
Suara getaran ponsel yang menandakan ada panggilan masuk membuat Ipek yang tengah terlelap dalam tidurnya pun bangun.
"Aduh siapa sih ganggu tidur ajah," rutuk Ipek, namun tanganya mencoba menggapai ponsel itu dan langsung menekan tanda yang berwarna hijau, sedang kedua matanya masih terpejam dengan sempurna.
[Hemz...] gumam Ipek mungkin ia mengira bahwa ini masih di bawah alam mimpinya.
[Assalamualaikum Ibu Hajah] suara laki-laki dari sebrang telpon, dengan sedikit terkekeh karena mendengar kelakuan Ipek yang masih sama dari tahun ketahun.
[Walaikumsallam, ini siapa?] tanya Ipek dengan suara terbata karena kantuk yang masih menguasi tubuhnya, serta nyawa yang masih tercerai berai.
[Pek, bisa bangun dulu! Gue ada kabar penting!]
Ipek pun langsung mengumpulkan nyawanya, dan menatap nama yang meneleponya. "Tama," gumam Ipek.
[Kok loe, bisa punya nomor telepon gue dari siapa?] Ipek justru bertanya hal yang tidak penting.
[Loe lupa gue temen baik Abang loe, dari siapa lagi kalo bukan dari Abang loe.]
[Oh iya, gue lupa.] kekeh Ipek. [BTW mau ngomong apa?] tanya Ipek yang penasaran kenapa Tama meneleponya di jam istirahat, pasti ada yang penti lah.
[Loh pergi ke kota Banyuharum di Jawa Timur, tolongin Arzen! Dia sekarang ada di rumah sakit Fatimah di Banyuharum, dirawat karena kecelakaan. Barusan polisi hubungi gue, tapi gue lagi kerja dan nggak bisa ditinggal. Dia sudah tidak ada siapa-siapa lagi Ibunya baru meninggal satu minggu yang lalu. Dia cuma punya kita, makanya sekarang loe urus dia dulu, nanti begitu kerjaan gue selesai kalo masih butuh gue, langsung kesana.] Tama langsung menjelaskan tujuan ia menelepon Ipek.
Ipek pun langsung syok. Ia langsung memutuskan sambungan telepon, dan buru-buru menyiapkan keperluanya untuk beberapa hari kedepan di kota Banyuharum.
Setelah berpamitan dengan Abah dan Ambu, Ipek saat itu juga langsung meluncur ke Kota Banyuharum, untuk menjaga Arzen, bagaimanapun Arzen adalah sahabat yang paling berjasa di hati Ipek. Maka dari itu ia akan melakukan apapun agar ia bisa membalas jasanya. Ipek yang diantarkan oleh sopir keluarga pun tidak bisa memejamkan matanya semenit pun. Pikiranya sangat kalut ia takut Arzen akan kenapa-napa.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas jam kini Ipek sampai di rumah sakit di mana tempat Arzen di rawat. Ipek bertanya pada petugas resepsionis kamar dengan nama Arzen korban kecelakaan kemarin. Ipek pun di tunjukan kamar rawat Arzen. Ipek dengan kaki sudah gemetar mencoba tetap kuat dan langkah yang tergesa. Kini Ipek sudah berada di depan kamar yang di tempati oleh Arzen. Kamar dengan kelas nomor tiga. Sangat kontras dengan Arzen yang dulu.
Pandangan mata Ipek langsung tertuju pada laki-laki betubuh sedikit kurus dan kini berbadan sidikit gelap berbeda jauh dengan tiga tahun yang lalu.
"Arzen," lirih Ipek dengan mata berkaca-kaca, ia sangat sedih membayangkan Arzen seorang diri di ruangan itu.
Arzen yang saat itu tengah melamun menatap keluar jendela, langsung menoleh kearah suara yang memanggilnya.
Arzen tampak menyipitkan kedua matanya, mencoba menginggat siapa gerangan wanita cantik berpakaian syari di hadapanya sekarang.
"Ipek," ucap Ipek, ketika melihat Arzen nampaknya kebingungan.
"Ipek?" Arzen masih bingung, pasalnya Ipek sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ipek yang dulu.
Ipek pun mengangguk dengan kuat. Menandakan bahwa memang betul itu adalah dirinya.
Ipek duduk di kursi sebelah Arzen. Tenggorokanya sakit menahan tangis karena kondisi Arzen yang cukup parah lukanya. Terutanya di kakinya yang sepertinya di pasang Gips.
Arzen tentu tau bahwa Ipek tengah menahan tangisnya, melihat kondisinya yang penuh luka.
Arzen mengembangkan senyumnya. "Tidak apa-apa. Maaf kalo aku justru merepotkan kamu," balas Arzen dengan bibir yang dipaksa tersenyum, tetapi Ipek sangat tahu bahwa terdapat kesedihan dibalik senyumnya.
Terlihat dengan jelas dari kedua kelopak matanya yang membengkak. Hanya saja Arzen pandai menyimpan kesedihanya sehingga ia bisa berpura-pura tersenyum.
"Aku senang bisa membantu kamu. Kamu ingat aku pernah kamu bantu juga, bahkan lebih dari ini." Ipek ingin ikut berpura-pura kuat tapi tidak bisa air matanya jatuh. "Maaf, aku cengeng banget," cicit Ipek dengan menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
Arzen membiarkan Ipek menagisinya. Mungkin memang kondisinya yang perlu dikasihani sehingga Ipek pun menangis.
Cukup lama Ipek mengontrol perasaanya, hanya isak tangis Ipek yang dominan terdengar. Semakin Ipek berusaha menahan agar tidak menangis justru ia akan semakin terisak.
Begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di pikiran Ipek, tetapi ia bingung memulainya dari mana.
"Zen, aku banyak banget ngelewati kisah yang terjadi diantara kalian yah? Aku bingung mau mulainya dari mana?" kekeh Ipek yang diikuti kekehan ringan dari Arzen.
"Sama ko Pek, aku pun mengikuti jejak kamu. Tidak kuat dengan banyaknya masalah di hubungan Aku dan Zawa. Jadi aku memutuskan untuk bersembunyi, tapi nasibku justru tidak beruntung. Kamu liat aku betapa terlihat susahnya hidupku." Arzen pun sama bingung mau memulai obrolan dari mana.
Ipek menarik bibirnya membentuk senyum getir.
Dia dan Arzen tidak ada bedanya bahkan badanya sampai susut puluhan kilo karena beban batinya.
"Kamu liat aku Zen, badan badanku hilang, bukan diet atau pun apa, tapi batin aku terluka dan sakit, sehingga berimbas pada badanku. Bahkan aku beberapa kali dilarikan kerumah sakit karena pikiranku yang tidak baik-baik saja. Tiga tahun aku lewati dengan penuh perjuangan, aku sama seperti kamu. Menderita fersi yang berbeda," kekeh Ipek menertawakan kesusahanya.
Akhirnya Arzen dan Ipek pun terkekeh bersama menertawakan nasib masing-masing. Dua anak manusia yang lemah karena cinta.
Malam ini Ipek dan Arzen habiskan untuk bercerita ringan-ringan. Ipek tentu tidak mau langsung membebani Arzen dengan pertanyaan yang berat.
Ketika Arzen tengah istirahat Ipek pergi keruang resepsionis meminta agar Arzen dipindahkan ke ruang VIP. Ipek merasa tidak nyaman ketika dalam satu kamar terdiri dari beberapa pasien. Terasa bising dan tidak nyaman untuk istirahat.
Begitu Arzen terbangun ia kaget karena kamarnya sudah berbeda.
"Pek, ini kamu yang meminta pindah kesini?" tanya Arzen dengan heran.
"Iya, maaf yah tidak meminta persetujuan dari kamu dulu. Abisan kalo izin kamu dulu pasti kamu nolak. Aku kurang nyaman di kamar kamu sebelumnya terlalu rame, tidak khusu bahkan untuk ibadah pun.
Yah Ipek memang sekarang jauh sekali berbeda dengan Ipek yang dulu. Di mana pun ada waktu senggang akan Ipek gunakan untuk membaca kitab suci atau pun buku-buku yang membangun motifasi. Begitupun sejak tadi Arzen istirahat. Ipek melantukan ayat-ayat suci untuk menemani kesunyian di dirinya.
Kontak fisik antara Arzen dan Ipek pun tidak ada sama sekali, setiap ada yang Arzen butuhkan Ipek akan memanggil perawat laki-laki yang ia bayar khusus untuk menjaga Arzen.
Arzen tetarik dengan perubahan Ipek yang sekarang ia pun kini ingin ikut belajar agama seperti Ipek. Di mana selama ini ia merasa sangat jauh dari Tuhanya.