
Di dalam mobil Arzen....
"Emang kenapa Dy, ko kamu keliatanya cemas gitu?" tanya Arzen ketika melihat Ody yang terlihat cemas dan tak hentinya menangis.
"Entah lah Zen, barusan ade aku telpon dan mengabarkan agar aku cepat pulang. Pikiranku tidak enak, takut terjadi sesuatu pada ibuku." ucap Ody jujur dengan perasaannya yang tidak menentu, cemas.
"Kamu harus optimis bahwa ibumu baik-baik sajah." papar Arzen memberikan semangat agar Ody tidak bersedih terus. Arsen ikut terbawa suasana melow, ketika Ody sedari tadi di dalam mobilnya menangis.
***
Sedangka Rio di dalam kamar mandi dia menuntaskan permainan yang tadi sempat tertunda seorang diri, alias bersolo karir. Kini di hati Rio ia merasa bersalah, karena telah marah dan menahan Ody untuk tidak pergi, sebenarnya Rio merasa iba dan penasaran apa yang terjadi dengan istrinya, tetapi karena sifat gengsi ia memilih mendiamkan Ody sampai Ody pergi tanpa dirinya. Baru juga malam ini mereka akan berbagi peluh dan kenikmatan tetapi justru harus tertunda lagi.
Rio keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Ody sedang apa yah, dan di mana sekarang?" batin Rio mulai mencemaskan Ody.
Rio berusaha memejamkan matanya membiarkan Ody pergi dulu, agar Ody tahu bahwa Rio tengah marah denganya. Nanti apabila ia langsung menanyakan keberadaanya tentu gengsi dan Ody semakin besar kepala, itu pikiran Rio. Sedari tadi Rio mencoba memejamkan mata tetapi malah matanya makin susah buat diajak kompromi dan bakin tidak bisa tidur. Rio membayangkan Ody memijitnya dan dia akan tertidur setelahnya, tapi kini Ody nggak tau di mana.
Rio menglihkan kecemasanya kepekerjaan, dia mengecek beberapa laporan pekerjaan agar nanti cape dan akan tertidur tanpa Ody disampingnya. Namun, rasanya itu sangat tidak mungkin, dia justru sangat merindukan Ody. Rio makin menginginkan Ody hadir disisihnya, baru sajah Rio berpisah dari Ody, tetapi seperti sudah beberapa lama sudah tidak bertemu, kangen banget. Niatnya bekerja demi melupakan bayang-bayang Ody, tetapi justru dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan karena bayang-bayang Ody yang selalu hadir dibenaknya.
"Astagah...... Ody kenapa kamu selalu mengganggun pikiraan aku." erang Rio sembari menjenggut rambutnya.
Rio bingung mau menghubungi Ody atau tidak. Rio mencoba menahan untuk tidak menghubungi Ody, ia pergi ke kamarnya dan mencoba memejamkan matanya, siapa tau setelah ini ia tidak lagi memikirkan Ody dan bisa tertidur dengan cepat. Rio berpikir Ody hanya pergi sebentar dan akan kembali esok pagi.
Namun, lagi-lagi Rio tidak bisa tidur, matanya tidak bisa diajak kompromi, dan lagi sekarang sakit kepalanya datang melanda. Rio kini memijit kepalanya seorang diri mencoba menghilangkan rasa sakitnya. "Ody kamu dimana sih, kenapa tinggalkan aku begitu sajah, kamu tau tidak bahwa anak kita nggak membiarkan aku bisa tidur nyeyak tanpa kamu disisiku." gumam Rio lirih.
Rio akhirnya mengesanpingkan egonya, ia mencoba menghubungi Ody, tetapi entah sudah panggilan keberapa tetapi Ody tidak jua mengangkatnya.
"Ody apa sebegitu marahnya kamu sampai kamu tidak mau mengangkat telponku." batin Rio yang mengira Ody marah kepadanya.
***
Di lain tempat, Ody yang baru sampai di depan rumahnya tentu kaget ketika melihat banyak orang hadir dirumahnya.
"Zen apa kekewatiranku menjadi kenyataan?" tanya Ody sembari terisak.
Arzen yang sudah tahu sesuatu terjadi di rumah Ody memberhentikan mobilnya. "Kalo memang kekawatiranmu jadi kenyataan kamu harus kuat Dy, inget semua yang terjadi pasti ada maksud tertentu." balas Arzen sembari mengelus pundak Ody yang masih terisak.
"Ayo Zen jalan, aku pengin segera tau apa yang sebenarnya terjadi di rumahku." ajak Ody.
Akhirnya Arzen mengikuti kemauan Ody, dia melajukan mobilnya kembali. Semakin dekat dengan kediaman Ody semakin terlihat jelas apa yang sebenarnya terjadi. Cukup melihat bendera kuning sudah yakin membuat Ody menjerit menumpahkan semua kecemasanya. Sedari tadi sudah menguatkan hatinya agar kuat seumpama hal buruk terjadi, tetapi ketika dihadapkan oleh kenyataan yang pait, tetap sajah rasa sedih dan ketidak iklhasan mengikutinya beriringan.
Pemandangan pertama terasa adalah sesosok manusia terbujur kaku diatas tikar. Ody melihat kesekeliling terlihat Hendra yang tengah menangis disamping jenasah yang telah terbujur kaku itu. Ody sudah yakin bahwa sosok itu adalah ibunya, sesosok wanita tangguh yang telah melahirkanya, kini sudah terbujur kaku dihadapanya.
Bagai kehilangan semua tulangnya berjalan hanya berberapa langkah sajah terasa jauh. Ody membuka penutup kepala yang menutupi wajah ibunya. Tangis Ody sudah tidak bisa dibendung lagi. Semua sesak didadanya ia tumpahkan disamping jenasah ibunda tercintanya.
"Bu kenapa Ibu cepat sekali meninggalkan Ody, bahkan Ody belum membahagiakan Ibu. Kenapa Ibu tidak memberi kesempatan untuk Ody membahagiakan Ibu." gumam Ody, seolah berkata dengan sosok ibunya.
Pemakaman dilaksanakan, memang sengaja sedari tadi mereka belum memakamkan ibu karena telebih dahulu menunggu Ody untuk terakhir kalinya melihat ibunya.
Kini waktunya ibu dimakamkan, Hendra yang meng'adzankan ibu untuk terakhir kalinya. Hendra tampak dengan telaten memakamkan ibunya. Sedang Ody dan Arzen menyaksikan dengan perasaan sedih.
Proses pemakaman selesai kini tinggal Hendra, Ody dan juga Arzen tengah berada diatas pusaran sang bunda. Setelah memanjatkan doa untuk ibu, kini mereka berjalan kaki menuju rumahnya, sepanjang jalan mereka diam dengan kesedihanya. Ody sebenarnya ingin bertanya apa yang terjadi dengan ibunya. Ia akan menanyakan setelah sampai di rumahnya. Kebetulan makam dengan rumah keluarga Ody tidak terlalu jauh, sehingga mereka berjalan kaki. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di rumah.
"Ndra, Mba pengin tau apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu tidak mengabarkan pada Mba, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ody sembari duduk disamping Hendra, pastinya setelah Hendra mandi membersikan badanya.
"Maafkan Hendra Mba, Ibu yang melarang Hendra untuk memberi tahukan kondisi Ibu ke Mba Ody. Ibu meminta Hendra merahasikan semua kondisi Ibu, Ibu tidak mau melihat Mba Ody kefikiran dan sedih makanya Ibu melakukan semuan ini dan Hendra juga nggak bisa menolak permintaan Ibu." jawab Hendra dengan jujur. Ia sudah pasrah apabila Ody akan marah denganya semua kenyataan yang sengaja Hendra tutupi darinya.
"Jadi selama ini kondisi Ibu tidak seperti yang kamu bicarakan ditelepon Ndra?" tanya Ody semakin merasa menyesal karena lagi-lagi ia tidak tau kondisi ibunya, dan tidak ada didetik terakhir ibunya berpulang.
Hendra hanya bisa mengangguk lemah. "Iya sudah tiga bulan ini Ibu melemah kondisinya. Sedangkan satu minggu ini kondisi Ibu sudah memperlemah, bahkan sudah seminggu ini Ibu tidak bisa ngapa-ngapain lagi." lirih Hendra sembari menunduk lesu.
"Kenapa Ndra, kenapa kamu nggak kasih tau Mba?" tangis Ody merasa sesak, ketika mendengar kejujuran Hendra.
Arzen yang melihat kesedihan Ody mendekat dan mengelus pundak Ody. " Sabar Dy." bisik Arzen menenangkan Ody.
***
Sedangkan dilain tempat, Rio tengah uring-uringan sedari tadi entah berapa puluh kali menelepon Ody dan juga menelepon Arzen tidak ada jawaban sekali pun.
"Astagah... ini orang dua kemana sih, kenapa tidak ada yang mengangkat telponku." gumam Rio sembari melempar telponya tempat tidurnya.
#Teman-teman bantu othor untuk share novel. othor yah, pembacanya masih sedikit nih huhuhu..... sedih...😩
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤