
Intan setelah mendengar penuturan Aarav pun langsung bersemangat menghubungi Ody. Ia mengeluarkan ponselnya saku jas dokternya, lalu dengan rasa tidak sabar ia menekan nomor Ody.
Satu kali panggilan langsung diangkat oleh Ody.
[Hallo Dok, tumben telepon apa ada hal yang penting?" tanya Ody dari sebrang telepon.
[Ada Dy, ini kabar penting sekaligus gembira buat kamu.] Intan sangat antusias memberikan kabar pada Ody.
[Wah, kabar apa Dok, aku jadi tidak sabar untuk mendengarkanya.] Ody makin penasaran dengan kabar yang akan disampaikan oleh Intan.
[Dy, barusan aku ketemu sama Aarav, dan dia bilang ada bayi yang baru lahir dan dia mengalami alergi susu formula. Sedangkan ibunya meninggal karena melahirkan anak itu. Kamu kan ASInya melimpah, kira-kira mau kan kalo jadi ibu susu untuk bayi itu.] Intan sangat berharap Ody mau.
Ody tidak menjawab, tetapi justru terdengar tangisan dari Ody yang semakin kencang.
[Dy... Ody... kamu baik-baik ajah kan?] Intan pun mulai cemas dengan kondisi Ody.
[Dok, apa ini mimpi? ini bukan sekedar candaan kan Dok? Ini sungguhan?] Ody kembali terisak. Rasanya seperti mimpi mendapatkan kesempatan itu. Di mana ia akan menyusui seorang bayi. Walaupun itu bukan darah dagingnya, tetapi setidaknya bisa memngobati rasa kehilanganya.
[Iya Ody ini sungguhan bukan bohongan. Kalo kamu mau sekarang bisa ke rumah sakit. Aku tunggu kamu di rumah sakit sekarang, gimana mau tidak?]
[Mau!!! Aku mau, mau banget. Ya udah sekarang juga aku siap-siap dan langsung ke rumah sakit.] tanpa menunggu jawaban dari Intan, Ody langsung memutus sambungan teleponya. Ia langsung bergegas mengganti pakeanya, rasanya ia tidak sabar memberikan ASInya pada bayi malang itu.
"Ya Allah, apa ini jawaban dari doa-doaku selama ini? Terima kasih kesempatan yang Engkau berikan ya Allah. Akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya menjadi ibu yang sempurna. Meskipun bukan darah dagingku, aku berjanji akan menyayangi anak itu dengan sepenuh hati ya Allah, layaknya dia memang malaikat kecil yang Engkau titipkan di dalam rahimku." Ody langsung menyambar tasnya, yang berisi ponsel, uang dan identitas diri. Sebelumnya Ody sudah memesan taxi online dan kini taxi itu sudah menunggu di depan rumah Intan.
"Ke rumah sakit Hartono yah Pak!" Ody dengan suara semangat meminta sang supir mengantarkanya ke rumah sakit di mana Intan bekerja.
"Baik Bu."
Di dalam mobil tak henti-hentinya senyum terkembang dari bibir seksi Ody. Impianya akan menjadi kenyataan. Tidak butuh waktu lama Ody sudah di depan rumah sakit, dan dia pun langsung menghubungi Intan. Mengabarkan bahwa dirinya sudah ada di lobby rumah sakit.
Intan pun setelah menerima telpon dari Ody, langsung menjemput Ody ke area depan rumah sakit.
"Dor..." Intan mencoba mengagetkan Ody, tetapi gagal karena Ody sudah melihat kedatangan Intan.
"Nggak kaget dong," ledek Ody, kini jelas terlihat perbedaan dari diri Ody yang makin terlihat ceria bahkan sudah mau untuk bercanda.
"Hemz... aroma-aromanya ada yang lagi happy nih. Udah siap?" Intan memastikan Ody.
"Banget." Ody menjawab dengan singat dan sangat yakin.
"Iya Dok, aku janji akan terus ceria biar anak aku pun ikut bahagia." Mereka pun langsung menuju ruang VIP di mana Mayra dirawat.
Ody dan Intan masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya mengetuk pintu ruangan Mayra.
Ody dan Intan sebelumnya menyapa Mbok Zuha yang tengah menunggu Mayra tengah bobo. Ody begitu melihat Mayra langsung jatuh hati. Kulitnya yang masih merah, nafas yang seolah berat dan juga tubuh yang kecil. Ia menggambarkan bayi itu adalah anaknya.
Sebenarnya ada foto-foto Baby Angel, tetapi masih tersimpan rapih oleh papih, yang tidak mau Ody maupun Rio kembali sedih ketika melihat malaikat kecilnya berjuang hidup dengan banyaknya alat-alat medis di tubuhnya.
"Ibu, apa saya boleh menggendong Mayra?" tanya Ody dengan lirih rasanya terlalu mimpi ada bayi mungil dihadapanya.
"Boleh Neng, mungkin dengan kehadiran Neng, bisa menyembuhkan cucu Ibu." Mbok Zuha sangat berharap bahwa Ody mau mengadopsi anak Emly. Apabila Mayra sudah dipastikan jatuh pada keluarga yang tepan. Mbok Zuha berjanji akan pulang kampung dan tidak akan mengganggu keluarga itu dengan setatus Mayra. Mbok Zuha takut nanti akan membuat sulit Emly. Ia sudah menganggap Emly sebagai anaknya sehingga tidak ingin terbebani dengan nasib Mayra. Biarkan Mayra bahagia dengan keluarga angkatnya.
Ody mencoba menggendong Baby Mayra, dan seketika itu juga mata indahnya terbuka, seolah bertanya siapa yang mengendongnya.
Ody mencium Baby Mayra dengan mesra, dan aroma minyak telon yang sangat wangi membuat fikiranya jadi tenang.
"Dok, apa aku sudah boleh menyusui Mayra?" tanya Ody dengan tatapan memohon.
"Boleh saja sayang, tapi pelan-pelan yah. Soalnya kayaknya Mayra belum pernah minum ASI secara langsung jadi dia pasti akan sulit menyesuaikanya." Intan membantu Ody untuk memuai melatih Mayra untuk minum susu dari sumber yang asli.
Ody nampak meringis manakala Baby Mayra mulai menyedot air susunya dengan kencang.
"Dok, aga nyeri yah," ringis Ody dengan menggigit bibir bawahnya.
"Memang, kalo untuk pertama akan seperti itu rasanya. Nanti juga kalo udah biasa disedot juga tidak akan terasa lagi sakitnya. Sama kaya kamu dulu pertama di perawan'in gimana rasanya? Sakit kan. Setelah sering melakukan penyatuan malah ketagihan." Intan meledek Ody, yang mana wajah Ody langsung memerah seketika. Ia mengingat penyatuanya dengan Rio, yang selalu membuatnya ketagihan mau lagi dan lagi.
Mayra nampak tenang dan nyaman di gendongan Ody. Setelah minum susu dan kenyang, Mayra kembali terlelap di gendongan Ody. Ody pun dengan telaten menimang-nimang Mayra. Rasanya ia tidak mau meletakan Mayra pada ranjang pasien.
"Neng, sebelumnya Ibu minta maaf kalo nanti menyinggung Neng, tapi Ibu dengar dari Nak Aarav, bahwa putri Neng sudah meninggal. Apa Neng Ody mau merawat dan menganggap Mayra, cucu Ibu sama seperti putri Neng Ody?" Mbok Zuha tidak ingin berlama-lama berperan. Ia ingin secepatnya menitipkan Mayra pada Ody. Agar ia juga segera pergi dari kota ini.
Ody seketika itu juga tebengong. Ody mengira ini hanya mimpi. Kenapa tiba-tiba keberuntungan berpihak padanya secara terus menerus. Apakan ini hadiah dari Allah, sebagai tanda bahwa dirinya lulus melewatin ujian yang Allah berikan.
"Dok, ini bukan mimpikan?" Ody bertanya pada Intan dan menyodorkan lenganya, agar Intan mencubitnya. Untuk mengetes dirinya mimpi atau tidak.
"Tidak Ody, ini nyata. Impianmu menjadi kenyataan. Kamu akan punya anak," jawab Intan dengan yakin dan tegas.
"Bu, ini seriuz. Mayra boleh aku rawat?" tanya Ody, kembali memastikan bahwa ini bukan prank.