Beauty Clouds

Beauty Clouds
Sifat Clovis yang Berubah



Di atas nakas ponsel Ipek bergetar, menandakan panggilan masuk. Clovis melihat dan mengambil ponsel Ipek.


"Ngapain Arzen telpon Ipek?" gumam Clovis sembari tersenyum miring.


Clovis akan mengangkat panggilan telpon Ipek dan memulai mencari tahu, keterlibatan Ipek dengan pengeroyokan yang dia terima. Apakah Ipek terlibat atau tidak? Dan apabila Ipek sampai terlibat dan berpura-pura menolongnya. Clovis akan membalaskan dendam yang lebih dari semua yang telah ia lakukan dengan Ipek.


[Halloh Pek, loe di mana? Barusan Tama telpon katanya Abi sama Umi loe nyariin. Semalam loe nggak pulang kemana. Loe nggak usah takut lagi ancaman Clovis, si breng'sek itu udah gue habisin. Jadi loe bisa tenang nggak harus ketakutan sama laki-laki bajing'an macam dia.] Arzen langsung sajah mengocek ria menceritakan kejahatanya.


Sementara Clovis mengepalkan tangannya, sampai buku-buku jari ia keratkan dengan kencang dan kuku menancam di telapak tanganya.


"Kurang ajar ternyaya Arzen otak dari pengroyokan gue. Liat sajah Zen, jangan panggil gue Clovis, kalo gue kalah sama loe," gumam Clovis.


"Hahaha.... (tawa Clovis menggelegar) Jadi loe dalang dibalik pengroyokan gue, ternyata Tuhan memang baik sama gue. Gue tidak usah susah payah mencari dalang dibalik semua kejadian yang menimpa gue tapi justru pelakunya sendiri yang mengakui kejahatanya," ucap Clovis dengan tawa mengejek.


[Clovis! Kenapa HP Ipek ada sama loe? Di mana Ipek sekarang?] tanya Arzen dengan kaget, kenapa bisa Clovis yang mengangkat telponya.


"Kalo loe pengin tau kondisi Ipek loe datang sajah ke rumah sakit Sentra Medika jalan x lantai tiga ruangan Anggrek kamar nomor satu VIP." Clovis mejabarkan dengan jelas dirinya dirawat. Seketika itu juga Arzen memutuskan sambungan teleponya dan bergegas menuju alamat rumah sakit yang Clovis bilang, fikiranya juga seketika buruk. Terutama Clovis orang yang nekad dan Ipek adalah musuh yang sangat Clovis benci.


Ipek di dalam kamar mandi sudah bisa mengatur emosinya dan kini ia tengah mengatur nafas dan sikapnya agar tidak terlihat bahwa ia telah menangis. Ia keluar bertepatan dengan Clovis yang memutuskan sambungan telpon dari Arzen.


Ipek menatap dengan curiga kenapa Clovis mengotak atik ponsel Ipek.


"Apa yang Anda lakukan Tuan dengan ponsel saya?" tanya Ipek sesopan mungkin.


"Hanya mengecek sajah, barangkali ada petunjuk yang bisa saya gunakan sebagai bukti," jawab Clovis dengan santai, dan meletakan kembali ponsel Ipek.


Ipek membuang nafas dengan kasar, dan mengambil ponsel mengecek apa yang telah terjadi selama ia berada di kamar mandi.


"Arzen, barusan Arzen menelepon, kira-kira apa yang dia obrolkan dengan Clovis?" batin Ipek.


"Tuan apa barusan Arzen menelepon dan Anda mengangkatnya?" tanya Ipek, dengan sangat berhati-hati agar Clovis tidak salah paham lagi.


"Iya, kenapa?" tanya Clovis dengan santai sementara tubuhnya bersandar dengan pada bantal yang sengaja ditumpuk tinggi.


"Ah, tidak saya hanya bertanya. Apa Arzen ada berkata seauatu?" tanya Ipek lagi.


"Ada!" jawab Clovis singkat. "Kamu mau tahu, Arzen bicara apa?" tanya balik Clovis kali ini dengan nada sedikit melembut.


Ipek mengangguk dengan ragu-ragu.


"Arzen menanyakan loe di mana? Abi sama Umi loe nyariin, dan paling penting dia bilang dan mengakui bahwa dia dalang dari pengroyokan terhadap gue." Clovis memberitahu dengan detail apa yang Arzen katakan disambungan teleponya.


Seketiak Ipek mengangkat pandanganya, (sebelumnya Ipek memang menunduk ketika berbicara dengan Clovis. Ipek terlalu takut untuk sekedar menatap Clovis. Berbeda dengan Ipek, justru Clovis ketika berbicara dengan Ipek selalu menatap wajahnya dengan tajam.)


"Apa yang Anda katakan itu benar Tuan?" tanya Ipek, tentu tidak menyangka bahwa Arzen yang menjadi otak dari pengroyokan Clovis.


"Apa aku terlihat tampang pembohong, dan kira-kira kenapa Arzen melakukan semua itu terhadapku?" tanya Clovis.


Clovis tidak sengaja melihat perban dengan warna putih dipergelangan tangan kiri Ipek. Ia mengingat kejadian siang itu di mana ia menekan kuku-kukunya pada pergelangan tangan itu.


Clovis mengangkat tangan Ipek. Ipek yang kaget dengan perlakuan Clovis langsung menarik tanganya dengan kasar dan menyembunyikanya di balik punggunya.


"Apa itu, luka karena aku, waktu siang kemarin?" tanya Clovis dengan nada sangat lembut, berbeda jauh ketika biasanya ia berkata dengan Ipek.


Ipek tidak berani menjawabnya iya! Dan juga tidak berani berkata tidak! Memang pada kenyataanya luka itu memang karena ulah Clovis.


"Apa itu sangat menyakitkan?" tanya Clovis lagi.


Ipek masih membisu tidak berani memberikan jawaban apa-apa. Padahal Ipek ingin sekali berkata bahwa luka dipergelangan tanganya tidak sepadan dengan luka di hatinya. "Luka di hatiku lebih sakit Clovis." Ipek hanya bisa menjawab di dalam hatinya.


"Maaf kalo aku menyakitimu," ucap Clovis dengan lirih.


Entah mimpi apa semalam, sampai-sampai hari ini dihadapanya Clovis mengucapkan kata maaf. Kata yang sedikit pun tidak pernah Ipek bayangkan.


"Udah lah Tuan, semuanya bukan murni kesalahan Anda. Saya yang memulai ini semua. Sehingga saya mendapatkan semua pembelajaranya," balas Ipek tidak lagi ingin menyalahkan siapa pun.


Mereka kembali terdiam dalam kebisuan, Ipek pun duduk di sova, yang letaknya lumayan jauh dari kasur Clovis berbaring.


Clovis berusaha bangun hendak ke kamar mandi. Ipek yang melihat Clovis berusaha bangun pun mendekat.


"Tuan apa boleh saya membantu Anda?" tanya Ipek dengan sangat lembut.


Clovis yang merasakan masih kesusahan dengan lukanya pun mengangguk, menandakan bahwa ia tidak keberatan dengan bantuan Ipek.


"Sebelumnya maaf Tuan, kalau saya lancang memegang tubuh Anda," izin Ipek sebelum merangkul tubuh Clovis untuk memapah ke kamar mandi. Tubuh Ipek memang tinggi dan besar sehingga bisa mengimbangi Clovis yang bertubuh besar dan sedikit berat. Dengan sangat telaten Ipek membantu Clovis ke kamar mandi dan menunggunya di depan pintu ketika Clovis tengah menunaikan hajatnya.


Seperti seorang perawat yang sangat telaten mengurus pasienya. Ipek pun begitu terhadap Clovis. Selesai dari kamar mandi Ipek kembali memapah Clovis dengan sangat hati-hati merebahkan tubuhnya dan mengangkat kakinya dengan sangat pelan, agar Clovis tidak merasa sakit. Ipek juga tidak lupa mengelap kaki dan tangan yang basah karena terkena air.


"Terima kasih Pek, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot melakukan ini," ujar Clovis merasa Ipek terlalu berlebihan.


"Tidak apa-apa Tuan, saya sudah biasa melakukanya. Karena sebelumnya saya pernah merawat pasien yang bahkan lebih parah dari Anda, sehingga saya harus membersihkan setiap inci tubuhnya," balas Ipek agar Clovis tidak merasa diistimewakan.


"Berati pernah menjadi perawat?" tanya Clovis dengan serius.


"Bukan perawat Tuan, hanya pembantu, tetapi tugas saya waktu itu merawat majikan yang tengah sakit parah," jawab Ipek, berbohong. Agar Clovis tidak terlalu kepo dengan kehidupanya.


"Lalu kenapa kamu berhenti?" tanya Clovis semakin tertarik dengan kehidupan Ipek.


"Ah... itu majikan saya sudah meninggal," jawab Ipek dengan asal....


#Nah loe penasaran juga kan sama kehidupan Ipek...