Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ikatan Batin Dengan Buah Hati



Langkah kaki seribu sudah mewakili bagai mana cemasnya Rio, ketika melihat kondisi istrinya. Kaki lemas dan lelas hilang sudah, tanpa bertanya apa yang terjadi dengan istrinya Rio langsung membopong tubuh lemah istrinya itu. Padahal Perkiraan lahir Ody masih sekitar satu minggu lagi tetapi dia sudah merasakan kontraksi hebat sehingga mengakibatkan pendarahan. Itu adalah tanda-tanda akan melahirkan buat hatinya.


"Mas sakit," rintihan dengan suara tercekat menambah kemarahan Rio, "Kalo sampai terjadi apa-apa dengan anak dan istriku. Aku akan mem-bunuh keluargamu semua," ancama dari mulut Rio dengan mata merah gambaran ancaman itu bukan ia gunakan untuk menakut-nakuti Erwin dan keluarganya. Rio benar-benar akan melakukan ucapanya itu semua andai nasib buruk kembali menyelimuti keluarga kecilnya. Setelah empat tahun lalu Emly yang menyebabkanya dan di hari ini Erwin, sang papih penyebabnya. "Keluaga pem-bunuh," geram Rio dalam batinya, tapi tak ayal kakinya terus melakah dengan hebat.


Tubuh kokohnya membopong tubuh lemah istrinya, rintihan kesakitan dari sang istri adalah bahan-bakar utama kekuatan di tubuhnya, sehingga rasa lelah dan cape sudah entah pergi kemana. Ruang bersalain menjadi tujuan Rio membawa tubuh lemah Ody. "Intan... Intan priksa istri gue lakukan tidakan terbaik sama Ody. Jangan sampai terjadi apa-apa sama istri gue!!!" Suara bariton penuh perintah Rio ucapkan ketika pintu baru di buka. Team medis yang Tuan Hartono sudah perintahkan melalui telepon seluler sudah bersiap, untuk memulai tugasnya. Lagi-lagi mereka di hadapkan dengan situasi yang sulit setiap istri Rio memasuki ruangan itu.


Intan tidak menjawab, ia tentu sudah tau tugasnya lebih tau dari Rio. Terlebih Intan sudah di infokan oleh Omnya sehingga ia sudah tahu apa yang terjadi. Pemeriksaan demi pemeriksaan di lakukan Intan dengan teliti memastika semuanya aman. Ini memang tanda-tanda akan melahirkan posisi bayi sudah sangat bagus membuka jalanya. Tinggal melihat kondisi sang ibu, kuat tidak untuk melahirkan secara normal. Terlebih bekas operasi cesar juga menjadi pertimbangan dokter. Sepertinya oprasi cesar lebih aman. Itu pertimbangan Intan di awal.


"Aku mau lahiran normal Tan," lirih Ody dengan memegang tangan Intan dan sesekali meringis menahan kontraksi yang semakin sering. Sepertinya ikatan batin Ody dan Intan cukup kuat sehingga Ody tahu kalo Intan tengah merencanakan persiapan operasi cesar untuk dirinya.


Intan melirik Rio, meminta persetujuan dari yang Ody minta. Gelengan kepala dari Rio menandakan bahwa sang ayah dari bayi yang di kandung Ody tidak mengizinkan normal. Risiko terlalu besar, terlebih kondisi fisik Ody yang lelah, dan tentu emosi juga tengah menguasai ibu satu orang anak itu.


"Dy, itu terlalu berisiko," ucap Intan, jawab itu adalah penolakan dari permintaanya.


"Please, aku mohon Tan, aku enggak mau seperti dulu ketika aku bangun anak aku sudah enggak ada," isak Ody, semua yang ada diruangan itu tahu bagai mana teraumanya Ody kala itu. Sementara Intan dan Rio berbicara Ody yang masih harus menunggu pembukaan sempurna di ambil alih dokter lain.


Intan memberi kode pada Rio yang berada tepat di samping Ody, agar mereka berbicara empat mata. Meskipun tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri merasakan kontraksi yang semakin sering, Rio pun mengikuti Intan untuk membicarakan keputusan terbaik untuk istri dan buah hatinya.


"Yo, sepertinya kali ini ikuti kemauan Ody, mengingat traumanya masih sangat kuat. Aku malah takut terjadi apa-apa kalo kita tetap mengambil cesar sebagai pertolongan terbaik buat Ody. Trauma bisa memicu setres berlebih. Dan itu sangat berbahaya dengan kondisi Ody saat ini." Intan langsung mengunkapkan pendapatnya setelah mendengar permohonan dari Ody, pengalamanya yang tidak sebentar ketika mendampingi ibu-ibu hamil melahirkan buah hatinya menjadi pertimbangan untuk memutuskan jalan terbaik.


"Tapi aku takut Tan, Ody kondisi fisiknya sedang kelelahan, Meyra semalam merengek terus, bahkan sekarang anak kami juga sedang dirawat karena sakit. Aku takut dia tidak kuat untuk melakirkan normal. Kamu pasti tahu melahirkan normal itu butuh tenaga extra, dan juga pikiran tenang." Rio pun menjabarkan kecemasanya, agar Intan kembali memikirkan kecemasan yang ia alami dan mengerti bahwa Rio hanya ingin yang terbaik untuk istrinya.


"Aku tahu, asal kamu tahu Rio, wanita tidak selemah itu. Apalagi calon ibu yang akan melahirkan, meskipun ia tidak makan dalam satu hari tenaganya tidak akan habis. Sebab sumber kekutanya bukan hanya dari makanan tetapi dari anak yang dikandungnya. Ody pasti kuat, dia bukan wanita lemah, kamu pasti tahu itu." Intan berusaha memberikan jawaban yang memberi pikiran positif untuk Rio. Berharap Rio juga percaya dengan Ody dan mengizinkan istrinya melahirkan secara normal.


"Ya udah, aku terserah kamu saja, tapi kalo sudah ada tanda-tanda tidak aman. Langsung ambil tindakan terbaik!" ucap Rio, nada bicara kecemasan penuh perintah mendominasi.


"Kamu tenang saja, aku juga khawatir dengan kondisi Ody. Kamu taukan Ody lebih dekat dengan aku di banding kamu, jadi aku seharusnya yang paling cemas di sini," balas Intan, dengan memberikan selipan kata-kata candaan agar Rio jangan terlalu parno dan tegang. Ibu hamil yang akan melahirkan itu tenanganya dan kekuatanya melebi sam-son jadi jangan terlalu cemas. Kecuali apabila ada sakit atau kondisi yang memang menjadi penghalang dan terlalu beresiko untuk melahirkan normal itu baru Intan tidak akan mengizinkannya. Sejauh pemeriksaanya fisik Ody baik-baik saja bahkan ia kuat untuk melahirkan dan soal jahitan cesar itu masih aman untuk melahirkan normal. Jadi rasanya tidak adil ketika Ody ingin melahirkan secara normal tetapi tidak diizinkan oleh suaminya.


Intan tidak menanggapi candaan Rio, mereka kembali ke ruang bersaling, siapa tau pembukaan sudah sempurna dan itu tandanya Intan akan segera memiliki ponakan baru.


Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di wajah Rio mana kala menyaksikan istrinya menahan rasa sakit berbalut kenimatan itu. Rio sejujurnya tidak tega ketika menyaksikan Ody harus mengalami sakit seperti itu. Namun itu permintaan istrinya, dan Rio harus berusaha kuat dan sabar menemai istrinya melalui kenik-matan itu semua. Sampai buah hatinya lahir sebagi obat atas semua sakit yang dirasakan.


Melilit, Rio ikut merasakan rasa mulas di perutnya ketika Ody kembali meringis manakala pembukaan menuju sempurna. "Aduh, sakit," ringis Rio sembari memegangi perutnya, ia sudah bolak balik ke kamar mandi, tetapi tidak kunjung menunaikan hajatnya. Sampai Intan pun memberitahu bahwa mulas yang Rio rasakan bukan karena ingin membuang hajat besar, tetapi karena ikatan batin antara anak dan ayahnya.


Rio membukukkan badanya ketika rasa melilit itu kembali menyerangnya, dan kini benar-benar rasa yang lebih nyeri dan seolah udah di ujung tanduk ingin membuang hajat. Keringat di wajahnya sudah banjir seperti orang yang telah mencuci wajahnya dengan air wudhu. Tanganya tetap tertaut dengan istrinya yang menatap iba pada Rio, karena justru Ody tidak merasakan lagi rasa mulas itu.


"Kamu udah siap?" tanya Intan mengagetkan Ody yang sedang fokus melihat suaminya yang masih meringis-ringis sembari tangan kirinya memegangi perutnya sedangkan tangan kanan berpegangan kuat dengan tangan Ody.


"Udah mau lahiran Dok?" tanya Ody heran bahkan dia tidak lagi merasakan mulas.


"Iya sedikit lagi pembukaan sempurna, kalo sudah sempurna kamu ikuti kata-kataku seperti yang sebelum-sebelumnya kita pelajari ok," ucap Intan dengan santai. Membiarkan Rio terus merintih kesakitan. Ody kembali mulas tetapi mulasnya tidak sehebat tadi. "Apa ini tandanya Rio yang menggantikan rasa mulas yang hebat tadi?" batin Ody sembari matanya masih tertuju pada suaminya yang terus membungkuk memegangi perutnya yang luar biasa sakit ia rasanya. Bahkan rasanya Rio ingin menjerit meminta pada dokter, obat pereda rasa nyeri di perutnya yang semakin menjadi-jadi.


#Kamu sama Yo, othor ngetik pun sambil mules, jangan-jangan anak itu anak othor juga...


...****************...


Sembari nungguin dede bayi lahiran yuk mampir ke karya bestie othor, kalian wajib mampir, sebelum baca TEKAN fav, beri dukungan sebagai apresiasi buat othor yah...


Yuk mampir yuk....