Beauty Clouds

Beauty Clouds
Persiapan Pernikahan



Sesuai dugaan Aarav, bahwa semua urusan mempersiapkan pernikahan dia dan Emly, Erwin dan Liana yang atur semuanya, bahkan Aarav dan Emly hanya di perbolekan memilih desain kartu undangan, sisanya orang tua Emly lah yang mempersiapkan semuanya, itu karena keluarga Aarav yang sudah tidak ada. Hubungan Erwin dan Aarav jangan di tanya lagi bisa di bilang sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu lagi Erwin bahkan selalu lebih perhatian dari pada Emly sendiri pada Aarav. Mungkin karena Emly yang belum terlalu mencintai Aarav, sehingga masih butuh penyesuaian, tetapi Emly sedang berusaha mencinta calon suaminya itu seperti laki-laki itu yang mencintai ibu dari anak kandungnya.


"Sayang ini benaran undangan dari Aarav dan Emly?" pekik Zawa ketika mereka hendak sarapan pagi, tetapi di meja makan ada undangan yang desainya sangat indah dan setelah di baca adalah undangan dari sahabatnya itu. Tanpa terasa saking bahagianya Zawa, ia sampai menangis, tersedu-sedu. Yah, Zawa juga menjalani rawat inap di rumah sakit hanya butuh tiga hari setelah semuanya aman Zawa diperbolehkan pulang, sekarang bahkan ia sudah mulai peratik lagi, meskipun kehamilanya sedikit mabok dan tentunya jangan ditanya lagi sangat sensitif berbeda jauh dengan Zawa yang dulu yang akan bijaksana apabila terjadi apa-apa sedangkan yang sekarang Zawa apabila ada hal-hal yang membuatnya panik dia akan lebih dulu menangis, dan anehnya apabila menginginkan sesuatu dan Aarav tidak menemukanya ibu dokter itu akan menangis tersedu-sedu.


Namun yang bikin Arzen kadang kesal, apabila sudah di temukan makanan yang ibu hamil itu inginkan, dia sudah tidak menginginkanya padahal tadi dia yang menangis seperti anak bayi, atau kalau pun di makan, Zawa akan makan dengan posi yang sangat sedikit, sisanya akan di makan oleh Arzen.


Arzen yang memamg belum membaca kartu undangan itu pun ikut melihatnya dan kini mata dia juga ikut melebar sempurna ketika tahu bahwa sahabatnya akan ada yang menikah lagi.


"Sayang ini mah memang Emly dan Aarav yang akan menikah, sahabat kita," ucap Arzen dengan sangat bahagia, sakit bahagianya mereka berpelukan hangat.


"Tetapi, kenapa Emly belum datang keaku, buat minta maaf yah?" tanya Zawa lagi-lagi tersedu dan menangis dengan sedih. Arzen sampe bingung dengan kelakuan istrinya itu, apa orang hamil sebegini cengengnya, pikir Arzen.


Calon ayah itu pun berusaha membujuk Zawa agar tidak menangis karena nanti babynya takut ikut menangi, dan Zawa pun menurut menahan sedihnya.


Sementara Aarav dan Emly yang memang ada di rumah sekaligus kelinik itu dan saat ini tengah bersembunyi untuk memberi kejutan pun tidak tega melihat Emly yang terisak sedih. "Rav, kita keluar ajah yuk dari tempat persembunyian ini kasiihan Zawa nanti dia nagis terus," bisik Emly yang lebih sensitif juga ketika melihat sahabatnya sesedih itu.


Aarav pun akhirnya mengikuti kemauan Emly dan mereka akhirnya ke luar dari tempat persembunyianya.


"Kata siapa aku tidak datang menemui kamu, khusus buat sahabat aku yang cengeng, aku datang sendiri mengantarkan surat undangan sepesial itu," ucap Emly sedikit berkelakar agar Zawa tidak nangis lagi. Zawa pun yang mendengar ada suara Emly berbalik, tetapi wajah cerianya seolah langsung hilang ketika Zawa melihat Emly yang masih duduk di atas korsi roda.


Emly yang tahu kekecewaan Zawa pun langsung meminta aggar Aarav dan Arzen memberi waktu Emly dan Zawa berbicara.


"Arzen, Aarav, boleh aku meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Zawa?" ucap Emly dengan sedikit memaksa.


"Aku minta maaf yah sama kamu, sesuai janji aku, kalau aku bisa jalan aku akan menemui kamu untuk meminta maaf, dan sekarang aku datang untuk menepati janji itu," lirih Emly takutnya ada yang dengar, dia ingin memberikan kejutan pada Aarav nanti di hari pernikahanya di mana sebenarnya dia sudah bisa berjalan. Kalau Aarav saat ini dengar tentu tidak jadi kejutan lagi.


Zawa membuang pandanganya dengan angkuh, sungguh Zawa yang sekarang sangat menyebalkan terutama bagi Emly meskipun Emly tahu bahwa gayangnya itu tengah menirukan keangkuhan dirinya yang dulu. Mungkin Zawa sedang memakai rumus balas dendam.


"Bukanya aku bilang kalo kamu sudah bisa berjalan baru datang kesini lagi, kenapa masih duduk di atas kusi roda kamu sudah datang kesini apa kamu ingin menertawanakan aku?" tanya Emly dengan jutek.


Emly pun tertawa renyah. "Aku sudah sembuh Nona, hanya saja aku ingin memberikan kejutan untuk calon suami aku di hari pernikahan kami yang hanya kurang tiga hari lagi. Sehingga aku harus tetap pura-pura masih belum bisa berjalan," ucap Emly sembari mengerak-erakan kakinya yang bahkan sekarang sudah tidak sakit lagi.


Zawa langsung melotot melihat kaki Emly yang sudah bisa di goyang-goyangkan dan itu tandanya Emly sahabatnya memang sudah sembuh. Zawa tersenyum lebar dan langsung memeluk Emly ketika Emly merentangkan tanganya, sebagai tanda bahwa mereka sudah baikan.


"Ih kok aku sudah peluk-peluk kamu aku masih harus marah sama kamu," ucap Zawa kembali melepaskan pelukanya dan kembali ke mode ngambek.


"Apa lagi ini sahabat aku yang manis banget?" tanya Emly dengan sedikit menggoda Zawa yang tidak pantes kalo dia itu ngambek, di mana dia biasanya ramah dan baik dan tiba-tiba ngambek jadinya Emly malah terkekeh lucu.


"Cuma kamu yang belum bilang selamat atas kehamilan aku, aku pengin kamu ucapin selamat sama aku," ucap Zawa malu-malu. Sontak Emly yang memang sampai saat ini belum tahu kalau Zawa hamil pun kaget.


"Kamu lagi hamil?" tanya Emly yang kaget.


"Ih... tuh kan ngeledek, kamu enggak suka kan kalo aku hamil," ucap Zawa sembari menangis dengan kencang.


Sontak Emly semakin dibuat kebingungan. "Enggak bukan aku ngeledek atau enggak suka, Wa. Aku kaget saja soalnya aku baru tahu kamu hamil. Selamat yah," ucap Emly yang ketakutan karena tangisan Zawa yang membengkakan telinga itu.