Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebebasan Untuk Zawa



"Tuan saya janji akan membuktikan pada Anda, bahwa bukan saya pelakunya. Saya akan membuktikan pada Anda bahwa saya memang layak untuk mendapatkan maaf dari Anda. Saya sunggu-sungguh Tuan. Anda boleh pegang ucapan saya." Zawa sangat berharap bahwa Tuan Hartono dan Rio mau mencabut tuntuanya dan memaafkan Zawa.


"Baiklah, saya akan mencabut tuntutan saya, tapi saya mau kamu janji dan menunjukan pada kami bahwa bukan kamu pelakunya. Ingat saya tidak akan memaafkan untuk kedua kali kalo kamu ketahuan mencelakakan keluarga saya, walaupun membuat lecet pada keluarga saya." Papih memberikan ancaman pada Zawa, sebab Papih bukan tipe orang yang percaya begitu sajah dengan semua ucapan orang yang belum ia kenal betul.


"Terima kasih Tuan. Terima kasih, saya pasti akan berjanji dan mengingat terus pesan dari Anda. Saya tidak akan lupa dengan kebaikan Anda." Zawa sangat bahagia dan mencium tangan Papih berkali kali sebagai ucapan terima kasih. Entah mimpi apa ia semalam sampai akhirnya ia bisa bebas.


Saat itu juga tuntutan pada Zawa, papih cabut dan Zawa saat itu juga bisa langsung bebas.


"Tuan saya ucapkan terima kasih sekali lagi. Saya sudah sempat ingin mengakhir hidup ini, andai saya dijatuhkan hukuman itu. Dunia saya serasa runtuh ketika saya di hadapkan dengan masalah yang sangat besar ini." Zawa bersujud di kaki Papih. Namun buru-buru Papih menahan tubuh Zawa agar tidak melakukan hal itu.


Papih sangat merasa bersalah karena telah salah menilai orang.


"Bangunlah Zawa kamu jangan seperti ini. Maafkan saya kalo memang saya telah salah menilai kamu, karena kesalah saya yang tidak langsung menyelidiki semuanya kamu harus merasakan dinginya penjara untuk beberapa minggu ini." Papih juga membayangkan gimana sulitnya Zawa melewati hari-harinya.


"Tidak apa-apa Tuan, mungkin ini teguran, peringatan dari Tuhan agar saya tidak terlalu percaya dengan orang lain. Meskipun itu adalah sahabat saya sendiri. Zawa sangat menyesal telah percaya pada Emly."


"Iya jadikan ini semua pelajaran buat kamu. Jadilah manusia yang lebih baik dari ini." Papih menepuk-nepuk pundak Zawa yang langsung disambut isak tangis Zawa. Ia jadi ingat pesan Arzen terakhir kali mereka bertemu.


"Di mana sekarang kamu sayang? Aku sudah bebas, aku janji sama kamu akan selalu menjaga cinta kamu dalam hati ini. Semoga Tuhan satukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci," batin Zawa, ia meneteskan air matanya mengingat perjuangan Arzen. Terlebih pengacara Sandy menceritakan bahwa Arzen rela menjual semua cafenya untuk menjamin kebebasan untuk Zawa dan membayar pengacar untuk meringankan tuntutanya.


"Kamu mau pulang kemana Zawa?" tanya Papih, yang melihat Zawa bengong dan menangis dalam kebisuanya.


"Ah... saya tidak tau Tuan, saya masih bingung. Ucap Zawa padahal dia masih memiliki rumah dan klinik, tetapi aset itu adalah pemberian orang tuanya. Ia takut kalo orang tua angkatnya tidak mengizinkan Zawa menempati rumah itu lagi. Maka dari itu Zawa berkata masih bingung hendak pulang kemana.


Papih dan Rio pun saling lirik.


"Gimana untuk sekarang kamu pulang ke rumah anak saya dulu, Rio. Kamu kan kenal sama Ody bisa saling ngobrol dulu. Nanti kami akan carikan tempat atau sekalian kamu cari tempat juga boleh." Papih akhirnya memberikan saran untuk Zawa, ia ingin bertanggung jawab pada Zawa sebab karena laporanya kini Zawa kehilangan semuanya.


Mereka pun memutuskan mengantarkan Zawa pulang kerumah Rio dulu, baru dilanjutkan ke rumah sakit menjalankan tugasnya masing-masing.


"Nah, Zawa nanti kamu tinggal di rumah Ody dulu yah sampai kamu menemukan tempat yang baru, atau kamu sudah kembali pada keluargamu." Papih meminta Rio mengantarkan Zawa, sebab ia akan langsung ke rumah sakit kerjaan sudah menunggu.


Rio mengajak Zawa masuk. Kebetulan Ody berada di lantai bawah tengah menjaga Mayra.


"Loh Mas ko sudah pulang." Ody kaget ketika melihat Rio masuk kerumahnya dan tambah kaget lagi ketika Ody melihat ada Zawa.


"Zawa kamu," Ody langsung memeluk tubuh ringkih Zawa layaknya seorang teman lama yang sudah lama tidak bertemu. "Alhamdulillah kamu sudah bebas." Ody sangat senang akhirnya Papih mencabut tuntutan pada Zawa. Entah padahal Ody dan Zawa baru pertama kali bertemu tetapi sudah sangat yakin bahwa Zawa adalah orang yang baik.


Zawa lagi-lagi terisak, ia menjadi gadis yang sangat cengeng belakangan ini. Namun kali ini Zawa tidak menangis karena sedih, tetapi karena sangat bahagia. Dia sangat bahagia dan terharu karena dia bertemu dengan Ody orang yang baru ia temui, tapi justru mau dengan tulus membantunya. Sedangkan Emly temanya sejak lama malah membuat susah.


Ody sampai lupa dengan Mayra yang tengah di baringkan di bawah karpet. Untung ada Rio yang mengajak bayi cantik itu bermain, selagi bundanya tengah berkangen-kangenan dengan Zawa.


"Terima kasih yah Dy, aku nggak tau harus balas kebaikan kalian dengan apa. Aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan kalian, disaat aku terpuruk. Sehingga aku benar-benar tau mana yang baik buat aku. Bahkan kamu mau membantu aku padahal aku bukan teman kamu, kita sebelumnya tidak kenal. Tapi kamu mau percaya dengan ucapan aku." Zawa berbicara dengan suara terisak.


Rio yang mendengar merasa kasihan. Dia jadi keingat dengan ucapa Intan mengenai Arzen.


"Wa, Intan kemarin bilang kalo Arzen pergi memang kira-kira pergi kemana?" Rio akan mencoba mencari Arzen. Tugasnya kali ini tinggal menyatukan kembali persahabatan yang terpecah belah.


Ody pun meminta Zawa duduk di sofa, dan sekarang mereka sudah duduk. Ody sebelumnya sudah meminta Mbok Karti untuk membuatkan minuman untuk Zawa.


"Iya, pengaca Sandy yang bilang. Dia pengacara yang Arzen bayar untuk membantu kasus aku. Pak Sandy bilang bahwa Arzen menjual semua cafenya agar bisa membayar beliau dan bisa membantu kasus yang membelitku. Namun justru belakangan Arzen pergi entah kemana." Zawa menunduk merasakan rasa sakit, namun dia juga sangat beruntung karena dipertemukan dengan sosok laki-laki yang benar-benar tulus sama dia. Zawa berjanji akan terus menyayangi Arzen dan menjaga cintanya hanya untuk dia. Sampai Zawa bisa bertemu lagi dengan Arzen.


Rio sangat merasa bersalah karena telah membiarkan temannya menjalami kesulitan. Rio akan meminta Aarav untuk memerintahkan orang-orang kepercayaanya untuk mencari keberadaan Arzen. Rio sangat yakin suatu saat nanti pasti teman-temanya akan kembali utuh dan saling membantu. Dia berjanji ini terakhir kalinya persahabatanya mengalami selisih pendapat.