Beauty Clouds

Beauty Clouds
Arzen Menghilang



Setelah pembahasan dengan Papih mengenai Zawa, kini setidaknya akan menemukan harapan baru. Papih dan Ody lebih dulu keluar dari ruangan Rio. Sementara Rio tetap di dalam ruangan, karena Intan yang memintanya. Intan ingin membahas soal menghilangnya Arzen.


Rio masih termenung memikirkan setiap ucapan Intan dan Ody, Rio jadi menyesal pernah memukul Arzen karena ia mengira kekasih Arzen yang membuat ia mengalami ini semua. Andai memang ini adalah akal-akalan Emly, maka Rio akan meminta maaf pada Arzen, karena telah salah paham. Rio tidak ingin membuat persahabatanya hancur karena kesalah pahaman ini.


"Rio ngomong-ngomong loe tau Arzen kemana?" tanya Intan, sebab ia terfikirkan terus ucapan Zawa yang bertanya dengan keberadaan Arzen. Namun semenjak pulang dari kantor polisi, Intan yang mencoba menghubungi Arzen, nomornya tidak aktif dan WA'nya pun hanya centang satu. Intan jadi teringat ingat terus ucapan Zawa. Kini tambah lagi tugas Intan untuk mencari keberadaan Arzen.


Rio justru kaget dengar pertanyaan Intan. "Arzen? Memang anak itu kemana? Kenapa loe bertanya sama gue? Gue saja nggak pernah kontek sama anak itu lagi." tanya balik Rio.


"Kayaknya Emly sudah berhasil deh, bikin persahabatan kalian tercerai berai. Sudah pasti ini juga bagian rencana Emly. Loe sadar nggak sih pertemanan loe dengan yang lainya semakin nggak kompak, masing-masing dan saling menjatuhkan." Intan curiga bahwa semuanya memang sudah terencanakan dengan matang juga oleh Emly, pasalnya semuanya bisa bersamaan. Arzen dan Zawa yang tidak tahu apa-apa menjadi korbanya juga.


"Bener-bener Emly ini udah kena sarap kayaknya," ucap Intan yang masih bisa di dengar oleh Rio.


"Memang Arzen bilang mau pergi gitu sama loe, soalnya terakhir gue ketemu dia di depan kantor polisi. Saat itu gue dan dia habis di mintai keterangan oleh polisi mengenai kasus penabrakan Ody, dan gue nggak sengaja dengar kesaksian dia, bahwa ceweknya dia yang merencanakan ini semua. Gue emosi dan gue memang sempat beberapa kali melayangkan tinju pada wajahnya, tapi jujur gue kira memang benar kekasihnya yang sudah merencanakan ini semua, tanpa curiga bahwa dia juga hanya jadi korban Emly." Rio bercerita tentang kejadian yang pernah ia lakukan pada Arzen.


Intan pun menundukan kepalanya, pikiranya semakin bercabang banyak sekali PR yang harus ia selesaikan. Ia harus mencari Arzen. Intan cukup cemas dengan kondisi teman baiknya.


"Loe sudah cek di rumah dan cafenya? Biasanya Arzen tipe yang lebih suka bekerja untuk melupakan semua masalahnya, dibandingnkan dengan pergi mencari hiburan," usul Rio, yang banyak tau kebiasaan temanya.


"Entah lah, gue belum sempat mengeceknya. Nanti gue akan tanya Aarav dulu, dan meminta dia untuk mengeceknya. Jujur gue tidak fokus dengan ini semua, gue sangat pusing dengan urusan loe kemarin. Masalah ini banyak nyita waktu gue. Hampir semua datang ke gue. Termasuk Arzen juga sempat datang sama gue dan meminta gue membantu Zawa, tapi saat Arzen datang masalah lagi benar-benar pelik. Jadi gue belum terfikirkan untuk mengurus semuanya. Gue takut Arzen kecewa dengan sikap gue, dan dia memutuskan pergi, loe tahu kan, dari sekian banyak teman kita. Yang paling bisa diandalkan dan paling dekat dengan gue hanya Arzen. Yang lainya hanya sekali dua kali akan berkomunikasi dengan gue. Tapi Arzen selalu ada disaat gue banyak masalah." Intan menceritakan kepanikanya.


"Loe tenang sajah, nanti gue akan bantu selesain masalah ini. Gue juga akan coba cari tahu keberadaan Emly. Gue penasaran banget di mana dia berada kenapa dia bisa-bisanya sembunyi tanpa terendus oleh polisi. Apa keluarganya terlibat dengan semua ini." Rio sangat penasaran dengan persembunyian Emly.


"Entah lah, mungkin sajah seperti itu, apa lagi keluarga Emly termasuk keluarga yang banyak koneksi dan bisa menggunakan uang untuk membeli semuanya. Tapi bukanya Zawa bilang kalo Emly diusir? Terus anak Emly nasibnya gimana yah?" Intan justru terfikirkan dengan nasib anak Emly.


"Entah lah gue juga tidak tahu, dia terlalu misterius," ucap Rio dengan mengetuk-ngetuk jari-jarinya diatas meja. Tanpa sadar mereka telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas hal yang menyangkut kejahatan Emly.


Di kamar Ody masih bermain dengan putri kecilnya. Sementara Papih, Mamih dan yang lainya sudah pulang ke rumah masing-masing karena hari yang semakin larut.


Intan pun pada akhirnya memutuskan pulang dan tidak izin dengan Ody karena mengira bahwa Ody telah istirahat padahal kenyataanya ibu satu anak itu masih bercanda dengan putrinya yang belum mengatuk. Mungkin setok tidurnya masih banyak sehingga ia belum mau tidur lagi, padahal Ody sudah sangat berat matanya menahan kantuknya.


Tok... tok... tok... Rio mengetuk kamar Ody.


Ody sedikit kaget, karena ternyata suaminya yang mengetuk pintu kamarnya.


"May belum tidur?" tanya Rio sembari kedua pasang matanya mencuri pandang ke dalam sana, di mana Baby Mayra tengah terbaring di atas kasur dengan tangan yang masih bergerak gerak.


"Belum Mas, mungkin belum mengantuk."


"Kalo gitu, boleh Mas masuk, pengin main sama May." Rio sedikit canggung, tetapi rasa kangenya dengan Mayra mengalahkan semuanya. Padahal baru bebera jam tidak bertemu dengan bayi cantik itu tetapi rasanya sudah satu tahun tidak bertemu rasa kangenya sudah menggunung.


Ody hanya mengangguk pasrah, nggak mungkin juga kan dia melarangnya. Rio juga Papah angkatnya Mayra. Ody menggeser badanya supaya Rio bisa masuk kedalam kamar Ody dan Mayra.


Rio pun masuk, seketika itu juga terjadi hawa yang dingin di dalam kamar.


"Hai... Baby, anak Papah ini udah malam kenapa belum bobo? Apa May belum ngantuk heh...?" Rio mengajak ngobrol May, sementara Ody memilih berdiri di samping ranjang ia canggung apa yang akan ia lakukan.


"Duduk lah Dy, kalo tidak kamu istirahatlah! Biar Mayra sama Mas dulu. Nanti kalo malam anak bayi suka terbangun dan kamu sekarang istirahat lah sebentar. Kalo Mas sudah tidur siang jadi masih kuat untuk menjaga Mayra. Kalo kamu pasti cape seharian banyak kegiatan. Istirahatlah! Mas nggak akan macam-macam ko." Rio tahu mungkin saja Ody masih canggung sehingga ia ngantuk tetapi ragu untuk tidur duluan.


"Ya sudah kalo gitu, Ody tidur dulu. Nitip May yah Mas, nanti kalo May rewel bangunin Ody ajah dulu." Ody pun langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. Kebetulan sekali sebenarnya Ody memang sudah mengantuk, tetapi sejak tadi di tahanya karena May tidak ada yang menjaga. Tidak menunggu waktu lama Ody sudah terbuay di alam mimpinya.


"Sayang liat tuh, Bunda udah ngantuk berat ternyata, sekarang May mainya sama Papah dulu yah, jangan ganggu Bunda dulu. Biar Bunda bobo sebentar saja." Rio memperhatikan Ody dan mengembangkan senyum bahagianya. Kini perlahan keluarganya akan kembali seperti dulu. Setelah keluarga kecilnya kembali harmonis Rio akan kembali menyatukan pertemananya yang tercerai berai.


"Aarav, Arzen, Clovis, Chandra kita akan menjadi teman untuk selamanya jangan buat pertemanan kita hancur begitu saja," gumam Rio dalam hati masih terfikirkan dengan ucapan Intan.


...****************...


Sembari nunggu pertemanan Rio kembali kompak, yuk mampir kekarya bestie Othor namanya othornya Triple.1 Kuy langsung sajah wajib mampir dan jangan lupa tekan fav, like dan komen, bawa juga bunga satu taman yah, biar othornya semangat up'nya.