Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ketakutan Abi



Fleshback on...


Abi masuk kekamarnya dengan wajah yang penasaran dengan apa yang ingin istrinya kabarkan. Sepertinya ini memang kabar yang paling di tunggu-tunggu oleh Abi, sehingga untuk menyampaikanya harus dalam situasi yang tepat. Umi yang sedang merapihkan pakainya yang sudah di setrika pun tersenyum, dan menyambut abi dengan tangan yang dijulurkan untuk memberikan salah kehangatan.


"Mi, nih Abi udah pulang, kira-kira kabar apa yang ingin umi sampaikan?" tanya Abi langsung menodong dengan kejutan yang umi siapkan.


"Ya,ampun Bi, bukanya ganti baju dulu atau duduk, minum dulu kek, ini udah langsung nodong sama kejutan ajah." Umi lebih senang melihat wajah suaminya yang murung itu, karena penasaran dengan apa yang umi katakan, sebelum berangkat sholat subuh tadi.


"Mi, ayo lah Abi sudah enggak kuat banget pengin buru-buru tahu kabar dab kado apa yang ingin umi berikan sama Abi." rengek Abi dengan penuh mohon.


"Umi pun berjalan mendekat ke Abi yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur. "Kalo semisalkan Umi hamil lagi gimana Bi?" tanya Umi dengan wajah di tekuk. Kali ini umi akan buktikan bahwa bukan hanya suaminya saja yang jahil, dia juga bisa lebih jahil dari suaminya itu.


Abi nampak terkejut dan wajahnya memerah. Bayangkan sajah laki-laki yang berusia lebih dari lima puluh tahun begitupun Umi di usianya yang sudah hampir sama dengan dirinya masa hamil lagi. Abi seperti tidak percaya tetapi kalo hamil gimana. Bukan malu atau tidak senang, tetapi hamil di usia yang sudah tidak produktif itu berbahaya. Itu yang jadi masalah dan mengganjal di pikiran Abi.


"Umi tidak bohong kan? Apa umi belum monopouse? Umi bukan Abi tidak suka tapi kalo hamil di usia umi ini sangat berbahaya. Ini bukan kabar bagus ini kabar buruk," ucap Abi, terlalu takut kalo nanti istrinya kenapa-kenapa.


"Jadi Abi tidak mau kalo Umi hamil? Umi cuma tanya loe ini Abi, Umi belum bilang kalo Umi itu hamil, iya kan coba Abi cek bagian mana yang mengatakan bahwa Umi itu hamil." Umi terkekeh ketika mendengar jawaban suaminya yang terlihat sekali ketakutanya. Lagian umi juga tidak mau kalau dirinya hamil lagi, apa kata orang-orang. Seharusnya mereka dapat cucu masa malah dapat anak. Enggak mau kalah saing sama anak dan mantunya. pasti ucapan seperti itu sudah terbayang oleh umi di ingatanya. Kata-kata tetangga dan teman ngajingya lebih pedes dari bibir nitizen.


Abi kaget dan juga bingung, maksud dari ucapan istrinya itu apa sih. Bukanya kalo ngomongin kaya gitu tidak lama memberikan tes pek yang hasilnya garis dua. Seperti itu kira-kira yang ada dalam fikiran Abi. "Jadi Umi enggak hamil kan? Alhamdulillah," ucap Abi bersyukur dan mengusapkan kedua telapak tanganya kewajahnya.


Degg! Baru juga Abi mengucapkan handalah sebagai rasa syukur bahwa yang ia takutan hanya bayangan kotor saja. Umi menjulurkan satu buah benda pipih dengan dua garis merah. Benda yang dulu selalu memberika kabar gembira, tetapi pagi ini benda itu menjadi kabar horor dan sedih. Abi menjulurkn tanganya yang nampak bergetar dan wajah kaku dan juga keringat dingin mulai keluar di wajah Abi.


Reaksi berbalik di tujukan oleh umi di mana umi lebih santai bahkan seolah tengah menahan tawa.


"Umi, Abi harus bersyukur atau sedih?" tanya Abi dengan wajah bingung memegang tes pek milik Ipek di tanganya.


"Tapi ini, ini bahaya buat Umi, Abi nggak mau nanti Umi malah kenapa-kenapa kalo hamil. Abi pengin Umi temanin Abi sampai tua dan dan soal anak, udah empat ajah udah lebih dari cukup Umi," Abi yang memang lebih melow dari umi pun sudah berkaca-kaca membayangkan istrinya kenapa-kenapa ketika nanti hamil dan melahiran.


"Apaan sih Abi, siapa bilang Umi hami. Itu tes pek punya Ipek, bukan punya Umi. Lagian siapa yang mau hamil lagi udah nenek-nenek begini. Umi bahagia karena sebentar lagi punya cucu," ucap Umi denga wajah bahagia.


Abi yang terkejut dan kaget pun tanpa pikir panjang langsung berlari ke kamar Ipek. "Loh, si Abi malah mau kabur ke mana?" batin Umi tetapi wanita paruh baya itu pun ikut kemana suaminya pergi.


Fleshback off....


Abi dan Clovis nampak saling melempar kesalahan, mereka berdua gengsi untuk saling mengakui kalo mereka sudah akur. Clovis sih tidak apa-apa tetapi tentu Abi akan jadi apa-apa ketika tiba-tiba akur dan baik dengan menantunya.


"Sayang, kamu hari ini pengin makan apa biar Abi yang belikan. Biasanya kalau orang hamil, itu mengidam kan ingin makan ini itu, kamu nanti bilang ajah yah sama Abi pasti Abi belikan bahkan kalo harus keluar negri pun Abi akan belikan," ucap Abi mengalihkan kecanggungan antara dirinya dan Clovis yang tanpa sadar saling berpelukan karena kebahagiaanya yang tahu kalo Ipek sedang hamil.


"E... Ipek pengin makan masakan Abang, yang nasi sama orek telor itu Bang yang waktu malam-malam Ipek lapar Abang buatkan. Ipek pengin makan pake kaya gitu lagi," ucap Ipek dengan tatapan memohon ke arah suaminya.


Sementara Abi wajahnya langsung lusuh, terbukti ia kalah saing lagi. Niat hati agar bisa nunjukin kalo Ipek lebih membutuhkan dirinya tetapi malah Clovis lagi yang lebih di butuhkan Ipek.


"Ya udah Abang masak dulu yah," ucap Clovis berniat berganti baju dan akan pergi kedapur guna memasakan menu makanan yang ingin Ipek makan. Ipek pun mengikuti Clovis ke dapur karena di samping ia ingin makan masakan suaminya itu. Ipek juga suka ketika meliat suaminya yang badanya berotot memasak, terlihat lebih berkarisma. Terlebih kalo ada kringat yang mengucur dari dahi suaminya Ipek sangat suka. Kini Ipek merasa seoalah dia sudah benar-benar menjadi ratu.


"Baby, kok kamu ikut kesini. Kamu di kamar saja rebahan nanti malah kamu kenapa-kenapa," ucapĀ  Clovis dengan penuh perhatian. Abi yang memang ada di situ, tengah berjalan bersama Ipek dan Umi sangat terharu ketika Clovis bisa memperlakukan Ipek dengan sangat baik. Tidak terfikirkan sama-sekali bahwa Clovis yang terkenal dulu sangat buruk prilakunya kini menjadi good boy. Bahkan memperlakukan Ipek dengan sangat baik.


"Ipek pengin lihat Abang masak juga. Dedenya yang pengin," ucap Ipek, entah benar itu bayinya yang pengin melihat Clovis memasak atau justru hanya akal-akalan Ipek sajah agar tetap diizinkan buat melihat Clovis memasak.