Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kembali Bangkit



Clovis kembali masuk keruangan Emly, ketika melihat Zawa sudah keluar, sedangkn Meyra masih ada dalam gendonganya. "Mamih, kenapa tadi Mamih nangis? Apa Mamih sakit? tanya Meyra dengan suara lirih seolah ia tengah bersedih, karena mmihnya yang menangis


Emly mencoba menarik bibirnya, meskipun di wajahnya masih ada kesedihan yang teramat dalam, dia bahkan masih memikirkan syarat yang diajukan Zawa. Aarav ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Emly dan juga Zawa tetapi dia juga tahu bahwa putrinya pun tengan bersedih dan cemas kalo-kalo sesuatu hal terjadi dengan mamihnya.


"Mey sayang, Mamih tidak sedih Mamih malah sedang bahagia karena Mamih bisa sembuh dan nanti bisa bermain dengan Meyra," jawab Emly dengan memeluk putrinya yang sangat pandai itu bahkan usia Meyra belum genap empat tahun tetapi dia sudah pintar dan bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kelurganya.


Kekuatanya kini bertambah, karena kehadiran Meyra, putrinya yang dulu ia anggap pembawa sial, tetapi kali ini justru kekuatan terhebatnya adalah Meyra.


"Tapi kenapa tadi mamih nangis, apa tante Awa bikin Mamih sedih?" tanya Meyra, rasanya kalau anak itu tidak menemukan jawaban yang memuaskan memang akan bertanya terus menerus. Itulah yang terjadi dengan Meyra putri kandungnya yang sangat penasaran dengan sesuatu yang belum ia pahami.


Emly mengelus rambut Meyra yang di biarkan tergerai dengan indah. anak usia hampir empat tahun itu menuruni rambut Emly di mana rambutnya indah seperti iklan sampo yang lurus dan hitam lebat. "Tidak sayang. Tante Awa itu teman mamih tidak mungkin Tante Awa membuat Mamih sedih bahkan Tante Awa itu sayang banget kok sama Mamih," ucap Emly dengan penuh perhatian dan ia berharap agar putrinya itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, bahwa ia dan Zawa tidak ada masalah apapun. Setelah Meyra yakin dengan jawaban mamihnya. Anak kecil itu pun tidur dengan memeluk Emly.


"Tadi Zawa bicara apa? Apa dia belum memaafkan kamu?" tanya Aarav tidak ingin ikut mencampuri urusan Emly dengan Zawa, karena Aarav tahu bahwa Zawa sebenarnya sudah memaafkan Emly hanya saja Zawa sengaja menantang Emly untuk kesembuhanya. Yah, tadi pas Aarav hendak masuk ke dalam ruangan Emly bertepatan dengan itu Zawa keluar dan pastinya Aarav dan Zawa serta Rio ada obrolan yang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kini Aarav tidak mau salah dugaan seperti yang dulu-dulu dan kembali memecahkan persahabatan mereka, sehingga Aarav berusaha mencari dulu kebenaranya baru ia akan mengerti maksud Zawa.


Zawa mengatakan bahwa ia dari hati terdalamnya sudah memaafkan Emly, tetapi Zawa ingin memberikan tantangan untuk Emly agar sahabatnya itu mau untuk berjuang dan sembuh. Bahkan Zawa juga sedih ketika melihat Emly berada diatas tempat tidur seperti ini, hatinya teriris manakala melihat sahabatnya harus duduk di kursi roda, dia ingin jalan-jalan bareng seperti dulu ke mall atau pun ke tempat-tempat wisata yang membuat harinya makin berwarna.


Aarav pun justru mendukung cara Zawa dan dia juga berharap bahwa Emly akan mau kembali lagi ada semangat untuk terapi, sehingga dia bisa jalan dan mungkin nanti bisa bergantian dengan Ody untuk mengantarkan Meyra berangkat sekolah. Aarav juga ingin melamar Emly ingin menebus kesalahanya dan menjadikan dia istrinya, terlebih saat ini Emly sifatnya sudah jauh berbeda.


"Tidak ada bicara apa-apa dia hanya mengatakan aku harus bisa jalan, meskipun pake tongkat, dan apabila hal itu sudah terjadi Zawa ingin, aku menghampirinya, untuk meminta maaf," lirih Emly masih nampak murung, dia masih takut dan terbayang rasa nyeri yang bahkan langsung membuat pandanganya gelap gulita .


"Aku bukan tidak bersemangat, dan tidak ingin sembuh. Aku hanya masih terbayang rasa sakit yang teramat manakala melakukan terapi," ucap Emly dengan jujur, mungkin saja ketika sudah bercerita gimana sebenarnya rasa yang ia alami ketika menjalankan terapi, mungkin Aarav akan mengerti, bukan dia yang tidak ingin sembuh tetapi memang untuk berjuang sembuh butuh perjuangan yang teramat sulit dan cukup menyiksa.


"Kalo giti nanti aku akan tanya dengan dokter yang menanganimu, mungkin saja dokter bisa membantu, tetapi ingat kamu tidak boleh menyerah yah. Kamu harus semangat bukan Zawa saja yang ingin melihat kamu sembuh dan bisa berjalan. Semua teman-terman kamu juga ingin kamu kembali bisa berjalan, Mamih dan Papih kamu mereka pastikan sangat suka ketika melihat putri tersayangnya bisa berjalan, dan tentu aku juga tidak ketinggalan bahagia dan ingin kamu sembuh. Anakmu juga sudah tidak sabar ingin bermain bersama dan nanti kalo kamu bisa berjalan, kamu juga bisa mengantarkan Meyra sekolah bergantian dengan Ody pasti Meyra senang," ucap Aarav yang membuat Emly sedih tetapi sedetik kemudian dia kembali bersemangat ketka membayangkan mengantar jemput Meyrq.


"Aku janji, aku akan kembali mencoba terapi itu," ujar Emly dengan penuh semangat.


"Ngomong-ngomong, papih dan Mamih aku apa tidak tahu kalau aku sakit?" tanya Emly yang tidak melihat mamih dan Papihnya berada di ruangan ini.


"Bukan tidak tahu, tetapi aku yang melarang mereka datang dan menjaga kamu di rumah sakit. Mereka sudah cape merawat kamu sejak di Singapura. Sehingga aku menyarankan mereka istrirahat, dan sekarang biarkan aku yang jaga kamu," ucap Aarav dengan tenang.


"Tapi bukanya aku malah merepotkan kamu jadinya, kamu pasti sibuk, tapi malah di tambah dengan kamu yang harus menjaga aku, maaf yah gara-gara aku kamu jadi tambah repot," ucap Emly merasa bersalah karena dia merepotkan Aarav, laki-laki yang dulu sangat ia benci.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, aku tulus merawat kamu. Aku juga ingin menebus semua kesalahan aku, aku memang tidak peka sehingga membiarkan kamu melewati kesusahan ini sendirian. Aku merasa laki-laki paling payah yang sudah membiarkan ibu dari anaknya menjalani kehidupan sulit seorang diri," balas Aarav dengan tersenyum dan mengusap tangan Emly dengan lembut.


"Semuanya sudah lewat, dan aku ikhlas menjalani ini semua, sekarang aku ingin hidup untuk memperbaiki kesalahanku dulu," jawab Emly dengan senyum mendamaikan. Sekarang bukan saatnya untuk mengeluh, sekarang adalah waktunya untuk memperbaiki diri dan hidup dengan baik lagi, seperti itu kira-kira fikiran Emly


"Kalau gitu, izinkan aku untuk melamar kamu, dan menjadikan kamu istriku."