Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kecemasa Zawa



Di rumah, Arzen tengah bersenandung bahagia. Beberapa menit lagi ia akan berangkat menumui Zawa kekasih hatinya. Perasaanya begitu bergembira sehingga ia lupa akan dendamnya dengan Clovis.


Arzen melajukan kendaraanya menuju rumah Zawa, begitu pun Zawa di rumahnya juga ia tidak memungkiri perasaanya yang berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Arzen. Bahkan rasa kecewa di hatinya sudah menguai dan ia sebenarnya sudah percaya dengan ucapan Arzen dan kawan-kawanya. Namun, karena pengaruh Emly, sehingga Zawa kembali pada pendirian awal mendekati Arzen.


Disaat Zawa tengah melamun dan menenangkan perasaanya yang entah mengapa mencari tidak karuan. Arzen pun datang dengan wajah yang sangat fresh dan semangat.


"Hai ayang, gimana udah siap belum?" tanya Arzen dengan lembut.


"Sudah yank, malahan sudah dari tadi loh aku nungguin kamu," balas Zawa sembari berdiri menghampiri Arzen kekasihnya. "Ayok!" ajak Zawa pada Arzen agar tidak kelamaan membuang-buang waktunya.


Arzen pun tidak pakai lama mengikuti ke mauan kekasihnya. "Kita mau kemana ayang?" tanya Arzen, membiarkan Zawa yang memilih tempat mereka kencan.


"Aku sebenarnya hanya pengin jalan-jalan sajah gimana kalo kita nongkrong di danau yang ada diujung kota sanah, kita duduk-duduk sajah sembari menikmati jajanan kaki lima. Ngobrol-ngobrol gitu, udah lama kan kita nggak melakukanya," usul Zawa sebenarnya ia tidak ingin terlalu jauh keluar, disamping sudah lelah karena seharian sibuk bekerja, Zawa juga hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan permintaan Emly.


"Ok lah yang, kita akan menikmati malah di danau itu, biar kaya ABG," kelakar Arzen dan diikuti Zawa yang ikut tersenyum dengan manis.


Kini Arzen dan Zawa tengah berjalan dipinggir danau dan menikmati malam yang hangat, sebelumnya Arzen sudah membeli beberapa jajanan kaki lima untuk dinikmati bersama. Kini mereka tengah mencari tempat untuk mereka duduk dan menikmati jajanan yang sengaja dibeli untuk menemani suasana yang nyaman sangat cocok apabila dipandukan dengan jajanan seperti cilok, batagor, siomay, mendoan dan minumanya pop ice. Udah paling pas lah....


Kebetulan malam ini suasana sekitar danau tengah rame sehingga untuk mencari tempat yang nyaman aga sulit.


"Di sana sajah yuk yang," tunjuk Arzen ketika melihat sebuah tempat yang nyaman dan tidak terlalu rame juga.


"Boleh, di sana sepertinya sangat nyaman," ucap Zawa yang setuju dengan usul Arzen.


Mereka pun duduk di tempat itu dan bercengkrama dengan hal yang bisa melupakan kepenatanya sejenak.


Zawa memulai rencananya. Iya mencoba-coba mencari ponselnya di dalam tasnya, terlihat kepanikan di wajahnya.


"Ayang, kenapa?" tanya Arzen yang melihat Zawa membolak-balikan tasnya dan seperti mencari sesuatu.


"Ini yang... ponsel aku ko nggak ada!" Zawa berhenti mencari sejenak, mencoba mengingat ingat sesuatu. "Yang, kamu kira-kira tau nggak ponsel aku ada di mana?" tanya Zawa pada Arzen.


"Enggak yang, emang kamu bawa ponsel yah? Perasaan aku liat kamu nggak bawa apa-apa," balas Arzen.


"Bawa yang, biasanya aku taro di tas. Yang aku boleh pinjam ponsel kamu nggak? Mau aku coba hubungin ponsel aku." Zawa melancarkan trik ke dua.


Arzen tanpa curiga meminjamkan ponsel ke Zawa, dan Zawa beberapa kali menghubungi nomernya.


"Yang, ini aktif masuk, tapi nggak ada yang jawab. Apa jangan-jangan ada di mobil?" ucap Zawa agar Arzen pergi mengecek di dalam kendaraanya.


Pertama Zawa mengecek laman chat pribadinya, tidak ada hal yang mencurigakan. Bahkan chat dengan Ipek serta Tama sudah di hapus semua oleh Arzen.


Kedua Zawa mencoba mengecek ke galery dan sesuai harapan Zawa, di sana banyak bukti pernikahan Rio dan Ody. Zawa dengan sigap mengirimkan bukti foto-foto itu ke nomer ponsel Emly. Tentu Zawa juga menyematkan pesan ke Emly agar tidak mengirim pesan balik, karena nomer itu milik Arzen. Sebelum Arzen datang dan curiga, Zawa lebih dulu merapihkan semua perbuatanya. Ia menghapus jejak pengirimanya dan juga meletakan ponsel Arzen di atas alas duduknya.


"Gimana ada nggak yang?" tanya Zawa ketika Arzen sudah balik sehabis mengecek kedalam mobilnya.


Arzen menunjukan ponsel Zawa, "Ini, tertinggal di bawah kolong kursi yang tadi kamu duduk," ucap Arzen sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena jarak dari palkiran ketempat mereka duduk lumayan jauh.


"Astagah, pasti itu jatuh. Aku memang teledor banget yang," runtuk Zawa pada diri sendiri. Padahal itu semua adalah perbuatanya sendiri yang sengaja menjatuhkan ponselnya kekolong mobil dan meninggalkannya.


Kini Zawa sudah lega setidaknya bukti-bukti foto yang tadi ia kirim ke Emly bisa sedikit memberikan petunjut bahwa Rio memang sudah menikah.


"Iya ini paling kamu nggak sengaaja jatuhin ponsel di mobil. Masih untung jatohnya di mobil yang, kalo di jalan pasti sudah ada yang memungutnya, dan bisa sajah ilang ponselnya," ujar Arzen sembari menyodorkan ponsel ke pemiliknya.


"Makasih yah yang, kamu sampe keringetan gitu buat nyari ponsel aku," ucap Zawa mengambil ponselnya dan tersenyum manis.


"Sama-sama, apa sih yang enggak buat ayang," balas Arzen yang mendapatkan cubitan kecil diperutnya yang menimbulkan rasa panas.


"Auw... yang kamu itu kalo nyubit panas banget dikulit," kekeh Arzen sembari mengusap-usap bekas cubitan Zawa.


"Biarin! Abisan kebiasaan gombal banget," sungut Zawa. Ia mengambil beberapa lembar tisu kering dan mengusap wajah Arzen yang banyak mengeluarkan keringet. Menambah kesan maconya. sehingga Zawa tidak bisa berkosentrasi dan memilih menghapusnya.


Namun, justru wajah tampanya yang terpampang jelas di hadapanya dan membuat Zawa makin nggak fokus. "Aduh kamu ganteng banget sih Arzen, kira-kira aku bisa nggak kalo nanti pisah dari kami," batin Zawa sembari memejamkan matanya. Menetralkan detup jantungnya yang semakin tidak menentu.


"Kenapa merem-merem gitu? Ngebayangin yang anu-anu yah," ledek Arzen sembari menoel hidup Zawa.


Dengan cekatan Zawa menarik tanganya yang tadi masih mengelap keringat di wajah Arzen. Terlihat sekali wajah malu-malunya.. "Ah... enggak, hanya berfikir sajah kalo kita nggak digariskan bejodol kira-kira aku mampu nggak melupakan kamu," jawab Zawa dengan tertunduk menyembunyikan wajah malunya.


"Loh ko kamu ngomongnya gitu? Harusnya kamu yakin dong kalo kita bisa terus-terus bersama! Apa kamu ada laki-laki lain yang sekiranya sudah menggantikan aku?" tanya Arzen dengan wajah memerah menaha marahnya.


"Bukan gitu sayang, aku pun terus berharap kalo kamu adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan, Karena aku juga tidak bisa membayangkan kalo hidup tanpa kamu, tapi aku juga harus menyiapakn hati dan mental aku apabila Tuhan berkata lain." Zawa semakin menunduk, ia juga sesak sekali membayangkanya gimana jadinya, andai terjadi apa ia mampu menghadapinya.


"Makanya kamu harus optimis kalo kita bisa terus bersama, kamu harus percaya sama aku, kalo aku hanya ingin menikah dengan kamu, aku ingin kita menjadi keluarga dan hidup bahagia dengan anak-anak kita nantinya." Arzen mendekat dan menggenggam kedua tangan Zawa agar ia juga yakin bisa terus bersama dengan Arzen melewati semua ujian yang akan datang.


Zawa menghambur kepelukan hangat Arzen dan menumpahkan semua sesak didadanya yang semakin menghimpitnya. Sepeti sebuah pertanda bahwa hubunganya dengan Arzen akan melewati ujian yang sangat berat.


#Haduh... apa lagi yang akan terjadi dengan Zawa dan Arzen....