
Ody membaca surat kontrak yang Rio tulis.Dalam batin Ody merasa sangat aneh dan bertanya-tanya setiap membaca peraturan demi peraturan yang tertulis di surat kontrak tersebut.
Memang ada yah penikahan, nggak boleh saling ikut campur dengan urusan pribadi pasangan, nggak boleh tidur satu ranjang, nggak boleh menuntut pasangan, urusi urusan masing-masing, dan masih banyak poin yang Ody rasa cukup aneh dalam pernikahan. Namun, Ody juga mencoba menerima kemauan Rio. Dalam surat kontrak tersebut juga dituliskan, apabila Ody hamil semua kebutuhan, dan keperluan di tanggung oleh pihak istri, suami hanya memberika perhatian selama hamil, sebatas perduli dengan anaknya. Apabila bercerai, anak akan jatuh hak asuhnya kepada mantan istri.
Setelah bercerai istri tidak mendapatkan harta dari suami, kalo pun istri mendapatka harta itu karna suami yang dengan sukar rela memberikanya.
Ody merasa dari semua poin yang tertulis, tidak ada satu pun yang membuat hatinya berbunga-bunga, justru ia merasa surat kontrak sepertinya sengaja dibikin untuk memberikan hukuman terhadap Ody, hanya mungkin poin terakhir yang membuat Ody bisa menerima, karna apabila Ody hamil, setidaknya anaknya kelak bila terjadi perceraian antara ia dan Rio. Hak asuh anak akan jatuh ke Ody. Sehingga Ody nggak usah harus bersusah payah meminta hak asuh melalui jalur hukum, apabila Rio tidak mengizinkan anaknya bersama Ody, sudah tercantum dengan jelas di surat tersebut bahwa hubungan dengan anak hanya setatus ayah dan anak sebagai keperluan dokumen, selebihnya semua hak asuh dan kebutuhan akan dilimpahkan ke Ody.
"Ada yang kamu mau tanyakan, atau bahkan mau tabahkan lagi?" tanya Rio datar.
"Sebenarnya, saya merasa sangat keberatan dengan isi kontak yang Anda buat, entah apa yang anda fikirkan ketika membuat ini semua, tapi saya juga tidak bisa menuntut apapun, tujuan saya memang hanya untuk setatus anak saya, apabila memang saya hamil. Meskipun saya mengataka keberatan apa Anda akan rubah isi surat ini, sesuai keinginan saya? Engga kan?" tanya Ody dengan suara bergetar.
"Tentu sajah tidak, kamu hanya boleh menambah tidak boleh merubah, dan kalo kamu menambah juga dengan persetujuan saya, apabila saya merasa keberata dengan poin yang akan kamu tambahkan, saya berhak menolak dan poin akan dianggap tidak sah." tutur Rio.
Ody tersenyum sinis, sudah ia tebak bawa pernikahanya memang, Rio buat agar Ody masuk perangkapnya. Kali ini Ody paham kenapa kemarin Rio pasrah menerima usulan dari teman-temanya untuk menikahi Ody, karena Rio sudah menyiapkan rencananya diluar fikiran Ody.
"Lalu untuk apa Anda tanyakan kesediaan saya, kalo pada akhirnya, isi surat ini sudah tidak bisa di rubah, lebih baik Anda langsung saya suruh saya tanda tangan." papar Ody, sembari mengulurkan tangan meminta pena untuk ia gunakan tanda tangan. "Sudah terlanjur terjun, maka lebih baik sakit sekalian," ucap Ody dengan suara mengejek.
*Sesungguhnya pertolongan akan datang Bersama kesabaran.*
Rio yang mendengar kata-kata ody tersenyum puas, "Ini baru pemulaan Ody, liat nanti kedepanya apa kamu bisa menyelesaikan perjanjian nikah ini sesuai waktu yang di tentukan sesuai isi surat kontrak ini, atau justru kamu yang mengibarkan bendera putih, tanda kamu mengakui kekalahanmu. Aku nggak akan bermain kasar, cukup membuat kamu sakit secara perlahan dan menyerah dipermainan yang kamu buat ini." batin Rio dalam hati.
Rio mengulurkan sebuah pena, Ody mengambil dan bertanda tangan, begitupun Rio melakukan hal yang sama.
"Surat kontrak sudah sah, dan akan disimpan oleh pengacaraku, apa bila melanggar poin yang sudah tertulis di surat tersebut maka kamu akan saya hukum, dan hukumanya aku yang tentukan." ucap Rio menjelaskan peraturan apa bila Ody melanggar poin dari surat tersebut. Lagi-lagi Rio menentukan semuanya sendiri.
"Ok, kalo saya melanggar Anda akan menghukum saya, tapi bagaimana kalo Anda yang melanggar, apakan saya diperbolehkan menghukum Anda, dengan cara yang saya tentukan juga?" tanya Ody dengan senyum sinis, harus adil dong.
"Itu tidak akan pernah terjadi, saya pastikan bahwa peraturan itu disetiap poinya, saya tidak akan melanggar." ucap Rio yakin dengan perinsipnya bahwa pernikahan ini hanya dia tunjukan buat menghukum Ody, dan dia tidak akan masuk menggunakan perasaan di permainan yang ia buat ini.
"Ok, baiklah tuan, saya sudah paham betul dengan tujuan Anda menikahi saya, saya berharap Anda mematuhi, serta mengingat dengan jelas setiap poin yang tertulis disurat tersebut." ucap ody yang menekankan disetiap kata yang barusan iya ucapkan.
"Entah kenapa saya justru ragu, Anda yang akan melanggar poin-poin tersebut, semoga Anda bisa pegang kata-kata Anda Tuan Rio, sehingga Anda tidak akan malu dikemudian hari, karna telah menjilat ludah Anda sendiri." ujar Ody.
"Kamu tidak usah kawatir, Nona Ody, aku orang yang konsisten dengan perinsip-perinsip yang sudah aku buat, jadi kamu fokuslah dengan kehidupanya, karna setelah ini akan banyak hal yang kamu harus terima." bisik Rio dengan nada ancaman.
"Sebaiknya Anda juga berhati-hati tuan, sepertinya Anda harus ingat, *Bahwa sebelum Anda mendendang, bukankah Anda perlu mengangkat sebelah kaki Anda ,dan disaat itu Anda akan berdiri dengan satu kaki? Bisa jadi disaat Anda berdiri dengan satu kaki itu Anda justru akan terjatuh sendiri karna keseimbangan Anda yang kurang tepat, atau justru akan lawan gunakan untuk mendorong Anda sehingga Anda akan tersukur, sebelum Anda melakukan tendangan tersebut. jelas Ody dengan tersenyum sinia.
"Ternyata kamu berani juga yah?" ucap Rio yang mendengar perkataan Ody, Rio nggak akan menyangka bahwa Ody ternyata memiliki mental pemberani, yang Rio fikir bahwa Ody akan diam, ketika dia gertak. Namun sepertinya Rio salah menilai sifat Ody.
"Oh, jadi Anda fikir aku akan ciut dengan semua cara Anda. Boleh saya kasih penilaian buat Anda?" tanya Ody sebelum ia meninggalkan ruangan ini
Rio hanya diam,ingin melihat sejauh apa Ody menilainya.
"Cara Anda terlalu kekanak-kanakan!" lirih Ody dengan suara yang dia buat sepelan mungkin.
lalu Ody berdiri untuk meninggalkan ruangan Rio, tanpa harus pamit seperti biasanya, Rio yang mengajaknya untuk berperang, maka Ody hanya mengikuti kemauan Rio, bagi Ody sudah nggak ada gunanya lagi bicara dengan Rio karena hanya akan membuat ia tambah emosi.
Sebelum Ody membuka pintu Ody berkata.
*Jangan sombong menganggap diri sendiri sudah matang. Karena apabila seseorang sudah matang, berati sebentar lagi dia akan membusuk*
Ody berkata tanpa menoleh kebelakang, setelah ia mengucapka quotes tersebut ,Ody pun membuka pintu dan pergi meninggalkan ruangan Rio.
Ody menutup pintu dan bersandar di balik bintu memegang dadanya, sangat sesak sampai rasanya untuk bernafas pun sangat menyakitkan.
Kini Ody hanya berdoa semoga Alloh akan kasih ia selalu kekuatan yang lebih, agar bisa menghadapi sikap Rio. Ody tidak akan mengikuti alur Rio sanga mungkin akan selalu membuat memancing agar Ody emosi dan sedih, justru Ody akan menggunakan kelebutan untuk membuat lawanya lemah.
*Hiduplah seperti semut yang tidak akan pernah berhenti sebelum sampai tujuan.
Bisik Ody dalam hatinya.
***
Sedang Rio dirungan ketika mendengar kata-kata Ody terakhir terhenyak, "Maksudnya apa Ody berkata akan membusuk. Dia mengancam saya." gumam Rio tidak menyangka Ody akan memberi sindiran seperti itu.
Rio pun tetap dengan perinsipnya akan membuat Ody menyerah dan membuat dia yang meminta perceraian sebelum yang tercantum surat kontrak berakhir .
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤