Beauty Clouds

Beauty Clouds
Misi Pertama Dimulai



Di kediaman Zawa..


Emly kini sudah mengetahui kebiasaan Arzen, setelah merundingkan dengan Zawa. Diputuskan nanti sore Zawa akan mulai mencoba mendekati Arzen. Sesuai dengan kebiasaan Arzen akan pulang dari cafe sekitar pukul sembilan malam dan kesempatan itu akan digunakan Zawa untuk berpura-pura, mobilnya mogok.


Zawa duduk di dalam mobil, menunggu info dari orang suruhan Emly, sebenarnya Zawa merasa panas dingin, mengingat dari dulu Zawa adalah gadis yang hampir tidak pernah berdekatan dengan laki-laki. Zawa adalah anak yang sangat pemalu dan pendiam, sehingga ia lebih nyaman menyendiri, kalo sekarang lebih dikenal dengan introvert. Oleh karena itu diumur yang sudah menginjak 25 tahun Zawa belum memiki pasangan. Namun, kini demi membantu sahabatnya ia harus mendekati laki-laki. Entah doa apa sajah yang sudah Zawa baca, untuk menghilangkan kegugupanya.


"Bos, target sudah menuju lokasi." Salah satu orang suruhan Emly memberi kabar ke Zawa, bahwa Arzen sudah menuju lokasi Zawa.


Zawa turun berpura-pura menunggu di pinggir jalan, dan akan melambaikan tangan ketika Arzen lewat.


Tidak menunggu lama ternyata motor yang dikendarai Arzen mendekati Zawa.


"Tolong...... " Zawa meminta tolong sembari melampaikan tanganya agar Arzen berhenti.


Benar sajah Arzen berhenti tepat di depan Zawa, yang hendak menyetop motornya.


"Gila yah! Kalo ada masalah diselesaikan, bukan bunuh diri." bentak Arzen yang kaget karena perbuatan Zawa. Arzen mengira bahwa Zawa akan bunuh diri. "Bikin orang susah ajah," sungut Arzen sembari membuka helemnya. Ia ingin memaki orang yang hampir membuatnya menyium aspal.


"Maaf, Mas saya tengah kena musibah, mobil saya tiba-tiba mogok, mana jalanan sepi, saya nggak tau mau minta bantuan sama siapa. Jadi ketika ada kendaraan lewat saya setop, bukan karena mau bunuh diri, tetapi mau minta bantuan." cicit Zawa panjang lebar, sembari menunjuk mobilnya menjelaskan, maksud dirinya memberhentikan motor Arzen. Tubuh Zawa udah gemetar, takut rencananya gagal.


Arzen terkesima pertama melihat wajah ayu dan sendu Zawa. "Jadi mobilnya mogok? Bukan mau bunuh diri?" tanya Arzen kikuk karena ia sudah salah menilai seseorang.


"Nggak lah Mas, mental saya masih kuat ko. Lagian bunuh diri dosa." jawab Zawa mencoba mencairkan suasana.


Arzen menepikan motornya, ia turun dari motor dan hendak memeriksa mobil Zawa. Diikuti oleh Zawa dibelakangnya. Zawa pengin tau Arzen bisa memperbaiki mobilnya tidak. Pastinya sebelumnya orang bengkel sudah merusak mesin mobil Zawa, agar orang awam kesusahan mencari sebab mesin mobilnya mogok.


Setengah jam Arzen mencoba mengecek semua mesin tentunya dengan ilmu kira-kira ajah, tetapi seolah usahanya sia-sia. Mobil Zawa tak kunjung mau menyala.


Zawa yang melihat kerja keras Arzen, jadi timbul rasa bersalah, "Kasian juga demi misi Emly kini Arzen harus cape, padahal kerusakan mobilnya karena disengaja." gumam Zawa dalam hati.


"Mas, udah kalo nggak bisa biar saya panggil orang bengkel ajah. Kasian Masnya kecapean, mana baru pulang kerja kan?" tanya Zawa untuk mencairkan suasana.


Arzen pun pada akhirnya menyerah, karena kerusakan yang dibuat bengkel suruhan Emly benar-benar susah untuk dibenarkan oleh orang awam seperti Arzen, yang punya ilmu perbengkelan karena insting sajah.


"Ya udah lebih baik begitu deh, aku juga nyerah, susah buat benerinnya, sorry yah." ucap Arzen sembari garuk-garuk kepala, ia pikir kerusakan biasa, kaya masalah aki, atau air regulator yang abis, tetapi dugaanya salah.


"Iya, nggak apa-apa, saya yang seharusnya makasih banyak, karena setidaknya Masnya sudah berusaha," ucap Zawa dengan tulus, dan senyum manis diwajahnya, yang lagi-lagi membuat Arzen terhipnotis dengan senyum Zawa.


Arzen hanya mengangguk dengan senyum yang ramah di wajahnya.


"Mas saya mau kewarung di sana dulu yah, mau beli minum." ujar Zawa sembari menunjuk di sebrang jalan ada sebuah warung kelomtong, inisiatif Zawa yang kasihan melihat Arzen kecapean.


"Iya, hati-hati," jawab Arzen singkat.


Zawa pun pergi kewarung disebrang jalan, dan tidak lama ia kembali dengan sekantong air mineral dan beberapa snack pengganjal perut.


Arzen pun dengan senang hati menerimanya, memang pada kenyataanya ia haus dan juga lapar.


Sebelumnya Zawa memang sudah menelepon orang kepercayaan Emly, orang yang sama yang merusak mobil Zawa, kini tugasnya berganti membenarkan mobil Zawa.


Seolah disengaja kedatanganya diperlambat, agar Zawa dan Arzen memiliki banyak waktu untuk berkenalan.


"Ngomong-ngomong Masnya namanya siapa? Makasih banyak yah sudah mau nolongin aku, mana sekarang nemenin aku buat tunggu orang bengkel." ujar Zawa mencoba mengakrabkan diri.


"Saya Arzen, nggak masalah, lagian kasian juga malam-malam cewek di jalan sendirian dengan mobil mogok, siapa pun pasti akan ikhlas buat menolongnya." Arzen mencoba mencairkan suasanya, dan agar Zawa tidak juga mengerti bahwa niatnya membantu. "Kalo kamu sendiri namanya siapa? terus dari mana mau kemana?" tanya Arzen balik.


"Saya Zawa, saya dari kota B, habis menghadiri penyuluhan buat ibu-ibu hamil, dan sekarang akan pulang kerumah. Namun, justru malang meraih, mobilku mogok di sini." terang Zawa mencoba merangkai kebohongan agar berkesan nyata.


"Oh Zawa nama yang cantik, sama seperti orangnya. Ngomong-ngomong ada Dokter?" tanya Arzen mulai nyambung ngobrol sama Zawa, anaknya seru dan lugu, dari cara berbicara sangat ketahuan bahwa Zawa bukan wanita yang suka berdekat dekatan dengan laki-laki.


"Terimakasih, tapi masih banyak yang lebih cantik dari aku. Tebakan Anda benar, saya seorang Dokter SPOG." jawab Zawa dengan senyum manis terkembang diwajah cantiknya.


Arzen yang melihatnya sangat candu dengan senyum Zawa.


Kini seorang montir sudah datang dan tengah membenarkan mobil Zawa.


"Neng ini mah, kerusakanya lumayan parah, kalo untuk perbaikan sampai bisa jalan lagi lama. Lebih baik Neng pulang ajah dulu, nanti kalo sudah selesai bakal diantar kealamat Neng, Neng tinggal hubungi bos kami, nanti ada orang bengkel yang mengantar mobil Neng." ujar montir yang memperbaiki mobil Zawa seolah memberikan kesempatan agar Zawa makin dekat dengan Arzen.


"Ya udah, saya pulang dulu ajah Bang, kebetulan udah malam juga. Nanti aku bakal hubungi bos Anda dan meminta untuk mengantarkan mobil saya kealamat saya tinggal." Jelas Zawa mengikuti saran sang montir.


"Rumahnya dimana biar aku antar ajah, udah malam loh," Arzen menawarkan diri dengan berharap Zawa mau.


"Apa nggak ngerepotin Anda? Ini udah malam biar saya naik taxi sajah." Zawa mencoba menolak, pastinya itu hanya basa basi sajah pada kenyataanya hatinya menjerit bahagia karena misinya berhasil.


"Nggak dong, malah suatu kehormatan apa bila seorang Dokter cantik mau naik motor bututku." Arzen berusaha merendah, padahal kenyataanya motornya Arzen adalah Ninja ZX-25R ABS SE yang harga terbarunya masih diatas 100 juta. "Lagian kalo naik taxi bahaya juga loh, banyak berita cewek diperkosa, dibunuh sama sopir taxi, ih... ngeri." imbuh Arzen menakut-nakuti Zawa, nampaknya Arzen benar-benar akan masuk keperangkap Emly.


Zawa yang mendengar ucapan Arzen langsung bergidik ngeri, "Tapi apa nggak keberatan apabila nanti Mas anterin aku," tanya Zawa basa basi.


"Masih nanya? Ya enggak lah. Malahan aku seneng bisa berduaan sama kamu," gombal Arzen. Yang berhasil mendapatkan pukulan dari Zawa dipundaknya "Gombal!" cicit Zawa gemas.


"Ih bambang Arzen udah mulai genit, siapa sih yang ngajarin?


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤