Beauty Clouds

Beauty Clouds
Merampok Isi Kulkas Dokter Intan



"Dor......." begitu Ipek membuka ruangan Intan. Yakin banget Intan ada di dalam Pek...


"Astaga..." sungut Intan yang tengah duduk di meja sembari memeriksa perkerjaanya pun kaget, karena tingkah Ipek.


"Kaget yah...Hahahah...." ledek Ipek sembari masuk kedalam ruangan Intan tanpa nunggu di suruh dulu, di ikuti oleh Ody di belakangnya dengan muka tegang.


Intan mendengus kesal, "Tunggu pembalasanku." bantin Intan dengan tersenyum


sinis.


"Ada apa sih Dok? Aku jadi penasaran nih, kenapa Dokter meminta aku keruangan." cicit Ody, belum juga duduk udah langsung nodong pertanyaan.


"Sabar napa, duduk dulu, minum dulu, tarik napas baru tanya," ocet Intan sembari meletakan minuman di depan Ody. Not with Ipek!


"Dok ada Ipek nih," protes Ipek udah tau pasti Intan sengaja membuat iri dia.


"Nggak ada, loe nggak ada minum, kan loe mah nggak gue undang," ucap Intan dengan santai.


"Ish...." dengus Ipek kesal, lalu ia berdiri nyelonong kekulkas, yang memang tersedia di ruangan Intan. Ipek mengambil minuman serta cake yang tersedia di dalam kulkas tanpa rasa berdosa.


"Lebih banyak dong," cicit Ipek," dengan bangga Ipek pamer dengan Ody dan Intan, sembari menunjukan hasil dari nge'rampok kulkas Intan.


"Abis itu bon nyusul yah," ujar Intan sambil melirik Ipek.


"Ok, tagihan dibayarkan oleh Mba Ody, karena dia yang ajak Ipek kesini," balas Ipek dengan santai sambil memamah biak makanan hasil ngebolang.


Ody hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Udah tau juga pasti bakal di lempar ke dia.


"Yuk,.." ucap Intan sembari menggandeng tangan Ody agar mengikutinya.


"Kemana?" tanya Ody dengan heran, "Kenapa juga malah pergi, tadi di minta keruanganya, sekarang malah di minta pergi." batin Ody heran.


"Mau tau kan, kenapa diminta nemuin gue, makanya ayo ntar juga tau," ujar Intan santai.


"Kenapa nggak di sini ajah?" tanya Ody masih dengan heran.


"Kalo disini nggak ada alatnya, gimana mau di periksa," balas Intan.


"Ini ada apa sih Dok, jangan buat aku bingung napa?" tanya Ody dengan mulai cemas.


"Makanya Mba, ikutin ajah apa kata Dokter Intan, biar cepet ketauan jawabanya," Celetuk Ipek, agar Ody jangan terus bertanya, tetapi segera mengikuti Intan.


Ody pun pasrah mengikuti Intan, dan Ipek mengikutinya di belakang setelah menghabiskan semua makananya.


Ody makin heran ketika mereka mengajaknya masuk keruangan praktek Intan di lantai dasar.


"Ody melirik Dokter Intan, seolah bertanya ini ada apa?"


"Sabar nanti juga tau," jawab Intan seolah tau arti dari tatapan Ody.


"Duduk." Intan meminta Ody duduk dikursi pasien, dan Intan duduk di kusinya berhadapan dengan Ody dan Ipek.


"Kita periksa dulu yah, biar kecurigaanku terjawab, jujur saya juga penasaran, bukan kamu aja Dy yang penasaran kita semua juga penasaran." cicit Intan sembari menyiapkan alat yang akan di gunakan.


Ody hanya mengangguk meskipun masih heran, tetapi benar kata Ipek lebih baik ikuti ajah, nanti juga bakal terjawab semua pertanyaan Ody.


"Sekarang kamu masuk ke kamar mandi. Kencing, dan air kencingnya tampung di sini," ucap Intan menjelaskan dan meyodorkan botol kecil untuk menampung air urin Ody.


"Padahal aku nggak pengin kencing," banti Ody, tetapi ia nurut sajah mengikuti apa yang Intan minta.


Ody masuk kekamar mandi dan mengikuti langkah-langkah yang Intan bilang barusan.


"Nih,.....tapi bau loh, Dok." Ody menyerahkan botol bersisi urinya.


"Namanya juga air kencing ya bau lah Mba, kalo air teh baru manis," celetuk Ipek.


Intan memasukan tes pek kedalam urin yang sudah ditampung. Setelah 5 sampai 10 detik kemudian Intan mengangkat.


Sembari menunggu agar hasilnya lebih jelas kurang lebih 10 menit, Intan mengajak ngobrol dengan topik ala kadarnya.


"Benerkan dugaanku," ujar Intan sembari mengacungkan tes pek dengan dua garis merah ke Ody.


"Artinya," tanya Ody, masih bingung untuk menyimpulkan hasil dari pemeriksaan barusan.


"Ish....Mba Ody ini masa nggak tau, atinya Mba Ody hamil," celetuk Ipek, mewakilkan Intan untuk menjelaskan kesimpulan dari tes pek yang bergaris dua.


"Nah itu Ipek lebih tau," Intan membenarkan perkataan Ipek.


"Senarnya nggak tau juga sih Dok, tapi kan barusan Dokter bilang dugaanku benar. Berati hamil dong," ucap Ipek sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ih,... dasar kirain tau arti garis satu atau garis dua," ucap Intan sembari terkekeh.


"Ya udah nih gue jelaskan yah," Intan duduk didepan Ody ia akan menjelaskan seputar kehamilan. Sementara Ody masih memperhatikan tes pek yang ia pegang.


"Di tes pek ini ada garis dua ber warna merah, itu artinya kamu hamil Dy. Nah kamu udah telat haid dua bulan, itu udah mengacu keciri-ciri kehamilan sebenarnya. Cuma kamu nggak curiga. Kamu mengganggap itu keterlambatan biasa, karena memang kamu sering mengalami haid tidak teratur. Itu memang sering dialami oleh sebagian wanita, di mana datangnya haid tidak pasti, penyebabnya bisa dari gaya hidup, keturunan dan setres juga ikut berpengaruh loh. Namun nampaknya kamu kali ini salah, penyebab kamu tidak haid bukan karena faktor- tadi, tetapi karena kamu hamil." jelas Intan dengan sangat lembut.


Ody seolah tidak percaya bahwa dirinya hamil.


"Tapi biar pasti, kita USG dulu yuk biar lebih meyakinkan," ujar Intan sembari mengajak Ody ke bed pemeriksaan.


Ody lagi-lagi pasrah, ia mengikuti apa yang Intan ucapkan.


Intan mengoleskan gel diperut mulus Ody, selajutnya transduser di tempelkan diatas perut Ody untuk mendapatkan visualisasi calon janin Ody.


"Udah yah kamu hamil, ini ada calon janin kamu," ucap Intan sembari menunjuk pada layar monitor lingkaran kecil disana. Usia utun udah memasuki minggu ke 10.


"Semua kondisinya bagus," ucap Intan setelah memantau perkembangan janin dengan mengecek denyut jantung, aliran darah, kadar oksigen pada janin.


Intan merapihkan alat, setelah pengecekan menunjukan hasil yang bagus. Sedang Ody mencoba bangun dengan di bantu Ipek. Ketiganya menuju meja untuk melanjutkan penjelasan Intan.


Sedangkan Ody sudah sangat bingun, dengan keadaanya. Ia tak menyagka bahwa hasil perbutan Rio membuatnya hamil, sedangka kondisi rumah tangganya tidak seperti rumah tangga lain. "Apakah Rio akan mau menerima anak ini." gumam Ody bingung.


"Dy, kenapa?" tanya Intan yang melihat wajah Ody murung.


"Nggak tau Dok, bingung," jawab Ody sembari, menunduk menahan tangisnya. Ody membayangkan nasib anaknya nanti. Setelah mengingat isi perjanjian yang tercantum di perjanjian nikah antara dirinya dan Rio.


"Nggak mungkin, baik-baik sajah, wajah kamu bilang kamu sedang cemas," ucap Intan tidak percaya dengan jawaba Ody.


"Aku hanya takut Dok, takut Rio nggak mau menerima anak ini," ujar Ody yang akhirnya tangisanya pecah,...


Ipek yang berada disamping Ody langsung memeluk Ody, menenangka perasaan Ody.


"Kalo Dokter Rio tidak mau menerima anak ini, Mba nggak usah sedih, biar kita besarkan bareng-bareng. Ipek akan bantu Mba buat merawat anak ini. Kita kan bestie. Suka duka harus bersama," lirih Ipek tanpa sadar Ikut terharu dengan kondisi Ody...


***Bagian diriku merasa sakit mengingat dirinya yang sangat dekat, tapi tak tersentuh***


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.


Like✅


comen✅


vote✅


beri aku gift✅


dan tekan fav❤✅