
Wanita yang bernasib buruk itu mencoba mengerakan kursi rodanya, mendekati meja makan. Ini adalah hari pertama Emly dan keluarganya akan memulai menjalani kehidupan di negara kelahiranya.
"Papih hari ini akan mencoba menemui keluarga Rio. Akan mencoba menyampaikan niatan kamu dan membuat jadwal dengan mereka. Bukankah lebih cepat lebih baik? Papih akan mengusahakan dengan jalan terbaik untuk mengupayakan jalan damai. Setidaknya sedikit pengampunan agar tidak membuka kasus yang sudah lama ditutup, sedikit rasa prihatin dari keluarga Rio sudah cukup bagi papih." Papih secara tidak langsung sudah menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
"Benar sayang, mamih sebenaranya ingin ikut bersama papih. Tapi nanti kamu di rumah tidak ada yang menjaga. Jadi mamih akan tetap di rumah menemani kamu sayang," sambung mamih, membenarkan jawaban dari suaminya.
Emly menundukan wajahnya. "Apa tidak lebih baik kalo Emly juga ikut Pih? Semua ini salah Emly, rencana dari awal sampai musibah itu terjadi adalah kesalahan Emly semua. Emly yang seharusnya mendatangi Rio untuk menyampaikan permintaan maaf itu. Bukan papih yang melakukanya. Papih tidak ada ikut andil dalam musibah ini. Semuanya kesalahan Emly," ucap Emly tersirat nada permohonan dari setiap kata yang Emly ucapkan. Tidak hanya itu, Emly juga merasa bahwa orang tuanya sudah cukup lelah dengan semua akibat dari perbuatan yang Emly lakukan. Sehingga kini sudah waktunya ia yang maju untuk menggantikan orang tuanya.
"Nanti kamu akan datang untuk meminta maaf pada semuanya. Kali ini biarkan papih yang mendatangi mereka. Papih menemui mereka hanya untuk memastikan bahwa Rio dan keluarganya mau menyempatkan diri, meluangkan waktunya yang sibuk, untuk bertemu dengan kamu," jelas Papih agar Emly tidak salah menduga. Mungkin di dalam fikiran Emly dia menebak bahwa papihnya menemui Rio untuk menggantikan dirinya mengakui setiap kejahatan yang anaknya lakukan dan bersedia menggantikan hukuman yang seharusnya Emly yang melakukanya.
Bukan seperti itu tujuan papih datang menemui Rio. Laki-laki berumur setengah abad itu hanya membuat jadwal. Agar pertemuan putrinya dengan keluarga Rio dan Zawa tidak kacau.
"Oh... Kalo gitu sebaiknya mamih ikut papih saja. Biar Emly di rumah sendiri tidak apa-apa ko. Lagian Emly bukan anak kecil yang perlu dicemaskan apabila hanya seorang diri di rumah. Emly sudah besar, bahkan sudah dewasa jadi kalian tidak perlu mencemaskan Emly sebegitunya," ucap Emly, meminta mamihnya ikut menemani papihnya mengunjungi rumah Rio. Bukan tanpa sebab Emly meminta mamihnya ikut mengunjungi ke rumah Rio. Emly hanya takut kalo papihnya tidak bisa menahan rasa emosinya. Di mana papih memiliki sifat sangat mudah terpancing emosinya, sehingga justru di takutkan bahwa kedatan papihnya kerumah Rio justru membuat situas semakin rumit.
Sementar mamih memiliki sifat lebih terlihat tenang dalam mencerna setiap permasalahan yang terjadi. Tidak hanya itu mamih lebih bisa diandalkan menekan emosinya dan tidak segan bersikap mengalah. Sangat bisa diandalkan dalam menghadapi apa yang terjadi diantar masalah-masalah yang terjadi diantara keluarga yang pernah terikat hubungan kerja sama dan calon besan itu.
Mamih tidak langsung menerima usulan dari putrinya itu, tetapi mamih melirik ke arah suaminya, seolah meminta persetujuan dari laki-laki yang duduk disebelahnya. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaanya, di mana sebelum memutuskan sesuatu maka ia akan meminta izin suaminya terlebih dahulu.
Papih yang sudah sangat paham dengan arti tatapan dalam istrinya, mengangguk singkat sebagai jawaban mamih memang lebih baik ikut denganya. Papih pun berfikiran sama dengan Emly. Dia sendiri takut hilang kendali dan emosinya justru terpancing. Karena bisa saja ada ucapan dari keluarga Rio yang bisa memancing hal buruk itu. Mengingat kejahatan Emly sudah di luar kewajaran.
"Baiklah mamih akan ikut dengan papih, tapi ingat kamu di rumah jaga diri jangan berbuat yang aneh-aneh yah sayang," ujar mamih dengan suara lembutnya yang mendamaikan suasana.
Andai Emly memiliki sifat selembut mamihnya tentu mungkin nasibnya tidak seperti ini. Namun pada kenyataanya wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menuruni sifat keras kepala dan selalu ingin menang sediri, sifat yang cenderung dimiliki papihnya menurun ke Emly. Sedangkan untuk wajah dan tubuh Emly lebih dominan turunan dari mamihnya. Wajah cantik rupawan dengan bentuk tubuh yang aduhan, idola para laki-laki.
"Mamih tenang saja, Emly tidak akan berbuat yang makin menyulitkan kalian. Emly kali ini akan bersikap manis sehingga kalian tidak menyesal memiliki seorang putri seperti Emly," jawabnya, dengan nada setengah bercanda, agar mamihnya tidak terlalu mencemaskan dirinya.
Keluarga kecil itu pun menikmati sarapan dengan damai. Meskipun menu makanan mereka kali ini tidak semewah dulu ketika papihnya masih merajai pasar bisnis yang tergolong sukses dan aset tak bergerak maupun bergerak ada di mana-mana. Menu sederhana kali ini tidak membuat mereka berkecil hati. Keluarga yang baru tiba dari negri tetatangga itu cukup bahagia sarapan dengan menu seadanya.
Emly pun yang biasanya akan berperotes apabila menu yang dihidangkan tidak sesuai dengan seleranya. Kali ini ibu satu anak itu nampak menikmati dengan damai apa yang terhidang di meja makan.
****
Di dalam kamar hotel yang masih sangat tercium dengan jelas wangi mawar. Nafas terengah-engah masih nampak jelas terlihat dari pasangan pengantin baru, Clovis dan Ipek.
Setelah mendekatkan diri dengan saling bercerita satu sama lain, kedua sejoli itu pun mengulang kegiatan panas seperti yang semalam mereka lakukan. Ipek pun sedikit-sedikit sudah bisa mengimbangi permainan yang suaminya mainkan. Sehingga percin-taan pagi ini dinominasi 50:50.
Meskipun masih ada guratan rasa malu di wajah Ipek tetapi wanita berkerudung itu berusaha dengan sangat keras untuk bisa memberikan pelayanan terbaiknya.
Ladang yang baru semalam di garap, pagi ini pun kembali di taburi benih, besar harapan agar bibit yang di taburkan ada satu yang membuakan hasil, tetapi kalo beruntung dua bibit pun tidak akan di tolak. Mengingat dari keluarga Ipek juga memiliki garis keturunan kembar bukan.
Clovis menatap istrinya yang meringkuk di balik selimut tebalnya. Mereka masih dalam kondisi seperti bayi baru lahir. "Apa yang Ipek rasa di permainan ke dua kita? Apa masih sakit?" tanya Clovis dengan suara sangat lembut dan mendamaikan hati. Tidak lupa tangan kekarnya yang beberapa menit yang lalu menj*mah dengan lembut setiap inci tubuhnya terutama bagian sensitif istrinya, kini mengelus dengan sangat lembut rambut hitam dan panjang yang sedikit berantakan. Karena sisa perg*latan mereka yang penuh g*irah berc*nta.
Ipek menggelengkan kepalanya dengan lemah karena lemas, energinya hampir habis terkuras, karena usahnya memberikan kado terindahnya untuk kedua orang tuanya, cucu yang lucu adalah kado terindah yang orang tua mereka minta. Sehingga pasangan pengantin baru itu harus usaha extra agar benihnya cepat tubuh.
Clovis pun menghadiahkan sebuah ciuman mesra di kening istrinya. "Terima kasih sudah mau usaha dengan keras membuat permainan pagi ini semakin berwarna," bisik Clovis dibalik daun telinga Ipek, dengan hembusan nafas hangat mampu membuat Ipek kembali menegang.
Apakah ini usaha Clovis untuk meminta permainan ke tiga segera di mulai?
...****************...
Sembari menunggu kelanjutan kisah persahabatan Rio dengan pasangan masing-masingnya. Mampir yuk kekarya besti othor.
Kalian wajib mampir yah, karena ceritanya yang seru pasti bikin kalian ketagihan buat lanjut baca kisah selanjutnya. Pastikan sebelum baca kalian tekan Favorite, like dan komen juga tinggalkan sebagai dukungan untuk othor yah. Othor pasti seneng banget kalo di kasih bunga apalagi kopi, sok mangga tebur bunga yang banyak...
Selamat membaca...