
Ody kaget ketika Rio mengatakan bahwa Emly koma. Dalam hati tentu dia kasihan tapi tidak memungkiri Ody masih ingin memberikan hukuman pada Emly. Mungkin andai tidak terlihat terlalu kejam Ody ingin 'Nyawa dibalas dengan nyawa' tetapi rasanya terlalu tega dan kejam ketika harus meminta seperti itu. Tuhan saja ketika hambahnya yang berlumur dosa bertaubat, masih bisa memberi maaf, kenapa ia yang hanya seorang hamba, sama-sama berlumur dosa harus menghakimi sesama makhluk lain dengan kematian.
"Aarav yang bilang, dia ada di rumah sakit ini, sebelum koma Emly ingin bertemu anaknya." Rio tidak melanjutkan ucapanya karena takut Ody kembali syok dan setres, dia baru melahirkan rawan dengan baby blues.
"Anak? Di mana anak Emly?" tanya Ody tetapi ibu dua orang anak itu bisa menebak, bahwa ia akan mendengar jawaban yang kurang enak.
"Mey... Meyra," jawab Rio lirih, tetapi Ody masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Hahaha... Mas tolong jangan bercanda, karena ini bukan lelucon yang lucu," ucap Ody justru menanggapi ucapan Rio dengan tawa renyah. Setelah hampir empat tahun ia membesarkan Meyra dengan penuh kasih, bahkan ia memberikan asinya dengan ikhlas tanpa membedakan anak angkat atau kandung, cinta kasihnya Ody berikan dengan tulus.
Namun hari ini Ody mendengar kabar yang sangat menyakitkan. Anak yang ia jaga adalah anak Emly, wanita yang telah membuatnya kehilangan buah hatinya, Angel.
"Ini serius, Aarav yang bilang, tidak hanya itu Aarav juga sedang melakukan tes DnA buat memastikan kebenaranya," imbuh Rio, sebenarnya ia juga tidak tega terlebih ketika ia juga kembali merasakan takut kalo Meyra akan diambil oleh Aarav dan Emly. Namun lagi-lagi ia tidak tega juga kalo memang Emly sampai meninggal tanpa bertemu Meyra dan Meyra tidak tahu ibu kandungnya, terlihat lebih jahat bukan.
"Mas percaya? Mas mau berikan Mey buat Emly dan Aarav?" tanya Ody matanya berkaca-kaca terlalu sakit kabar yang dibawa oleh suaminya itu.
"Percaya, tapi kalo untuk memberikan tidak. Aarav juga tidak mengatakan bahwa Emly dan dirinya akan mengambil Meyra. Aarav hanya ingin Meyra menemui Emly, mungkin dengan itu, Emly bisa terangsang dan bangun dari komanya." Rio tidak bisa menjamin Ody akan percaya tetapi apa salahnya mencoba.
Ody diam mungkin mempertimbangkan apa yang Rio katakan. "Hanya bertemu?" tanya Ody, tatapanya tajam.
"Aku juga tidak akan mengizinkan apabila sampai mereka mengambil Meyra." Jawaban yang sangat menenangkan bagi Ody.
"Tapi, Ody ingin ikut, hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak bohong," balasnya, Ody sangat yakin ia akan tetap ikut demi mengawasi Meyra dan juga ingin menastikan keadaan Emly.
Rio mengangguk, mungkin setelah melihat kondisi Emly Ody dan dirinya bisa membuka pintu maaf. Seperti itu kira-kira fikiran Rio.
Setelah Meyra selesai mandi Ody dan Rio mengajak putrinya menemu Emly. Boy yang sedang tidur kembali pun di titipkan dengan pengasuh Meyra.
"Kita mau kemana Bun?" tanya si kakak yang udah cantik dan wangi, bahkan anak cantik itu tidak mau di gendong oleh papahnya. Dia ingin berjalan sendiri sehingga memilih berjalan di tengah-tengah antara Ody dan Rio. Gayanya yang lucu dan usil, banyak mendapat perhatian dari orang-orang yang melihatnya.
"Ketemu Daddy," jawab Ody, singkat dadanya sedang berdebar tidak menentu, seolah ia akan bertemu dengan kekasih untuk pertama kalinya.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Rio, ada rasa takut apabila Meyra akan diambil oleh mereka. Di depan ruangan yang sempat Aarav katakan. Rio dan Ody sebelum masuk pun mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu masuk kedalqm ruangan yang berasa sangat dingin ini.
"Yo kamu udah datang," sapa Aarav, ada sepercik harapan bahwa kehadiran Rio, Ody dan Meyra akan memancing Emly untuk sadar.
Ody merasakan iba ketika Emly terbaring dengan banyak alat medis, Rio pun sama lagi-lagi merasa iba dan kasihan melihat Emly ternyata benar-benar sakit, ia awalnya mengira bawa kata-kata Aarav hanya karangan belaka, tetapi sekarang ia tahu dengan mata kepalaya sendiri bagai mana kondisi Emly.
Di ruangan itu hanya ada Aarav dan Emly. Erwin dan Liana tengah pulang, dan mengambil perlengkapan mereka untuk malam ini menginap di rumah sakit.
"Sarafnya ada yang rusak," jawab Aarav, ia juga sama tidak kalah sedih dan putus asa ketika dokter saja mengatakan kesembuhanya sangat kecil dan tergantung dari keinginan Emly untuk hidup. Aarav tidak bisa berkata banyak. Hatinya sudah tidak kuat bercerita apa yang menimpa Emly karena memang rasanya sesak.
"Dokter sudah melakukan check? Apa katanya?" tanya Rio yang lebih tertarik dengan sakit yang Emly alami.
"Sudah semua di tes ulang, di lakukan check up dari awal dan hasil laporan kesehatan dari Singapur juga sedang om Erwin ambil. Buat panduan pengambilan tindakan, dan hasil seluruhnya besok, sekaligus perkiraan pengambilan keputusan tindakan apa yang akan di lakukan," jawab Aarav sesuai dengan yang dokter katakan.
Rio memegang tangan Emly dan keningnya. "Kok badanya dingin yah Rav? Ini suhu ruangan apa memang badan Emly yang dingin?" tanya Rio pada Aarav. Dan Aarav mengecek suhu AC lalu menambah suhunya agar lebih hangat. Lalu ia memeriksa tangan Emly dan juga keningnya, mengikuti cara Rio tadi.
"Kalo kata gue ini udah hangat Yo, tadi pas baru datang kayak mayat dari kulkas, dan bibirnya juga biru," adu Aarav, agar Rio tahu bahwa kondisi awal Emly sangat membuat jantungan, karena takut bahwa Emly sudah meninggal.
"Dad, tante itu siapa?" tanya Meyra mengagetkan semuanya. Saking fokusnya membahas sakitnya Emly sampai lupa bahwa ada Meyra.
Sesak yang Aarav rasakan ketika Meyra tidak mengenali ibu kandungnya dan juga Meyra memanggi Emly, yang notabenya ibu kandungnya dengan sebutan tante. Biarpun semua kesalahan Emly tapi rasanya di hatinya tetap sakit.
Aarav membopong Meyra, sebelum berbicara Aarav lebih dulu mencium anaknya dengan sangat hangat. "Mey, tante ini adalah Mamih Meyra, boleh Dady minta tolong sama Mey," ucap Aarav mencoba menjelaskan. Suara Aarav bahkan bisa terdengar berat dan seolah tengah menahan sesak di dadanya.
"Mamih, siapa mamih?" tanya anak kecil yang ada di gendonganya.
"Mamih, sama kaya bunda, orang yang sayang sama Mey juga." Aarav yang bingung akan menjelaskan apapun hanya bisa memberikan pengertian yang singkat. Ia takut penjelasanya justru melukai Ody.
Oh... Jawabnya Meyra dengan singkat, tetapi matanya tidak lepas dari pandangan Mamihnya.
"Mey, dady minta tolong yah, Mey bisikin agar Mamih semangat buat sembuh," ujar Aarav, mungkin saja setelah mendengar suara Meyra, Emly akan kembali bersemangat untuk memperjuangkan hidupnya.
"Gimana Ded?" tanya anak kecil itu dengan polos.
"Nanti Mey ikuti kata-kata Dady yah," balas Aarav kembali mencium anaknya, karena sudah menjadi anak yang sangat pandai itu.
Meyra hanya mengangguk. Dan Aarav pun berjalan mendekati Emly.
"Mly, bangun Mly di sini ada anak kamu, dia lucu sekali, cantik seperti kamu dan juga dia pintar. Bangun yah, lawan sakit kamu! Meyra pengin bermain sama kamu." Aarav membisikan kata-kata yang mungkin saja bisa memancing Emly untuk bereaksi.
"Hay Mamih, ini Mey, mamih bangun yah! Mey mau main sama mamih, kata Dady Mamih baik, dan sayang sama Mey, sama kaya Bunda yang sayang sama Mey, nanti Mey kenalin sama adik bayi, dia lucu tapi suka nangis," oceh Meyra tanpa ada yang mengajarinya.
Semuanya terisak ketika mendengar suara imut itu memberi semangat pada mamihnya.