Beauty Clouds

Beauty Clouds
Usaha Aarav



Aarav langsung membopong Emly kembali, bergegas masuk kerumah sakit. Tubuhnya sudah lemas dan itu menandakan bahwa Emly sudah tidak sadar. Mungkin karena terlalu sakit sehingga ia pingsan. Entah perasaan iba atau apa Aarav pun tubuhnya lemas ketika melihat Emly sedang di lakukan pemeriksaan dan penanganan. Fikirianya sangat horor bagai mana kalo ini adalah terakhir kali dia melihat ibu dari anaknya? Itu yang selalu hinggap di fikiran buruknya.


Meskipun Aarav sudah berusaha menepis pikiran buruk itu, tetapi seolah malah otaknya meledek dan semakin gencar fikiranya membayangkan bahwa Emly tidak akan selamat. Ini adalah pertemuan terakhirnya, sampai Aarav ingin memukul kepalanya sendiri.


"Aarav di mana Emly?" tanya Liana dengan cemas ketika baru datang dan melihat Aarav duduk terkulai dengan lemas di atas lantai. "Emly baik-baik saja kan?" Sambungnya dengan wajah terlihat cemas dari wanita paruh baya itu.


Erwin langsung melihat kedalam dari kaca yang ada di ruangan VIP itu, yah Emly langsung masuk VIP tanpa IGD dia langsung dapat tindakan tanpa observasi tersebih dahulu.


Liana meminta Aarav duduk di kusi tunggu, tidak enak sekali dilihatnya ketika seorang asisten dari pemilik rumah sakit yang biasanya tegas dan wibawa tiba-tiba menjadi melow.


"Bisa dijelaskan sama tante, kenapa Emly bisa kembali sakit seperti ini?" tanya Liana dengan lembut. "Tante tidak menuduh atau menyalahkan kamu, hanya saja sedikit heran kenapa dia bisa kembali drop seperti ini. Atau kelelahan atau kenapa?" Liana hanya ingin tahu apa yang Aarav bahas bersama Emly, sehingga Emly bisa sampai seperti itu.


"Aarav tidak tahu, pas mindahin Emly memang dia sempat mengaduh, dan wajahnya meringis, tapi waktu di tanya dia bilang tidak apa-apa. Karena sebelumnya dia sudah beberapa kali merasakan nyeri itu. Jadi Aarav tidak terlalu khawatir, toh setelahnya rasa sakit itu sembuh kembali. Dan obrolan kami hanya membahas Meyra. Di mana Emly bilang ingin bertemu Meyra, tapi semuanya belum terwujud, Emly sudah.... ( Aarav menghentikan ucapanyq) rasanya sesak tenggorokanya ketika membahas keinginan yang terakhir, sepele sih soal anak mungkin bagi sebagian orang akan menilai iklasin ajah. Tetapi bagi seorang ibu tetap itu berat dan mungkin itu yang memancing emosi Emly menjadi tidak terkendali. Dan memicu kesehatanya.


"Kita berdoa yang terbaik buat Emly yah," ucap Liana, biarpun ia sedih tetapi lagi-lagi ia berusaha tegar. Kejadian dari yang paling buruk sudah ia lalui dan sampai saat ini bukan hal yang mudah. Dari setiap kejadian Liana sudah belajar ikhlas dengan semua yang menimpa anaknya.


Aarav sedikit lega pasalnya tidak terlalu dipersalahkan oleh Liana. Mereka pun kembali dalam keheningan dan berdoa dengan kepercayaan masing-masing.


"Om, Tante Aarav pamit dulu yah mau coba bicara dengan Rio," ucap Aarav. Yah dia akan mencoba kembali menegosiasi dengan Rio, dan juga Aarav ingin bicara dengan Chandra. Biasanya nasihat-nasihat darinya mampu membuat pikiran Aarav tenang.


Liana mengangguk dan terseyum. "Terima kasih yah sudah membantu Emly," ucap Liana, mencoba tersenyum meskipun hatinya cemas.


Aarav membalas dengan senyuman dan anggukan yang samar, setelahnya ia kembali ke ruangan Chandra, sepertinya menemui Chandra lebih dulu akan lebih baik. Nasihat dari Chandra sangat Aarav butuhkan sebelum menemui Rio. Mungkin setelah dari sana ia akan menemui Meyra. Aarav beeharap setelah memeluk buah hatinya dia akan lebih kuat lagi.


Setelah mengetuk ruangan Chandra, Aarav masuk dengan wajah lesunya. Chandra menyipitkan alisnya dan heran dengan wajah lesu Aarav. "Kenapa kamu Rav?" tanya Chandra. Sudah bisa ditebak ketika laki-laki itu datang keruanganya sudah pasti ada masalah. Hanya tanpa basa-basi sepertinya akan sangat kaku.


"Gue lagi bingung," jawab Aarav, muka masam sebenarnya sudah sangat mewakilkan bagaimana kusutnya isi otak laki-laki itu.


"Emly kondisinya drop, sekarang ada di rumah sakit ini, loe bisa bantu buat kesembuhanya?" tanya Aarav dia sama sekali tidak ingin menanggapi candaan dari Chandra.


"Ya dilihat dulu sakitnya apa Rav, tidak mungkin gue langsung bisa ngobatin dia tanpa tahu sakitnya. Kan sakit apa dibawanya ke dokter apa, jangan semua-semua ke gue, nanti gue kena tilang big boss Hartono. Namanya menyalahi peraturan," ucap Chandra dia lebih santai menanggapi Aarav yang lagi kusut itu.


"Gue bener-bener buntu Ndra, gue takut kalo nanti Emly tidak tertolong. Kasihan dia pengin ketemu anaknya, gue harus apa Ndra?" ucap Aarav prutasi. Sementara Chandra sudah tahu kalo Emly memang sudah kembali, selain Aarav yang kemari-kemarin cerita. Intan juga sudah memberitahu dia, mereka tahu dari pemilik rumah sakit ini langsung.


"Loe lebih baik runding sama Rio deh, apa mau Rio gue paggil ke sini agar loe bisa berunding," usul Chandra, kalo hanya bingung-bingung tanpa solusi pasti tidak akan menemukan solusinya. Sementar solusi dari semua masalah ini adalah ke lapangan hati. Siapa tahu setelah dibicarakan dengan Rio, dia akan mengizinkan Meyra bertemu dan Emly dan bisa mebuat Emly sembuh, seperti itu kira-kira pikiran Chandra.


"Ya udah loe panggil Rio, kita ngomong disini ajah," balas Aarav pasrah, dan memang benar dia sebenarnya setelah dari ruangan Chandra akan ke ruangan Rio untuk mebahas ini. Namun justru sepertinya Chandra lebih peka sehingga dibantu berunding.


Chandra pun mengikut apa kemauan Aarav menghubungi Rio, dan memintanya menemui di ruanganya.


"Siapa Mas?" tanya Ody ketika Rio baru selesai mematikan sambungan teleponya.


"Chandra, dia minta aku menemuinya, katanya ada yang dibahas. Paling soal kerjaan. Nanti mamih datang kesini buat temenin kamu. Aku tinggal enggak apa-apa kan?" tanya Rio sebelum benar-benar meninggalkan Ody di ruanganya sendiri.


"Enggak apa-apa atuh, lagian udah ada Cus yang jaga Mey, Ody jaga Boy mah gampang," balasnya, di mana memang Meyra sudah berbaikan dengan pengasuhnya sehingga tidak lagi bermarahan seperti kemarin-kemarin tidak mau di dekati oleh Cus.


"Rio pun meninggalkan keluarga kecilnya, dan akan menemui Chandra di ruanganya. Memang songong anak itu, bosnya yang suruh menemui anak buahnya. Yah hanya Chandra yang bisa melakukan itu semua. Kalo yang lain berani contoh keberanian Chandra berati dia sudah bosan untuk bekerja.


Pintu di buka, dan laki-laki yang ditunggu-tunggu pun datang. Rio cukup terkejut dengan adanya Aarav di ruangan Chandra.


"Ini mau ngebahas apa sih kok ada Aarav juga," ucap Rio, sembari menarik bangku dan duduk di samping Aarav. Tatapan penuh curiga mengiringi pertanyaannya.


"Soal Emly," jawab Chandra dengan jujur, dan memang harus lebih terbuka.