumah mungkin sajah Ipek ke dapur dan sedang mencari makanan, biasanya ia malam-malam lapar.
"Dari mana kamu? Malam-malam keluyuran ajah?" tanya Abi yang sedang duduk di ruang keluarga, padahal tadi waktu Clovis akan keluar Abi tidak ada di ruangan itu.
Clovis pun sedikit terlonjak karena suara Abi, sehingga ia mengelus dadanya. "Astagah Abi ngagetin. Itu Bi lagi cari Ipek enggak ada di dalam kamar," jawab Clovis sembari mengambil duduk di sova, hadapan abi duduk.
"Emang kenapa bisa anak Abi Pergi? Apa kamu berantem sama dia?" tanya Abi ketus, tentu Abi tahu di mana Ipek. Wong gara-gara Ipek ada dikamarnya, sehingga dia duduk di sova kan karena pintu kamarnya di konci oleh Ipek dan istrinya. Namun rasanya kurang seru apabila tidak bikin Clovis tersudut. Wajah terpojok dari Clovis menambah mood Abi, untuk tertawa di dalam hatinya.
"E... enggak tahu Abi, Clovis ajah baru bangun dari tadi tidur dan pas bangun Ipek sudah tidak ada di kamar, kirain ada pengajian di masjid taunya sepi. Mungkin Abi tahu Ipek ada di mana?" tanya Clovis, yah basa basi sih tapi kalo tahu benaran kan mending jadi tidak khawatir lagi.
"Itu ada di dalam kamar, sedang ngobrol sama umi. Entah ngobrol apaan Abi ajah dari tadi nungguinya tapi belum pada keluar juga," jawab Abi, akhirnya memberi tahukan keberadaan Ipek.
****
"Ya ampun Abi, Abang. Sedang apa di sini? Pasti lagi nguping yah?" tanya Ipek dengan nada menggoda dan telunjuk di main-mainkan seolah tengah menghakimi anak kecil. Bagaimana tidak Ipek menuduh, Abi. Mertua dan menantunya itu terpergok tengah berusaha menguping. Ketika Ipek tiba-tiba membuka pintu hendak kembali ke kamarnya tapi malah Abi dan Clovis hampir terhempas ke dalam kamar. Itu tandanya dua orang itu sedang melakukan pencobaan menguping bukan?
"E... Enggak kok sayang, tadi Abi bilang katanya kamu ada di dalam. Makanya buat mastiin Abang menempelkan telinga dan ternyata kamu memang benar ada di dalam sini. Iya kan Abi gitu tadi?" ucap Clovis ngeles agar tidak disudutkan terus dengan tuduhan menguping.
"I... Iya kaya gitu sayang, tadi Clovis nyariin kamu sampai ke masjid juga dan karena Abi yang tahu kamu ada di sini, jadi Abi saranin ajah suruh cek di kamar Abi," jawab Abi. Entah dari mana datangnya kekompakan ini. Sehingga malam ini baik Clovis dan Abi terlihat sangat kompak.
"Kalo mau ngecek kenapa enggak langsung masuk ajah, kan pintu juga tidak di kunci?" ujar Ipek.
"Tadi bukanya di kunci yah sayang, soalnya Abi mau masuk susah," elak Abi, padahal mah kenyataanya baik Ipek maupun Umi tidak ada yang mengunci pintu.
Sementara di depan sedang pada saling elak, Umi di dalam kamar terkekeh dengan ke isengan Abinya, dan heranya Clovis sudah mulai terbawa sifat isengnya suaminya itu.
"Kalo gitu ayo Abang kita balik ajah ke kamar. Kamu jangan ikuti apa yang Abi bilang dia memang gitu sering iseng, nanti malah kamu ke bawa-bawa kebiasaan Abi," ucap Ipek secara tidak langsung menyalahkan Abinya.
"Loh... Loh kok Abi yang di salahkan, coba deh kamu tanya sama Clovis. Dia tadi yang ajak Abi buat ngumping, pengin tahu kalian ngomongin apa?" tuduh Abi sembari menunjuk Clovis. Tentu sajah Ipek tidak percaya, di sini yang iseng adalah Abinya, dan Ipek hanya turunan dari Abi.
Clovis yang kaget selalu menjadi kambing hitam mertuanya pun langsung mengangkat kedua tanganya dan mengerak-gerakan sebagai tanda bahwa ia tidak tahu. Serta wajah yang terpojok dengan kelakuan mertuanya. Tentunya jangan di tanya Abi di dalam hatinya terkekeh dengan renyah.
Ipek pun buru-buru mengajak Clovis balik ke kamarnya dari pada terus menerus menjadi korban keisengan Abinya. "Ayo sayang kita balik ke kamar sajah, kita bikin yang enak-enak. Oh iya Abi, kata umi malam ini tidak ada jatah," balas Ipek dengan mengedipkan matanya sebelah ke arah Abinya. Salah siapa isengin suaminya, di balas dong sama anaknya.
Keluarga mereka memang hampir semua menuruni sifat Abi, yaitu iseng dan jahil. Mungkin hanya Ammar yang lebih dominan menuruni sifat Umi. Si sulung itu lebih pendiam. Tapi sering juga ia mengjahili adiknya, Ipek. Dan anak-anak yang lain jangan di tanya. Jahilnya udah tingkat provinsi. Ipek saja kalo tidak tinggal di lingkungan pesantren mungkin jahilnya akan semakin menjadi. Hanya semenjak tinggal dengan Abah ia lebih bisa menjaga kejahilanya, sedikit.
"Sayang kamu tadi di kamar umi lagi ngapain sih? Abang cari-cari sampai ke masjid samping enggak ada." tanya Clovis penasaran tentu kenapa istrinya bisa ada di kamar umi tumben sekali.
"Enggak ada apa-apa hanya curhat-curhat biasa saja kok," jawab Ipek, ingin merahasiakan dulu hasilnya sampai besok.
Ehem... Suara deheman Clovis. "Sayang malam ini kita belum olahraga loh," Kode Clovis. Di mana biasanya setiap malam selalu ada ritual olahraga, dan biasanya Ipek lah yang mengkode tipis-tipis. Dari yang mepet-mepet tubuhnya. Dan tangan yang jahil, tetapi malam ini setelah dari kamar umi, Ipek langsung merebahkan tubuhnya dan yang bikin Clovis heran adalah Ipek memunggunginya. Sehingga Clovis mengira kalo Ipek marah karena kejadian tadi. "Kamu tidak sedang marah kan sayang?" imbuh Clovis.
Yah Umi yang sudah berpengalaman hamil selama empat kali, melihat putrinya seperti orang hamil. Ipek yang biasnya makan sedikit, kali ini sebentar-sebentar pengin makan, dan tidak jarang ia meminta makanan yang menurut Umi sebelumnya Ipek tidak menyukainya. Dari situ Umi meminta agar putrinya melakukan cek kehamilan sehingga apabila sudah ketahuan hasilnya bisa lebih di jaga dan berhati-hati lagi.
Ipek membalikan tubuhnya menghadap Clovis, kedua tanganya ia letakan di pipi kanan dan kiri suaminya yang banyak di tumbuhi bulu-bulu halus. Sehingga sangat tampan di lihat oleh Ipek.
Mata Ipek menatap dalam kedua bola mata Clovis. "Kalo malam ini libur olahraga dulu gimana? Abang marah tidak kalo ipek minta cuti malam ini?" tanya Ipek dengan suara lembutnya. Clovis mengernyitkan dahinya, kenapa tumben sekali, pikir Clovis.
"Kenapa? Apa Ipek sakit? Sedang datang bulan?" tanya Clovis dengan lembut kedua tanganya pun diletakan si atas tangan Ipek.
Ipek menggeleng dengan senyum yang mengembang. "Ipek hanya ingin tidur lebih awal ajah, dan biar besok pagi bisa bangun lebih pagi dan badan segar lagi," jawab Ipek. Belum ingin mengatakan yang tadi dia dan Umi rundingkan. Ia ingin memberikan kejutan dengan suaminya itu kalo memang dirinya benar-benar hamil.
Clovis pun membalas dengan senyuman dan memeluk erat tubuh Ipek yang kecil itu sehingga hampir tidak bisa bernapas. Saking gemasnya memiliki istri yang tahu cara menolak dengan halus, tanpa menyakiti perasanya.
"Baiklah, tidur yang nyenyak yah kesayangan Abang, malam ini Ipek Abang izinkan untuk libur tapi besok kalo mau berangkat kantor sentor sebentar boleh yah," ucap Clovis sembari mencium pucuk kepala Ipek. Dan Ipek pun hanya mengangguk sebagai tanda ia mengizinkan apabila Clovis ingin setor benihnya.
Pagi hari begitu alarm berbunyi, Ipek langsung terbangun dengan semangat. Padahal Ipek kalau hari biasa adalah orang yang sangat sulit dibangunkan. Bahkan biasanya Clovis dulu yang akan bangun lalu membangunkan Ipek. Namun pagi ini begitu alarm berbunyi Ipek langsung terbangun dan buru-buru ke kamar uminya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menemukan jawabanya.
Tok... Tok... Tok... Pintu kamar umi, Ipek ketuk dengan lebih keras. Saking semangat dan tidak sabarnya Ipek sampe-sampe ia tidak sadar bahwa suara dari ketukanya membuat umi dan Abi terlonjak bangun.
"Astagah Umi, itu suara apa?" tanya Abi dengan heran. Umi yang lupa bahwa ada janji dengan Ipek pun menggidikan bahunya sebagai tanda bahwa ia tidak tahu apa gerangan yang membuat suara gaduh itu.
"Umi... Umi... Abi... Bangun dong ini udah siang!!!" pekik Ipek, dan Umi ketika mendengar suara putrinya, baru teringat kalo pagi ini ada janji dengan sang putri.
Umi buru-buru bangun. "Iya tunggu bentar cantik," ucap Umi. "Abi ayo bangun cepat!" ujar Umi dengan terburu-buru menyiapkan pakaian Abi untuk sholat di masjid.
"Abi, maaf yah pagi ini Abi mandi di kamar mandi siapa kek, jangan di kamar madi kita karena Umi dan Ipek pagi ini ada bisnis," ucap Umi sembari memberikan tas berisi pakaian ganti suaminya itu.
Abi pun heran dan bingung dengan tingkah istrinya. "Bisnis apa kira-kira yang di kerjakan pagi-pagi buta?" Begitu kira-kira suara batin Abi.
Namun tak ayal Abi pun menurut saja apa kata ibu negara. Pintu di bukan oleh umi dengan senyum mengembang dan meminta Ipek buru-buru masuk dan dan sebaliknya meminta Abi buru-buru keluar.
Abi yang heran dengan tingkah istri dan anaknya pun tanpa sadar berjalan ke kamar Ipek. Padahal niatan awal ia akan numpang mandi ke kamar Maher. Namun karena isi kepalanya yang sedang tidak singkron sehingga tanpa sadar Abi berjalan lawan arah dari kamar Maher, yaitu ke kamar putrinya dan saking tidak fokusnya Abi sampai tidak sadar kamar yang ia masuki berwarna pink cerah itu. Nah, Loh kira-kira bakal ada kejutan apa lagi antara mertua dan menantunya itu?
"Gimana hasilnya Umi?" tanya Ipek dengan antusias. Rasanya pengin buru-buru hamil.
Umi menunjukan benda pipih itu dan membiarkan Ipek membaca sendiri hasinya. Ekpresi wajak Umi yang datar mebuat Ipek sedikit murung. Ipek menggidikan bahunya sebagai tandai bahwa ia tidak tahu apa hasilnya dari benda pipih tersebut.
Umi pun membuang nafas kasar, dan meminta Ipek duduk di sova. Beliau akan menjelaskan hasilnya.