
Ody dan Ipek kembali bekerja, melayani para tamu yang ternyata semakin ramai sajah. Ditengah kesibukan Ipek, ia melihat cewek yang tadi bercumbu mesra dengan Clovis memasuki ruangan laki-laki yang Ipek suka. Ipek pun penasaran apa yang sebenarnya mereka lakukan.
"Kira-kira ngapain tuh cewek masuk keruangan bambang clovis, apa mereka bakal melakuakan hubungan suami istri?" bantin Ipek berkecamuk memikirkan kegiatan apa yang akan terjadi didalam sana.
Ipek memegangi dadanya yang sesak, sungguh berat cobaan mencintai laki-laki seperti Clovis, harus memiliki hati seluas samudra.
Selama bekerja Ipek terus sajah dihantui rasa penasaran, kira-kira kedua insan berbeda jenis, tengah berada dalam satu ruangan sedang melakukan apa?
Ipek mencoba mengalihkan pikiran buruknya, dengan fokus bekerja. Meskipun tetap sajah rasa penasaran itu datang kembali.
***
Sementara diluar, Ipek penasaran dengan kegiatan apa yang Clovis dan wanita tadi lakukan, justru Clovis sedang asik memacu birahinya, ia melakukan hubungan suami istri. Dengan sangat lihai wanita bayaran Clovis memacu kegiatan panasnya diatas tubuh Clovis. Clovis memejamkan matanya kenikmati setiap hentakan yang sangat memabukan bagi pasangan me'sum tersebut. Sampai pada puncak kenikmatan. Keduanya terkulai lemas, setelah melewati penyatuan panas diantara keduanya.
Ipek melihat Clovis dan sang wanita sewaanya berjalan keluar dari ruanganya. Mereka berjalan berpelukan dengan mesra, pakaian mereka setengah berantakan, seolah Clovis ingin menunjukan pada Ipek bahwa ia telah melakukan kegiatan terlarangnya.
Ipek bersikap acuh ketika berpapasa dengan mereka.
"Eh kamu," panggil Clovis pada Ipek yang sedang sibuk dengan pekerjaanya.
"Anda memanggil saya," tanya Ipek yang merasa dipanggil Clovis.
"Iya,..emang dikira panggil siapa lagi?" tanya Clovis dengan bersungut sama Ipek.
"Oh,.... lain kali kalo panggil pake nama," ujar Ipek dengan berjalan mendekat kearah Clovis.
"Nama sama orangnya sama-sama jelek "IPEK", ledek Clovis dengan mengolok nama Ipek.
"Biar jelek yang penting memiliki harga diri, ga murahan seperti wanita yang anda sukai tuan." cicit Ipek dengan sinis
"Kamu emang bener-bener yah, pintar sekali menjawab." sungut Clovis.
Ipek hanya tersenyum sinis, malas melanjutkan perdebatanya.
"Kenapa anda panggil saya tuan?" tanya Ipek dibikin nada sesopan mungkin.
"Kamu rapikan ruangan saya, sekarang!! sampai rapih, baru kamu boleh pulang." perintah Clovis seolah sengaja ingin mengerjai Ipek, sedang jam pulang tinggal tiga puluh menit lagi. Perjanjian Ipek dan Ody bekerja hanya sampai jam 12 malam.
"Tapi tuan setengah jam lagi waktu saya pulang, mana bisa dikerjakan dalam waktu tiga puluh menit," protes Ipek.
"Aku nggak mau tau, kamu harus kerjakan sampai rapih, kalo kamu mau pulang," jawab Clovis dengan tertawa puas.
"Dasar egois," ucap ipek dengan samar. Namun masih terdengar oleh Clovis.
"Kalo nggak mau disuruh, nggak usah kerja tuan putri GEMBROOOT..," cicit Clovis dengan menekan kan kata gembrot.
"Ipek mendengar ucapan Clovis, melotot memberikan tatapan membunuhnya."
Namun, Clovis malah tersenyum dengan bangga, telah membuat Ipek marah.
***
Ipek masuk ruangan Clovis, ia akan menyelesaikan pekerjaam dengan cepat, terserah puas atau tidak Clovis nanti. Ipek akam tetap pulang dijam kerja mereka berakhir.
Ipek nggak takut kalo Clovis marah dan memecatnya. Ya iya lah nggak takut, orang Ipek sendiri juga SULTANWATI.
"Gila nih kamar atau apaan berantakan banget," gumam Ipek ketika membuka pintu lain diruangan Clovis yang ternyata itu kamar pribadi Clovis.
"Gila yah tuh orang, habis tempur bukanya dirapihin malam nyuruh orang buat merapihkan bekas zina." Omel Ipek masih dengan memunguti pakaian yang berserakan.
Karna jiji, tangan Ipek dibungkus kantong plastik, awalnya Ipek mencari sarung tangan, tapi tidak ada, justru yang ada kantong plastik. Dari pada tanganya terkontaminasi dengan barang-barang bekas zina mereka, lebih baik dibungkus ajah dengan kantong plasik," pikir Ipek.
Baju dan barang-barang yang berserakan Ipek masukan kekantong plastik besar dan disimpan dipojokan, bodo amat kena marah atau tidak yang penting rapih.
Langkah terakhir Ipek tinggal menyapu, ketika menyapu Ipek menemukan alat Kontrasepsi yang tercecer dilantai. Awalnya Ipek kira benda apa itu, seperti karet, dan kenyal. Ipek mengambil gambar benda tersebut dan menanyakan pada mbah Google ternyata itu alat kontrasepsi K*nd*m.
Ipek langsung melempar benda haram tersebut, dan meninggalkan pekerjaanya. Ipek yakin ini semua kerjaan Clovis, dia ingin mengerjai Ipek.
"Awas ajah gue balas nanti," batin Ipek dengan berjalan meninggalkan ruangan Clovis yang masih berantakan.
Per'setan dengan oceh Clovis kalo mengetahui ruanganya masih berantakan. Kena marah dan kuping panas itu urusan nanti yang penting Ipek akan pulang.
Jam menunjukan hampir pukul 12 malam.
"Mba, pulang yu," ajak Ipek sedikit tergesa, ia menghindari Clovis agar tidak melihatnya.
"Udah jam pulang yah?" tanya Ody dengan meregangkan badanya yang mulai kaku, karna dari tadi bolak-balik berjalan terus melayani tamu-tamu yang datang.
"Iya,....yuk," Ipek menarik tangan Ody.
"Eh....entar dulu izin dulu sama Clovis, takutnya nanti dicariin." sergah Ody.
"Ga perlu, Clovis nggak akan nyariin kita," ucap Ipek, sembari menarik tangan Ody keloker.
Ody merasa aneh dengan sikap Ipek, ia hanya pasrah mengikuti Ipek.
Jam dua belas malam mereka keluar dari tempat kerja, bersiap menuju tempat palkir motor. Sebenarnya Ody dan Ipek takut kalo harus pulang jam segini. Ngeri dengan orang jahat.
"Pek yakin nih kita bakal pulang naik motor," tanya Ody ragu. "Ini udah tengah malam loh pek, jalanan ibukota tidak aman buat cewek kaya kita masih kluyutan di jalan." imbuh Ody merasa tak yakin dengan keputusan Ipek pulang menggunakan sepeda motor.
"Ipek juga sebenarnya nggak yakin mba, tapi mau gimana lagi adanya ini." jawab Ipek sambil menunjuk motornya.
"Bismillah ajah yah pek semoga ajah ga terjadi apa-apa," ucap Ody dengan.
"Amin mba,... yuk naik," ajak Ipek..
Hari semakin larut jalanan pun semakin sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang masih melintas.
tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai dirumah Intan. Suasana rumah pun sudah sepi, Ody dan Ipek masuk kedalam rumah dan membersihkan diri, lalu beristirahat.
Ody sudah terlelap tidur dengan nyenyak, sementara Ipek masih terbayang dengan benda haram yang sempat ia pegang.
Entah berapa wanita yang sudah pernah memadu kasih dengan Clovis. Entah sampai kapan Ipek akan bisa memperjuangakan cintanya. Andai bisa memilih Ipek akan memilih laki-laki sholeh yang menjadi pilihan hatinya. Namun Ipek tidak bisa memilih pada siapa hatinya jatuh cinta.
Meski Ipek tau Clovis laki-laki b*j*d, tapi justru Ipek semakin dalam rasa cintanya.
Ipek yang sebelumnya tidak pernah merasakan suka sama lawan jenis, dan baru kali ini Ipek merasakan perasaan itu. Namun, untuk mencintai Clovis benar-benar cobaanya besar banget.
"Apakah ini cinta yang dikirimkan Tuhan untuk Ipek rasakan, atau justru ini ujian buat Ipek." batin Ipek berkecamuk.
***Berani bertindak belum tentu menjamin keberhasilan. Namun tidak bertindak sudah pasti menjamin kegagalan***
#Terimakasih buat yang udah mampir dinovel perdanaku, Jangan lupa tinggalkan jejak yah...❤❤