
Setelah Ody merasa semuanya bersih, dan rapih. Ia pun memberanikan diri meminta izin kembali kepantry, untuk melanjutkan kerjaan yang lain.
"Maaf tuan saya sudah selesai mengerjakan semua kerjaan yang Anda perintahkan, dan ruangan ini juga menurut saya sudah bersih dan rapih." ucap Ody meberitahukan pekerjaanya sudah selesai.
"Astagah ternyata dari tadi masih ada OG diruangan ini. Kenapa gue sampe lupa, dan OG ini pasti dengar obrolan gue dan Aarav. Apes banget gue." batin Rio"
"Oh, ya udah kamu boleh keluar," jawab Aarav datar.
"Baiklah saya pamit, tuan, nanti kalo masih ada kerjaan saya yang sekiranya masih kurang bersih dan rapih, atau bahkan penyusunan barang saya yang kurang sesuai dengan mau Anda, bisa panggil saya lagi Pa dipantry." ucap Ody.
"Itu masalah gampang," Aarav yang jawab lagi.
Rio masih sibuk dengan fikiranya, takut kalo Ody mendengar obrolan mereka dan akan meyebarkan apa yang didengarnya barusan dengan orang lain.
Ody siap-siap merapihkan alat-alat dia kerja, dan bersiap keluar ruangan, Tetali tiba-tiba Rio mencehanya.
"Tunggu dulu!" tahan Rio
Ody menoleh, karna merasa ada yang menahannya.
"Tuan bicara dengan saya?" tanya Ody dengan menujukna telunjuknya kedirinya sendiri.
"Menurut loe, gue bilang ke siapa?" tanya balik Rio dengan jutek.
"Sa...sama saya tuan." jawab Ody dengan gugup
"Ya itu tau, pake segala tanya!!" oceh Rio jutek.
Ody pun kembali ketempat barusan, dan menaruh peralatan kebersihan disamping pintu keluar.
"Loe dari tadi dengar obrolan gue dan Aarav?" tanya Rio kepo"
"Iya, dengar tuan." jawab Ody jujur "Orang ngomongnya kenceng banget, masa iya aku nggak denger, kan telingaku mah nggak budeg," batin Ody.
"Oh jadi kamu nguping!!!" tuduh Rio.
"E... engga nguping juga tuan saya hanya dengar obrolan kalian." jawab Ody kaget dengan ucapan Rio, ia dikira menguping. "Saya rasa nggak perlu kepo dengan kehidupan orang lain, karena saya sendiri disini niatnya kerja cari uang, jadi saya rasa kalo ada omongan yang tidak berhubungan dengan kerjaan saya. Saya tau harus gimana, dan kalo terlanjur sudah tau, saya bisa pura-pura nggak tau dengan kondisi diluar kerjaan saya." jawab Ody dengan percaya diri.
"Bagus kalo gitu, loe memang harus tau diri!!" ucap Rio
"Iya tuan," jawab Ody dengan menunduk.
"Awas ajah yah, kalo sampe diluar sana, gue denger kasak kusuk, mengenai obrolan gue dengan Aarav barusan, berati sumbernya dari loe," Rio memperingatkan Ody dengan nada mengancam.
"Anda bisa pegang omongan saya, Tuan." Ody juga mengangguk-anggukan kepala sebagai jawaban kalo dia benar-benar paham dengan maksud omongan Rio.
"Ya udah sana loe pergi." usir Rio, tetapi begitu Ody membuka pintu. Lagi-lagi Rio memanggilnya.
"Astaga apa lagi sih, nih Bos," batin Ody gemas dengan kelakuan bosnya.
"Sini kamu!" Rio menggerak-gerakan telunjuknya memberi kode agar Ody mendekat.
Ody pun mengikuti kemauan Dokter Rio. Kembali ketempat semula dia berdiri.
"Siapa namanu?" tanya Rio singkat
"Maody tuan biasa dipanggil Ody." jawab Ody singkat sesingkat pertanyaanya.
"Ya sudah sana loe balik kerja." usir Rio lagi.
"Hah, dia panggil lagi cuma buat menanyakan nama ajah." batin Ody, bengong.
"Baik Pa!" kali ini Ody bener-benar bisa keluar dari ruangan yang sangat mengerika bagi Ody.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bebas juga dari ruangan mengerikan itu." batin Ody dengan mengelus dadanya.
Diam-diam Ody simpati dengan hubungan Rio dan Emly, yang dia dengar namanya barusan. "Kasian juga nasibnya, ganteng, tajir, masih ajah diselingkuhin, ko nasibnya sama kaya aku." gumam Ody pelan.
"Ody jadi penasaran dengan sosok Emly, pasti dia cantik sampe Dokter Rio ajah cinta banget." sepanjang lorong menuju pantry Ody di bayangin dengan pikiranya mengenai Dokter Rio.
Sementara itu di Pantry, Bu Dewi dari tadi sudah menunggu kedatangan Ody. Mereka cemas kalo Ody bakal diperlakukan kurang manusiawi mengingat Rio terkenal tegas, kalo sudah diluar jam praktek.Namun, anehnya begitu Rio dihadapkan dengan pasien-pasienya, dokter Rio akan bersifat, sangat hangat dan ceria. Berbanding terbalik ketika dia menjadi pemimpin rumah sakit. Sifatnya tegas, jutek, cenderung galak lebih mendominasi.
Begitu Ody sampai pantry, dan menyimpan alat-alat kerjanya ketempat semestinya.Ody langsung dikagetkan dengan pertanyaan Bu Dewi yang kepo abis ingin tau apa saja kejadian diruangan bosnya.
"Ody kamu lama sekali, sampe aku cemas takutnya kamu kenapa-kenapa, terus kamu nggak diapa-apain kan sama Pa Aarav dan dokter Rio?" tanya Bu Dewi kepo maksimal.
"Saya baik-baik ajah Bu, memangnya kenapa Bu Dewi keliatan cemas sekali?" tanya Ody bingung dengan sikap Bu Dewi.
"Aku cemas ajah takutnya begitu kami keluar, mereka kembali memarahi kamu." ucap Bu Dewi khawatir.
"Engga ko Bu, semuanya baik-baik ajah. Keliatanya jug mereka baik ko." ujar Ody.
"Oh, syukur lah, aku takut kalo kamu dimarah-marahin atau bahkan dicari-cari kesalahnya lagi oleh Rio." akhirnya Bu Dewi bisa bernapas lega.
"Aman ko." balas Ody sambil menunjukan jari jempolnya .
***Jangan remehin orang diam, ingat pemangsa sesungguhnya, ia tidak menggonggong***
...****************...
# Terimakasih buat yang udah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤