
Emly langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar ucapa Aarav. Di mana laki-laki itu menanyakan ingin bertemu dengan anaknya. Tentu saja ingin bertemu, bahkan tadi Emly sempai menangis karena ingin bertemu dengan anaknya. Sekarang mendapat penawaran semacam itu tentu sangat bersemangat. Barangkali Aarav benar dan akan mengizinkan mereka bertemu.
Anggukan semangat dari Emly menandakan bahwa ibu satu anak itu memang menginginkan bertemu dengan anaknya.
"Dia cantik sama kaya kamu, di juga pinter, pandai dan tentunya bawel sama kayak kamu," ucap Aarav mungkin dengan itu Emly aka sedikit terobati rasa kangenya. Aarav merogoh saku celananya dan mengambil benda pintarnya, gallery adalah tujuan utamanya, di mana di aplikasi itu banyak menyimpan foto-foto Meyra dengan berbagai gaya, yang jelas darah Emly mengalir di tubuh Meyra sehingga meskipun masih balita tetapi Meyra sudah pandai bergaya.
Ponsel dengan walpaper gambar gadis cantik Aarav sodorkan di hadapan Emly. "Ini mungkin bisa mengobati rasa kangen kamu selama kamu belum bertemu dengan anakmu," ujar Aarav, pada akhirnya ia tidak tega juga pada Emly yang sangat menyesali perbuatanya dan kini ingin bertemu dengan buah hatinya.
Tangan lentik Emly langsung menyambar ponsel Aarav, di pandanginya satu per satu foto anaknya. Terakhir Emly mencium layar ponsel Aarav mungkin Emly mengira apabila ia mencium ponsel itu maka Meyra pun akan merasakan hal yang sama. Air mata sebagai tanda bahwa Emly memang sangat menyesali perbuatanya.
"A... Aku dulu pernah sangat ingin mencoba menggugurkanya. Papih meminta aku berkali-kali melakukan itu, tapi Zawa selalu bilang bahwa dia yang akan merawat anak ku. Saat itu aku sangat senang karena itu tandanya aku tidak akan di repotkan dengan anakku, aku bisa bebas melakukan apapun tanpa harus terbebani dengan kebutuhanya dan kerepotan saat menjaganya. Bahkan aku pernah meminta Zawa apabila merawat anak ku dia jangan sampai keceplosan mengatakan siapa ayah dan ibunya, karena aku anggap anakku sudah mati. Tapi sekarang aku baru tahu bahwa ketika ucapan ku di jawab oleh Tuhan hatiku sangat sakit." Emly sudah menangis sembari mengusap-usap layar ponsel Aaarav.
Aarav pun nampak ikut bersedih karena melihat Emly yang sesedih itu. Apalagi sampai menangis terisak. Hatinya ikut teriris ketika tahu Emly juga merasakan siksaan rindu buat anaknya. Aarav marah dan teriris hatinya ketika Emly mengatakan kebencianya dulu ketika hamil Meyra. Tetapi ada rasa kasihan juga ketika dia rindu dengan buah hatinya tetapi tidak bisa menggapainya.
"Kalo kamu mau aku bisa kirim foto itu ke ponselmu dan kamu bisa mencetaknya dengan ukuran besar agar kamu bisa memeluknya. Mumgkin untuk bisa bertemu dengan Meyra akan sedikit ada kendala, selama kamu belum bertemu dengan dia mungkin kamu bisa menggukan foto itu sebagai obat rindu kamu pada Mey," ucap Aarav, ia juga tidak bisa membawa Meyra seenaknya, terlebih Rio tentu sudah tau sedikit kebenaranya atau menduga kalo Meyra anak Emly tentu juga Meyra pasti anak dirinya. Dan Rio bisa curiga kalo Aarav tiba-tiba mengajak Mey. Ia masih ingat ucapan Chandra, bahwa lebih baik sabar agar semuanya baik dan menjaga persahabatan mereka juga. Jangan sampai ada ketengangan lagi diantara mereka. Meskipun mengajak Mey keluar itu sangat gampang. Karena Mey juga sangat lenket dengan dirinya, tetapi pasti Rio dan Ody akan sangat kecewa dengan caranya.
Emly pun langsung menganggukan kepalanya dan itu sudah sangat membuktikan bahwa dia mau kalo Aarav mengizinkan memberikan foto-foto anaknya.
Aarav meraih ponselnya dan mengirimkan melalui whatshap yang nomornya sudah Emly berikan. Lumayan kan yah Rav jadi dapat nomer hapenya Eneng, siapa tahu mau PD kate kan di kasih akses sama othor tuh, gas....
Setelahnya mereka mengobrol ringan kini Aarav akan menepati janjinya mengembalikan Emly sebelum jam empat. Lagi-lagi Aarav dengan telaten memindakan Emly dari kursi ke kursi roda, mendorongnya dan kini di pindahkan lagi ke kursi mobil.
"Maaf jad ngerepotin," ucap Emly bergitu Aarav masuk kedalam mobil. Biarpun ia sering berolahraga tapi ketika mengangkat badan Emly dia terenggah juga dan dari nafasnyan terlihat kalau Aarav cape.
Aarav membalas dengan senyuman. Kembali tidak terlibat obrolan dengan Aarav dan Emly sampai tibalah mobil Aarav di depan rumah minimalis yang tidak terlihat mewah. Setelah memasikan bahwa rumah ini benar dan itu tandanya memang Emly tinggal di sini.
Erwin dan Liana langsung keluar ketika ada suara mobil berhenti di depan rumah mereka.
Aarav merapihkan kembali korsi roda Emly dan memindahkanya kembal ke korsi roda. Emly terdengar mengaduh sembari memegangi pangkal pahanya.
Erwin yang melihat Emly dan Aarav tidak kunjung mendorong kursi roda Emly pun menghampirinya. Penasaran takut terjadi apa-apa.
"Sakit lagi? Sakit banget?" ucap Aarav di hadapan tumpuan kaki Emly. Cukup lama Emly tidak menjawab karena ia fokus ke sakit dikakinya.
"Aarav... Kamu apakan Emly?" tanya Erwin dengan wajah merah padam, ia mengira bahwa Emly kesakitan karena perlakuan Aarav.
"Tidak tau Om, Emly tiba-tiba meringis, dan sepertinya kakinya sakit," ujar Aarav, tentu ada rasa sakit di sudutkan dengan pertanyaan Erwin itu.
"Itu pasti karena kamu mengangkatnya terlalu kasar, dia belum sembuh total, tapi kamu malah buat dia kesakitan lagi. Nyesel aku kasih kepercayaan sama kamu," bentak Erwin pada Aarav.
Laki-laki yang di panggil Dady oleh Meyra mau membalas perkataan Erwin, karena sejak tadi dia memperlakukan Emly sangat baik. Bahkan kekecewaanya berusaha ia redam agar tidak terlihat marah dan kasar ketika memindahkan Emly. Terlebih setelah kejadian di lestoran yang Emly berkata bahwa kakinya sakit, tentu Aarav menjadi lebih berhati-hati tetapi Erwin menuduhnya dengan tidak sangat mengenakan.
Suara Aarav tercekak di tenggorokan ketika Emly menarik tanganya. Wajahnya penuh keringat dan bibir terlihat sangat pucat.
Aarav langsung berjongkok lagi di hadapan Emly tidak lagi meladeni ucapan Erwin, yang hanya memancing emosinya.
"Mly kamu baik-baik saja, kita kerumah sakit sekarang!" ujar Aarav dengan sigap membuka pintu mobilnya lagi.
"Tunggu!! Mau dibawa kemana Emly?" tanya Erwin dengan perasaan cemas ketika tangan Emly sudah lemas dan tentu dia sebagai orang yang sudah lama mengurus Emly, tahu bahwa kondisi anaknya kembali memburuk.
"Rumah sakit Hartono, Om dan Tante menyusul saja, biar Emly serahkan sama Aarav," jawab Aarav membopong tubuh lemah Emly. Keringat di wajahnya sudah menandakan bahwa dia memang sedang menahan rasa sakit yang sangat luar biasa itu.
Bahkan saking paniknya Aarav, dia sampai meninggalkan korsi roda Emly. Kereta besinya Aarav lajukan dengan cukup kencang. "Apa yang sebenarnya kamu rasakan Emly, apa ini tandanya umur kamu tidak akan lama lagi," batin Aarav, tetapi sedetik kemudian dia menepis pikiran buruk itu. Aarav yakin bahwa Emly akan sembuh, karena dia belum bertemu Meyra.
"Mly kamu yang kuat, bukanya tadi kamu pengin ketemu Mey, anak kamu yang lucu. Pasti kamu nanti bakal senang sama Mey, dia anak yang baik, cantik dan sangat bawel, ocehanya sangat menggemaskan." Aarav sengaja memberi motifasi agar Emly mau bertahan.
Aarav tau dibalik kediaman Emly dia juga mendengar apa yang Aarav katakan, sehingga hatinya pasti menginginkan kesembuhanya.