Beauty Clouds

Beauty Clouds
Wahid Menghilang



Malam ini Clovis, Rio, Chandra serta Aarav mereka tengah berkumpul bersama, mereka datang karena Rio yang menghubunginya. Mereka pun tengah asik bercengkrama dan bercerita ria di karenakan di rumah Rio tengah kedatangan tamu yang sudah tiga tahun ini menghilang bak di telan bumi. mereka semua akhirnya kembali bernostalgia. Mereka menghabiskan malam bersama. Terlebih rumah Aarav dan Rio bersebelahan jadi mereka bisa ngobrol sesukanya. Tanpa takut kehabisan kamar kalo mau menginap bersama, tinggal pindah ke rumah Aarav udah beres.


"Emang loe kenapa tiba-tiba menghilang Vis? Loe patah hati sama Ipek atau bagaimana ko bisa sama dengan Ipek perginya?" tanya Aarav yang kepo, pasalnya baik Ody, Intan serta Zawa pada nyari Ipek terus. Tidak lama setelahnya Clovis pun sama menghilangkan jejak.


"Iya gue juga awalnya ngira kalo dia kawin lari sama tuh cewek, abisan bisa kebetulan banget lagi. Mana sebelum pergi dia nyari-nyari Ipek terus ke gue buat nanyain ke bini gue. Makin yakin lah gue kalo dia mulai kena karma," kelakar Rio, ia pun sama penasaran dengan Clovis.


"Enggak lah, gue juga pengin kalo nikah dirayain tujuh hati tujuh malam lah. Saat itu pengin nenangin pikiran ajah, dan waktu itu nyariin karena merasa bersalah lah sama Ipek, buat kelakuan gue selama ini yang selalu ngehina dia dan sering marah-marah nggak jelas sama dia. Belakangan gue tahu ternyata dia cewek yang baik dan nggak ngadi-ngadi. Jadi mau minta maaf tapi malah belum ketemu juga sampe sekarang," ujar Clovis sembari tertawa kecut, menertawakan nasibnya. Yang bahkan kaya orang gila demi nyari Clovis.


"Iya gue juga heran deh sama tuh anak bisa-bisanya ngilangnya bisa samaan gitu sama Arzen. Enggak bisa ditemuin padahal orang-orang gue udah nyari Arzen kemana pun tapi nggak ada info apa-apa." Rio kali ini ikut membenarkan ucapan Aarav dan Chandra.


"Hah...!!! Arzen, memang ada apa sama tuh anak?" tanya Clovis yang baru tahu bahwa Arzen juga memutuskan menghilang juga. Clovis pun makin dilada hawa panasaranya pada Arzen, Clovis penasaran apa yang terjadi dengan temanya itu, tetapi kali ini ia pun tidak bisa membantu apa-apa. Memang Clovis baru sadar bahwa selama mereka mengobrol, temenya pun kurang satu personil yaitu Arzen.


"Ya biasa lah ada kasus," lirih Rio, ia bingung antara mau menceritakan atau malah memendam semua, sampai Clovis tahu sendiri ceritanya.


"Arzen, emang dia kenapa? Gue malah baru denger," tanya Clovis berharap ada temenya yang ngasih kejelasan ada apa dengan Arzen, kenapa bisa disamakan dengan Ipek.


"Loe beneran nggak tau dengan kabar mengenai Arzen? Payah loe, sama teman sendiri kaya gitu?" Chandra meledek Clovis.


"Iya gue saat itu malas banget sama tuh anak, maklum sebelum gue cabut kan gue pernah ada cekcok sama tuh anak. Jadi gue lebih baik menghilang buat nenangin fikiran. Kali ini prikiran udah lebih mendingan jadi gue balik lagi kesini, dan gue juga balik kesini mau mulai usaha baru," jawab Clovis dia tidak menceritakan detail tetapi pasti teman-temanya tau lah apa arti dari ucapanya.


Malam ini mereka bener-bener bernostalgia, dengan cerita masing-masing yang menimpa kepada mereka.


Sampai akhirnya Clovis juga tahu bahwa Mayra adalah anak angkat dari Rio dan Ody, sedangkan anak mereka Angel, sudah meninggal dunia karena Emly.


Clovis juga tau kenapa alasan Arzen pergi dari tengah-tengah persahabatan mereka.


*****


Berbeda dengan Clovis yang tengah sibuk dan bahagia karena bisnisnya maju pesat. Ipek justru tengah dilanda kegalauan pasalnya selama satu minggu ini ia putus komunikasi dengan suaminya.


Suaminya yang awalnya janji satu bulan akan selesai, ternyata pekerjaan mereka menganak sungai, alias menambah terus masalahnya. Hingga akhirnya hampir tiga bulan Wahid di negara tempatnya mengenyam pendidikan dulu.


Namun yang membuat Ipek percaya bahwa suami selalu setia adalah setiap hari, mereka selalu melakukan pangilan vidio. Bahkan untuk berkirim pesan Wahid melakukanya hampir setiap jam, hal itu selalu mereka lakukan sampai satu minggu yang lalu.


Yah sudah satu minggu Ipek kehilangan komunikasi dengan suaminya dari mulai vidio call, maupun berkirim pesan. Bahkan ponsel Wahid mati tidak bisa dihubungi.


Ipek sudah datang ke rumah orang tua Wahid, guna menanyakan kabar dari Wahid, barangkali mereka tahu apa yang terjadi dengan putranya, tetapi justru mereka juga terkejut dengan penuturan Ipek.


Ipek bingung mau mencari kemana lagi, semua kerabat tidak tahu keberadaan Wahid, pasalnya tidak ada anggotan keluarga yang mendapatkan pesan atau telepon dari wahid. Hanya Ipek yang intens bertukar kabar dengan wahid.


Ipek pun kembali lagi ke rumah Abah dan Ambunya. Ipek tak habis fikir bisa sekacau ini, ia meminta Abinya membantu mencari tahu keberadaan Wahid kalo perlu laporkan orang kehilangan agar ada pihak berwajib yang bantu mencari Wahid, kalo memang Wahid hilang, bisa jadi ia memang hilang arah atau justru ada sesuatu yang Ipek tidak ketahui, dan Wahid juga tidak menceritakanya.


Ipek ingin melaporkan kehilangan Wahid pada polisi setempat. Sehingga nanti akan dibutuhkan kerja sama dengan polisi diluar negri tempat Wahid berada. Namun yang bikin Ipek heran adalah menurut penuturan karyawan tempatnya usaha milik Wahid bekerja. Banyak yang mengatakan bahwa Wahid sudah hampir satu bulan ini pulang ke negaranya yaitu Indonesia. Sedangkan selama ia terakhir berkomunikasi dengan Wahid satu bulan ini suaminya masih di Kairo.


"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini? Kenapa aku merasa bawa suamiku akhir ini menyembunyikan sesuatu. Ipek yang pusing pun kembali memutuskab menginap di rumah Abinya guna menenangkan fikirana.


Ipek pun akhirnya meminta bantuan pada kedua abangnya yang berada di luar negeri, untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Ipek berharap Abangnya bisa menemukan informasi mengenai keberadaan Wahid. Ia sudah hampir berputus asa dengan semua usaha yang telah ditempuh tetapi tidak menemukan informasi apa pun.


"Ya Tuhan apa gerangan yang terjadi dengan suami hamba. Apa mungkin suami hamba sudah menikah lagi? Apa Wahid kecewa karena hamba yang belum bisa memberikan kewajiban sebagai seorang istri." Ipek terisak manakala ia membanyangkan hal itu. Ia tidak tahu harus bagai mana pasalnya, ia kini sudah mulai menyimpan perasaan untuk suaminya.


Bahkan ia sudah berjanji begitu Wahid pulang ia akan memberikan haknya. Hak yang seharusnya suaminya dapatkan ketika mereka malam pertama. Namun baru bisa Ipek berikan setelah sekian lama menikah. Itu karena waktu dulu Ipek masih memikirkan Clovis dihatinya, tetapi kali ini Ipek sudah benar-benar, sudah mencintai suaminya.