
Ody yang sangat senang bahwa Zawa sudah bebas pun memutuskan mengabari Intan, agar Intan bisa menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan Zawa, dan mereka bisa bergosip ria.
[ Ada apa Dy, tumben telepon? Udah kangen yah?] ledek Intan dari balik teleponya.
[Yeh, PD gila. Ini Dok, Zawa sudah bebas dan dia sekarang sudah ada di rumah aku. Katanya pengin ketemu Dokter. Bisa mampir sini kan nanti, kalo sudah nggak sibuk?] tanya Ody sengaja menjual nama Zawa kangen agar Intan mau berkunjung kerumahnya. Padahal tanpa menjual kata itu pun Intan pasti mau mengunjungi rumah Ody. Terlebih ada si cantik Mayra, yang baru kemarin malam tidak bertemu, tetapi sudah kangen lagi ajah.
[Yakin Zawa yang kangen? Kok aku malah lebih percaya kamu yang kangen sama aku yah?] Intan lebih suka menggoda Ody karena marahnya bagi dia itu lucu.
[Tau ah, pokoknya nanti dokter harus datang! Kalo tidak mau datang, jangan datang temu Meyra lagi!] ancam Ody yang tahu betul bahwa Intan tidak akan bisa kalo tidak bertemu dengan si cantik.
[Iya nanti datang, galak banget emak satu anak ini.] Intan pun menyanggupi tawaran Ody.
"Yeh, nanti dokter Intan akan datang, kalo gitu Zawa boleh istirahat dulu ajah barang kali cape. Nanti kalo Intan sudah datang. Biar dibangunkan." Ody memintan Mbok Karti mengantarkan Zawa ke kamar tamu agar Zawa bisa istirahat.
"Terima kasih yah Ody, saya sangat berhutang budi sama kalian." Entah sudah berapa ratus kali Zawa mengucapkan kata-kata itu. Ody pun mengembangkan senyumnya dan Zawa meninggalkan Ody.
Di dalam kamar Zawa..
"Kenapa aku melihat anak Ody sangat mirip dengan Emly yah. Lalu bukanya anak Ody sudah meninggal lalu anak itu anak siapa?" Zawa bertanya-tanya dengan Anak Ody, tetapi ia juga tidak enak apabila mau bertanya mengenai semua ini.
"Aku seperti sangat mengenali anak itu, dan ketika aku menggendongnya tadi, seperti sudah saling kenal," batin Zawa. Semakin penasaran dengan anak Ody. Kali ini Zawa justru terfikirkan dengan anak Emly.
"Anak Emly di mana yah? Bagaimana nasibnya?" Tanpa terasa Zawa menangis lagi manakala mengingat nasih anak Emly, yang entah bagai mana dia sekarang. Apakah jatuh di tangan orang yang tepat. Apakah justru anak itu kehausan, dan kelapatan atau justru sudah berada di surga." Zawa bergumam dalam hatinya, dia justru tidak bisa memejamkan matanya manakala mengingat nasib anak Emly.
Pukul empat Intan datang, dan Ody pun meminta Mbok Karti membangunkan Zawa, yang ternyata Zawa juga sudah bangun malahan sudah mandi. Tiga wanita itu asik bercengkrama, bercerita dan bercanda dengan di temani bayi yang cantik. Tanpa sadar mereka sudah lebih dari dua jam mengobrol entah ngobrol apa saja. Yang jelas mereka nyambung, bak teman yang sudah lama kenal.
Pukul enam Rio pun pulang, setelah mengobrol dengan intan membahas Arzen dan Clovis Intan pun memutuskan untuk pulang. Terlebih sudah ada tuan rumah, tidak enak kalo nanti malah mengganggu, pasangan yang tengah pendekatan kembali.
"Wa, kamu tidur di rumah aku ajah yuk!" ucap Intan sembari mengasih kode pada Zawa.
Namu, justru Zawa tidak peka dengan kode Zawa.
"Kenapa Dok, biarin Zawa kalo mau tinggal disini, kamar juga di sini banyak kok," protes Ody.
"Kamar memang banyak, tapi emang kamu mau Wa, ganggu mereka mungkin mau ehem-ehem," goda Intan, dan Zawa tentu langsung paham dengan maksud obrolan Intan. Sedangkan Ody dan Rio langsung memerah wajahnya. Manakala Intan menggodanya.
"Ya udah aku ikut Intan saja deh, malam ini aku nginep di rumah Intan mungkin lain waktu aku akan sekali-kali nginap disini, tapi tidak malam ini." Zawa akhirnya memih menginap di rumah Intan. Ody pun langsung melotot kearah Intan, karena malah senang sekali membuat situasi semakin tidak kondusif.
Intan dan Zawa pun pamit dengan Ody dan Rio, seperti biasanya kalo tidak jahil seolah bukan Intan namanya.
"Ody..." panggil Intan.
Ody pun menoleh ke arah Intan tak ketinggalan Rio pun sama, karena penasran dengan Intan yang seolah mau menyampaikan sesiatu.
"Jangan lupa pake KB dulu yah, Mayra masih kecil," goda Intan yang langsung menarik tangan Zawa agar segera meninggalkan rumah Ody. Dua wanita itu pun berlari seolah Ody akan mengejarnya padahal Ody dan Rio diam saja. Justru Ody sangat malu ketika Rio menatapnya dengan serius.
"Mas mandi dulu yah." Rio pun meninggalkan Ody dan memilih memberisihkan badanya, karena canggung dengan situasi seperti ini, gara-gara candaan Intan, mereka jadi salah tingkah.
Ody hanya mengangguk.
Ody dan Mayra sudah beranjak ke kamarnya setelah makan malam dan Rio masih mengerjakan kerjaanya.
"Masuk Mas," ucap Ody dari dalam kamar ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk, tentu Ody sudab tahu bahwa yang mengetuknya adalah suaminya.
Rio masuk niat hati mau mengecek Mayra sudah tidur apa belum, ternyata malah dikagetkan dengan Ody yang justru tengah menimang Mayra.
"Kenapa Mayra?" tanya Rio sembari mendekat pada Ody.
"Kurang tau Mas dari tadi agak rewel," jawab Ody sekenanya.
Rio pun meletakan punggung tanganya pada pelipis Mayra. "Tidak panas, coba sini Mas yang gantian gendong May. Kamu istirahat dulu saja, nanti kalo May haus, Mas bangunkan lagi." Rio pun mengambil alih Mayra dari gendongan Ody.
"Beneran Mas nggak apa-apa kalo aku tidur? Takutnya Mas Rio juga cape habis kerja kan?" tanya Ody dengan lembut, agar tidak menyinggung perasaan Rio.
"Iya tidak apa-apa, kamu istirahatlah. Lagian Mayra kan anak aku juga, sudah sepatutnya aku juga ikut menjaganya bukan?" Rio tidak mau kalo Ody merasa tidak enak dengan dirinya. Padahal anak dia juga anak Rio juga.
"Ya udah, tapi bener yah kalo Mayra haus langsung bangunin aku." Ody masih saya mewanti-wanti suaminya padahal tanpa ia minta juga Rio pasti membangunkanya. Tidak mungkin dong dia biarkan Mayra kehausan.
Ody mengikuti saran Rio. Ia tertidur lebih dulu agar bisa bergantian dengan Rio. Namun nampaknya Mayra juga tidak mau kalah, bayi itu juga mulai mengikuti jejak Bundanya tidur.
"Wah, Mayra tahu dia belum mau tidur kalo belum sama Papahnya. Kamu pintar sayang." Rio mengacungi jempol pada putrinya yang sepertinya berpihak pada dirinya agar buru-buru berbaikan dengan Bundanya dan bisa tidur satu kamar dengan mereka.
Rio menatap wajah Ody, yang tengah terlelap tidur. Rasa bersalah masih terus menghantui Rio. Dia masih sering dihantui oleh rasa beraslah atas meninggalnya putri mereka. Padahal hampir semua sudah menutup kasus ini dan Ody sajah mungkin sudah belajar untuk mengikhlaskanya, dan menganggap ini semua musibah yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
"Aku akan menunggu kamu, sampai kamu benar-benar memaafkan aku," gumam Rio sembari menatap dalam wajah istrinya, yang sangat nampak ketelahan.