Beauty Clouds

Beauty Clouds
Antara Bahagia dan sedih



"Terus apa itu hasilnya Umi? Jangan buat Ipek bingung," lirih Ipek dengan suara yang mengiba. Terlebih melihat wajah umi juga nampaknya sedih sekali, dan itu memungkin kan bawa memang Ipek belum hamil. Padahal Ipek juga sudah siap apabila hasilnya berkata bahwa dia belum hamil tetapi entah lah melihat wajah umi sedih Ipek juga jadi ikut sedih. Mungkin ibunya itu terlalu berharap segera menimang cucu, apalagi pernikahan Maher yang sudah lima tahun tetapi belum di karuniai anak juga sehingga umi berharap Ipek akan segera memberikan kabar gembira.


Namun apabila belum di kasih kepercayaan untuk hamil mungkin memang jatah Ipek untuk menikmati masa pacaran setelah menikah akan lebih lama dan itu tentu membuat ia dan suaminya makin sering berolahraga.


Umi berjalan ke samping tempat tidur dan segera mengambil ponselnya yang diletakan diatas nakas, dan mengetik 'cara membaca tes pek' di laman pencari di google. Lalu Umi menyodorkan ponselnya agar Ipek bisa membacanya dan tentunya. Bukan umi tidak mau menjelaskan hanya sajah umi ingin memberi pelajaran pada Ipek agar mulai saat ini perbanyak baca tentang hql-hal yang kecil saja jangan setiap saat nonton film, sehingga informasi penting pun dia tidak tahu.


Ipek dengan lesu mengambil ponsel dari tangan ibu kandungnya itu dan membaca, bahkan Ipek tidak sekali membaca tetapi tiga kali membaca, hal itu ia lakukan karena Ipek ragu dengan apa yang ia baca dan hasil yang ada di tangannya.


"Umi... apa ini artinya Ipek hamil?" tanya Ipek air matanya  bahkan sudah banjir membasahi pipinya. Ada kesedihan dan ada kebahagiaan juga. Sedihnya ia masih ingin berpacaran dengan suaminya itu dan juga dia masih terlalu muda belum usia pernikahan yang masih terhitung minggu, bahkan belum genap satu bulan tetapi sudah hamil. Calon ibu muda itu pun takut kalo ada yang menggosipkan dirinya hamil di luar nikah, alias hamil duluan.


"Iya cantik kamu hamil, selamat yah." Umi memeluk Ipek yang masih menangis. Sebelum mengetahui dia hamil Ipek sangat antusias dan berharap bahwa ia hamil, tetapi setelah tahu hamil ia seperti merasa cemburu, bahwa nanti Clovis, akan mengacuhkanya karena nomor satunya pasti anak.


"Huhuhu... Umi, apa kalo Ipek hamil umi  dan abi masih sayang sama Ipek?" tanya Ipek dengan suara tangisan yang pecah dan ia tergugu.


"Tentu sayang, umi sampai kapan pun akan terus sayang kamu. Umi dan Abi tidak akan berhenti menyayangi kamu sampai kapan pun sayang. Kenapa kamu ngomong begitu sih?" tanya Umi, dengan sangat pelan dan mungkin ini bawaan bayi sensitif.


"Kalau Abang Clovis masih sayang Ipek enggak?" tanya Ipek lagi.


"Tentu dong sayang, Abang pasti akan sayang sama kamu. Kenapa kamu bicara gitu sih?" tanya Umi heran kenapa tiba-tiba anaknya melow, bukanya senang dengan kehamilanya.


"Ipek takut umi kalo nanti Abang tidak sayang lagi karena Ipek sudah hamil,"' Ipek kembali menangis.


"Hahaha... denger Umi sayang, Clovis justru makin sayang sama kamu. Kamu percaya deh sama umi, suami kamu itu pasti akan makin memanjakan kamu dan makin sayang sama kamu. Umi dulu hamil pertama juga gitu, Abi kamu itu sangat sayang dengan Umi sampe-sampe umi merasa wanita paling beruntung karena Abi kamu yang sangat baik itu. Dan nanti juga Clovis pasti gitu," ujar Umi selalu meyakinkan Ipek bahwa apa yang dia rasakan hanya ketakutanya saja.


Ipek ketika mendengar sapaan dari uminya dan elusan di perutnya, hatinya langsung berdesir, sungguh bahagia yang ia rasakan, sungguh berbeda dengan barusan yang ia rasakan. Ipek mengikuti apa yang uminya lakukan tadi. Mengusap perutnya dan menyapa calon buahatinya.


"Hay sayang. kenalin ini Bunda. Maaf yah tadi Bunda sempat sedih karena kehadiran kamu. Sekarang Bunda senang kok ada temannya kalo Ayah berangkat kerja. Mulai sekarang Bunda tidak sedih lagi. Bunda janji Bunda akan selalu buat kamu senang, Bunda akan jaga kamu terus yah sayang." Ipek mengajak ngomong calon buah hatinya, dan umi pun mulai lega karena mood putrinya sudah kembali happy. Yah Umi tahu memang orang hamil itu moodnya berubah-ubah.


*****


Clovis yang terbangun karena ada suara orang mandi pun langsung membuka matanya dan mengembangkan senyumnya yang menyeringai. "Tumben Ipek sudah bangun?" batin Clovis yang ia mengira yang sedang mandi di kamar mandi adalah Ipek, terlebih di sampingnya Ipek sudah tidak ada, tentu dia tidak ada kefikiran bahwa yang sedang mandi adalah Abi.


Clovis melihat jam di dindingnya di mana baru menunjukan jam empat masih kurang. "Yes masih ada waktu buat setor calon baby," gumam Clovis sembari melu-cuti pakaianya satu persatu. Namun kali ini ia tidak seperti biasanya yang langsung melepaskan benda berbentuk segitiga sebagai kain penutup terakhir yang tersisa. Kali ini kain bentuk segitiga itu ia biarkan menempel menutupi benda keramatnya yang di dalam sana sudah meronta-ronta setelah otak kotor Clovis membayangkan penyatuan yang panas dengan istrinya di kamar mandi.


Braaakkk... suara pintu tertutup dengan rapat. Abi yang sedang asik mandi pun terlonjak.


"Siapa itu?" pekik Abi. Clovis yang sudah siap-siap hendak menerkan Ipek pun terkejut dan membatalkan niatan ketika mendengar suara Abi. " Abi? Kenapa Abi ada di sini?" tanya Clovis hanya mengenakan kain bentuk segitiga sajah dengan bagian depan sudah menonjol sempurna sementara Abi justru berdiri membelakangi Clovis tanpa kain sehelai.pun.


"Loh. Kenapa kamu masuk kamar mandi Maher? Kamar mandi kamu kenapa? Terus ngapain kamu telanjang guitu? Berbalik sanag?" titah Abi sembari menggunakan tanganya untuk menutupi bagian belakang dan satu tangan lagi menutupi bagian depanya. Sungguh situasi yang bikin jijik.


"Ini kamar mandi aku Bi, kamar mandi Ipek bukan Maher," ucap Clovis sembari menjulurkan handuk buat Abi dan ia sudah memakai handuk juga untuk menuti benda keramat yang sudah tegang itu.


Abi mendengar ucapan Clovis pun langsung mengamati seluruh ruangan kamar mandi yang ternyata berwarna pink. Dan anehnya Abi tidak sadar sama sekali. "Ini kenapa Abi mandi di kamar mandi Ipek?" tanya Abi pada Clovis.


Mantunya itu pun menggidikan bahunya. "Enggak tahu. Clovis ajah baru bangun," jawab Clovis lebih bingung lagi. Apa mungkin mertuanya itu sedang mengiggo. Lalu Ipek kemana? Apa semalam dia juga tidur dengan Abi? Seperti itu kira-kira isi kepala Clovis. Sehingga ia dan Abi saling berdiri dengan fikiranya masing-masing.