
Setelah memutuskan sambungan telepon dengan Arzen. Ipek lalu masuk kembali ke dalam rumah Ody. Ipek masih melihat Zawa yang terisak. Ia tahu bagaimana hancurnya Zawa ketika tahu bagaimana kondisi Arzen.
"Duduk lah Pek! Aku ingin bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Arzen?" Chandra mewakili yang lain meminta Ipek berkata jujur agar mereka bisa bantu atas semua yang Arzen alami.
"Maaf Dok, bukanya aku tidak mau cerita, tapi Arzen penah berkata bahwa dia tidak ingin ada yang tahu atas apa yang menimpa dirinya. Aku hanya takut Arzen kecewa denganku." Ipek bingung antar bercerita atau tetap merahasiakan apa yang terjadi.
"Kami akan menjamin Arzen tidak akan marah atau pun kecewa dengan kamu." Rio pun ikut meyakinkan Ipek agar bercerita.
Sementara Clovis hanya berdiri menyimak. Ia masih mengingat vidio antar Ipek dan Arzen yang dia mengiranya itu asli. Bahkan sampai sekarang Clovis tidak tahu bahwa vidio itu hanya editan semata.
Ipek hanya menunduk mempertimbangkan permintaan Chandra dan Rio. Yang Ipek tahu itu juga menjadi permintaan semua temanya.
"Ra, aku mohon aku sangat kangen sama Arzen, aku akan selalu sayang sama dia meskipun kondisi fisiknya tidak tidak seperti dulu lagi." Zawa dengan tatapan mengiba pun memohon pada Ipek, agar menceritakan apa yang terjadi dengan kekasih yang sudah lama ia cari.
"Arzen ada di pesantren Abah. Dia mengalami kecelakaan di Banyu harum tempatnya tinggal dulu, karena nggak ada yang merawat, akhirnya Arzen memutuskan ikut aku ke pesantren Abah. Di sana Arzen lagi belajar ilmu agama, dan sedang melewati masa penyembuhan." Ipek akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tapi Ipek tidak berani melihat kesekeliling. Ipek menunduk, seolah berat mengucapkan semuanya. Ipek juga tidak menceritakan di mana alamat lrngkapnya Arzen berada.
Ruangan itu seketika hening, mereka sibuk dengan fikiranya masing-masing termasuk Ipek dan juga Zawa.
Ipek takut Arzen marah pada dirinya. Sementara Zawa bingung ingin meminta izin untuk menemui Arzen, tapi apa Ipek akan mengizinkanya lagi.
Sementara Ipek sudah ingin pergi dari rumah Ody, ia ingin kembali ke rumah sakit karena memang hari makin larut, tentu ia juga semakin menjemaskan suaminya.
"Maaf teman-teman, saya pamit pulang lebih dulu yah, soalnya udah malam. Enggak enak dengan suami dan lagi suami Ipek sedang kurang sehat." Ipek memberanikan diri berpamitan dengan semuanya.
Ody dan Rio yang memang sudah tahu dengan kondisi suami Ipek pun mengisinkan Ipek untuk pulang lebih awal. Walaupun sebenarnya masih banyak informasi yang ingin mereka ketahu dari Ipek.
Ipek setelah berpamitan pun akhirnya memilih pulang ke rumah sakit. Yah, dia juga ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Zawa yang bagi Ipek sangat berat.
Sebab Arzen yang mewanti-wanti bahwa keberadaanya tidak mau diketahui oleh orang lain.
*****
Sementara Ipek pulang dengan sopirnya, di rumah Ody masih di adakan pembahasan dengan tingkah Ipek yang beda dan juga pembahasan tentang Arzen. Jalan satu-satunya mengetahui keberadaan Arzen tentu dari Ipek. Sebab diantara mereka tidak tahu di mana alamat pesantren Abah sesuai yang Ipek katakan.
"Perasaan Ipek itu makin aneh banget sih. Emang ada apa sih sama tuh anak, kenapa dia itu selalu menhindar setiap diajak berunding apa gara-gara ada Clovis," sela Aarav sembari menatap Clovis yang sangat pendiam. Bahkan hampir tidak ada sepatah kata pun dari laki-laki mantan casanova tersebut. Clovis jadi sosok yang pendiam dan tidak bersemangat ada di acara ini. Begitu pun dengan Ipek yang tidak nyaman juga ada di acaran seperti ini juga.
Padahal kenyataanya Ipek memang tengah memikirkan kesehatan suaminya. Teman-teman yang lain pun ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan suami Ipek.
Rio pun yang mengetahui rekam medis dan cerita tambahan dari Ipek kemarin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada suami Ipek. Dan kondisinya, Rio ceritakan dengan detail.
Mereka pun merasa bersalah karena malah menambah beban fikiran buat Ipek dengan Arzen, dan Zawa. Pantas saja Ipek merasa tidak nyaman, karena pasti fikiranya sudah tidak baik-baik saja dengan semua ini.
"Gimana kalo kita patungan mengumpulkan dana dan menengok kondisi suami Ipek." Intan yang tidak tahu kondisi suami Ipek pun iba, mereka mengusulkan untuk menggalang dana.
"Kalo kita mah setuju saja, mudah-mudahan dari sumbangan itu bisa membantu, dan juga bisa makin mempererat persahabatan kita." Chandra dan yang lainya pun tidak keberatan dengan usulan itu, dan mulai besok akan menemui Ipek dan suaminya.
Sementara untuk Arzen, Rio dan yang lainya akan mencari tahu di mana letak prsantren yang Ipek maksud, walaupun Ipek tidak mengatakan lokasinya di mana, tetapi Rio dan teman-temanya akan berusaha terus mencari di mana Arzen.
Mereka ingin berkumpul bersama-sama seperti dulu tidak ada perpisahan lagi, dan soal Arzen yang cidera Rio akan mengusahakan kesembuhanya. Terutama Rio memiliki rumah sakit yang bertaraf internasional otomatis ia akan bisa mengupayakan kesembuhan untuk Arzen.
Zawa pun semenjak Ipek bercerita dengan Arzen. Zawa kembali menemukan semangat hidupnya, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menemukan kekasihnya. Dan membayar semua uang yang telah Arzen berikan untuk membantu kebebasanya. Walaupun Arzen bebas karena Rio dan orang tuanya yang mencabut tuntutanya tetapi dengan pengorbanan Arzen, Zawa tahu sebagaimana ketulusan cinta kekasihnya itu. Yang mana Arzen rela menjual semu asetnya demi memberikan jaminan untuk dirinya.
Malam ini pun mereka pada pulang kerumah masing-masing setelah menemukan titik kesepakatan untuk Ipek dan Arzen.
Ipek setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam kini ia sudah ada di kamar suaminya di rawat. Ipek sangat berharap rasa lelahnya akan disambut dengan senyuman dari suaminya, tetapi lagi-lagi Ipek kecewa dengan keadaan suaminya yang ternyata masih tidur.
"Bi, Abang belum bangun dari tadi?" tanya Ipek, dengan wajah sedih.
"Belum Neng," jawab bibi yang tahu Ipek pasti kecewa.
"Baiklah Bi, Bibi pulang saja dengan sopir, kebetulan saya tadi minta supaya jangan pulang dulu, untuk menunggu Bibi." Ipek kasihan dengan Bibi karena sudah menunggu Wahid.
"Baiklah Neng, Bibi pulang dulu yah."
"Iya terima kasih Bi, Bibi hati-hati yah." Ipek kini tinggal berdua dengan Wahid. Hatinya yang tiba-tiba melow dengan melihat kondisi Wahid. Entah rasanya sakit melihat suaminya masih tidak ada kemajuan.
"Bang, Abang sembuh yah Ipek sedih liat Abang begini. Bang, Ipek pengin cerita dengan Abang. Tadi Ipek ketemu sama temen-teman Ipek. Ipek senang dengan acara tadi, tapi ada satu yang membuat Ipek nggak nyaman. Ada laki-laki yang dulu pernah ada di hati Ipek, tapi sekarang kembali lagi. Ipek takut hati Ipek berhianat. Ipek cinta sama Abang." Ipek menceritakan isi hatinya pada suaminya yang masih tertidur pulas.