Beauty Clouds

Beauty Clouds
Peristirahatan Terakhir



Setelah pengurusan jenazah selesai dari rumah sakit, kini Wahid akan pulang menuju kampung halamanya dan akan di makam'kan di makam keluarga besarnya. Ipek pun ikut di mobil jenazah yang membawa Wahid. Ia ingin di saat terakhirnya ia menjadi orang yang selalu setia untuk Wahid


Entah kenapa ketika Ipek ingin perjalanan lebig lama, di karenakan ia yang ingin berlama-lama dengan jasad suaminya. Malah justru Ipek merasa kalo perjalanan mereka itu sangat singkat. Sehingga Ipek lagi-lagi merasa kecewa. Rasanya masih belum puas berlama-lama dengan suaminya yang sudah terbujur kaku, walaupun wajah Wahid tetap tampan dan sangat menenangkan untuk dilihat terus menerus.


Ipek merasa di saat terakhir bersama suaminya selalu terhalang oleh orang-orang yang menganggap Ipek lemah. Padahal Ipek juga tidak selemah itu Ipek kuat dan sudah Ikhlas melepas suaminya. Itu karena Abi yang menasihatinya terus sehingga Ipek harus mengikhlaskan kepergian suaminya. Karena sejatinya makhluk hidup pasti akan ada saatnya berpulang ke sang penciptanya.


Kali ini lebih dulu Wahid. Bukan tidak mungkin Ipek atau yang lainya juga akan menyusul. Mereka hanya memerlukan bekal yang banyak untuk persiapan di akhirat nanti.


Mungkin Wahid bekalnya sudah banyak, dan dia orang yang baik sehingga Tuhan lebih baik mengambilnya. Itu yang selalu ada dalam keyakinan Ipek.


Begitu sampai di rumah mertuanya Ipek sudah melihat begitu banyak orang-orang yang menyayangi Wahid. Sebab banyak sekali warga yang ingin menyaksikan dan mengirimkan doa untuk suaminya. Yah Ipek tentu ada rasa kagum. Biarpun Wahid semasa hidupnya hampir menghabiskan separuh hidupnya di negara orang, tetapi banyak orang-orang yang sayang terhadap Wahid sampai yang ingin mendoakanya begitu banyak, berjibun dan datang dari mana saja.


Ipek baru turun dari mobil jenazah sudah disambut haru, suara tangis mengiringi menurunan jenazah yang tidak lama lagi akan di sholatkan di masjid yang memang keluarga Wahid miliki.


"Umi, maafkan Ipek, menantu Umi tidak bisa menjaga anak Umi dengan baik. Sehingga Abang secepat ini pulangnya. Padahal Ipek masih ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi istri yang berbakti pada suaminya, tetapi ternyata kesempatan Ipek untuk merawah Abang hanya sampai sini. Maafkan Ipek, Umi," lirih Ipek pada Umi dari Wahid, dengan terisak sedih.


"Tidak Neng, tidak ada yang perlu di maafkan. Kamu tidak salah dan kamu sudah menjaga anak Umi dengan sangat baik. Kami sudah Ikhlas ko dengan kepergian anak kami. Mungkin ini yang terbaik buat Wahid, dari pada harus terus menerus menahan sakit. Kami juga tidak tega kalo melihat Wahid seperti itu. Kami sudah ikhlaskan anak kami kembali ke pemilik sesungguhnya." Umi pun dengan sabar memberi semangat untuk Ipek agar jangan merasa bersalah terus. Karena dari keluaraga Wahid juga sudah ikhlas dengan musibah ini. Mereka tidak akan menyalahkan siapa pun apalagi Ipek yang sudah dengan sabar menjaga suaminya dan menggantikan tugas orang tuanya merawat Wahid dengan sangat telaten.


Setelah melewati proses yang panjang dan cukup melelahkan kini tiba di proses terakhir. Yaitu proses pemakaman suaminya. Setelah sampai makam Ipek baru sadar bahwa semua teman-temanya juga ikut mengantarkan suaminya keperistirahatan terakhir. Termasuk bumil, Ody. Rasanya Ipek sangat terharu karena ternyata banyak sekali orang-orang yang peduli dengan Ipek dan suaminya.


Ipek duduk di samping pusaran Wahid.


"Sayang, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mengantarkan kamu ke peristirahatan terakhir kamu lebih dulu. Andai aku tahu bahwa akan bergini. Pasti aku akan menahan kamu untuk pergi. Pasti aku akan memanfaatin waktu bersama kita lebih lama lagi. Aku juga pasti akan membuat kamu menjadi suami aku yang paling beruntung tetapi semuanya sudah terlambat. Sekarang disini tinggal aku dan penyesalanku. Semoga kamu dialam sana bahagia yah sayang. Izinkan aku tetap mencintaimu untuk selamanya. Kamu adalah laki-laki pertama yang mampu menerima aku apa adanya, dan kamu juga laki-laki pertama yang berhasil membuat aku merasa menjadi wanita paling beruntung, karena dicintai oleh kamu sesepesial ini. Bahagia di sana yah sayang. Aku akan tetap mendoakan kamu, dan menjaga cinta kita agar tetap bersemayam di dalam hati yang dalam. Meskipun mungkin aku akan mengikuti apa kemauan kamu yang terakhir, tetapi cinta aku sama kamu akan aku jaga sampai kapan pun," gumam Ipek dengan lirih di atas pusaran Wahid. Ipek terakhir pun mencium papan nisan milik Wahid dan Ipek pulang dengan yang lainya.


Ipek memilih pulang ke pondok, karena ia ingin tidur di kamar yang tiga bulan lalu menjadi kamar mereka. Walaupun Ipek dan Wahid merasakan tidur bersama cuma satu mingguan, tetapi sudah banyak memberikan Ipek kenangan yang indah.


"Ipek kamu mandi dan istirahat yah nanti kita makan bersama di aula, kumpul bersama-sama dengan yang lainya. Ada yang akan dibahas mengenai meninggalnya suami kamu." Abi dengan wajah lelahnya menasihati Ipek.


Ipek pun hanya mengangguk lemah, dia tidak banyak ngomong kali ini bahkan Ipek yang jahil dan Ipek yang kocak seolah sudah hilang. Kini tinggal Ipek yang murung dan bahagianya seolaha lenyap dengan kepergian suaminya.


Semua teman-teman Ipek pun menginap di pondok, termasuk Clovis. Yang merasa aneh di dalam pondok, mungkin karena ini kali pertaman ia menginjakan kaki dilingkungan seperti ini. Mereka pun setelah membersihkan diri saling beristirahat. Menikmati suasana pondok di mana hampir semua santrinya tengah membaca ayat suci Al Qur'an untuk mengirim doa kepada Wahid. Tidak ketinggalan Arzen pun ada diantara mereka. Sementara Clovis, Chandra, Rio dan Aarav istiraht di kamar yang tidak luas, bahkan cenderung sempit, Parahnya lagi ranjangnya cuka ada tiga. Yah kamar Arzen memang terdiri dari tiga ranjang yang kecil dan itu sebenarnya punya Nuel dan Nando, tetapi karena tengah ada tamu Abah sehingga dua teman kaman Arzen memilih tidur di kamar lain. Atau mereka juga bisa tidur di masjid, bagi mereka tidur di mana sajah bisa karena mereka juga sudah biasa melakukanya tidur di Masjid yang ada di tengah-tengah pondok.


Sementara buat team putri ada kamar yang memang Ambu siapkan buat teman-teman Ipek.


Di ruangan keluarga Abah, Ambu dan keluarga besar Ipek termasuk abang Ipek berkumpul. Ternyata mereka sudah tahu amanat terakhir Wahid. Padahal baik Clovis maupun Ipek belum menyampaikan amanah Wahid. Mereka masih menghargai suasana duka. Terlebih Clovis yang setelah tau siapa keluarga Ipek jadi minder dan merasa tidak pantas menjadi pendamping Ipek. Walaupun Wahid yang memilih sebagai wasiat tetakhirnya. Tetapi Clovis merasa tidak bisa mengimbangi mereka, jangankan untuk mengaji untuk Sholat saja dia tidak tahu bacaanya. Ia baru tertarik dan akan meminta Arzen mengajarinya.